
Kreteeekkkk…
“Eh, pak Diman bu Diman, mari… mari masuk,” sambut pak Harjo begitu melihat tamunya yang berdiri di depan pintu.
“Njih, njih pak Harjo, matur suwun,” balas pak Diman lalu keduanya masuk mengikuti pak Harjo yang berjalan ke ruang tamu.
“Silahkan duduk pak Diman, ibu…” ucap pak Harjo ramah.
“Ibu gimana dengan sakitnya, apakah sudah membaik?” tanya pak Harjo lebih lanjut.
“Alhamdulillah pak Harjo, sekarang saya sudah kembali normal. Mau balap lari juga ayo, hehehe…” sahut bu diman berkelakar.
“Wah, petuah bocah Ajaib itu benar- benar terbukti ya,” ujar pak Harjo.
Lain halnya dengan pak Diman, ia menahan pertanyaan tentang kesembuhan putra pak Harjo. Ada perasaan tidak enak hati, khawatir menyinggung perasaan sahabatnya itu. Pak Diman pun mengurungkan niatnya untuk bertanya
tentang kesembuhan Hariri dengan mengalihkan memberikan pertanyaan lain.
“Ibu kemana pak? Kok nggak kelihatan,” tanya pak Diman sambil melihat sekelilingnya yang tampak sepi.
“Itu ada di dalam sama Hariri, kami baru saja selesai sarapan. Pak Diman dan ibu sudah sarapan belum?” pak Harjo balik tanya menawarkan.
“Terima kasih, terima kasih pak Harjo. Kebetulan sebelum kesini kami juga sarapan lebih dulu,” sahut bu Diman.
“Eh, sebentar… sebentar pak. Tadi pak Harjo bilang kalau ibu sedang bersama Hariri, Hariri masih sakit pak?” tanya pak Diman mengerutkan keningnya dalam- dalam.
Yang terlintas di dalam pikiran pak Diman, kalau istri pak Harjo sedang bersama Hariri itu berarti sedang menunggui Hariri di kamarnya. Yang artinya Hariri masih terbaring sakit. Pak Diman membenarkan dugaannya sendiri dan dirinya beruntung mengurungkan niatnya bertanya tentang kesembuhan Hariri.
“Itu dia pak Diman yang ingin saya kabarkan pada pak Diman dan ibu,” kata pak Harjo sumringah.
“Kabar apa pak Harjo?!” tanya pak Diman tak mengerti maksud
ucapan pak Harjo, namun ia sedikit heran melihat ekspresi pada wajah pak Harjo.
__ADS_1
“Jadi begini pak Diman, saya memohon sekali pada pak Diman dan ibu bahwa nanti besok lusa bisa membantu kami disini,” kata pak Harjo berhenti sejenak untuk menarik nafas.
“Membantu di rumah ini pak Harjo? Memangnya ada acara apa pak?” tanya pak Diman mengerutkan dahinya.
“Yaa acara ini merupakan nazar saya pak Diman. Saya pernah mengucap sumpah akan mengadakan syukuran besar- besaran dengan mengajak makan seluruh warga kampung kita,” terang pak Harjo.
Mendengar penjelasan pak Harjo seketika membuat pak Diman dan istrinya terkejut, suami istri itu ternganga dengan kedua mata terbuka lebar. Dari raut wajah pak Diman dan istrinya menggambarkan rasa takjub dan
rasa tak percaya.
“Artinya Hariri sudah sembuh pak Harjo?!” tanya pak Diman menegaskan.
“Alhamdulillah pak Diman, Hariri sekarang sudah sembuh total! Bahkan luka- luka dan koreng di kakinya pun bablassss hilang tak ada bekasnya pak. Saya sangat berterima kasih sekali sama pak Diman yang sudah
memberikan informasi tentang si bocah ajaib itu, jika pak Diman tidak memberitahukan pada saya ya mungkin Hariri masih terbaring sakit saat ini,” terang pak Harjo matanya berkaca- kaca penuh rasa syukur dan terima kasih pada
pak Diman.
ada orang yang tiba- tiba saja bercerita tentang bocah ajaib itu, pak,” balas pak Diman.
“Njih, njih pak Diman. Sebentar saya panggilkan istri saya dan Hariri ya pak,” kata pak Harjo kemudian pergi meninggalkan pak Diman dan istrinya di ruang tamu.
“Syukur alhamdulillah ya bu, nak Hariri akhirnya bisa sembuh juga,” ucap pak Diman pelan sepeninggal pak Harjo masuk ke dalam rumah.
