Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Pertarungan


__ADS_3

Hari Jumat Malam Sabtu, hari ke-7 melawan perjanjian gaib.


Selepas waktu isya di rumah Mahmud sudah berkumpul, Abah Dul, Gus Harun, Mahmud, Kosim dan Mang Ali. Mereka duduk melingkar diatas tikar diruang tengah.


Sementara Arin, Dede dan Dewi sudah diungsikan ke rumah Abah Dul di RT sebelah yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah Mahmud, sekitar 500 meteran hanya selisih satu gang saja.


Sesuai rencana malam ini Gus Harun dan Abah Dul akan menyambangi istana kerajaan Siluman Monyet yang dipimpin Raja Kalas Pati. Aksinya tak hanya dilakukan berdua saja, mereka dibantu Ustad Basyari dan Ustad Baharudin meskipun dalam wujud sukma.


Suasananya terasa tegang dan tak banyak obrolan, tak ada canda tawa seperti malam-malam lalu. Kelima orang itu terpekur menundukkan kepalanya dengan segala gejolak dialam pikirannya masing-masing.


"Hmmm, sambil menunggu dua sahabat dari Surabaya dan Kalimantan, saya akan berbagi tugas. Sesuai rencana malam ini kita ingin mengakhiri pertempuran dengan siluman monyet," kata Gus Harun memecah keheningan.


"injiiih Gus," sahut Mahmud, Kosim dan Mang Ali bersamaan.


"Mahmud, Kosim dan Mang Ali, nanti pada saat saya dan Abah Dul meloloskan sukma ente bertiga harus benar-benar menjaga raga kita. Jangan terputus zikirannya, ya.." kata Gus Harun.


"Apabila sampai dengan matahari terbit raga saya dan raga Abah Dul tak juga bergerak, artinya kita berdua tidak kembali selamanya," sambungnya dengan nada berat dan tertahan.


Mahmud, Kosim dan Mang Ali tercekat langsung berubah raut mukanya. Ketiganya terkejut mendengar ucapan Gus Harun hingga membayangkan hal yang dirasa sangat mengerikan seandainya itu benar-benar terjadi.


Kosim terlihat menitikkan air mata. Dia sulit membayangkan andaikan kedua orang baik itu tidak berhasil dan meninggal demi membela dirinya, tentulah ia yang paling merasa bersalah. Akibat perbuatannya mengakibatkan orang-orang baik menjadi korbannya.


"Gus.. Abah.. Mohon maafkan saya, biarlah saya saja yang akan menanggung akibat semua ini. Saya yang telah menyebabkan ini, saya yang telah melakukan ritual itu.." kata Kosim dengan suara lirih.


"Astagfirullah.. Kang Kosim jangan begitu, ini sudah menjadi tanggung jawab kita semua. Saya dan Dul kebetulan diberi kelebihan seperti ini sama Gusti Allah, jadi sudah seharusnya kami mengamalkannya, iya kan Dul..?" ucap Gus Harun.


"Iya Sim, saat ini yang terpenting jangan memikirkan sebab akibatnya. Kamu jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, toh ini sudah terjadi dan kamu sendiri pun mengaku hilap dan bertobat," kata Abah Dul.


Mahmud menenangkan Kosim dengan mengusap-usap punggungnya.


"Bener kata Abah dan Gus Harun Sim.. Kita pasrahkan sepenuhnya sama Gusti Allah, tapi kita pun tetap berusaha berdoa minta perlindungan-NYA," ujar Mahmud.


Kosim makin terhanyut dalam keharuan mendengar perkataan-perkataan orang-orang baik bahkan sangat baik pada dirinya. Ia menyeka air matanya dengan ujung bawah kain sarungnya.


"Terima kasih kang Mamud, Abah dan Gus Harun juga Mang Ali. Kalian orang-orang baik dan saya merasa beruntung kalian mau membantu, sekali lagi atas nama keluarga saya ucapkan terima kasih," ucap Kosim lirih.


"Sudah, sudah.. sekarang fokus lagi dengan rencana. Kalian masih punya wudlu?" tanya Gus Harun.


"Saya sudah batal Gus. Yowis saya wudlu dulu," ujar Mang Ali.


"Di kran samping aja Mang Ali," kata Mahmud.


"Cepat Mang Ali ya, soalnya dua sahabat jauh sudah hadir," sela Gus Harun.


Mang Ali pun segera beranjak dari duduknya melangkah keluar.


Gus Harun nampak sedang berbincang-bincang dengan sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin yang duduk diantara Gus Harun dan Abah Dul.


Mahmud dan Kosim memperhatikan apa yang dilakukan oleh Gus Harun dengan mengerutkan dahinya. Keduanya hanya mendengar suara dari Gus Harun sedangkan suara dari kedua sukma tak terdengar sedikitpun di telinganya.


Tak berapa lama Mang Ali sudah kembali dari berwudlu dan langsung duduk ditempat semula sebelah Kosim.


