
Di dalam liang lahat pak Juki dan mang Asim nampak sedikit kesulitan menggapai papan tataban, keduanya tak dapat melihat papan tataban sama sekali karena silau oleh cahaya yang keluar dari dalam. Hanya dengan mengandalkan insting, kaki pak Juki berupaya meraba- raba papan tataban berikutnya.
Setelah merasa yakin kakinya merasakan papan tataban berikutnya segera pak Juki berjongkok untuk mencari
celah sebagai pegangan untuk dapat mengangkatnya kembali. Dengan sedikit kesulitan papan ketiga pun akhirnya berhasil di buka pak Juki dan mang Asim!
“Terima ini mang!” seru pak Juki sambil berusaha melihat posisi rekannya diatas.
Pak Juki dan mang Asim mengangkat papan tataban keatas berusaha diulurkan dan diarahkan pada rekannya dengan susah payah. Mang Sapri yang posisinya paling dekat berusaha menggapai papan yang diulurkan pak Juki dan mang Asim dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menahan silau dari pancaran cahaya yang menyambar matanya.
“Ya pa Juki, mang Asim, lepaskan papannya! ini sudah saya pegang!” balas mang Sapri dibantu temannya yang
bernama mang Darno.
Seketika cahaya putih mencuat dari dalam liang lahat kian besar dan lebar. Bias cahaya pancarannya mencuat lurus keatas langit melesat lurus menembus awan hitam yang bergerombol diatas langit hingga mampu menerangi sekitarnya. Belum hilang rasa takjub dan ngeri semua orang, seketika itu juga mereka semua mencium bau harum yang sangat wangi semerbak.
“Masya allah!”
“Subhanallah!”
“Astagfirullahal azim!”
Bermacam- macam pekikan terdengar dari warga masyarakat yang kian banyak datang ke lokasi penggalian makam anaknya Kosim tersebut. Ada rasa takjub, ada rasa takut dan cemas bercampur jadi satu melihat fenomena yang terjadi didepan mata mereka sendiri.
“Ayo pak Juki, mang Asim cepat buka papan tataban itu semuanya, ayo cepat!” seru Mahmud menyadarkan semua orang yang sedang termangu takjub sekaligus ngeri.
“Iy, iya kang Mahmud!” sahut pak Juki dan mang Asim serempak.
Kini tinggal 2 papan tataban lagi yang tersisa yang masih menutupi jasad anaknya Kosim. Kondisi pijakan kaki didalam liang lahat pun kian sedikit dan terbatas sehingga terpaksa mang Asim harus keluar naik dari liang lahat dan hanya pak Juki yang berada di bawah.
__ADS_1
Silaunya cahaya yang kian besar membuat pak Juki harus memejamkan matanya rapat- rapat. Dengan cara yang sama menggunakan insting, kaki pak Juki kembali meraba- raba papan tataban berikutnya. Setelah dirasa sudah mendapatkan posisi jari- jari tangannya untuk memegang, segera pak Juki mengangkat papan tersebut.
“Terima ini mang!” seru pak Juki sambil mengulurkan papan tataban dengan kedua tangannya.
Papan tataban ke- 4 berhasil diangkat pak Juki dan segera diulurkan keatas. Dan seketika itu juga semburat
cahaya putih semakin membesar keluar dari liang lahat.
Ketiga rekan pak Juki yang berada diatas pun segera berusaha menggapai papan tataban yang diulurkan pak Juki. Kali ini uluran papan dari pak Juki lebih cepat mereka tangkap. Bau harum semerbak seperti harumnya kayu cendana semakin keras tercium oleh semua orang terutama pak Juki dan warga masyarakat yang berdiri melingkari kuburan Dede tersebut.
Cahaya putih menyilaukan kian membesar memancar dan mencuat keatas tak ubahnya seperti asap pembuangan dari pendorong pesawat antariksa. Cahaya itu tegak lurus memancar ke langit dan menembus awan- awan mendung berwana kelabu hingga menerangi dan memperlihatkan gumpalan- gumpalam mendung tebal.
Mahmud, pak Wira dan para petugas dari kepolisian maupun dari tim medis juga tidak bisa melihat keadaan disekitar kuburan tersebut. Mereka juga merasakan silaunya pancaran cahaya yang mencuat dari dalam liang lahat. Namun anehnya, meski cahaya itu bersinar terang dan menyilaukan, tidak membuat udara disekitar makam tersebut menjadi panas. Bahkan hawanya masih tetap seperti sebelum adanya cahaya tersebut.
