
Setelah menerima Batu Kembar Tiga Mustika Naga Kencana dari ibu Ayu Ning Tyas, kemudian Mahmud, Kosim dan Abah Dul berpamitan untuk midangan di saung belakang menikmati udara malam pegunungan Guci.
Sebelum beranjak pergi Mahmud menitipkan kembali kotak hitam berisi batu mustika itu ke ibunya untuk disimpan sementara.
Sementara ibu Ayu Ning Tyas bergabung dengan Dewi, Arin dan Zakiyah di dapur yang sedang memasak buat makan malam.
Saung beratap rumbai yang menghadap lereng gunung itu pantas saja menjadi tempat favorit Abah Dul sebab sejauh mata memandang disuguhkan hamparan titik-titik cahaya dikejauhan yang berasal dari rumah-rumah warga.
Udara dingin pegunungan Guci tak membuat Mahmud, Kosim dan Abah Dul menyurutkan niatnya buat nongkrong. Satu termos air panas dan serentengan sachet kopi menjadi teman yang pas.
"Bah, kalau siluman monyet itu dunia atau alamnya itu sama nggak sih dengan bangsa jin?" tanya Kosim memecah keheningan.
"Sebetulnya siluman itu bagian dari bangsa jin juga Sim. Sebab didalam Al quran golongan mahluk gaib itu tidak disebutkan adanya siluman, yang ada hanyalah malaikat, jin, syaiton dan iblis," terang Abah Dul.
"Kalau alam dan kehidupan mereka kaya gimana Bah?" tanyanya lagi.
"Ya sama dengan manusia, mahluk jin juga memiliki akal dan kewajiban untuk beribadah seperti manusia, ada yang taat dan ada juga yang membangkang. Bedanya pada bahan ciptaannya aja, kalau manusia diciptakan dari tanah, sedangkan jin diciptakan Allah dari api. Cuma Jin diberikan kemampuan seperti terbang, bisa berubah wujud dan kemampuan lainnya termasuk mengganggu manusia," ungkap Abah Dul.
"Andai saja saya bisa menembus alam jin, saya pengen ketemu raja siluman monyet, Bah." ujar Kosim.
"Kemungkinan nggak bisa bernegosiasi Sim. Buktinya mereka masih tetap datang," timpal Mahmud.
"Duh, saya kira sudah berakhir. Hampir seminggu tidak ada gangguan-gangguan lagi, setelah menyampaikan nego itu," keluh Kosim.
Selesai mengucapkan itu, Kosim terdiam sambil menutup telinga kanannya.
"Mereka datang jumlahnya banyak!" bisi suara tanpa rupa ditelinga Kosim.
Wajah Kosim langsung berubah cemas sambil menatap sekelilingnya seakan mencari-cari yang datang seperti yang dikatakan oleh suara tanpa rupa.
"Ada apa Sim?" Abah Dul penasaran melihat gelagat Kosim.
"Katanya mereka datang. Jumlahnya banyak Bah," kata Kosim.
__ADS_1
Belum sempat melakukan persiapan, mendadak berhembus angin tak wajar. Hembusannya menghentak selwatan menerpa tubuh Mahmud, Kosim dan Abah Dul.
Dalam kejapan mata, disisi kanan saung tempat keiganya duduk sudah nampak sepasukan monyet dengan ukuran lima kali lipat dari ukuran monyet biasa.
Dari pakaiannya, sepertinya monyet-monyet dibarisan paling depan itu memiliki tingkatan jabatan tinggi. Di dadanya terdapat perisai berwarna emas lengkap dengan aksesoris besi melingkar dipergelangan tangan.
Abah Dul, Mahmud dan Kosim nampaknya tidak asing dengan tiga monyet besar berbulu lebat berwarna kelabu. Ya, tiga monyet itu yang terakhir kali datang dan sempat menyampaikan negoaiasi.
"Hahahaha... ! Kalian mau lari kemanapun tetap kami kejar. Kalian tidak bisa sembunyi!" seru monyet berikat kepala merah.
Abah Dul langsung mendidih darahnya dituduh melarikan diri. Dia meloncat turun dari saung melangkah dan berhenti tiga langkah dari hadapan ketiga monyet yang memimpin pasukan itu.
Sementara Mahmud dan Kosim bergegas menyusul dan berdiri disebelah Abah Dul. Sebelumnya Kosim dan Mahmud sudah menyiapkan amalan andalannya untuk berjaga-jaga dan siap dihantamkan.
"Kurang ajar! Saya musnahkan kalian!' Teriak Abah Dul yang tidak bisa lagi membendung amarahnya.