“Bocah itu benar- benar ajaib pak! Padahal anak itu tidak melakukan apa- apa untuk mengobati ibu atau pun nak Hariri, ya kan pak?” sahut bu Diman takjub.
“Iya, iya ya bu. Anak itu hanya mengatakan bahwa besok juga sudah sembuh. Eh ternyata memang benar sembuh,” ujar pak Diman.
“Petuahnya sangat mujarab menjadi kenyataan pak,” balas istrinya.
Tak beberapa lama kemudian, pak Harjo sudah kembali muncul di ruang tamu bersama istri dan anaknya yang bernama Hariri. Melihat kemunculan mereka, segera pak Diman dan istrinya langsung berdiri, mata mereka tak
berkedip memperhatikan seorang lelaki remaja dengan kaosnya yang tampak kedodoran akrena badannya yang kurus kering.
__ADS_1
“Nak Hariri?!” pekik pak Diman terkesiap melihat putra pak Harjo yang selama ini terbaring diatas tempat tidur.
“Njih pak Diman,” jawab Hariri lalu menyalami pak diman dan bu Diman dengan mencium kedua tangannya.
Pak Diman dan istrinya seketika mengernyitkan dahinya, suami istri itu sangat keheranan melihat sikap Hariri yang sangat berbeda. Yang pak Diman tahu selama ini tentang tingkah lakunya di sekolah dan di luar rumah sangat berandalan sekali. Hal itu ia ketahui dari laporan- laporan yang diceritakan anaknya, karena kebetulan satu sekolah dengan Hariri. Makanya pak Diman sangat terkejut saat mendapati sikap Hariri yang jauh dari perkiraannya.
“Gimana kabar Anisa pak, sudah lama sekali saya tidak bertemu di sekolah,” ucap Hariri memecah keheningan melihat pak Diman diam termangu.
“Eh, mm, ya ya nak Hariri alhamdulillah, Anisa keadaannya sehat wal afiat,” jawab pak Diman tergagagp.
“Loh, loh kok pada berdiri saja. Mari duduk pak Diman, ibu…” sela pak Harjo.
“Oh iya iya pak matur suwun, saya sangat takjub sekaligus ikut senang melihat nak Hariri sekarang sudah sehat kembali,” kata pak Diman mengeluarkan rasa takjubnya.
“Alhamdulillah pak, tapi saya merasa malu,” balas Hariri.
“Malu? Malu kenapak nak?” tanya bu Diman menyela.
“Ya bu Diman dan pak Diman lihat saja badan saya seperti ini. Seperti tengkorak hidup, hehehe…” jawab Hariri berkelakar.
“Ah, gampang soal itu sih nak Hariri. Nak Hariri tinggal makan aja yang banyak nanti juga badannya berisi lagi, hehehe…” balas pak Diman.
“Njih, njih pak, hehehe…” timpal Hariri tertawa kecil.
Hariri sendiri masih belum mengetahui siapa yang menyembuhkan dirinya. Namun di dalam benaknya masih menutup rapat- rapat tentang mimpi yang dialaminya tadi malam. Hariri berusaha untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun termasuk pada bapak dan ibunya. Meski ada rasa bersalah karena telah berbohong pada kedua orang tuanya saat menjawab pertanyaan bapaknya saat makan sarapan tadi.
Hariri merasa kalau peristiwa di dalam mimpinya itu bukan untuk diceritakan kepada orang lain apalagi sengaja disebar- sebarkan. Mimpinya tersebut murni merupakan sebuah pengajaran ahlak untuk dirinya sendiri agar tidak lagi mengulangi kesalahan dan perbuatan yang sama. Karena itulah Hariri sekarang berubah drastis menjadi seorang Hariri seperti Hariri sewaktu kecil dahulu, Hariri yang gemar pergi ke mushola bukan Hariri yang gemar pergi ke tongkrongan. Hariri yang dulu tak pernah tinggal sholat, Hariri yang santun kepada siapa pun, bukan Hariri yang songong dan berandalan.
Semua itu benar- benar disadari oleh Hariri. Di dalam hatinya ia berjanji tidak akan mengulangi tingkah laku serta perbuatan- perbuatan dosanya lagi. Kesakitan yang dirasakannya selama berbulan- bulan cukup kiranya
membuat Hariri merasa kapok dan bertobat. Selama itu pula dirinya sangat tersiksa merasakan rasa sakit setiap menit, setiap jam dan itu berlangsung berhari- hari hingga berbulan- bulan. Hingga seringkali terlintas dipikirannya
untuk mengakhiri hidupnya karena saking sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit pada kedua kakinya.* BERSAMBUNG
__ADS_1