
Istana Raja Siluman Monyet,
Raja Kalas Pati memandangi sosok manusia dihadapannya dengan seringaian yang menggidikkan. Sosok manusia itu berlutut dalam keadaan kedua tangannya dirantai sekaligus menyatu mengikat tubuhnya. Raut wajahnya penuh dengan gurat ketakutan yang teramat sangat bercucuran air mata.
“Kenapa kau ingkari janjimu!” Hardik Raja Kalas Pati dengan mata berkilat merah.
“Ampuuunn.. ampuuun... saya tidak sanggup lagi menyediakan tumbal. Warga sudah mulai curiga...” ucap manusia berusia 60 tahunan lirih.
“Itu urusanmu! Sekarang kamu harus menanggung akibatnya! Seret manusia itu gabungkan dengan yang lain!” seru Raja Kalas Pati.
Kemudian dua sosok monyet besar bergerak maju dan langsung menyeret manusia renta itu keluar ruangan.
“Ampuuun... ampuuun... jangan... jangaaan!” teriak manusia itu meronta-ronta dalam seretan dua sosok monyet besar.
Beberapa saat kemudian setelah setelah manusia itu diseret keluar ruangan dalam persidangan singkat, suasana hening. Ratusan monyet siluman yang berada di ruangan tersebut menundukkan kepalanya tanpa bersuara.
“Anggada Saen bagaimana pengamatan pada manusia bernama Kosim, apakah sudah ditemukan?!” tanya Raja Kalas Pati pada sosok monyet berikat kepala biru yang berdiri terpisah dideretan sebelah kanan.
“Ampun Junjungan, Hamba tidak menemukan manusia bernama Kosim itu. Tapi hamba mencium hawa manusia itu masih ada di rumah itu,” jawab Anggada Saen.
“Bagaimana bisa tidak ditemukan tetapi hawanya ada di rumah itu?!” tanya Raja Kalas Pati heran.
“Ampun junjungan, hamba sendiri tidak mengerti kenapa bisa begitu,” jawab Anggada Saen takut-takut.
“Sebentar lagi Kliwon tepat purnama, ambil darah daging manusia Kosim!” hardik Raja Kalas Pati.
Kemudian berdiri menatap tajam menyapu seluruh anak buahnya yang tertunduk dalam-dalam.
......................
Lereng Gunung Ng,
Suasana temaram melingkupi ruangan pondok kayu ditengah hutan lereng gunung Ng. Meskipun matahari baru saja lewat dari puncaknya namun rerimbunan hutan pinus menghalangi cahayanya masuk kedalam pondokkan itu. Didalam pondok, Ki Suta bersemedi semenjak matahari terbit. Dendam membara yang menggumpal didalam dadanya semakin hari kian menggunung karena belum juga berhasil menemukan orang yang telah membunuh saudara tuanya.
Wuuussssshhhh....
Tiba-tiba Ki Suta merasakan hembuskan angin berdesir turun dari atap pandok. Wajahnya terkejut namun tidak berlangsung lama karena Ki Suta tahu siapa sosok yang muncul didepannya. Sosok bertubuh tinggi besar berbulu lebat berdiri dihadapannya hingga badan transparan itu menembus atap pondok.
“Ada apa junjungan datang menemuiku?” tanya Ki Suta membuka matanya.
“Ki Suta, manusia yang membunuh saudaramu itu memiliki nama Abdul Basit. Dia berada di desa Sukadami,” suara besar dan sember menggema memenuhi ruangan pondok.
Wajah Ki Suta seketika membesi, giginya bergemeretak, tatapan matanya berkilat penuh kemarahan, kepalanya mendongak menatap sosok Raja Kalas Pati.
__ADS_1
“Aku akan datang kesana!” kata Ki Suta.
“Jangan gegabah Ki Suta! Manusia bernama Abdul Basit itu ilmunya tinggi, kamu akan mati sia-sia!” sentak Raja Kalas Pati.
KI Suta terdiam menahan gejolak dendam di dadanya hingga membuat nafasnya tersengal-sengal.
“Terkecuali kamu ikut bersama pasukanku menyerang bersama-sama di malam purnama malam Jumat Kliwon besok!” kata Raja Kalas Pati kemudian langsung menghilang sebelum Ki Suta berkata lagi.
Ki Suta hanya terdiam tertegun meradakan hempasan angin menerpa tubuhnya sepeninggal Raa Kalas Pati.
......................
Desa Sukadami,
Cahaya senja menyemburatkan kemerahan diufuk barat. Mahmud bergegas menyudahi aktifitasnya di kebun cabai yang sudah mulai berbuah lagi. Ia segera naik dari kubangan lumpur disela-sela petakkan kebunnya sambil menenteng cangkul. Mahmud tidak menyadari ada sesosok sedang memperhatikannya sedari tadi. Sosok itu berdiri tak terlalu jauh dari Mahmud selama Mahmud beraktifitas di kebun seolah-olah sedang menjaganya.