"Menurut wejangan Romo Yai, tepat jam 21.00 waktu yang tepat untuk kita berangkat," kata Gus Harun.


"Tinggal dua menitan lagi. Mahmud, Kosim dan Mang Ali siap yah, posisi duduknya Kosim menghadap saya dan Abah Dul disamping diujung-ujung mengapit sambil menghadap badan kita, paham ya.." terang Gus Harun.

__ADS_1


"Njiiih, Gus..." Jawab ketiganya.


Ketiganya langsung beringsut memposisikan duduknya sesuai arahan Gus Harun. Mahmud berada disebelah kiri menghadap samping Gus Harun sedangkan Mang Ali duduk disebelah kanan menghadap Abah Dul.


"Mari kita mulai..." Kata Gus Harun.


Dengan hidmat terdengar suara zikir dari mulut Mahmud, Kosim dan Mang Ali.


"Lailahaillah, lailahailallah, lailahaillah..."


Sementara Gus Harun dan Abah Dul, segera memejamkan matanya dengan bibir bergerak komat-kamit membaca amalan melepas sukma. Sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin terlihat menunggu dan siap-siap pergi dengan Gus Harun dan Abah Dul.


Sesaat berikutnya dalam pandangan tak kasat mata, sosok bayangan menyerupai Gus Harun dan Abah Dul keluar dari tubuh keduanya masing-masing. Bayangan itu adalah sukma Gus Harun dan Abah Dul.


"Bismillah, Dul, Bas, Har, mari kita berangkat.." Ucap sukma Gus Harun.


Keempat sukma, Gus Harun, Abah Dul, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin secara bersamaan melesat keatas arah selatan dalam sekejap lenyap.


Kini tinggal Mahmud, Kosim dan Mang Ali yang terus berzikir membaca tahlil sembari sesekali melirik raga Gus Harun dan Abah Dul.


Kedua raga tersebut tak bergeming seperti patung, posisinya duduk bersila dengan mata terpejam rapat dengan tangan bersedekap didada.


......................


Alam Siluman,


Empat cahaya putih melesat cepat diangkasa hitam pekat. Terangnya empat cahaya itu menyibak kabut-kabut pekat disepanjang alur yang dilaluinya.


Sekejap berikutnya empat cahaya itu berhenti didepan sebuah bangunan istana yang memancarkan cahaya kuning keemasan. Cahayanya menerangi sekelilingnya ditengah pekatnya langit. Istana itu adalah Istana Raja Kalas Pati, Kerajaan Siluman Monyet.


Empat cahaya putih yang tak lain sukma Gus Harun, Abah Dul, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin berdiri sejajar menghadap istana. Kedatangannya langsung disambut suara gemuruh dan kilatan-kilatan petir diatas istana.


"Dul, Bas, Har.. bersiaplah, keluarkan senjata kalian dan jangan lengah..!" Seru Gus Harun.


Keempat sukma itu lantas tengadah dengan mengacungkan tangan kanannya sembari membaca amalan 'Pemanggil Pusaka' untuk memunculkan senjatanya masing-masing.


Sedetik berikutnya, empat buah kilatan bersinar terang disetiap kepalan tangan keempat sukma. Cayahanya sangat menyilaukan sehingga membuat pasukan siluman monyet itu menutup matanya dengàn punggung tangannya.


Seiring lenyapnya cahaya itu ditangan keempat sukma murid Kiyai Sapu Jagat sudah tergenggam senjata masing-masing.


Ditangan Gus Harun tergenggam sebuah cambuk hitam panjang menjuntai. Cambuk atau Pecut itu bernama Pecut Amal Rosuli warisan turun temurun yang diberikan oleh ayahnya, Kiyai Banten Agung.


Sementara Abah Dul ditangannya tergenggam Tombak dengan ujung mata bercabang dua. Tombak itu bernama Tombak Mata Kembar yang diberikan oleh Kiyai Sapu Jagat saat di pesantren Madura.


Digenggaman Ustad Basyari terhunus pedang besar berukir tulisan arab. Pedang itu bernama Pedang Abu Bakar yang juga didapat dari amalan zikir dari Kiyai.


Sedangkan Ustad Baharudin menggenggam sebuah toya dengan panjang 2 meteran berwarna hitam pekat. Toya atau tongkat itu bernama Tongkat Pagar Alam, didapat dari amalan zikir juga dari Romo Kiyai.


Tiba-tiba terdengar lantang suara seruan menggema di angkasa.


"Seraaaaaaaaaang...!!!" Dibarengi suara petir menggelegar dahsyat, seolah ikut mengkomandoi pertempuran.


Disambut riuh teriakan yang memburu, barisan depan monyet siluman bergerak menerjang empat sukma dari segala arah.


Sukma Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin langsung memposisikan diri saling memunggungi.

__ADS_1


Diawali seruan 'Allahu Akbar!' Gus Harun mengibaskan cambuknya. Suara menderu-deru keluar dari gerakan berputar-putar cambuk Amal Rosuli disertai lidah api menjilat-jilat liar disepanjang cambuknya membuat para prajurit siluman monyet terkesiap.


