Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
LANGKAH SELANJUTNYA


__ADS_3

Raja Kajiman beserta pasukannya dengam beringas menerjang para prajurit -prajurit siluman monyet yang dalam posisi membelakanginya. Karena mereka sibuk  dengan menahan gempuran dari pasukan Kosim


disisi kiri dan pasukan tuan Denta dari arah depan.


Raja Kajiman dengan cepat menusukan tombak emasnya berkali- kali pada setiap punggung para prajurit siluman monyet yang berada dalam jangkauan tebasan pedangnya. Begitu pula dengan pasukan yang menyusul dibelakangnya maju merangsak mencari musuh- musuhnya. Pasukan Kajiman yang dipimpin Raja Kajiman itu tak kalah brutalnya dalam menghabisi setiap prajurit siluman monyet yang ditemuinya.


Seketika kepulan asap demi kepulan asap berwarna kelabu terus mengup yang berasal dari musnahnya wujud- wujud prajurit siluman monyet. Kepulan asap- asap kelabu detik itu juga langsung menyelimuti medan pertempuran tak ubahnya seperti perkampungan yang terbakar.


Beberapa saat kemudian setelah kepulan asap- asap kelabu mengepul keatas lalu hilang membumbung ke langit, kini yang  nampak hanya menyisakan dua belas prajurit siluman monyet yang masih berdiri mematung dengan tubuh gemetar ketakutan.


Kosim yang melihat musuh didepannya hanya diam terpaku, segera dengan cepat melesat kearah selusinan prajurit siluman monyet menerjang sembari mengayunkan pedang emas di tangannya.


Suara siuran dari laju pedang Kosim mampu membuat desiran angin disertai hembusannya terasa kencang menerpa pasukan jin dan pasukan Kajiman yang mengelilinginya.


Kilatan cahaya kuning emas berkelebat menyasar batang leher kesepuluh prajurit siluman monyet. Seketika itu juga dua belas kepala terlepas dari batang lehernya terpental keberbagai arah disusul tubuh- tubuh tanpa kepala luruh kebawah dan nyaris secara bersamaan dua belas prajurit siluman monyet itu musnah mengepulkan asap kelabu yang membumbung keatas lalu lenyap menghilang.


Kosim masih berdiri tegak dengan pedang ditangan yang masih ditodongkan kedepan meskipun seluruh musuh- musuhnya sudah tidak ada yang terlihat satu pun. Matanya menyorot tajam dengan wajah dingin membesi.


"Huhhhh!"


"Huhhhh!"


"Huhhhh!"


Seketika Kosim baru tersadar dari amarah dendam yang baru saja terlampiaskan tatkala mendengar teriakan- teriakan sorak sorai dari seluruh pasukan yang berada disekelilingnya.


Seluruh pasukan dari golongan jin dan golongan Kajiman bersorak sorai penuh suka cita, semuanya melompat- lompat girang sembari mengacung- acungkan senjata di tangannya keatas langit. Suara koor dari dua ratusan pasukan menggema seantero alam siluman. Ungkapan rasa suka cita dari seluruh pasukan itu hanya berlangsung beberapa saat, kemudian mereka semua terdiam ketika tuqn Denta menyerukan perintahnya.


"Ayo jalankan rencana berikutnya!" seru tuan Denta.

__ADS_1


"Huhhhh!"


"Huhhhh!"


"Huhhhh!"


Kembali terdengar suara sahutan penuh semangat dari seluruh pasukan menggema di angkasa. Sedetik kemudian di dahului tuan Denta, Kosim dan raja Kajiman, disusul kedua pasukan dari mahluk yang berbeda golongan itu mulai bergerak menuju pintu gerbang istana.


Sementara itu dibalik benteng istana kerajaan siluman monyet kini tambang lenggang, tidak ada satu pun prajurit yang ada di pelataran di luar istana tersebut.  Sehingga terdengar jelas suara hentakan- hentakan gendang bertalu- talu yang berirama dengan trompet keluar dari dalam istana.


Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud yang sudah lebih dulu berada di posisinya di samping kiri


bangunan utama istana kerajaan siluman monyet melihat rombongan pasukan memasuki gerbang istana tersenyum sumringah.


“Mereka berhasil!” seru Gus Harun.


