Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ABAH DUL KEMBALI


__ADS_3

Tuan Denta mendongak menatap jauh ke langit, lalu menghembuskan nafasnya kuat-kuat menyudahi kisah perjalanan hidupnya. Wajahnya nampak menyiratkan ketegaran sekaligus menggambarkan pemilik mental baja yang memegang teguh prinsip kebenaran.


"Siapakah manusia bercahaya itu tuan Denta? Apakah senjata yang di gunakan manusia yang memiliki kesaktian luar biasa itu adalah cambuk Amal Rosuli?!" Abah Dul langsung memberondong pertanyaan saking penasarannya dengan tokoh yang di ceritakan tuan Denta.


Tuan Denta terperangah mendengar serangkaian pertanyaan Abah Dul, lalu menjawab; "Aku tidak tahu nama senjata yang dipakai tuan Syehk Maulana."


"Jadi sosok manusia bercahaya itu bernama Syehk Maulana tuan?" cerca Abah Dul.


"Betul tuan, namanya Syehk Maulana," jawab tuan Denta.


"Apakah beliau dari wilayah ujung Kulon Jawa?!" Tanya Abah Dul kian penasaran.


"Apakah tuan Dul mengenalnya?! Tetapi itu sudah sangat lama terjadi ribuan tahun yang lalu tuan bagaimana tuan bisa tahu?!" ujar Tuan Denta keheranan.


"Salah satu keturunan beliau adalah sahabatku tuan," kata Abah Dul.


"Masya Allah! Aku ingin sekali mengunjungi tempat di makamkannya Syehk, apakah tuan bisa mengantarkan kesana?!" Tuan Denta sangat gembira, wajahnya menggurat keinginan yang besar.


"Tapi tuan, tuan harus keluar dari alam Jin. Apakah tuan bisa menembus ke alam manusia?" tanya Abah Dul ragu-ragu.


Tuan Denta hanya tersenyum lalu mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Abah Dul.


"Kotak ini bagaimana tuan?!" Kosim menyela pembicaraan Abah Dul dan Tuan Denta.


Abah Dul dan Tuan Denta seketika tersadar kontan melihat kearah -Kotak berwarna hitam dengan ukiran-ukiran unik pada setiap sisinya yang ada di tengah-tengah mereka.


"Menurut tuan, benda apa di dalam kotak ini?!" tanya Abah Dul.


"Aku tidak begitu mengetahui secara pasti, apakah..." Tuan Denta tak melanjutkan kalimatnya, ia nampak ragu-ragu menyebutkannya.


"Apakah itu tuan?!" timpal Abah Dul dan Kosim sermpak penuh penasaran.


Tuan Denta mencoba mengingat-ingat cerita-cerita dari nenek moyangnya dan juga kabar yang sempat merebak di masa lampau terkait menghilangnya sebuah benda yang menjadi simbol sekaligus sumber utama kekuatan dari kerajaan Jin.


Kini tuan Denta baru memahami situasi dan kondisi kerajaan Azazil yang penuh misteri. Banyak hal yang di rahasiakan pihak kerajaan selama ribuan tahun dirinya mengabdi. Selain salah satunya tentang hutan terlarang yang disembunyikan keberadaannya juga tentang sepasukan khusus yang diberikan tugas secara rahasia oleh Raja Azazil.


Tuan Denta menduga, apakah benda ini yang selama ini sedang di cari-cari pihak kerajaan? Jika benar, benda tersebut tak salah lagi adalah Batu Mustika Jin. Konon menurut cerita turun temurun dari moyangnya, setiap kerajaan Jin yang tersebar di seluruh dunia memiliki batu Mustika sebagai sumber utama kekuatan yang diberikan oleh Raja dari Raja Jin di seluruh dunia yang pusatnya berada di daratan Persia.


"Aku menduga ini adalah benda yang sedang tuan butuhkan!" ungkap tuan Denta dengan suara bergetar.


"Hah?!" Abah Dul dan Kosim terperangah dengan terbelalak lebar.

__ADS_1


"Bbba, batu mustika Jin?!" Abah Dul meyakinkan.


"Aku sendiri belum pernah melihat benda tersebut, tetapi di lihat dari ciri-cirinya sepertinya benar," ungkap Tuan Denta.


"Lantas bagaimana selanjutnya tuan?!" tanya Abah Dul.


"Benda ini jangan sampai di ketahui oleh pihak kerajaan tuan. Sepertinya benda ini yang selama ini sedanh di cari-cari!" tegas tuan Denta.


"Jadi bagaimana tuan?" tanya Abah Dul sedikit gemetar mendengar penjelasan tuan Denta.


Bagaimana pun juga situasinya saat ini semakin genting dengan adanya benda tersebut di tangan mereka. Jika benda tersebut diketahui oleh pihak kerajaan, sudah pasti mereka akan di buru dan mungkin akan di musnahkan. Dan untuk Abah Dul di pastikan pula tidak akan pernah kembali ke alam dunia.


"Kita tidak mungkin selamanya bersembunyi di sini. Saat ini mereka sedang menyisir hutan ini dan satu-satunya jalan kita harus cepat-cepat keluar dari alam ini!" tegas tuan Denta.