“Sepetinya tinggal satu papan lagi! ayo pak Juki cepat buka papanya!” seru Mahmud berusaha melihat kedalam liang lahat dengan menghalangi bias cahaya dengan telapak tangan.
“iya kang Mahmud!” sahut pak Juki.
“Terima ini mang!” seru pak Juki.
Bersamaan papan tataban yang terakhir diangkat, seketika itu juga cahaya putih bersinar seutuhnya dari jasad
mungil yang berada di dasar liang lahat. Pak Juki bergegas meraih tepian tanah galiannya lalu segera naik keatas sambil tetap memjamkan mata.
“Subhanallah… walhamdulillah… wala’ ilaha ilallah….” Gumam pak Juki terpana merasakan kejadian yang baru pertama kali dialaminya.
Gumaman pak juki yang mengucapkan kalimat toyibah tersebut kemudian disambung oleh Mahmud mengulangi gumaman pak Juki. Tak lama kemudian pak Wira ikut mengucapkannya disambung suara dari petugas polisi hingga akhirnya terdengar zikir tersebut meluas tanpa ada yang mengomandoi.
“Subhanallah… walhamdulillah… wala’ ilaha ilallah….”
__ADS_1
“Subhanallah… walhamdulillah… wala’ ilaha ilallah….”
“Subhanallah… walhamdulillah… wala’ ilaha ilallah….”
“Subhanallah… walhamdulillah… wala’ ilaha ilallah….”
Semua warga masyarakat yang datang ke tempat penggalian kuburan Dede pun secara spontan turut mengumandangkan zikir tersebut. Mula- mula terdengar ucapan kalimah zikir tersebut pelan, namun
lama –kelamaan suara zikir terdengar semakin jelas dan meluas. Suara koor zikir yang membahana diatas pekuburan seketika membuat suasana dapat membangkitkan bulu- bulu roma disekujur badan.
“Bagaimana selanjutnya kang Mahmud?!” tanya pak Juki diantara suara- suara zikir yang menggema diatas area pekuburan.
Seketika Mahmud tersadar dari terlenanya dengan gema zikir yang terdengar seperti sebuah koor yang disuarakan oleh ratusan orang. Dengan cepat Mahmud melangkah pelan- pelan dan hati- hati mendekat
ke tepi liang lahat dengan memicingkan mata sambil menghalangi cahaya yang keluar dari dalam liang lahat dengat telapak tangannya.
“Biar saya yang turun pak Juki,” jawab Mahmud.
“Saya tuntun kang…” sergah pak Juki langsung memegang tangan kiri Mahmud yang menenteng plastik kresek berisi baju Dede lalu menuntunnya menuju pinggir liang lahat.
Suara zikir masih terus terdengar membahana di seantero pekuburan. Siapa pun yang berada di tempat itu akan
merasakan merinding disekujur tubuhnya. Sesaat suasana terasa mistis!
Mahmud mulai menuruni liang lahat dengan berpegangan tangan pak Juki dan memjamkan mata rapat- rapat. Di dalam hati, Mahmud tak henti- hentinya berzikir mengikuti suara zikir yang membahana diatasnya. Mahmud menjejakkan kakinya pelan- pelanmencari pijakan di dasar liang lahat agar tidak menginjak jasad Dede.
Setelah berhasil berpijak di dalam liang lahat, pelan- pelan Mahmud berjongkok. Dengan kedua tangannya Mahmud meraba- raba dinding tanah pada bagian posisi kaki jasad tersebut. Mahmud berusaha memegang jasad dihadapannya.
Kain kafan!
__ADS_1
Tangan Mahmud merasakan menyentuh kain kafan. Mahmud terus meraba- raba mencari simpul ikatan pada kain kafan untuk dibuka. Tak lama kemudian Mahmud pun berhasil melepas talinya yang memang sebelumnya sudah dilonggarkan pada saat pemguburan.
Tali pada bagian kaki sudah dilepas Mahmud, kedua tangan Mahmud terus merayap keatas mencari tali pada bagian tengah.** BERSAMBUNG