
Acara tahlilan 7 hari meninggalnya Kosim telah selesai kemarin. Malam ini di rumah Mahmud terasa sangat sepi tidak seperti malam-malam sebelumnya yang ramai oleh para tetangganya yang mengikuti tahlilan setiap sholat isya. Mahmud duduk termenung sendirian di teras depan rumahnya. Segelas kopi hitam dan cemilan kue kering sisa tahlilan tergeletak diatas lantai didepannya menemaninya melamun.
Mahmud melirik tempat dimana Kosim biasa duduk. Hatinya terenyuh setiap kali mengingatnya, ia memikirkan segala perjuangan yang dilakukan Kosim untuk menyelamatkan nyawanya dan juga anak serta istrinya untuk melawan perjanjian gaib namun pada akhirnya takdir berkata lain. Meski tidak ada yang tahu apakah kematian Kosim itu akibat ulah mahluk gaib siluman monyet ataukah memang sudah menjadi garis takdirnya.
Suara jangkrik saling bersahutan entah berada dimana namun yang pasti berada disekitaran rumah Mahmud. Udara malam sesekali bertiup menerpa tubuh Mahmud yang duduk menyandar pada salah tembok dibawah jendela. Mahmud menghisap rokok filternya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan-lahan mengusir kesepiannya malam ke delapan ini. Abah Dul sendiri dipastikan tidak main ke rumahnya karena diacara tahlilan malam ketujuh itu sudah menyampaikan hendak berkunjung ke kediaman Gus Harun di Banten. Bahkan Abah Dul juga belum mengetahui kalau Mang Ali sudah pindah rumah ke Semarang untuk sementara waktu.
Tanpa sadar Mahmud terus menerus memandangi tempat yang biasa Kosim duduki kalau sedang melekan di teras. Pikiran Mahmud masih mengingat rentetan persitiwa-peristiwa yang terjadi dari awal hingga saat Kosim pamit untuk bekerja di Wonosobo. Saat lamunannya sedang melihat rangkaian kejadian yang dilaluinya bersama dengan Kosim, tiba-tiba Mahmud merasakan ada desiran angin halus menerpa tubuhnya. Sedetik berikutnya ia merakasan sekujur tubuhnya meremang. Mahmud mendadak merasakan merinding membuat bulu kuduknya merinding.
Mahmud masih menatap tempat yang biasa Kosim duduki dan samar-sama tempat yang dipandangi Mahmud itu tiba-tiba muncul bayangan siluet namun tidak begitu jelas karena bayangan itu tembus pandang bercampur dengan warna lantai. Mahmud menajamkan pandangannya, perlahan-lahan bayangan itu membentuk sosok tubuh dalam posisi sedang duduk.
“Astagfirullah!” pekik Mahmud sangat terkejut namun berusaha tenang.
Kini sosok bayangan itu sedikit lebih jelas membentuk sosok tubuh manusia yang sedang duduk meski pun tubuh itu masih terlihat menembus pandang. Mahmud mengernyitkan dahinya dalam-dalam melihat wajah sosok tersebut yang nampak pucat pasi. Sorot matanya menatap dingin lantai didepannya setengah tertunduk, Mahmud kian mengerutkan dahinya mencermati pakaian pada sosok bayangan itu yang penuh robekan dan banyak bercak-bercak noda darah mengotori kaosnya. Jantung Mahmud kian berdegub kencang berusaha melawan ketakutannya, dia sangat mengenal betul kaos yang dikenakan sosok bayangan disampingnya.
Sosok seperti Kosim itu tidak bergeming, dia hanya terdiam kepalanya menekuri lantai sedangkan tangan satunya diluruskan kebelakang menyangga tubuhnya, dan itu jelas-jelas kebiasaan Kosim.
__ADS_1
“Kosim...” Mahmud bergumam tanpa sadar dengan terkesiap kaget.
Sekitar 30 detik Mahmud diam terpaku dengan mulut ternganga, tak ada kata-kata yang terucap. Mahmud mengucek-ngucek matanya beberapa kali lalu kembali melihat tempat duduk Kosim, sosok wujud Kosim masih berada ditempatnya meski terlihat samar.
