
Tak lama kemudian kilauan cahaya putih juga muncul di dalam ruangan tengah tersebut. Cahaya itu berasal dari
ujung tangan Abah Dul yang membuat ruangan menjadi semakin terang benderang oleh kilauan perpaduan dua cahaya berwarna keemasan dan warna putih. Cahaya putih di tangan Abah Dul perlahan memanjang membentuk sebuah senjata trisula. Aura energi kekuatannya tak beda jauh dengan pusaka Cambuk Amal Rosuli yang berada ditangan Gus Harun.
“Trisula Perak…” ucap Gus Harun dalam hati.
Sesaat kemudian tubuh Abah Dul tampak bergetar, tangan kirinya terangkat keatas dan tiba- tiba saja sebuah
cahaya ke emasan muncul dari genggamannya. Perlahan- lahan cahaya ke emasan tersebut berubah memanjang sekitar dua setengah meter lalu tampaklah sebuah tongkat besi emas tergenggam di tangan Abah Dul. Tekanan aura dari tongkat emas itu memiliki energi kekuatan sedikit lebih tinggi dari senjata pusaka trisula yang tergenggam di tangan kanannya.
Ruang tengah rumah Mahmud kini semakin bertambah terang oleh munculnya satu lagi senjata gaib yang pegang Abah Dul. Seketika Gus Harun mengernyitkan dahinya merasakan aura kekuatan yang masih asing
baginya. Namun Gus Harun dapat merasakan energi kekuatan itu berasala dari arah sampingnya dimana Abah Dul duduk.
“Senjata pusaka apa lagi yang dimiliki Dul…?” tanya Gus Harun dalam hati.
“Apakah itu senjata pusaka dari alam jin?” lanjut Gus harun dalam hati.
Gus harun teringat dengan cerita petualangan Abah Dul yang sempat dinyatakan hilang karena memasuki alam Jin sampai akhirnya bertemu dengan tuan Denta sekaligus membawanya keluar dari alam Jin. Hingga tuan Denta pun mengabdikan diri untuk menjaga makam Sultan Hasanudin karena dirinya merasa hutang nyawa pernah diselamatkan nyawanya oleh Sultan hasanudin.
Selang beberapa saat kemudian, cahaya putih memancar dari tangan Baharudin. Cahayanya berbaur dengan satu cahaya putih dan dua cahaya kuning keemasan. Tangan Baharudin nampak bergetar seiring cahaya putih ditangannya memanjang lalu berubah menjadi sebuah toya atau tongkat kayu. Toya di genggaman Baharudin juga memiliki kekuatan yang setara dengan Cambuk Amal Rosuli milik Gus Harun dan Trisula perak ditangan kanan Abah Dul. Toya itu yang disebut- sebut senjata pusaka bernama ‘Toya Pagar Alam.’
“Pusaka Toya Pagar Alam…” gumam Gus harun dalam hati.
Basyari yang duduk bersila disebelah Baharudin dengan kusyu dan mata terpejam pun turut merasakan hadirnya senjata- senjata gaib berkekuatan besar milik ketiga sahabatnya. Tak lama kemudian tangannya pun bergetar bersamaan munculnya cahaya putih dan membentuk sebuah pedang besar. Aura energi kekuatannya sama dengan Cambuk amal Rosuli dan Trisula perak.
“Pedang Abu Bakar…” ucap Gus Harun dalam hati.
Gus harun sangat hafal dan mengenal aura- aura senjata pusaka dari sahabat- sahabatnya tersebut, seperti
halnya kemunculan pusaka bernama pedang Abu Bakar ditangan Basyari. Ketiga senjata pusaka tersebut saling memancarkan pamornya yang berkekuatan dahsyat membentuk sebuah garis melingkar yang terputus pada posisi Mahmud.
Di posisi Mahmud sebuah cahaya merah delima tiba- tiba muncul menyelimuti sekujur tubuhnya. Cahaya merah
delima itu langsung berbaur menyambung dengan cahaya putih yang membentuk lingkaran yang terputus sehingga sekilas nampak mirip seperti membentuk sebuah cincin perak bermata merah delima.
__ADS_1
“Batu pusaka Mustika ular…” ucap Gus harun dalam hati.
Gus Harun pun mengenali aura yang terpancar dari benda mustika yang dimiliki Mahmud, sebab beberapa waktu yang lalu dirinya dan Abah Dul pernah diselamatkan oleh kekuatan Mustika Ular tersebut pada saat bentrok dengan Raja Kalas Pati.
“Subhanallah…” gumam Basyari saat membuka matanya.
Basyari merasa takjub melihat pemandangan di hadapannya yang mempertontonkan lingkaran cahaya putih melingkar diselingi dengan cahaya merah delima yang membungkus tubuh Mahmud.
