Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SAAT TERAKHIR


__ADS_3

Peristiwa tertangkapnya pak Karjo dan istrinya hari itu juga langsung menjadi buah bibir topik obrolan di warung kopi maupun warung sayur mayur penduduk desa Sukadami dan sekitarnya.


Sementara orang- orang yang menjadi


korban aksi penipuan yang di lakukan pak Karjo dan istrinya saat mendengar kabar tersebut seketika berbondong- bondong mendatangi kantor polisi dimana pak Karjo dan istrinya diamankan untuk meminta tanggung jawabannya.


Bukan hanya tentang kabar tertangkapnya pak Karjo dan istrinya saja yang membuat heboh warga masyarakat, namun juga yang tak kalah gemparnya lagi tersebar kabar tentang aksi bocah kecil yang menjadi super hero atas tertangkapnya pelaku penipuan pak Karjo dan


istrinya tersebut.


Entah siapa yang pertama kali menceritakannya, yang pasti cerita dari mulut ke mulut yang tersebar di masyarakat menyimpulkan bahwa ‘Bocah Ajaib’ dari desa Sukadami memiliki


kesaktian. Warga yang turut menyaksikan langsung ucapan Abah Dul yang mengatakan bahwa aksi penipuan pak Karjo dan istrinya tersebut sudah lebih dulu telah diketahui oleh ‘Bocah Ajaib’ tersebut sebelum Mahmud terlanjur menjadi korbanya.


Masih hangat dengan kabar yang sangat menggemparkan masyarakat tentang adanya kebangkitan bocah dari dalam kubur sehari sebelumnya, semakin membuat Kepercayaan masyarakat akan kemampuan aneh yang dimiliki bocah ajaib tersebut kian besar.


Beberapa saat kemudian pak Karjo dan istrinya dibawa petugas kepolisian setelah sebelumnya Mahmud menelpon kantor polisi dan melaporkan peristiwa yang terjadi di rumahnya, satu- persatu warga masyarakat yang datang melihat itu meninggalkan rumah Mahmud.


“Saya tinggal dulu Bah, Gus, kang Bas, Kang Bahar… saya diminta memberikan laporan di kantor polisi,” kata Mahmud berpamitan.


“Perlu ditemani saya nggak Mud?” tanya Abah Dul sedikit khawatir.


“Nggak usah bah, hanya memberikan keterangan saja. Temani aja Gus Harun dan yang lainnya,” jawab Mahmud.


Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sudah kembali duduk di ruang tamu. Sementara Dede langsung naik ke pangkuan Kosim yang tetap tak beranjak dari duduknya meskipun di luar rumah sempat ramai warga.


“De, kok Dede bisa tahu kalau orang itu hendak berbuat jahat pada ayah Mamud?” tanya Kosim penuh kasih sayang.


“Mmm, ya Dede tau aja yah!” jawab Dede polos dan acuh tak acuh.


Melihat kepolosan dan jawaban Dede membuat semua yang ada di ruang tamu tersenyum- senyum. Bagi Gus Harun sendiri mencermati tindak tanduk yang ditunjukkan Dede menilai hal itu merupakan salah satu keistimewaan yang kini melekat di diri putra Kosim tersebut. Dirinya


semakin yakin kalau anak tersebut kelak akan menjadi seseorang yang sangat dibutuhkan di masyarakat. Dan bahkan namanya akan mahsyur dikenal hingga luar desa Sukadami hingga luar Jawa.

__ADS_1


Hanya saja yang menjadi kekhawatiran dalam diri Gus Harun adalah apakah proses perjalanannya menuju dewasa akan semudah yang dibayangkan orang?


Apa jadinya jika anak tersebut tak mampu menjaga dirinya sendiri dari godaan yang datang padanya nanti?


Beberapa jam kemudian Mahmud sudah kembali dari kantor polisi untuk memberikan keterangan sekaligus sebagai korban dan saksi atas kejahatan yang dilakukan oleh pak Karjo dan istrinya. Setelahnya tak ada kejadian apa- apa lagi di rumah Mahmud, hingga tanpa terasa waktu sudah bergulir semakin temaram dan segera memasuki pergantian waktu dari siang ke


malam.


Kosim duduk termangu di ruang tengah sambil memangku Dede. Disebelah kirinya, Arin juga duduk tertunduk tak banyak bicara didampingi Dewi. Sementara Mahmud, Abah Dul Gus Harun, Basyari dan Baharudin pun turut terhanyut kedalam suasana yang berasa kaku. Mereka semua tampak seperti sedang menunggu sesuatu yang sangat tidak di harap- harapkan.


Wajah- wajah murung menyelimuti semua yang ada di ruang tamu. Semuanya tahu hanya tinggal menunggu menit saja, maka semuanya akan berubah drastis, terutama bagi perasaan Arin dan putranya.


“Mas Mahmud, mbak Dewi sebelum saya pergi saya ingin meminta maaf yang sebesar- besarnya atas nama pribadi dan anak


istri saya. Selama ini saya sudah banyak merepotkan mas Mahmud juga mbak Dewi,


bahkan sudah menyusahkan kalian berdua. Kalian berdua adalah orang- orang yang paling baik yang pernah saya kenal yang tidak pernah merasa keberatan sama sekali selama saya, anak dan istri saya tinggal disini,” ucap Kosim memecah keheningan.


