
Suasana di halaman rumah Kosim yang semula ramai oleh warga yang menggeruduk untuk mengusir Kosim hingga sempat terjadi penganiayaan terhadap Kosim, kini hanya tinggal Bapak Kepala desa, Pak RT dan dua orang aparat desa.
Beberapa saat kemudian ditengah obrolan antara Kepala Desa dan Kosim di ruang tamu, Dewi datang bersama Mahmud dan Abah Dul.
"Assalamualaikum..." ucap Dewi, Mahmud dan Abah Dul bersamaan.
"Waalaikum salam," sahut Kosim, Pak Kepala Desa dan Pak RT.
"Pak Kuwu, pak RT.." sapa Dewi sambil masuk dan menyalami, disusul Mahmud dan Abah Dul.
"Wi, Mud, Bah..." balas Pak Kuwu singkat.
"Sim, kamu nggak apa-apa?!" Tanya Dewi panik melihat ada luka benjol dipelipis Kosim.
Mahmud dan Abah Dul mengerutkan dahi melihat ada luka di wajah Kosim.
"Kamu sempat dipukuli Sim?!" Tanya Abah Dul terlihat emosi.
"Iya Bah tapi nggak apa-apa kok," jawab Kosim.
"Arin dan Dede dimana?!" Tanya Dewi lagi.
"Ada di rumah bi Ijah Wi, biar saya panggilin ya." Sahut Pak RT sambil bergegas beranjak dari kursinya.
"Iya, katanya sempat beberapa kali kena pukulan dan tendangan warga. Tapi beruntung tidakk berlangsung lama karena Pak RT dan Salim sama Kurdi berhasil mencegah dan melindungi Kosim." Timpal Pak Kepala Desa.
"Masya Allah... Siapa dalang provokasinya Pak Kuwu?!" Tanya Abah Dul yang terlihat geram mendengar keterangan Pak Kuwu.
"Belum tahu Bah. Nanti biar pemerintah desa, saya dan pamong akan mengurusnya. Saya juga sudah mendengar langsung keterangan dari Kosim. Dan saya pribadi sangat percaya dengan keterangan dari Kosim, kalau pun benar ada yang melakukan pesugihan inipun akan kami selidiki," kata Pak Kuwu.
"Sebaiknya menurut saya, Kosim dan keluarganya untuk sementara diungsikan dulu ya Wi," kata Pak Kuwu kepada Dewi.
"Demi keamanan Kosim dan keluarganya," sambungnya.
"Njih Pa Kuwu, matur nuwun sebelumnya sudah merepotkan dan sudah bikin gaduh sekampung," balas Dewi.
"Iya Nggak apa-apa Wi, itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya melindungi masyarakat saya. Ya sudah kalau begitu saya pamit, ya." Kata Pak Kuwu sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Njih, njih... Sekali lagi terima kasih banyak.." ucap Dewi menyambut jabat tangan Pak Kuwu.
Mahmud, Kosim dan Abah Dul berdiri dan bersalaman satu persatu lalu mengantar Pak Kuwu hingga di teras. Pak Salim dan Pak Kardi pun turut meninggalkan rumah Kosim mengikuti Pak Kuwu.
__ADS_1
Tidak lama berselang Arin datang tergesa-gesa sambil menggendong Dede diiringi Pak RT dan Mak Ijah. Kedua matanya sembab, raut wajahnya mengguratkan ketakutan dan cemas.
"Mbak..." Arin menyongsong langsung dipeluk Dewi dan menangis di pundaknya.
"Sudah, sudah Rin.." bisik Dewi sambil mengusap-usap punggung Arin dengan mata berkaca-kaca.
"Sini, sini Dedenya sama Bude ya," ucap Dewi sambil meraih Dede ke gendongannya.
Kemudian Arin menoleh ke Kosim yang berdiri dengan raut muka masih menyisakkan cemas dan ketakutan.
"Mas..." Ucap Arin langsung menubruk Kosim dan memeluknya erat.
"Kamu nggak apa-apa Mas? Wajahmu terluka," ucap Arin lirih.
"Iya Rin, nggak apa-apa," ucap Kosim pelan.
"Saya lihat mengintip dari jendela, orang-orang memukulimu Mas... Saya tak tega melihatnya ingin lari keluar tapi dicegah sama emak," tangis Arin pun membuncah di dada Kosim.
"Iya Sim, emak khawatir takut kalau Arin keluar bisa menjadi sasaran amukan warga juga. Makanya emak cegah," sahut Mak Ijah yang sudah terisak-isak sejak dari rumahnya.
"Ya sudah, sudah Rin... Mas nggak apa-apa," ucap Kosim dengan mata berkaca-kaca.