Sementara itu samar-samar di kejauhan terdengar suara-suara derap langkah disertai suara-suara ranting dan kayu seperti terinjak-injak banyak kaki.


"Mereka semakin dekat!" pekik tuan Denta seketika panik.


"Bagaimana caranya tuan?!" tanya Abah Dul kebingungan.


"Siapa diantara kalian yang membawa masuk ke alam ini?" sergah Tuan Denta.


"Sim!" Abah Dul kontan menoleh pada Kosim karena Kosim lah yang membawanya ke alam Jin.


"Itu merekaaaaa....!!!!"


Tuan Denta, Abah Dul dan Kosim terkesiap kaget, seketika menoleh kearah dalam hutan. Dalam jarak 50 langkah mereka melihat barisan prajurit kerajaan bersenjata lengkap sambil mengacungkan senjata dan mulai bergerak menuju ke arahnya.


"Ayo cepat pegangan tangan saya!" seru Kosim kemudian merentangkan kedua tangannya.


......................


Di rumah Mahmud baru saja selesai menggelar tahlilan malam ke 4 meninggalnya Dede. Sebagian besar yang mengikuti tahlil sudah bubar meninggalkan rumah Mahmud, hanya tinggal beberapa tetangga saja yang masih duduk-duduk lesehan sambil ngobrol di lantai teras depan.


Kabar belum di temukannya Abah Dul masih menjadi perbincangan utama mereka. Mahmud sendiri masih merasa tertekan setiap kali orang-orang menanyakan kabar Abah Dul karena ia sendiri tidak bisa memberikan jawaban apa-apa.


"Apa mungkin Abah Dul sudah meninggal?" celetuk salah seorang warga.


"Hussst! sembarang aja kalau ngomong!" sentak seorang lainnya langsung menimpali.


Mahmud sendiri langsung terhenyak mendengarnya, sebab hal itulah yang selama ini menghantui pikirannya dari semenjak hilangnya Abah Dul hingga malam ini masih menjadi kekhawatirannya.

__ADS_1


"Sudah, sudah jangan di ributkan. Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa dengan Abah Dul ya," ucap Mahmud menenangkan.


"Amiiin..."


"Amiiin..."


"Amiiin.."


Saling bersahutan mereka mengaminkan harapan Mahmud. Baru saja mereka munutup mulutnya usai mengucapkan "amin", tiba-tiba tubuh mang Soleh yang duduk di dekat tiang rumah terjorok kedepan hingga tersungkur.


Bugggh!


"Astagfirullah!" ucap mereka serempak.


Belum habis mereka terkejut akibat mang Soleh mendadak tersungkur dan belum sempat bertanya "kenapa", mereka kembali terkejut hingga beringsut dan nyaris lari dari duduknya.


Di tempat duduknya mang Soleh, mereka melihat sesosok tubuh muncul secara tiba-tiba yang menimpa tubuh mang Soleh hingga membuat mang Soleh terdorong dan tersungkur kedepan.


"Abah Dul!!!" teriak mereka bersaman.


Mata Mahmud dan yang lainnya terbelalak lebar-lebar, namun mereka masih tidak percaya kalau sosok yang muncul tiba-tiba di depan mereka itu Abah Dul. Mereka semua mengucek-ngucek matanya lalu melihat lagi memperhatikan Abah Dul yang terlihat kebingungan.


Abah Dul menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri bergantian. Ia melihat-lihat sekelilingnya lalu menatap satu persatu orang-orang di depannya. Lalu tatapannya berhenti pada wajah Mahmud dengan mulut sedikit ternganga dan terbengong-bengong.


"Mahmud?!" ucap Abah Dul.


"Abah Dul?! Benar ini Abdul Basit anaknya bapak Sobirin?!" timpal Mahmud.


"Berarti bener ente Mahmud!" seru Abah Dul melebarkan matanya, kemudian ganti memperhatikan tubuhnya sendiri lalu kembali memperhatikan Mahmud.


Semua orang yang menyaksikkan Abah Dul hanya melongo sembari menatap wajah Abah Dul dalam-dalam. Setelah beberapa saat lamanya saling tertegun, lalu Mahmud langsung menyongsong Abah Dul dan merangkulnya penuh suka cita.


"Alhamdulillahirobbil alamiiiiiin..." ucap Mahmud menahan keharuannya.


"Alhamdulillaaaaaahhh..." susul mang Soleh dan yang lainnya bersamaan.


"Alhamdulillahirobbil alamiin..." ucap Abah Dul.


Kemudian Mahmud dan Abah Dul melepaskan rangkulannya. Terlihat wajah Mahmud begitu sumringah sulit mengungkapkan rasa bahagianya melihat sahabatnya yang kini ada di hadapannya tanpa di duga-duga.


Tanpa ada yang tahu kalau dibelakang posisi Abah Dul duduk, ada dua sosok tak kasat mata sedang memperhatikan suasana suka cita tersebut sedari tadi.

__ADS_1


......................


__ADS_2