Bersamaan itu terlihat satu kilatan putih memyilaukan keluar memancar dari kepalan tangan Abah Dul yang diacungkan ke langit. Sedetik berikutnya muncul dalam genggamannya sebuah tombak besar bermata dua.
Belum sempat Abah Dul menurunkan tangannya, berkilat sinar merah tiba-tiba datang dari tiga arah meluncur deras mengarah ke tubuhnya.
Tiga sinar merah melawan dua sinar putih tersebut saling beradu didepan Abah Dul hingga menimbulkan suara dentuman dan getaran cukup keras.
"Buummm..!!!"
Sesaat terlihat pendaran cahaya putih dan merah langsung menerangi halaman belakang rumah ibu Ayu Ning Tyas lalu saat itu pula lenyap.
Dua sinar merah yang dikirimkan dari monyet ikat kepala merah, hijau dan putih berhasil dihalau oleh hantaman amalan dari Mahmud dan Kosim. Akan tetapi satu cahaya merah lolos dan terus menerobos meluncur diantaran pendaran cahaya menyasar tepat ke dada Abah Dul.
Secepat kilat Abah Dul melintangkan Tombak Mata Kembar di dadanya dengan gerakkan memutar membentuk kitiran. Sontak pendaran cahaya merah dan putih langsung menerangi sekitar setelah sinar merah membentur mata tombak kembar.
Tiga monyet terkesiap kaget! satu sinar merah yang ditangkis tombak mata kembar berbalik meluncur deras mengarah monyet berikat kepala biru yang berdiri ditengah. Kekuatannya menjadi 10 kali lipat besar berkat dorongan kekuatan yang keluar dari Tombak Mata Kembar.
"Duarrr..!"
__ADS_1
Suara benturan disertai getaran usai sinar merah menghantam tubuh monyet berikat kepala biru mengiringi kepulan asap tebal berwarna kelabu nan pekat.
Sesaat berikutnya seiring hilangnya asap, monyet berikat kepala biru sudah tidak nampak lagi diantara monyet ikat kepala merah dan hijau.
Belum hilang keterkejutannya, dua monyet kembali terbelalak. Dalam sekejap kilatan Tombak Mata Kembar meluncur deras dengan gerakkan membabat dari arah kanan ke kiri yang menyasar kepalanya.
Saking cepatnya gerakkan itu kedua monyet tidak ada waktu lagi untuk mengelak. Ujung Mata Tombak yang pipih laksana pedang memapras pangkal leher monyet ikat kepala biru dan monyet kepala merah.
"Braassshhh..!'
Sesaat tubuh kedua monyet yang sudah tak berkepala itu limbung lalu ambruk. Seiring tubuh keduanya ambruk menyentuh tanah muncul keluar kepulan asap tebal menyelimuti tubuh keduanya.
Musnahnya ketiga pemimpinnya membuat sepasukan monyet siluman berteriak riuh panik, bingung dan ketakutan. Melihat itu Abah Dul berseru kepada Mahmud dan Kosim.
"Musnahkan semuanya!"
Nyaris secara bersamaan Mahmud dan Kosim kembali menghentakkan tangannya. Kali ini bukan dengan satu tangan, melainkan dengan kedua telapak tangan. Keduanya membuat gerakkan menghentakan menyapu kearah sepasukan monyet siluman yang kepanikkan.
Sementara Abah Dul memutar-mutarkan Tombak Mata Kembarnya membentuk kitiran hingga menimbulkan gelombang udara dahsyat. Udaranya merebak terasa panas keluar dari pusaran Tombak Mata Kembar. Sesaat berikutnya Abah Dul menghentakkannya kearah barisan sepasukan monyet siluman.
Tiga sinar putih disertai gelombang udara panas meluncur deras menderu menghantam sekumpulan pasukan monyet tersebut.
Tak ubahnya sebuah sapuan berkekuatan besar, sepasukan tubuh-tubuh monyet itu berpelantingan dan sebagian besar langsung hancur dan musnah.
Abah Dul, Mahmud dan Kosim masih berdiri menyaksikan lenyapnya sepasukan monyet siluman dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran.
"Alhamdulillah..."
Kemudian ketiganya melangkah beriringan bermaksud kembali ke saung tetapi langkahnya serempak berhenti. Sayup-sayup mendengar suara seorang wanita. Ketegangan yang belum hilang sepenuhnya membuat
Abah Dul, Mahmud dan Kosim terdiam menajamkan pendengarnya.
"Maaaaassss... Makaaaan..."
__ADS_1
......................