Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
GUS HARUN


__ADS_3

Malam sudah beranjak pukul 21.07 wib, tidak lama kemudian Kosim yang menjemput Gus Harun sudah kembali. Lelaki seusia Abah Dul dan Mamud itu turun dari boncengan dengan menggendong tas di pungungnya dan langsung tersenyum sumringah menghiasi bibirnya melihat Mahmud dan Abah Dul.


“Assalamualaikum...” ucapnya.


“Waalaikumsalam...” sahut Abah Dul dan Mahmud bersamaan.


“Apa kabar Gus?” sambut Mahmud sambil menyalami Gus Harun.


“Alhamdulillah, baik Kang...” jawab Gus Harun menyambut uluran tangan Mahmud lalu menyalami Abah Dul yang tersenyum melihat sahabatnya.


“Duduk, duduk Gus,” ucap Abah Dul.


Gus Harun langsung merebahkan tubuhnya di teras. Terlihat sekali pada wajahnya yang kelelahan setelah duduk di bus selama kurang lebih 10 jam dari banten.


“Gus, tidur aja dulu didalam ya,” kata Mahmud.


“Ndak usah Kang, Cuma pengen ngelurusin badan aja dulu, hehehe...” ujar Gus Harun.


“Mau minum apa Gus? Kopi atau es teh botol?” Tanya Mahmud.


“Kalau ada sih es teh botol aja Kang,” jawab Gus Harun.


“Sim, sekalian aja es teh botol sama kopi.” Mahmud memberikan kode kepada Kosim.


“Iya Mas,” sahut Kosim segera berlalu.


Kosim masuk melalui pintu depan lalu melewati ruang tengah. Dilihatnya Arin dan Dewi sedang menonton televisi, sementara Dede sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya. Kosim meneruskan langkahnya menuju dapur.


“Ada tamu siapa Mas?” Tanya Arin.


“Oh itu ada Gus Harun,” jawab Kosim menghentikan langkahnya.


“Biar saya aja yang bikinin minumannya Mas,” sergah Arin.


“Ya sudah, itu bikin kopi sama es teh botol Rin. Makasih ya,” ucap Kosim lalu kembali ke depan.


Saat hendak kedepan lagi Kosim berpapasan dengan Mahmud, Abah Dul dan Gus Harun yang hendak pindah duduknya di ruang tamu. Kosim pun mengikutinya lalu duduk diujung sebelah Abah Dul.


"Mang Ali kemana Dul, kok nggak kelihatan..." kata Gus Harun.


"Iya, Gus biasanya sudah nyampe sini," timpal Abah Dul.


"Saya telpon aja Gus," sela Mahmud lalu beranjak mengambil hapenya.


Baru saja tersambung, Mang Ali sudah nongol di pintu mengucapkan salam.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam..." sahut Abah Dul, Gus Harun dan Kosim.


Mahmud buru-buru menutup telponnya padahal diseberang telpon baru saja diangkat.


"Panjang umur Mang Ali, Ini baru saja saya telpon sempat diangkat ya langsung saya tutup lagi hehehe." ujar Mahmud.


Mang Ali duduk disebelah kursi yang ditempati Mahmud setelah bersalaman. Tidak lama kemudian Arin pun datang membawa dua gelas diatas nampan lalu meletakkannya diatas meja.


"Rin,satu lagi buat Mang Ali ya," ujar Mahmud.


"Mbak Arin sama Dede gimana kabarnya?" sapa Gus Harun pada Arin.


"Alhamdulillah sehat semuanya Gus, monggo diminum Gus..." jawab Arin lalu kembali ke dapur.


"Jadi gini Gus, ada perubahan rencana nih. Soalnya Kosim menerima kerjaan di daerah Jawa Tengah. Berangkatnya itu bertepatan tanggal empat belas, Gus." kata Abah Dul disela-sela Gus Harun minum es teh botolnya.


Ekspresi wajah Gus Harun nampak biasa saja tidak terkejut bahkan terlihat santai. Setelah meletakkan gelasnya kembali Gus Harun lalu menanggapi.


Gus Harun memang sudah tahu sebelumnya dari Abah Dul. Sukma Abah Dul datang menyambanginya usai mendapat jawaban alasan dari sukma Kosim.


"Tanggal empat belas berarti empat hari lagi terhitung besok, ya. Bertepatan dengan malam pertama Purnama muncul. Artinya kita belum tau nih Bah, jika benar Siluman itu hendak menjemput apakah di malam empat belasnya ataukah dimalam berikutnya malam lima belas, iya kan?" Gus Harun menunggu reaksi Abah Dul.


"Iya juga sih Gus. Berarti apabila terjadi di malam empat belasnya berarti Kosim masih ada disini Gus. Nah, yang saya khawatirkan itu gimana kalau terjadinya di empat belas malam lima belasnya Gus?!" Ujar Abah Dul.


"Ya, ya, ya.. artinya kalau terjadi di malam lima belas berarti Kosim sudah ada di Jawa Tengah gitu ya Dul?" kata Gus Harun meyakinkan.


Gus Harun terdiam memikirkan langkah yang akan diambilnya.


