
Waktu sudah beranjak di jam 10 pagi, sinar matari sudah mulai terasa teriknya. Hiruk pikuk suara- suara
khas para pedagang menawarkan dagangannya saling bersahutan berbaur dengan hilir mudik dan lalu lalang para pengunjung pasar. Suasana pasar tampak begitu ramai, lalu lalang orang- orang keluar masuk lokasi pasar dengan berbagai macam keperluannya masing- masing. Ibu- ibu, bapak- bapak, muda mudi hingga anak- anak tumpah ruah memadati satu- satunya pasar daerah tersebut.
“Waah, ramai juga pasarnya ya mas,” kata Dewi bersamaan Hasan mematikan mesin mobilnya di tempat parkir pasar.
“Iya mbak, karena pasar ini satu- satunya yang paling dekat dijangkau dari beberapa desa hingga beberapa kecamatan. Dan pasar ini nggak pernah sepi. 24 jam nonstop,” sahut Hasan.
“Ohh, pantesan ramai sekali,” gumam Dewi.
“Mari mbak, Arin, Dede kita turun. Nyari barang- barang atau pun makanan yang sekiranya tidak ada di daerah mbak hehehe…. ,” ujar Hasan, lalu membuka pintu turun dari mobilnya. Disusul Dewi, Arin dan Dede.
“Lumayan bersih juga sih pasar disini mas,” ungkap Dewi sambil memandang sekeliling.
“Tapi jangan salah mbak, iya kalau dilokasi blok ini sih karena khusus menjual pakaian. Tapi coba kalau di blok sana tuh, blok area khusus sayur- sayuran dan buah- buahan mbak, hiiihhh bau dan kotor banget mbak,” kata Hasan.
“Bun Dede di mobil saja bun…” rengek Dede baru saja Arin membawanya turun dari mobil.
“Loh, Dede nggak mau dibeliin baju nih?” sergah Hasan menyembunyikan kecewanya. Kalau Dede tidak ikut keliling pasar berarti Arin juga bakalan tidak ikut. Tidak mungkin Dede ditinggal sendirian di dalam mobil.
Dede dengan cepat geleng- geleng kepala, lalu menarik- narik lengan Arin mengajaknya kembali masuk kedalam mobil. Arin maupun Dewi sudah memahami watak Dede, seberapapun di bujuknya bahkan dipaksa pun Dede pasti
tidak akan merubah kemauannya.
“Iya, iya De…” sahut Arin sedikit menahan tarikan Dede, raut wajahnya terlihat kecewa.
Arin langsung menoleh pada Dewi meminta persetujuannya, Dewi pun menganggukkan kepalanya mengisyaratkan menuruti kemauan Dede. Lalu Arin menoleh pada Hasan dengan sorot makna yang sulit diartikan. Ada rasa ingin ikut keliling pasar atau lebih tepatnya rasa ingin selalu dekat dengan Hasan, namun disisi lain kemauan Dede tidak bisa dicegahnya.
“Saya tunggu di mobil saja ya mas,” ucap Arin pada Hasan dengan berat hati.
“Tuh kan De, bundanya juga nggak bisa ikut, hehehe…” ujar Hasan pada Dede.
Dede bergeming, dia terus saja menarik- narik lengan Arin untuk kembali masuk kedalam mobil. Arin pun dengan terpaksa menuruti ajakan Dede kembali kedalam mobil.
“Sebentar, saya nyalain AC nya dulu biar tidak kepanasan ya,” ujar Hasan segera kembali ke dalam mobil untuk memasukkan kunci kontak.
Setelah selasai menyalakan ac mobil, Hasan menoleh pada Arin seraya berkata; “Rin kamu mau dibelikan apa?”
Arin sedikit terkesiap tak menyangka akan ditanya seperti itu oleh Hasan. Dadanya kontan berdebar- debar kencang, rasa gugup membuatnya sedikit sulit untuk menjawab.
__ADS_1
“A, anu, ah tak usah mas,” jawab Arin gugup menahan debaran di dadanya. Wajahnya merona merah menunduk saat Hasan memandanginya.
“Kalau Dede mau dibelikan apa?” Hasan mengalihkan pandangannya pada Dede yang duduk disamping Arin.
“Mmm, Dede mau mobil- mobilan aja yah,” sahut Dede girang.
“Hussst! Dedeeee…” sergah Arin merasa tak enak hati.
“Tidak apa- apa Rin, iya deh nanti di cariin mobil- mobilan yang pakai remot ya, ya paaaling bagus buat Dede,” kata Hasan tersenyum sumringah.
“Ya sudah saya tinggal dulu ya Rin, awas jangan kemana- mana ya. Nanti hilang, hehehe…” kata Hasan.
“Iya mas, hati- hati…” balas Arin.
Hasan pun meninggalkan Arin dan Dede di dalam mobil, ia bersama Dewi berjalan memasuki keramaian pasar. Arin hanya memandangi punggung Hasan saat berjalan memasuki pasar sampai Hasan dan Dewi tak terlihat lagi oleh
lalu lalang orang- orang pengunjung pasar.
Sementara itu di luar area parkir pasar, ada dua sepeda motor yang masing- masing berboncengan satu orang. Dua sepeda motor tersebut masing- masing dengan jenis RX King dan satunya sepeda motor jenis bebek tapi
sudah di modif menyerupai trail.
“Bos sepertinya anak itu tidak mau ikut kedalam pasar. Lihat bos!” kata orang yang diatas boncengan sepeda motor RX King.
