Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
AKHIR PERTEMUAN


__ADS_3

Samar- samar terlihat Kosim menyunggingkan senyumannya, senyuman yang paling manis yang selama ini belum pernah dilakukannya. Tangan kanannya di lambai- lambaikan pada semua yang sedang menatapnya dengan mulut ternganga. Wujud Kosim perlahan melayang dengan entengnya setinggi plafon ruang tengah sembari terus melambai- lambaikan tangan dengan melemparkan senyum termanis ke semua yang ada di ruangan itu.


Arin kian meratap menatap Kosim lekat- lekat yang melayang diatas kepalanya tanpa mau berkedip wakau sekejap. Seakan- akan tak mau melewatkan sedetik pun kepergian mendiang suaminya tersebut.


Dewi menatap Kosim dengan nanar, pandangannya mulai buram tergenangi linangan air mata yang tak lama lagi akan segera luruh tumpah.


Mahmud menatap Kosim dengan beragam perasaan yang bergejolak didalam hatinya. Kedua matanya tampak berkaca- kaca tanpa dapat mengatakan apa- apa, lidahnya berasa kelu tak kuasa berucap.


Begitu pula dengan dengan Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin, mereka semua tak kuasa menyembunyikan perasaan yang mengharu biru menyaksikan perpisahan Kosim dengan istri, anak dan kedua kakak iparnya.


"Ayaaaaahhhh....!" teriak Dede histeris dengan tiba- tiba.


Teriakkan Dede membuat semuanya tersentak kaget dan sekejap membuyarkan suasana haru biru. Tetapi sekejap berikutnya suasana kemnbali hanyut dalam keharuan yang lebih menyayat hati mereka.


"Ayahhhh... Jangan tinggalkan Dede ayaaahhh..." rajuk Dede diakhiri tangisan kencang melihat Kosim semakin samar dan pudar dari pandangan.


Putra Kosim yang duduk di pangkuan Arin seketika menangis histeris meronta- ronta, kedua tangannya menggapai- gapai kearah Kosim yang terus memudar.


Dede seperti baru menyadari dan memahami situasi serta kondisi bapaknya yang terlihat memudar perlahan- lahan. Melihat reaksi Dede yang terus menggapai- gapai kearah Kosim membuat air mata  mereka yang sebelumnya sudah berlinangan menghalangi pandangannya kini tumpah dan luruh ke pipi.

__ADS_1


Arin kian tersedu- sedu, tangannya juga menggapai- gapai kearah Kosim sama seperti yang dilakukan Dede melihat Kosim yang sudah menjadi bayang- bayang yang tak jelas bentuknya.


Dalam hitungan detik saja Wujud Kosim sudah tak terlihat lagi. Bersamaan lenyapnya Kosim, isak tangis Arin, Dewi serta Dede pun pecah, Dewi segera memeluk Arin dan Dede. Ketiganya menangis tersedu- sedu hingga tubuhnya berguncang- guncang keras.


Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin menundukkan kepalanya, hati dan perasaan mereka turut larut dalam suasana haru. Batas waktu Kosim berada di alam fana telah berakhir, Kosim akan menjalani kehidupan arwahnya di alam Kajiman, dimana alam tersebut merupakan tempat berkumpulnya arwah- arwah yang matinya belum diterima bumi atau lebih tepatnya belum menempati alam Barzah, alam yang seharusnya para arwah tempati setelah kematian.


Bermacam- macam persoalan yang mengganjal para arwah yang menempati alam Kajiman yang membuat para arwah tak dapat memasuki alam kubur atau alam Barzah. Ada yang mati akibat bunuh diri karena tekanan hidup seperti himpitan ekonomi, ada yang bunuh diri karena tidak bisa membayar hutang pada rentenir, ada yang mati akibat dibunuh, ada yang mati akibat kecelakaan dan masih banyak lagi yang kesemuanya memiliki latar belakang sebab dan akibat.


Pada saat matinya jasad yang masih menyisakan persoalan di dunia fana membuat arwah- arwah tersebut tidak dapat menjalani prosesnya menuju alam Barzah karena masih menyimpan beban persoalan yang ingin diselesaikan. Sehingga arwah mereka disebut sebagai arwah penasaran.


“Arin… ikhlaskan dengan sepenuh hati kepergian suamimu,” ucap Mahmud diantara isak tangis Arin dan Dewi.


“I, iya mas. Saya hanya saja shok mendengar pengakuan Kosim sampai melakukan perbuatan terkutuk itu mas, perbuatan yang sangat di laknat Gusti allah. Saya sempat merasa tidak rela jika adik saya dan keponakan saya diberi makan hasil dari persekutuan dengan mahluk gaib,” ucap Dewi sesenggukkan.


