
Dewi hanya menatap punggung suaminya dengan pikiran dipenuhi beragam pertanyaan saat Mahmud keluar meninggalkan rumah. Bahkan kemana perginya Mahmud dengan membawa satu setel baju Dede pun Dewi sama sekali tidak mengetahuinya.
Saat ini Dewi hanya merasakan debaran di dadanya kian terasa berdegub kencang manakala ia semakin memikirkan apa yang sedang di lakukan Mahmud.
“Aneh! Ada firasat apa dengan perasaan ini?!” ucap Dewi.
Setelah Mahmud sudah tak terlihat lagi dari pandangannya, Dewi pun kembali ke dapur. Sebelumnya Dewi berniat pergi ke warung untuk
belanja sayuran tersebut urung dilakukan karena keburu Mahmud datang.
“Rin, mbak pergi ke warung dulu ya,” kata Dewi menemui Arin yang sedang mencuci pakaian di samping rumah.
“Iya mbak,” sahut Arin menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan aktifitasnya mencuci.
“Eh, mbak tunggu… tunggu…!” seru Arin saat Dewi sudah 5 langkah keluar teras rumah.
“Ada apa Rin?” tanya Dewi menghentikan langkahnya.
“Anu mbak, nggak tau tiba- tiba saya kepingin masak dan makan sop buntut hari ini,” ujar Arin.
“Oh… iya rin. Kirain ada apa,” balas Dewi lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Sop buntut?” Dewi bertanya- tanya dalam hati sambil terus melanjutkan langkahnya.
“Itu kan masakan kesukaan Kosim, lauk yang paling disenangibKosim…” gumam Dewi dalam hati.
Tak butuh waktu lama Dewi sudah sampai di warung Bi Aminah, warung langganannya setiap kali belanja kebutuhan dapur maupun masak memasak.
Saat Dewi sampai di warung Bi Aminah, sudah ramai oleh ibu- ibu warga sekitar yang
juga berburu kebutuhan masak. Dewi pun mencari- cari celah di sela- sela ibu-
ibu yang berdiri memilih sayuran maupun berbagai bahan lauk pauk.
__ADS_1
“Permisi.. permisi…” ucap Dewi mengambil posisi di sela- sela ibu- ibu yang berdiri menutupi meja dagangan Bi Aminah.
“Eh, mbak Dewi… monggo, monggo…” sahut ibu- ibu sambil menggeser badannya memberi tempat pada Dewi.
“Mbak Dewi, dengar- dengar kuburan anaknya Kosim akan di bongkar ya?” tanya salah satu ibu- ibu diujung sisi kiri.
“Iya kenapa tuh mbak Dewi?” timpal ibu- ibu yang lain.
“Hah! Di bongkar!?” tanya Dewi terkejut.
“Loh, masa mbak Dewi sendiri nggak tau, tadi sebelum saya ke warung suami saya sempat pamit pergi katanya ada pekerjaan disuruh pak Wira untuk menggali kuburan anaknya Kosim atas permintaan kang Mahmud,” sergah seorang ibu setengah baya.
Dewi termangu mendengar keterangan dari istri salah satu penggali kubur tersebut. Dan seketika itu juga Dewi teringat dengan apa yang diminta oleh Mahmud sebelum dirinya pergi ke warung Bi Aminah. Mahmud meminta mengambilkan satu setel pakaian Dede!
“Mbak Dewi kok nggak ikut kesana?” tanya ibu- ibu sebelah kiri Dewi.
“Oh, I, iyya nanti saya dan Arin juga menyusul kesana,” jawab Dewi menutupi rasa ketidak tahuannya tentang yang sedang dibicarakan ibu- ibu tersebut.
Berita tentang pembongkaran makam Dede ternyata sudah menyebar luas di desa Sukadami dengan cepat. Hal itu tentu diluar perkiraan
Berbagai macam pertanyaan negatif pun bermunculan dan anehnya nyaris tidak ada yang menduga- duga dengan pemikiran positif, yang terlintas di benak warga semuanya negatif.
“Jangan- jangan matinya Dede akibat dibunuh,” ujar salah seorang bapak- bapak di warung kopi.
“Ya bisa jadi, tadi juga saya lihat ada mobil ambulans dan juga mobil polisi lewat, sepertinya menuju ke pekuburan itu,” timpal pria berusia 50 tahunan.