Sejurus kemudian ujung cambuk dihentakkan Gus Harun dan meluncur deras menghantam yang ada didepannya.


Begitupula dengan Abah Dul, Tombak Mata Kembarnya diputar-putar dengan cepat didepan tubuhnya seperti kitiran. Suara mendesing menimbulkan gelombang besar yang menghancurkan apapun didepannya.


Ustad Basyari langsung menyapukan Pedang Abu Bakar dengan posisi vertikal. Kilatan cahaya putih nampak membetuk pedang melesat cepat memangkas didepannya.


Sedangkan Ustad Baharudin, Tongkat Pagar Alamnya langsung dihentakkan kebawah dengan keras. Suaranya laksana bom hingga menimbulkan getaran hebat. Dari hentakan tombaknya seketika membuat rekahan lebar lurus didepannya.


Disaat bersamaan, ratusan prajurit Monyet Siluman merangsak berlompatan menerjang keempat Sukma dari segala arah. Akan tetapi sekitar tiga jengkal saja ratusan prajurit itu semuanya terpelanting oleh hantaman gelombang dahsyat senjata Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin.


Ratusan prajurit Monyet Siluman itu bertumbangan dengan kondisi terbakar lalu musnah meninggalkan kepulan asap hitam. Kini didepan keempat sukma terpampang jelas istana yang sangat megah berlapiskan emas.


Sementara sapuan senjata Tombak Pagar Alam digenggaman Ustad Baharudin mengakibatkan pijakan didepannya terbelah membuat sepasukan masuk terjun bebas kedalamnya.


Keempat Sukma kembali bersiap mengerahkan kekuatan melalui senjatanya masing-masing. Sasarannya menghancurkan istana Kalas Pati, Raja Siluman Monyet.


Sejurus kemudian saat senjata akan disapukan, tiba-tiba pijakan kaki keempat Sukma terasa bergetar-getar. Seperti ada langkah kaki yang sangat besar yang menghentak-hentak.


Benar saja! Tepat didepan Istana, sosok mahluk tinggi besar dengan mahkota di kepala dan tongkat kuning ditangan kanannya sudah berdiri.


Wajahnya hijau berbulu lebat, sorot matanya merah tajam menatap keempat Sukma dengan amarah yang meledak-ledak.


"Grrrrrrkkkkkhhh...!" Suara erangannya sangat terasa menggetarkan jantung empat Sukma.


Belum habis keterkejutannya, empat Sukma terkesiap kaget melihat satu kilatan cahaya kuning dari ayunan tongkat sebesar pohon kelapa mengarah ketubuh mereka.


"Awasss..!" Teriak Gus Harun.


Keempat sukma meloncat menghindari gelombang sapuan yang dahsyat itu.


Tak dapat dibayangkan sedetik saja mereka telat menghindar, hancurlah empat Sukma. Gelombang hantaman tongkat Raja Kalas Pati hanya mengenai tempat kosong. Namun begitu meski tak sampai mengenai tubuh keempat sukma tetapi hawa panasnya tetap terasa.


"Itu Kalas Pati, Raja Siluman Monyet!" Seru Abah Dul.


Dengan satu jejakkan, keempat Sukma melesat menerjang kearah Raja Kalas Pati dari empat penjuru sembari berteriak, "Allaaaahu Akbarrr..!"


Ayunan Cambuk Amal Rosuli digenggaman Gus Harun mengiblat menyasar kepala Raja Kalas Pati dengan suara menderu diiringi pancaran cahaya merah.


Disisi kanan Sukma Ustad Basyari membuat gerakan memangkas mengarah pada tubuh bagian punggung Raja Kalas Pati. Sementara dari sisi kanan, Tongkat Pagar Alam digenggaman Sukma Ustad Baharudin menyapu bagian perut.


Abah Dul tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tombak Mata Kembarnya dihujamkan tepat pada bagian tengkuk Raja Kalas Pati.


Empat titik sasaran yang dilancarkan empat sukma pastilah akan mrnghancurkan Raja Kalas Pati oleh hantaman senjata-senjata maha dahsyat.


Saat keempat senjata itu akan mengenai tubuh Raja Kalas Pati, tiba-tiba terdengar ledakan maha dahsyat.


"Booommmm..!" Kilatan cahaya menyala terang dari tubuh Raja Kalas Pati.


Gus Harun terpental jauh, begitupun dengan tiga Sukma lainnya, Abah Dul, Ustad Baharudin dan Ustad Basyari.


Sementara Raja Kalas Pati nampak masih tegap berdiri memegang tongkat besar yang diputar-putar melindungi tubuhnya.


Melihat empat Sukma terlempar, Raja Kalas Pati menyeringai dan tertawa sinis.

__ADS_1


"Wuahahahaha.... Wuahahahaha... Wuahaahaha...! Mana manusia yang katanya sakti itu, wuuahahahahaha...." Suranya menggelegar dahsyat.


......................


__ADS_2