“Kosim belum sampai menimati harta dari perjanjian gaibnya itu Wi. Jadi saya yakin di dalam tubuh Arin dan Dede tidak mengalir darah haram yang berasal dari makanan hasil pemberian siluman monyet itu,” tegas Mahmud.


Dewi langsung mengangkat wajahnya menatap Mahmud penuh dengan selidik sambil bertanya sekaligus memastikannya; “Benarkah mas?!”


“Benar Wi, yang dikatakan Mahmud itu memang kenyataan. Saya dan Mahmud sudah mengetahuinya sejak awal, dan saya berani menjamin kalau Kosim belum sempat mendapatkan harta pemberian siluman monyet itu,” sela Abah Dul ikut meyakinkan Dewi.

__ADS_1


“Kenapa bisa seperti itu Bah?!” tanya Dewi masih belum percaya. Sebab yang dia tahu tidak ada seorang pun yang dapat mengingkari perjanjian gaib tersebut dan pastinya paling tidak sudah pernah merasakan hasil jerih payah setelah melakukan ritual perjanjian.


“Kosim telah menceritakan dari sejak awal dia mendatangi tempat pesugihan hingga dia memutuskan tidak melanjutkannya karena hati nuraninya lebih besar rasa sayang daripada hasratnya memiliki harta. Itu semua karena dia melihat penderitaan anaknya dan juga Arin, sehingga dia semakin menguatkan tekadnya untuk melawan perjanjian gaib itu,” ungkap Abah Dul.


Dewi dan Arin termangu mendengarkan penjelasan Abah Dul, hatinya berusaha untuk mencerna kalimat demi kalimat agar dapat diterima oleh akal pikirannya. Kakak beradik itu bergeming masih menunggu penjelasan selanjutnya dari Abah Dul.


“Hati saya tergerak merasa kasihan melihat kondisi Kosim pada saat itu, dia sangat depresi. Disatu sisi dia ingin membahagiakan Arin dan Dede dengan cara menjadi kaya agar dapat memenuhi keinginan istri dan anaknya, namun disisi lain Kosim tak ingin kehilangan anak ataupun istrinya,” lanjut Abah Dul.


Seketika tangis Arin kembali pecah, rasa penyesalan didalam dirinya semakin kian membesar dan rasa bersalah atas sikapnya pada Kosim kembali membayang- bayangi pikirannya.


“Ini semua salah saya mbak… salah saya,” ucap Arin lirih sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Dewi kembali memeluk adiknya itu penuh kasih sayang. Ia ikut larut dalam perasaan bersalah yang membebani Arin. Dewi mengerti sekarang kenapa pada waktu itu Arin sampai sempat ingin mengakhiri hidupnya, mungkin beban bersalah yang ditanggung Arin terlampau berat. Ia tahu, Arin benar- benar merasa sangat bersalah pada Kosim dan sangat menyesali perbuatannya.


“Saya tak tega melihat penderitaan Kosim, sehingga saya memutuskan untuk membantunya melawan perjanjian gaib itu dengan meminta bantuan sahabat- sahabat saya ini. Berkat bantuan Gus Harun, Basyari serta Baharudin pulalah nyawa Kosim berhasil diselamatkan meski pertaruhannya adalah nyawa sahabat- sahabat saya sendiri. Kalian ingat, sudah beberapa kali kejadian yang nyaris saja merenggut nyawanya dan itu semua berasal dari ulah siluman monyet yang berusaha mengambil nyawa Kosim karena telah dianggap Kosim telah mengingkari janji, ungkap Abah Dul.


Saat itu juga Arin dan Dewi kembali terbayang rangkaian rentetan- rentetan kejadian yang aneh yang menimpa pada Dede maupun diri Arin. Kakak beradik itu perlahan- lahan nampak sudah mulai tenang, lalu menatap kearah Gus Harun, Basyari dan Baharudin satu persatu. Sebelumnya Gus Harun, Basyari serta Baharudin adalah orang- orang yang tidak mereka kenal, tetapi mereka dengan sukarela mau terlibat membantu keluarganya dengan taruhan nyawa.


Maka tidak ada alasan lagi bagi Dewi untuk menghakimi Kosim dengan perbuatannya yang menyebabkan terjadinya peristiwa- peristiwa aneh di rumahnya. Apalagi kini ia memahami penyebab Kosim melakukan semua itu.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2