“Pusaka Cincin…” ucap Basyari spontan.
Basyari menyebutkan nama itu secara spontan tatkala melihat perpaduan cahaya putih yang berasal dari senjata
gaib dan cahaya merah yang membungkus tubuh Mahmud membentuk sebuah cincin raksasa bermata merah delima.
Ucapan Basyari itu didengar oleh Abah Dul, Gus Harun, Baharudin serta Mahmud sehingga membuat mereka penasaran lalu membuka matanya.
“Subhanallah…” gumam Baharudin.
“Subhanallah…” timpal Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud bersamaan.
merah delima.
“Sebentar lagi pukul 12, mari kita bergabung bersama pasukan tuan Denta dan pasukan Kaziman,” kata Gus Harun menyadarkan ketakjuban Abah Dul dan yang lainnya.
“Mari Gus,” sahut mereka bersamaan.
“Bismillahi rohmanirohim, Allahu akbar!” seru Gus harun.
“Bismillahi rohmanirohim, Allahu akbar!” susul Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud bersamaan.
Dalam sekejap mata tubuh mereka melesat keatas dan hilang menembus atap plavon rumah Mahmud. Kini di ruang tengah suasana seketika sunyi sepi, hanya menyisakan kepulan asap roko di dalam asbak bekas rokok Abah Dul yang tinggal sedikit.
Dialam Tak Kasat Mata,
Suara guntur yang menggelegar terasa begitu dekat dan dirasakan sangat keras didengar oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud saat memasuki alam tak kasat mata. Kilatan- kilatan petir yang menjalar tak ubahnya seperti lidah ular tampak cahaya timbul tenggelam saling susul menyusul.
__ADS_1
Pendaran cahaya dari kilatan- kilatan petir membias menerangi alam tak kasat mata sehingga memperlihatkan
deretan pasukan Jin dan pasukan Kaziman yang berbaris dengan rapih.
Kemunculan Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud secara bersamaan di depan barisan para pasukan yang di bawa tuan Denta dan Kosim, langsung disambut gemuruh teriakan dari kedua pasukan.
“Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!”
Seketika suara teriakan dari seluruh pasukkan yang berdiri dibelakang tuan Denta dan Kosim menggema di
angkasa yang gelap gulita menyambut Gus Harun dan sahabat- sahabatnya.
Mahmud tak henti- hentinya memandangi puluhan ribu pasukkan mahluk dari alam gaib di hadapannya dengan perasaan takjub sekaligus ngeri. Mahmud baru pertama kalinya melihat mahluk- mahluk dari alam gaib tersebut hanya diam terpana dengan beragam perasaan tak menentu.
“Kang Mahmud, apakah sudah siap?” tanya Gus harun sembari menepuk pundak Mahmud.
Seketika Mahmud terlonjak kaget dan membuyarkan rasa takjubnya terhadap pasukan mahluk alam gaib yang bersiap menghadapi pertarungan hidup dan mati.
“Saya siap Gus!” tegas Mahmud tanpa ragu- ragu.
Gus Harun menganggukan kepala seraya tersenyum sambil menepuk- nepuk pundak Mahmud memberikan semangat, “Gusti Allah bersama kita kang…” ucap Gus Harun.
“Tuan Denta, apakah sudah siap?” tanya Gus Harun mengalihkan pandangannya pada tuan Denta yang berdiri paling ujung diantara barisan Gus harun dan sahabat- sahabat lainnya.
“Kami sangat siap tuan!” tegas tuan Denta.
Gus Harun kemudian melangkah mendekati tempat Kosim berdiri disamping Abah Dul, “Apakah Kang Kosim sudah siap?” tanya Gus Harun.
“Insya Allah saya dan pasukan Kaziman siap Gus!” tegas Kosim mengencangkan cengkeraman tangannya pada gagang pedang yang dipegangnya.
Kemudian Tubuh Gus Harun melayang setinggi kepala didepan barisan para pasukan tuan Denta dan pasukan Kaziman. Sesaat Gus Harun memperhatikan puluhan ribu mahluk gaib dari dua golongan yang berda tersebut dengan seksama.
“Baiklah, dengarkan semuanya! Patuhi perintah pimpinan kalian sesuai dengan apa yang sudah direncanakan! Apakah kalian mengerti?!” seru Gus harun dengan lantang.
“Hu! Hu! Hu! Hu! Hu! Hu!” sahut seluruh pasukan sambil menghentakkan kaki dan mengacungkan beragam senjata di tangannya masing- masing.
__ADS_1
“Baiklah, mari kita berangkat!” teriak Gus harun menggema di angkasa berpadu dengan suara gemuruh guntur dan kilatan petir.** BERSAMBUNG …