
Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 9.17 wib, di ruang tamu masih terlibat obrolan- obrolan ringan. Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin yang lebih banyak berbicara, sementara Mahmud dan Kosim yang memangku
Dede hanya menjadi pendengar setia. Kosim dan Mahmud sesekali ikut senyum- senyum tatkala mereka berempat ngobrol yang menyinggung- nyinggung kejahilan Abah Dul selama di pesantren dulu.
Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin, lebih banyak mengobrol tentang masa- masa di pesantren mereka dulu, mereka seperti sedeng
reuni. Maklum keempat sahabat itu sewaktu di pesantren dulu sangat dekat dan menjadi sahabat kental bagi keempat orang itu. Seakan keempatnya tak bisa terpisahkan, hingga kiyai Sapu Jagat melihat bakat kebatinan yang dimiliki keempatnya seperti sudah terikat erat.
Sifat dari masing- masing pun sudah sangat hafal betul, seperti misalnya Abah Dul yang memiliki sifat usil dan jahil, Gus Harun memiliki sifat bijaksana serta mengayomi seperti orang yang lebih tua dari Abah Dul, Basyari dan Baharudin padahal usia keempatnya sama.
Kalau Basyari memiliki sifat humor yang tinggi, akan tetapi sifat humorisnya itu dia aplikasikan pada saat memberikan tausiyah- tausiah kepada junior- juniornya di pesantren dahulu. Dan hingga sekarang pun saat manggung diundang ceramah, cara penyampaiannya menggunakan kalimat- kalimat yang kocak, hingga para jamaahnya merasa terhibur sekaligus dengan mudah mencerna pelajaran tausiyah yang diberikan Basyari.
Lain halnya dengan Baharudin, dia memiliki sifat tegas dan lugas. Bahkan di kalangan santri- santri juniornya, dia sangat disegani dan sangat takut kepadanya. Santri –santri junior menilainya adalah ustad yang tegas, disiplin dan galak. Padahal jika mengenalnya lebih dekat, ternyata tidak sehoror yang diperkirakan para santri juniornya. Karakter tegas dan galak itu
hanyalah bawaannya sebagai orang Kutai, Kalimantan Timur.
“Kang Mahmud, punten pisan sepertinya kami harus pulang. Sudah mau jam 10 aja, nggak berasa,” kata Basyari.
“Oh iya kang Bas, jadi nih pulang sekarangnya?” tanya Mahmud berharap Basyari dan Baharudin lebih lama lagi tinggal.
“Hehehehe… sebenarnya saya dan Bahar ingin lebih lama lagi disini kang Mahmud. Kami masih kangen sama dua orang ini nih,” ujar Basyari
sambil menunjuk dengan dagunya kearah Abah Dul dan Gus Harun.
“Saya juga kalau nggak diminta ngisi acara haul di pesantrennya Basyari sih, pulangnya bisa
nanti, hehehe…” timpal Baharudin tertawa kecil.
“Mmm, maaf ustad Bas, ustad Bahar, apa tidak sebaiknya malam saja keberangkatannya? Saya ingin saat saya pulang nanti, saya bisa berpamitan dulu pada sampeyan- sampeyan,” kata Kosim menyela pembicaraan.
Basyari dan Baharudin sedikit terkesiap mendengar ucapan Kosim. Beberapa saat keduanya termenung menimbang- nimbang permintaan Kosim. Jika pulang sekarang, otomatis bakal tidak ada Mahmud, Abah Dul, Gus Harun maupun Basyari dan Baharudin di rumah Mahmud saat ketika Kosim kembali ke alam Kajiman.
Seketika tersirat rasa iba yang mendalam di benak Basyari dan Baharudin. Keduanya tidak sampai hati memaksa pulang meninggalkan keadaan rumah Mahmud disaat waktu ada seseorang yang juga akan pergi untuk selama-
lamanya yang mungkin tidak akan pernah bertemu lagi.
__ADS_1
“Mm, baiklah kang Kosim saya dan Bahar menunda kepulangannya. Biar nanti malam saja, ya kan Har?” ucap Basyari meminta persetujuan Baharudin.
“Njih Bas,” sahut Baharudin mengangguk- anggukkan kepalanya.
“Alhamdulillah, matur suwun ustad Basyari, ustad Baharudin,” balas Kosim sumringah.
Selesai Kosim berbicara tiba- tiba anaknya berkata sambil menunjuk kearah pintu; “Ayah, ayah… ada dua orang sedang kemari ke rumah ayah Mamud,” kata Dede dengan logat lugunya.
“Hah?! Ada dua orang mau kesini De?” tanya Mahmud heran bercampur bingung.
“Iya ayah Mamud, kasihan orang- orang itu butuh lagi bantuan ayah Mamud!” seru Dede, matanya memandang lurus kearah pintu.
