
"Sayang sekali kang Mahmud tidak bisa hadir di acara syukurannya pak Harjo. Padahal pak Harjo dan keluarganya sangat mengharapkan semuanya bisa datang kesana mbak Dewi, mbak Arin," kata pak Diman dihadapan Dewi dan Arin yang memangku Dede dengan nada menyesal.
"Iya pak, baru saja tadi malam mas Mahmud berangkat," sahut Dewi.
"Tapi mbak Dewi dan mbak Arin juga Dede diusahakan bisa datang ya mbak," ucap pak Diman sangat berharap kepastian dari Dewi dan Arin.
"Kalau saya sih apa kata mbak Dewi saja pak," ujar Arin.
"Aduh gimana ya pak Diman, sebelumnya saya minta maaf ya pak Diman, saya dan adik saya belum bisa memberikan keputusannya sekarang soal bisa datang atau tidaknya ya pak," ucap Dewi merasa berat hati mengatakannya.
Pak Diman seketika terlihat mengerutkan keningnya, jika keluarga Mahmud tidak ada yang datang pasti pak Harjo dan keluarganya akan merasa sangat kecewa sekali.
"Waduh, mbak Dewi dan mbak Arin pokoknya mesti datang mbak. Kasihan keluarga pak Harjo yang sudah sangat mengharapkan kedatangan keluarga mbak. Pak Harjo merasa sangat berterima kasih loh mbak, kalau keluarga mbak nggak datang pak Harjo pasti sangat kecewa sekali," kata pak Diman sedikit memaksa.
"Tapi pak..." ucapan Dewi terhenti karena langsung di sergah pak Diman.
"Nanti saya jemput, lusa pagi mbak," sergah pak Diman membuat Dewi dan Arin tampak kikuk tak bisa berkata- kata lagi.
"Begitu saja ya mba Dewi, mbak Arin saya pamitan. Jangan lupa nak Dedenya juga ikut yah," kata pak Diman lalu pak Diman berdiri dan menangkupkan kedua tangan di dadanya sebagai pengganti jabat tangan.
"I, iya pak," sahut Dewi ragu- ragu dan bingung.
Saat pak Diman sampai di depan pintu, pak Diman tiba- tiba berhenti lalu membalikkan badannya lagi seraya berkata; "O iya saya hampir lupa mbak, sebentar saya ambil dulu di mobil ya,"
Tanpa menunggu sahutan Dewi atau pun Arin, pak Diman buru- buru melangkah meninggalkan rumah Mahmud menuju mobilnya yang diparkir di depan gang.
Dewi tampak sangat bingung sekali masih memikirkan apakah bisa datang atau tidak. Di satu sisi dirinya merasa sangat tidak enak hati, pak Harjo sudah mengundangnya langsung meski pun diwakilkan melalui pak Diman yang sudah datang jauh- jauh hanya untuk menyampaikan undangan tersebut untuk keluarganya.
Tetapi di sisi lain, sebagai seorang istri sangat tidak baik jika bepergian tanpa diketahui oleh suaminya apalagi sampai tidak meminta ijin lebih dulu.
"Sebaiknya saya meminta saran dari mas Mahmud dulu," ucap Dewi dalam hati.
Tak lama kemudian pak Diman sudah terlihat dikejauhan sedang menuju ke rumah Mahmud. Di kedua tangannya tampak menenteng sesuatu.
"Maaf ya mbak, saya cuma bisa bawa ini. Ya sebagai ucapan terima kasih saya dan istri saya mbak," kata pak Diman sembari menyerahkan dua parcel berisi aneka macam buah- buahan.
"Asyiiikk Dede dapat buah- buahan bundaaa..." seru Dede girang.
"Sssttt... Dede nggak boleh gitu, malu sama pak Diman, hehehe... Maaf ya pak," ujar Arin.
__ADS_1
"Hehehe... Ini buat nak Dede semua ya," kata pak Diman menyodorkannya pada Dede.
"Aduh pak Diman, pak Diman... Kok jadi merepotkan pak Diman saja," sahut Arin yang menerima satu parcel, disusul parcel satunya diterima Dewi.
"Ah, ini nggak seberapa jika dibandingkan dengan rasa syukur atas kesembuhan istri saya mbak," balas pak Diman.
"Terima kasih banyak loh pak," ujar Arin.
"Iya terima kasih, matur suwun sanget ya pak Diman," timpal Dewi.
"Njih, sama- sama mbak. Kalau begitu saya langsung pamit ya mbak, assalamualaikum..." ucap pak Diman.