Isak tangis Dewi pun pecah melihat adiknya berkata seperti itu. Dia dapat membayangkan bagaimana perasaannya saat itu melihat suaminya dianiaya banyak orang didepan matanya.
Tanpa terasa suasana sudah gelap, samar-samar di kejauhan terdengar suara azan Isya bersahutan dari pengeras suara masjid dan mushola.
"Ayo masuk, masuk..." ujar Mahmud.
"Punten semuanya, saya pamit ya.." ucap Pak RT.
"Oh injih, njih Pak RT. Matur nuwun..." jawab Mahmud.
"Matur nuwun Pak RT bantuannya, ya..." timpal Dewi.
"Terima kasih banyak Pak RT sudah menolong saya. Saya nggak tau gimana jadinya kalau nggak ada pak RT," ucap Kosim.
"Njih, sama-sama, sudah kewajiban saya melindungi masyarakat." ujar Pak RT sambil tersenyum ringan.
Pak RT yang baik hati dan bekerja sesuai TUPOKSI tugas pokok dan fungsi tanpa pamrih itu melangkah meninggalkan rumah Kosim dengan hati ikhlas walau tanpa diberi uang rokok.
Kosim melepaskan pelukannya dan menuntun Arin masuk ke salam rumah menyusul Mahmud dan Dewi. Dibelakangnya, Abah Dul terlihat di wajahnya masih menyimpan kegeramannya mengingat tindakkan masyarakat terhadap Kosim.
__ADS_1
"Wi bikinin minum..." kata Mahmud.
"Biar saya aja Mbak," sergah Arin.
Arin pun berlalu meninggalkan ruang tamu, dibelakannya Mak Ijah mengikuti. Sementara di ruang tamu duduk Abah Dul, Mahmud dan Kosim.
"Kurang ajar bener orang yang memprovokasi. Kamu tau orang memukuli ente Sim? Sekalian dilaporin ke polisi," kata Abah Dul yang masih nampak marah.
"Nggak tau Bah saya nggak liat karena banyaj sekali kerumunan masa. Saya baru pulang dari tempat kerja dihentikan Pak RT di depan sebelum belok ke rumah. Warga langsung mengepung dan meneriaki," terang Kosim.
"Sudahlah Bah nggak usah lapor-lapor polisi segala," lanjut Kosim.
"Kalau dari cerita Mak Ijah, dia mendengar kasak-kusuk katanya awalnya beberapa orang benar-benar kehilangan uangnya secara misterius. Karena sebelumnya saya sudah digosipin makanya warga menuduh saya," terang Kosim.
"Oh kalau begitu memang benar ada orang yang menjalani pesugihan," kata Abah Dul.
Arin muncul membawa dua gelas kopi di tangan kanan kirinya, disusul Mak Ijah membawa segelas kopi lalu diletakkan diatas meja.
"Mak, apa bener ada orang yang kehilangan uangnya nggak wajar?" Tanya Abah Dul.
"Bener itu Bah, yang hilang uangnya itu bu Reni, bu Lusi sama bu Yayah." Jawab Mak Ijah.
"Ini harus diungkap, siapa pelakunya. Orang ini lebih kurang ajar membuat orang lain kena fitnah!" Kata Abah Dul dengan geram.
"Nanti di rumah saya aja Bah biar tenang dan leluasa," sergah Mahmud.
"O iya Sim, malam ini ngungsi dulu kesana lagi ya. Disini khawatir situasinya belum kondusif," sambungnya.
"Iya Mas," sahut Kosim.
Kosim yang sebelumnya sama sekali tidak mau tinggal di rumah Mahmud lagi, kali ini terpaksa menurutinya.
Beberapa saat kemudian Kosim dan Arin mulai berkemas-kemas menyiapkan pakaian dan kebutuhan lain-lainnya selama tinggal di rumah Mahmud. Semuanya dimasukkan kedalam tas besar.
"Mak, titip rumah lagi ya..." ucap Arin kepada Mak Ijah.
"Iya Rin, kamu Dede dan Kosim baik-baik disana ya." Kata Mak Ijah berkaca-kaca.
"Mak, kami pamit ya." ucap Kosim menyalami Mak Ijah mencium tangannya.
"Mak, titip rumah ya." ucap Dewi.
__ADS_1
Setelah menyalami Mak Ijah, Mahmud, Kosim, Abah Dul, bergegas menaiki sepeda motornya masing-masing. Abah Dul sendirian, Mahmud membonceng istrinya begitu pula Kosim memboceng Arin dan Dede meninggalkan rumah Kosim menuju ke rumah Mahmud di desa sebelah.
......................