Gus Harun beserta empat sahabatnya segera berdiri kemudian sesaat memeriksa sekelilingnya, setelah diapstikan tidak ada lagi prajurit siluman monyet yang berjaga di luar istana mereka pun melesat cepat kearah rombongan pasukan yang di pimpin tuan Denta, Kosim dan Raja Kajiman.


Pasukan yang keseluruhannya berjumlah 200 ribu tersebut berkumpul di pelataran halaman istana tanpa


menimbulkan suara. Sehingga yang terdengar hanyalah bebunyian gendang bertalu- talu mengiringi suara terompet yang berpadu berirama gembira terdengar keluar dari dalam istana nan megah tersebut.


Hanya butuh waktu 30 menitan utnuk ukuran waktu di alam manusia para pasukan golongan jin dan golongan Kajiman menyelesaikan strategi awal yang berjalan dengan mulus tanpa mengalami kendala yang berarti. Semuanya sudah sesuai dengan yang diperkirakan Gus Harun dengan memanfaatkan kondisi para siluman monyet yang sedang dalam keadaan mabuk berat. Bahkan dalam situasi para siluman monyet sedang hanyut dan terbuai dengan pesta pora mereka.


Gus Harun beserta keempat sahabatnya berdiri melayang sebatas kepala di hadapan tuan Denta, Kosim, Raja kajiman dan para pasukan. Ujung bawah jubah kebesarannya sebagai keluarga Kesultanan banten nampak berkibar- kibar, sesaat Gus Harun melemparkan pandangannya menyapu memperhatikan seluruh pasukkan yang terlihat segar bugar dan siap bertempur. Gus Harun nampak menyunggingkan senyum penuh bangga dan haru menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ada keoptimisan yang begitu besar tergambar di wajahnya.


“apakah kalian sudah siap memusnahkan siluman –siluman monyet di dalam istana sana?!” seru Gus Harun


suaranya menggema hingga terdengar kepada pasukan barisan paling belakang.

__ADS_1


“Kami siap tuan!” sahut pasukan serempak suaranya terdengar seperti sebuah suara koor raksasa menggema seantero pekatnya alam siluman.


“Di dalam istana yang sangat besar itu, masih banyak prajurit- prajurit siluman monyet yang jumlahnya mungkin 10 kali lipat lebih banyak dari jumlah prajurit yang sudah kalian musnahkan. Bahkan mungkin yang berada di dalam istana itu adalah prajurit- prajurit siluman monyet yang memiliki pangkat tinggi sehingga kekuatannya pun jauh diatas para prajurit yang musanh itu!” kata Gus Harun mengingatkan.


“Kami siap tuan!” sahut pasukan.


“Ingat jangan sekali- kali berhadapan langsung dengan Raja kalas pati, kalian tidak akan mampu menandingi


kekuatannya sekalipun jumlah kalian banyak!” seru Gus Harun.


“Kami siap tuan!” sahut pasukan.


“Kita akan segera bergerak masuk. Tapi ingat jangan gegabah, kita jalankan sesuai dengan strategi yang sudah di sampaikan pimpinan kalian!” Gus harun kembali mengingatkan.


“Baik tuan!” balas suara pasukan kembali menggema seperti sebuah suara koor raksasa.


Gus Harun kemudian melayang turun dihadapan empat sahabatnya yang berbaris sejajar dengan tuan Denta, Kosim serta Raja Kajiman. Beberapa saat nampak Gus Harun berbicara dengan mereka sebelum akhirnya mereka bergerak melayang menuju pintu utama istana kerajaan siluman dengan diikuti seluruh pasukan.


Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud kini telah berdiri di depan sebuah pintu besar dan menjulang tinggi. Pintu raksasa berwarna kuning emas itu merupakan pintu masuk utama istana kerajaan siluman monyet yang dipimpin oleh raja Kalas Pati.


Gus Harun mendekati daun pintu emas lalu menempelkan telinganya untuk mendengarkan aktifitas yang ada di dalam istana. Tak lama kemudian Gus Harun memberikan kode kepada keempat sahabat serta tuan Denta, Kosim dan Raja Kajiman untuk mendekat kepadanya.


“Tolong bantu membuka pintu ini,” kata Gus Harun setelah semuanya berkumpul.


“Baik Gus,” balas mereka serempak.


“Pelan- pelan jangan lebar- lebar, kita buka secukupnya saja seukuran tubuh kita,” bisik Gus Harun.


“Baik Gus,” balas empat sahabat dan yang lainnya.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2