Timbul dugaan -dugaan keji tentang kematian Dede itu karena kekerasan, bahkan ada yang menduga akibat sengaja dibunuh oleh orang tuanya. Sehingga membuat warga penasaran dan berbondong- bondong mendatangi tempat pembongkaran makam.
......................
Di area pekuburan,
Berita- berita miring dan simpang siur tentang penggalian makam anaknya Kosim yang beredar luas bukan hanya tersebar di tengah- tengah warga Sukadami saja, melainkan sudah menyebar dengan cepatnya pula hingga ke warga tetangga desa sekitar. Saat ini di area pekuburan banyak warga yang mulai berdatangan dan berkumpul disana, mereka sangat penasaran ingin melihat langsung proses penggalian makam anaknya Kosim. Dan warga masyarakat juga ingin mengetahui lebih jauh penyebabnya.
__ADS_1
Tak sedikit pula warga menyayangkan penggalian makam anak tersebut, banyak yang meyakini jika jasad anak tersebut kondisinya sudah mrusak atau sedang dalam proses pembusukkan karena sudah terkubur selama
40 hari.
Mahmud berdiri berjarak 5 meter dari makam anaknya Kosim memperhatikan 4 orang penggali kubur yang sudah siap memulai melakukan penggalian. Raut wajah Mahmud nampak dibaluti ketegangan yang teramat sangat, guratan- guratan kecemasan di wajahnya terlihat begitu nyata.
Disamping Mahmud berdiri pak Wira sang Kepala Desa Sukadami, 2 orang petugas dari kepolisian serta 2 orang
petugas dari Puskesmas. Mereka semua sudah melengkapi diri dengan memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya, sebagai antisipasi bau busuk yang ditimbulkan dari dalam kubur.
Dan disekelilingnya nampak banyak warga yang juga turut menyaksikan proses penggalian makam tersebut dengan begitu antusiasnya.
“Kang Mahmud, apakah digali sekarang?” tanya salah seorang penggali kubur.
“Iya, pak Juki,” jawab Mahmud.
“Njih kang Mahmud,” ujar pak Juki.
Keempat orang penggali kubur itu langsung memulai pekerjaannya menggali gundukkan tanah yang masih dipenuhi beraneka macam bunga yang nampak sudah mulai layu dan kering. Cuaca mendung diatas langit desa Sukadami membuat suasana penggalian makam anaknya Kosim terasa kian mencekam.
Sesekali terdengar suara guntur bergemuruh diatas langit yang dibarengi dengan kilatan- kilatan petir seolah- olah sedang ikut menyaksikan penggalian makam tersebut. Reaksi dari alam tersebut entah merupakan sebuah tanda kalau alam merestuinya atau merupakan tanda penolakkan, semuanya tidak ada yang tahu.
“Mud, apakah yakin jasad anaknya Kosim itu tidak rusak?” tanya pak Wira berbisik, ia nampaknya masih penasaran.
“Insya allah pak, jasad Dede masih utuh,” jawab Mahmud penuh keyakinan sambil terus memperhatikan para penggali kubur yang sudah mulai menancapkan cangkulnya masing- masing keatas gundukkan tanah makam Dede.
Empat orang penggali kubur mulai menggali gundukkan tanah yang belum sepenuhnya mengering tersebut. Penggalian dimulai dari empat sudut yang berbeda sehingga para penggali kubur tersebut saling memunggungi satu dengan yang lainnya.
Mahmud terus memperhatikan proses penggalian tersebut dengan berbagai perasaan tak menentu yang berkecamuk didalam batinnya. Di satu sisi, Mahmud merasa yakin kalau keponakannya yang sudah dia anggap sebagai anaknya tersebut, akan bisa hidup kembali. Keyakinannya menguat setelah dirinya menyaksikan
sendiri secara langsung bertemu dengan arwah Dede.
Akan tetapi di satu sisi lain, perasaan Mahmud menjadi gamang jika mengingat situasi dan kondisi di alam
__ADS_1
siluman monyet. Dirinya merasa sangat mencemaskan apakah Kosim, Gus Harun beserta sahabat- sahabatnya bisa lolos dari hadangan raja siluman monyet seandainya penyelamatan mereka lebih dulu diketahui.** BERSAMBUNG