Saat itu juga semua pandangan mata tertuju pada Kosim yang tengah berbicara. Raut wajahnya terlihat begitu murung, layu serta sorot matanya tampak kuyu tak ada pancaran semangat sama sekali. Tak ada yang berupaya menyela ucapan Kosim, semuanya menunggu kata- kata dari Kosim selanjutnya.


ustad Baharudin yang dengan sukarela turut membantu saya dan keluarga. Meski pun nyawa sebagai taruhannya. Kalian semua orang- orang berilmu tinggi dan sangat baik, saya bersyukur dapat mengenalnya,” ungkap Kosim lalu terdiam sejenak sembari menghela nafas.


Semuanya masih terdiam menahan nafas masih menunggu ucapan Kosim selanjutnya seperti sedang memberikan waktu seluas- luasnya untuk Kosim.


“Arin, saya juga minta maaf yang sedalam- dalamnya. Selama ini saya meminta kepada mas Mahmud dan Abah Dul utnuk tidak menceritakan tentang yang saya lakukan hingga menimbulkan banyak peristiwa- peristiwa aneh yang bahkan harus bertaruh nyawa,” ucap Kosim


menundukkan wajah.


“Apa yang mas Kosim sudah lakukan mas?!” sela Arin tiba- tiba sambil menatap Kosim dengan raut wajah sangat penasaran.


Bukan hanya Arin, raut wajah Dewi pun nampak berkerut dalam yang juga menatap ke wajah Kosim penuh dengan penasaran. Ingatannya kembali melayang mengingat- ingat kembali rentetan peristiwa- peristiwa yang datang bertubi- tubi menimpa Kosim dan adiknya


tersebut.

__ADS_1


“Ss… sa, saya…” Kosim tak dapat meneruskan


kata- katanya, lidahnya serasa kelu.


“Apa yang sudah kamu lakukan Sim?!” tanya Dewi sudah tak dapat membendung kesabarannya.


“Ss… sa, saya… te lah me lakukan perjanjian ga… gaib de dengan siluman monyet,” jawab Kosim terbata- bata.


“Appaaa…?!!!” pekik Arin dan Dewi terkejut.


Mendengar jawaban Kosim itu seketika Arin dan Dewi tersentak kaget luar biasa. Kakak beradik itu membelalakan matanya lebar- lebar sambil menutup mulutnya yang spontan ternganga.


“Sabar, Wi… sabar Rin,” Mahmud segera meraih pundak Dewi dan menepuk- nepuk untuk menenangkannya.


“Apa itu benar mas?!” Dewi balik tanya pada Mahmud, kedua matanya mulai terlihat berkaca- kaca.


“Biar Kosim saja yang menjelaskannya Wi, Rin…” ucap Mahmud menoleh pada Kosim memberinya isyarat untuk menjelaskannya.


“Iya mbak, saya minta maaf yang sedalam- dalamnya. Saya juga sangat menyesal telah melakukan ritual iblis itu mbak. Saya hilap, saya tak bisa lagi berfikir secara sehat karena terdesak keadaan yang mengharuskan saya melakukan itu semua. Saya ingin menjadi kaya dengan cara yang cepat, tujuan saya hanya satu ingin membahagiakan Arin dan Dede mbak,


hanya itu…” ungkap Kosim tertunduk dalam- dalam.


Seketika kedua mata Dewi kembali terbelalak, bibirnya bergetar menahan amarah yang mulai naik ke kepalanya. Dewi merasa tak rela jika adik satu- satunya dan keponakannya itu diberikan nafkah dengan harta kekayaan yang tidak halal, terlebih harta tersebut berasal dari hasil


pemberian iblis.


“Kamu! Kamu tega sama adik saya Sim!” teriak Dewi tak dapat lagi membendung amarahnya.


“Dewi, Dewi… tenanglah… sabar Wi, sabar…” Mahmud buru- menahan Dewi yang hendak merangsak kearah Kosim.


“Di.. dia iblis mas!” pekik Dewi dan seketika tangisnya membuncah.


Lain halnya dengan Arin, ia justru menundukkan wajahnya dalam- dalam. Air matanya sudah luruh tumpah membasahi bajunya. Tubuhnya berguncang- guncang menahan tangis yang berusaha di tahannya.

__ADS_1


“Sudah mbak… sudah…  ini semua karena saya mbak, mas Kosim tidak salah. Saya yang yang salah, saya yang membuat mas Kosim melakukan itu semua. Saya saat itu banyak menuntut mas Kosim, saya sering marah bahkan tak jarang membentaknya tapi dia tak pernah membalas sepatah kata pun. Saya terlambat


menyadari semua perlakuan salah itu mbak…” Arin tak kuasa meneruskan ucapannya. Ia menangis tersedu- sedu hingga tubuhnya berguncang- guncang.**  BERSAMBUNG


__ADS_2