“Wah, kebetulan sekali. Ini kesempatan bagus,” sahut orang yang pegang setir RX King yang dipanggil bos.
“Gimana bos, apa kita bergerak sekarang?!” tanya orang yang ada di atas boncengan sepeda motor RX King.
“Tunggu sampai Hasan dan mbak itu masuk ke dalam pasar dulu,” balas orang yang memegang setir RX King, pandangan mata mereka terus mengawasi pergerakan Hasan dan Dewi.
Setelah beberapa saat Hasan dan Dewi masuk kedalam pasar dan sudah tak terlihat lagi, salah satu dari empat orang diatas sepeda motor segera memberi isyarat dengan tangannya.
“Ayo bergerak!” kata orang yang di panggil bos sembari mengangkat tangannya memberi isyarat pada dua orang yang berada di sepeda motor satunya.
Mereka segera turun dari atas sepeda motor dan bergegas setengah berlari menuju memasuki area parkiran pasar dimana mobil Terios warna silver terparkir. Nampaknya keempat orang berjaket kulit dan mamakai helm fullface
tersebut sudah sangat mengenali lokasi pasar, terbukti mereka langsung memotong jalan pintas menuju tempat mobil yang menjadi targetnya dengan memanjat tembok pagar setinggi 2 meteran.
Mereka sudah memperkirakan posisi mobil terios silver itu berada, sehingga langsung menuju ke titik lokasi targetnya. Satu persatu mereka meloncat bergelantungan lalu merangsak memanjati tembok pagar dan turun di
__ADS_1
dalam area parkiran. Posisi mereka sangat sulit dilihat orang meskipun banyak yang hilir mudik dan lalu lalang di sekitarnya karena tertutupi oleh rapatnya pepohonan yang rimbun.
Sementara itu didalam mobil terios silver, Arin awalnya terkesiap kaget melihat kemunculan empat orang berjaket dan memakai helm fullface keluar dari atas tembok pagar di depannya. Gerak- geriknya sangat mencurigakan, firasatnya mengatakan kalau empat orang tersebut adalah para pelaku kejahatan. Mungkin mereka hendak melakukan aksi pencurian kendaraan, begitu pikir Arin.
Arin sengaja tidak memberitahukan Dede yang tengah tiduran diatas jok berbantalkan paha Arin. Ia tak mau membuat Dede ketakutan melihat perangai dan gerak- gerik empat orang tersebut. Arin terus memperhatikan dari
dalam mobil, hingga keempat orang tersebut berkumpul disamping kanan persis diluar pintu mobil dimana Arin berada.
Bahkan pembicaraan empat orang tersebut masih cukup didengar oleh Arin, namun Arin tak menaruh curiga sedikit pun kalau empat orang itu sedang mencari mobil yang sedang dinaikinya karena mereka tak menyebutkan apa-
apa mengenai sasarannya.
“Erul, apa benar disini lokasinya?!” tanya si bos keheranan sembari celingukkan.
“Benar bos! Saya sangat yakin disini posisinya. Patokannya tiang plang ini nih!” tegas orang yang dipanggil Erul sambil menepak- nepak tiang plang iklan rokok.
“Ah, salah lihat kali. Mungkin plang yang satunya itu?!” sergah si boss celingukkan tak melihat mobil yang menjadi targetnya.
“Tapi bos, saya yakin disini!” tegas Erul.
“Benar bos saya juga memperhatikan dan jelas- jelas mobil itu disini. Kalau Erul patokkannya plang iklan rokok ini, saya patokkannya toko itu tuh toko sandang abadi. Saya hafal banget Karena sering belanja disini,” timpal orang yang satunya.
“Tuh kan bener bos kata Komang juga!” tukas Erul semakin yakin.
“Iya, tapi buktinya mana?! Mana mobilnya hah?!” bentak si bos mulai kesal.
Erul tampak kebingungan, dia garuk- garuk kepalanya. Tapi rupanya ia merasakan garukannya terasa aneh, dan seketika itu juga dia baru sadar kalau masih memakai helm. Didalam helm Erul cengar- cengir akibat kekonyolannya sendiri tanpa diketahui teman- temannya.
“Iy, iya juga ya. Iya bos mungkin disana,” balas Erul ragu- ragu, dia celingkan ke sekelilingnya dan memang benar tidak ada mobil targetnya, yang ada hanyalah mobil pick up dan juga mobil jenis Xenia, grandmax dan yang lainnya sedan.
“Ayo ke sebelah sana!” kata si bos melambaikan tangan memberi kode menuju tiang plang satunya yang berjarak 15 meteran.
Empat orang berjaket kulit dan memakai helm fullface tersebut segera beranjak menuju lokasi yang ditunjukkan si bos. Arin mengerutkan keningnya dalam- dalam merasa keheranan. Apa yang keempat orang bicarakan itu sama sekali tidak merasa berkaitan dengan dirinya. Akan tetapi yang sangat mengherankan Arin adalah saat mereka
mengatakan tidak ada mobil disini. Padahal jelas- jelas empat orang itu berdiri disamping mobil yang dinaiki Arin.
“Aneh! Apa yang mereka cari?! Lalu siapa mereka? Para perampok? Komplotan pencuri kendaraan?!” gumam Arin, rasa takutnya yang semula muncul seketika hilang berganti rasa keheranan dan membingungkan.
* BERSAMBUNG
__ADS_1