Mahmud melangkah menuju saluran irigasi yang berada di dekat gubuknya. Ia mencuci mata cangkulnya yang belepotan lumpur, lalu mencuci kaki, tangan serta mukanya. Sesaat kemudian Mahmud berdiri memandangi hamparan kebun cabainya sebentar lalu beranjak melangkah pulang.
......................
"Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam," jawab Dewi kemudian menghentikan menggoda Dede yang tertawa-tawa lucu.
"A, bah..." ucap bocah berusia 3 tahunan itu dengan mimik lucu.
"Ayo salim dulu," ucap Dewi pada Dede.
Bocah kecil itu beringsut berdiri menyongsong Abah Dul sambil mengulurkan tangannya. Abah Dul langsung menyambutnya dengan senyum mengembang, kemudian Dede mencium tangan Abah Dul lalu kembali lagi ke pangkuan Dewi.
"Wi, Mahmudnya ada?" tanya Abah Dul.
"Mas Mahmud belum pulang Bah. Mungkin sebentar lagi juga pulang," jawab Dewi.
Abah Dul ikut duduk di teras bersama Dewi dan Dede. Sementara Arin terlihat sedang menyapu di halaman samping rumah Mahmud. Tiba-tiba Abah Dul dan Dewi terperangah oleh teriakkan Dede sambil menunjuk-nunjuk ke halaman depan.
"A...yyy..ah... ayyyaah..." teriaknya polos, sambil menggapai-gapai kearah halaman depan.
Abah Dul dan Dewi saling pandang Keduanya kompak menoleh kearah yang ditunjuk Dede. Namun keduanya langsung tersenyum karena dari arah yang ditunjuk Dede itu terlihat Mahmud yang sedang berjalan mendekat.
"Assalamualaikum..." ucap Mahmud begitu sampai di halaman.
"Waalaikum salam, Mud..." sahut Abah Dul.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Mas.." timpal Dewi.
"Kenapa seperti pada kaget begitu?" tanya Mahmud keheranan melihat ekspresi Dewi dan Abah Dul.
Mahmud langsung duduk di bibir teras setelah meletakkan cangkul yang disampirkan di bahu kanannya di samping rumah.
"A...yyy..ah... ayyyaah..." Dede masih saja berteriak sambil menggapai-gapai ke halaman.
Abah Dul dan Dewi spontan menoleh kearah yang ditunjuk oleh Dede. Awalnya Dewi mengira kalau yang dipanggil-panggil Dede itu Mahmud karena di halaman tidak menemukan siapa-siapa.
"Itu pak de, sayang..." sergah Dewi.
"A...yyy..ah... ayyyaah..." Dede masih terus menggapai-gapai.
Dewi menoleh kearah Abah Dul meminta jawaban dari gerak gerik bocah itu. Abah Dul yang merasa janggal dengan tingkah Dede langsung memperkirakan kalau anaknya Kosim itu melihat sesuatu, ia pun langsung membuka penglihatan mata batinnya.
"Kosim...." gumam Abah Dul.
"Hah? Kosim?" seru Dewi spontan begitu mendengar gumaman Abah Dul.
"Kosim?" timpal Mahmud.
"Iya, Kosim sedang berdiri disitu memandangi anaknya," ungkap Abah Dul.
"Sedang apa Kosim bah?" tanya Dewi penasaran.
"Dia hanya berdiri saja memandangi Dede," ujar Abah Dul.
Kemudian Abah Dul terdiam, matanya menatap ketempat dimana Kosim berdiri yang tak dapat dilihat oleh Dewi. Abah Dul mencoba mengajak berkomunikasi dengan Kosim.
"Sim, ada apa datang kemari?" tanya Abah Dul.
Sosok Kosim tak kasat mata itu tidak menjawab namun sekilas terlihat dia tersenyum sedikit lalu melambaikan tangan entah ditujukan kepada anaknya ataukah kepada Abah Dul. Sesaat setelah melambaikan tangan Kosim perlahan membias lalu lenyap dari penglihatan mata batin Abah Dul.
"Apa kata Kosim bah?" tanya Dewi penasaran.
"Dia nggak menjawab Wi, dia sudah menghilang lagi.
Dewi menatap Dede lagi dan anak kecil itu sudah tidak lagi bereaksi memanggil-manggil ayahnya. Ia kembali asyik bermain dengan mobil-mobilannya.
"Bagaimana Bah dengan permintaan Kosim tadi malam?" ucap Mahmud.
"Bagaimana lagi Mud, kita harus melaksanakan permintaan itu. Lagi pula batu itu merupakan wasiat dan tidak boleh terpisah salah satunya. Kemungkinan Kosim masih menjaga keberadaan batu mustika itu di tempatnya kecelakaan. Dan itu salah satu alasan kenapa arwahnya masih gentayangan," ungkap Abah Dul.
__ADS_1
......................