Beberapa saat lamanya Mahmud hanya termangu tak tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah hilang rasa keterkejutannya membuat akal sehatnya kembali dapat berpikir dengan jernih sehingga ia memberanikan diri untuk menguji apakah sosok mahluk disebelahnya yang menyerupai Kosim itu merupakan jelmaan jin atau golongan hantu. Kemudian Mahmud menarik nafas dalam-dalam dari hidung lalu dikeluarkannya perlahan-lahan melalui mulutnya untuk menenangkan hatinya. Hal itu dilakulannya tiga kali dan itu cukup membuat perasaannya tenang, lalu Mahmud mencobanya dengan membacakan ayat Qursi sekali.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim"
Selesai membaca ayat Qursi dengan kidmat, Mahmud melirik sosok berwujud Kosim lagi. Tetapi sosok itu masih tetap berada ditempatnya tanpa ekspresi sama sekali. Mahmud semakin penasaran, kemudian Mahmud mencobanya lagi kali ini dengan membaca amalan khusus yang diajarkan kiyai saat dipesantrennya. Amalan itu merupakan ayat Al Quran dari Surat Al-Mu'minun ayat 97-98
Selesai membaca ayat itu Mahmud kembali melirik sosok mahluk menyerupai Kosim itu lagi. Namun tak ada yang berubah, tidak ada ekspresi sama seperti semula. Mahmud mulai yakin kalau mahluk itu bukanlah hantu tetapi ia masih penasaran dan untuk meyakinkan lagi dirinya membaca semua surat-surat Al Quran dengan menggabungkannya dalam satu bacaan. Diawali dengan membaca kalimah Ta'awudz, Audzubillahiminasyaitonirrojim kemudian dilanjutkan dengan membaca surat Alfatihah, surat Al Iklas, surat Annas, Ayat Qursi dan terakhir membaca surat Al Mu'minun ayat 97.
Selesai membaca itu semua, perlahan-lahan Mahmud menolehkan wajah melihat sosok samar disampingnya. Mahmud mengerutkan dahinya dalam-dalam merasa keheranan karena sosok yang menyerupai Kosim itu masih tetap dengan posisinya semula, wajahnya tidak menunjukkan pengaruh apa-apa tetap dingin tertunduk.
"Mungkin dia ingin berkomunikasi, saya coba menanyakannya," ucap Mahmud dalam hati.
__ADS_1
Dengan segenap hati mengumpulkan keberaniannya, Mahmud memberanikan diri menatap sosok menyerupai Kosim itu sejenak. Mahmud memperhatikan dalam-dalam dari mulai rambutnya, matanya, hidungnya, bibirnya, tangannya hingga kakinya dan memang sosok itu itu sama persis dengan sosok Kosim. Diawali dengan berdehem, Mahmud mulai membuka mulutnya untuk membuka obrolan.
"Assalamualaikum..." ucap Mahmud pelan.
Mahluk bayang-bayang itu tetap diam tidak menyahut bahkan menoleh pun tidak. Mahmud kian penasaran dibuatnya, lalu ia memberanikan diri mencoba menyentuhnya. Perlahan tangan Mahmud bergerak untuk menyentuh punggung tangan sosok menyerupai Kosim itu tetapi Mahmud tercengang dengan mulut ternganga.Telapak tangannya bablas mengenai lantai menembus sosok. Mahmud mencoba memegang bagian bahunya, namun lagi-lagi tangannya hanya mengenai udara kosong dan bablas menyentuh lantai, tangannya tidak tertahan pada bahu sosok itu.
"Kamu siapa? Ada perlu apa muncul disini?" Tanya Mahmud penasaran.
Sekitar satu menitan Mahmud menunggu jawaban namun tak kunjung ada reaksi apapun dari sosok itu. Mahmud sudah hilang akal tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi sosok itu. Akhirnya Mahmud pun mendiamkannya saja, kemudian Mahmud menyalakan sebatang rokok.
Suasana hening beberapa saat, Mahmud tidak lagi menghiraukan sosok itu. Mahmud labih memilih menikmati hisapan demi hisapan rokok di tangannya sambil sesekali memakan kue kering dihadapannya. Entah sudah keberapa kalinya Mahmud melirik sosok itu dan posisinya pun tak berubah masih tetap diam dengan kepala tertunduk, tangan kiri lurus kebelakang menyangga tubuhnya. Wajahnya pucat dan tatapan matanya sangat dingin dan kosong.
Bersama dengan hisapan rokoknya yang terakhir lalu menjentikkannya melempar ke halaman, Mahmud menengok kearah sosok itu lagi. Mahmud dibuat tercengang karena sosok yang menrupai Kosim itu sudah tidak ada lagi ditempatnya. Entah sejak kapan sosok itu sudah pergi dari sebelah Mahmud. Mahmud masih bingung dengan kehadiran sosok yang menyerupai Kosim itu namun dirinya merasa yakin ada sesuatu yang ingin disampaikannya atau pastinya ada maksud tertentu.
......................
__ADS_1