"Monggo, monggo... Wa alaikum salam, hati- hati dijalan pak Diman," balas Dewi melambaikan tangan.
Sepulangnya pak Diman, Dewi dan Arin duduk kembali di ruang tamu membicarakan masalah undangan tersebut.
"Bagaimana ya Rin, mbak bingung banget," kata Dewi.
"Ya gimana mbak, kalau nggak datang kita juga nggak enak dengan pak Harjo. Tapi kalau pun datang juga nggak enak karena nggak ada mas Mahmud," ujar Arin.
"Nah, itu dia yang mbak pikirkan rin. Sebentar mbak mau telpon mas Mahmud dulu, minta sarannya. Kalau kata mas Mahmud mengijinkan dan menyuruh kita datang, ya terpaksa kita datang memenuhi undangan itu," kata Dewi.
"Iya mbak," sahut Arin.
"Oh Dede mau buah ini? Ini namanya buah anggur?" kata Arin lalu membuka plastik yang membungkus pacel tersebut.
Dede mengangguk- angguk girang menunggu ibunya membuka plastik mengambilkan buah anggur yang dimintanya.
"Hallo, assalamualaikum mas.." terdengar Dewi berbicara di telpon.
"Wa alaikum salam, ada apa wi?" sahut Mahmud dari seberang telpon dengan nada sedikit khawatir.
"Nggak apa- apa mas, ini cuma mau kasih tahu saja tadi ada pak Diman datang ke rumah," kata Dewi.
"Pak Diman? Pak Diman... Pak Diman... Oooohh ya ya, pak Diman yang sama pak Harjo dari desa Palu Wesi itu Wi? Ada apa dia datang ke rumah?" sahut Mahmud.
"Iya pak Diman yang senalam datang sama pak Harjo itu mas, pak Diman menyampaikan undangan pada kita untuk datang di acara syukurannya pak Harjo," terang Dewi.
"Kapan Wi?" tanya Mahmud.
__ADS_1
"Besok lusa mas," jawab Dewi.
"Ealah, kalau lusa sih masnya belum pulang wi," balas Mahmud.
"Iya mas, sudah saya sampaikan ke pak Dimannya juga begitu, tapi pak Diman tetap memaksa meminta kita untuk datang. Bahkan dia sendiri yang akan menjemputnya nanti, gimana ya mas?" kata Dewi.
"Mm, ya udah Wi datang aja nggak apa- apa," sahut Mahmud.
"Kalau begitu sekalian Dewi minta ijin ya mas pergi ke undangan itu sama Arin dan Dede," kata Dewi.
"Iya Wi, mas ijinin," sahut Mahmud.
"Mas sudah sampai dimana sekarang?" tanya Dewi.
"Mmm, masih di Semarang Wi. Ini baru saja selesai urusannya dan sedang jalan lagi langsung ke Surabaya," jawab Mahmud.
"Hati- hati di jalan ya mas," ucap Dewi.
"Insya allah, kamu juga hati- hati nanti ya Wi. Jaga Dede baik- baik," sahut Mahmud.
"Ya sudah ya Mas, assalamualaikum.." ucap Dewi lalu menutup telponnya setelah Mahmud menjawab salamnya.
"Gimana mbak? Diijinin sama mas Mahmudnya?" tanya Arin melihat kakaknya menutup telpon.
"Iya Wi, ya terpaksa deh kita datang kesana," jawab Dewi.
"Kapan tadi acaranya mbak? Besok atau besok lusa?" tanya Arin.
"Besok lusa Rin, ah gimana sih masih muda udah pikun, hikhik..." balas Dewi.
"Yeee, bukannya gitu mbak. Tadi saya nggak begitu konsen karena Dede," ujar Arin berkilah.
"Siapa tahu disana kamu dapat jodoh Rin, hehehe..." seloroh Dewi menggoda adiknya.
"Ih' apaan sih mbak," sergah Arin tersipu- sipu.
"Ya nggak apa- apa juga Rin, kamu masih muda dan Dede juga butuh kasih sayang dari seorang bapak meski bapak sambung," kata Dewi mulai serius.
"Saya takut dengan hukum karma mbak," ujar Arin.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Dewi.
"Dulu saya menyia- nyiakan mas Kosim. Saya takut jika saya menikah lagi dan suami baru itu tidak seperti mas Kosim mbak. Mas Kosim tidak pernah berlaku macam- macam di luar sana. Dia jujur dan sangat sayang sama saya dan Dede. Takutnya karma itu jatuh pada suami baru memperlakukan saya seperti saya memperlakukan mas Kosim dulu," ungkap Arin menundukkan kepala.* BERSAMBUNG