Mahmud sangat penasaran dibuatnya, lagi- lagi Dede mengatakan hal yang sangat diluar nalar yang orang lain tidak mengetahuinya. Begitu
pula dengan Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin, mereka berempat kontan mengerutkan keningnya. Di dalam benak mereka terlintas antara percaya dan tidak dengan ucapan dari seorang anak kecil, sekaligus penasaran dan tak dipungkiri terbersit dibenak mereka apa yang dikatakan Dede itu adalah kenyataan.
“Assalamualaikum… kang Mahmuuuud….” Ucap seorang ibu- ibu dari luar rumah.
Mendengar ada orang mengucap salam, kontan saja Mahmud, Abah Dul, Basyari dan Baharudin terperanjat kaget. Mereka kaget bukan karena suara ucapan salamnya, melainkan karena apa yang di katakan Dede itu benar adanya.
Saat sampai di pintu, Mahmud melihat ada dua orang laki- laki dan perempuan berusia 50 tahunan berdiri menghadap rumahnya.
“Pak Karjo, ibu Sari? Mari, mari masuk…” sambut Mahmud begitu melihat dua orang tersebut.
“Ah, biar disini saja kang Mahmud. Sepertinya didalam sedang banyak tamu ya?” kata pak Karjo.
“Itu Abah Dul dan sahabat- sahabatnya, nggak apa- apa pak Karjo,” balas Mahmud.
“Disini saja kang Mahmud, kami malu…” sergah ibu Sari.
“Mmm, ya sudah kalau begitu mari, mari duduk pak Karjo, ibu Sari. Maaf nih duduk di lantai teras jadinya,” balas Mahmud.
Meskipun usianya jauh diatas Mahmud, namun kebanyakan warga masyarakat di desa Sukadami memanggilnya dengan sebutan Kang Mahmud. Hal itu dikarenakan, budi luhur dan kebaikan- kebaikan sifat Mahmud pada semua
masyarakat sehingga mereka pun sangat segan dan sangat menghormatinya. Baikk itu orang tua atau pun anak muda, mereka semua memanggilnya ‘Kang’ sebagai bentuk penghargaan yang tidak tertulis disematkan pada Mahmud.
__ADS_1
Lantas Mahmud pun ikut duduk di lantai saat pak Karjo dan ibu Sari mulai duduk. Sekilas Mahmud dapat menangkap ada aura beban berat yang tersirat pada wajah kedua suami istri tersebut. Meski pun tersenyum namun Mahmud melihat raut wajah pak Karjo dan ibu Sari tak dapat menyembunyikan beban persoalan yang sedang di pendamnya di dalam hati.
“Lama tidak kelihatan, kemana saja pak Karjo, ibu Sari?” tanya Mahmud yang tak tega melihat wajah keduanya yang tampak memelas.
Hati Mahmud begitu peka dan sangat tidak tegaan melihat orang tertimpa masalah, apalagi orang tersebut sampai datang ke rumahnya yang tentunya mereka sangat berharap mendapat pertolongan. Begitu pikir Mahmud dengan hati
polosnya.
“Iy, iyyya kang Mahmud, sudah setahun kami tinggal di Sumatera,” kata pak Karjo masih dengan ekspresi wajah memelas, namun sesekali kedua matanya melirik kesana kemari melihat sekelilingnya.
“Ohh, pantes nggak pernah kelihatan pak Karjo,” balas Mahmud tak begitu memperhatikan gestur pak Karjo.
“Iya kang Mahmud, Mm… begini kang Mahmud, saya kesini mau minta tolong,” kata pak Karjo.
“Apa yang bisa saya bantu pak Karjo?” tanya Mahmud begitu polosnya.
“Mmm, a, anu kang Mah mud begini, saya mau pinjam duit buat ongkos kembali ke Sumatera. Kami mengalami musibah saat sampai di pelabuhan, tas yang kami bawa ada yang nyuri,” terang pak Karjo dengan nada terdengar memelas.
“Berapa yang pak Karjo butuhkan?” tanya Mahmud.
“Nggak besar kok kang Mahmud, kira- kira cukup buat biaya perjalanan kami berdua saja,” jawab pak Karjo.
“Saya nggak tahu pak Karjo besar kecilnya berapa?” tanya Mahmud lagi dengan lugunya.
“Ya kurang lebih lima juta kang Mahmud,” jawab pak Karjo dengan nada terdengar memelas.
“Oh, lima juta pak Karjo?” tanya Mahmud menegaskan lagi. Pikirannya seketika ikut menghitung memperkirakan ongkos serta biaya di perjalanan dengan jumlah tersebut.
“Iy, iya kang Mahmud, lima juta saja,” jawab pak Karjo meyakinkan Mahmud.
“Sebentar ya pak saya ambilkan unganya dulu,” ujar Mahmud langsung beranjak masuk ke dalam rumah.
Speninggal Mahmud, seketika wajah pak Karjo sumringah. Dia menoleh menatap wajah istrinya
sambil menyunggingkan senyuman. Istrinya memabalas dengan sunggingan senyum pula sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
“Pergiiiii…!!!” tiba- tiba terdengar suara teriakan anak kecil. ** BERSAMBUNG