"Ya sudah gampang soal itu sih. Sekarang kita pikirkan saja atau anggap saja bakal terjadi di malam empat belas saja Dul. Kalau pun tidak terjadi kita pikirkan besoknya. Basyari sama Baharudin sudah dikabari belum?" tanya Gus Harun.


"Belum Gus, nunggu perintah ente." jawab Abah Dul.


"Yowis nanti ente kabari aja Dul," ujar Gus Harun.


"Siap Gus. O iya ini satu lagi Gus, masalah Kosim yang sempat diikuti sosok suara tanpa rupa tapi sekarang sosok itu udah nggak lagi datang, menurut ente siapa itu Gus." terang Abah Dul.


"Suara tanpa rupa itu menggangu nggak Kang Kosim?" Gus Harun menoleh kearah Kosim.


"Nggak sih Gus, justru sosok suara tanpa rupa itu sangat membantu. Suara itu akan muncul apabila saya atau disekitar saya ada bahaya." ujar Kosim.


"Betul Gus, contohnya saya sendiri waktu di kebun hampir digigit Kobra. Kalau Kosim nggak dikasih peringatan lebih dulu mungkin saya sudah dipatuk, Gus." Timpal Mahmud.


"Apakah sosok itu dari alam gaib yang ikut Kosim saat kembali dari mati suri Gus?" sela Abah Dul.


"Memang biasanya orang yang mengalami mati suri sesudahnya memiliki kelebihan, tetapi tidak semuanya. Kalaupun ada kebanyakan akan membantunya dalam hal-hal tertentu. Misalnya tiba-tiba orang itu bisa menyembuhkan orang sakit, bisa melihat meramal nasib seseorang atau bahkan bisa memprediksi peristiwa yang akan terjadi," terang Gus Harun.


"Berarti yang dialami Kosim bukan mahluk bawaan mati suri ya Gus?" Sela Mang Ali.

__ADS_1


"Kalau dari tanda-tandanya sih sepertinya bukan, Mang Ali." ujar Gus Harun.


"Kang Kosim, selain suara tanpa rupa apalagi yang ente alami? Tanya Gus Harun pada Kosim.


"Anu Gus, saya tiba-tiba merasa berani nggak ada sedikit pun takut. Terus saya juga kebal terhadap senjata tajam maupun patukan ular Gus," jawab Kosim.


"Nah, ketika suara tanpa rupa itu menghilang apakah sebelumnya ente bermimpi Kang?"


"Benar Gus, suara itu bilang katanya saya tidak layak diikuti lagi." keluh Kosim.


"Ente pernah ninggalin sholat dan ninggalin zikir amalan yang saya kasih itu ya Kang?!" Tanya Gus Harun.


"Iya Gus," ujar Kosim.


"Sekarang sudah jelas, efek dari amalan itu seperti yang Kang Kosim alami. Amalan itu merupakan amalan yang sangat dahsyat. Hanya orang-orang tertentu yang dikasih amalan itu. Amalan itu pemberian dari Romo saya langsung dan katanya tidak banyak yang memilikinya," terang Gus Harun.


"Waduh!" Timpal Kosim.


"Tuh, menyesalkan Sim," kata Mahmud.


"Saya memberikan amalan itu pada Kang Kosim karena keadaanya sangat darurat dan Alhamdulillahnya Romo mengijinkannya ketika saya memint ijin akan memberikan amalan ini," jelas Gus Harun.


"Lalu apa masih bisa saya kerjakan lagi Gus?" tanya Kosim.


"Mumpung masih ada waktu, dalam kondisi darurat ente ulangi lagi selama tiga hari Kang," kata Gus Harun.


"Dul, ente juga kudu ikut mengingatkan.." ujar Gus Harun.


Namun yang diajak bicaranya diam saja. Dihatnya mata Abah Dul terpejam dan tubuhnya diam kaku tidak bergerak.


"Hmmm, kebiasaan melolos sukma nggak bilang-bilang..." sungut Gus Harun.


Spontan Mahmud, Kosim dan Mang Ali pun terkekeh-kekeh dibuatnya.


Sementara itu sukma Abah Dul sudah berada dikediaman Ustad Basyari di Surabaya. Abah Dul menyampaikan maksud dan tujuannya sekaligus meminta bantuan kesediaan sahabatnya itu.


"Insya Allah, saya siap Dul. Sampaikan salam saya buat Gus Harun."


Selesai dari kediaman Ustad Basyari, sukma Abah Dul langsung melesat menuju kediaman Ustad Baharudin di Kutai, Kalimantan Timur. Sukma Abah Dul menyampaikan maksud yang sama seperti yang disampaikannya kepada Ustad Basyari tadi.


"Insya Allah, saya siap Dul. Sampaikan salam saya buat Gus Harun."


Ucapan yang sama tanpa settingan itu terucap sebelum sukma Abah Dul kembali ke raganya yang sedang di tertawakan Mahmud, Kosim dan Mang Ali.


......................


🔴 YANG MENINGGALKAN JEJAK SEMOGA DIBERIKAN KESEHATAN DAN REZEKI YANG BERLIMPAH, AMIIN...🤲🤲🤲

__ADS_1


__ADS_2