Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ARIN DAN KOSIM


__ADS_3

Dan jika itu terjadi lalu Arin hamil, pastilah akan menimbulkan prasangka- prasangka buruk pada Arin. Sebab


semua orang sudah tahu kalau Arin seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Belum lagi kekhawatiran Gus Harun kian membesar andai saja Arin benar- benar hamil lalu melahirkan anak dari hubungannya dengan Kosim yang wujudnya hanya arwah, pastilah akan ada dampak pada bayi tersebut.


Gus Harun sangat mengkhawatirkan jika seandainya Arin hamil akibat berhubungan badan dengan arwah Kosim. Pikiran ketakutan –ketakutan itu bermain- main seakan terus saja menggoda di kepala Gus Harun membuat Gus Harun sangat penasaran ingin meastikan yang sebenarnya. Namun untuk menanyakannya langsung pada Arin rasanya sangat tidak sopan dan bukan kapasitasnya sampai- sampai menanyakan hal yang bersifat pribadi.


Mahmud, Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sudah duduk melingkar di ruang tengah menghadap makanan yang sudah ditata rapih oleh Dewi. Satu persatu Dewi mengambilkan nasi di piring untuk tamu- tamunya.


“Mbak kita nunggu mbak Arin aja dulu biar kita makan sama-sama,” ucap Gus Harun yang diangguki oleh semuanya.


“Njih Gus, sebentar lagi juga selesai mandinya,” balas Dewi.


“Oh iya Wi, coba kamu tengok ke kamar Arin. Apakah Kosim ada disana atau nggak,” sela Mahmud.


“Iya mas,” sahut Dewi lalu beranjak ke kamar Arin diikuti oleh pandangan mata Mahmud dan juga yang lainnya.


Kreeeooootttt….


Bersamaan dengan pintu kamar dibuka sedikit, Dewi langsung melongokkan kepalanya kedalam kamar. Tak lama ia melihat kedalam kamar lalu buru- buru menutupnya kembali dengan wajah bersemu merah.


Mahmud yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Dewi pun kontan menjadi bertanya- tanya merasa heran. Begitu pun dengan Abah Dul, Gus Harun, Basayari dan Baharudin yang juga melihat perubahan gestur Dewi setelah melihat kedalam kamar.


“Kenapa Wi?” tanya Mahmud buru- buru.


“Nggak, nggak apa- apa Mas, Kosim sepertinya masih terlelap,” jawab Dewi berusaha menyembunyikan wajahnya langsung melangkah menuju dapur.


Mahmud, Abah Dul, Basyari dan Baharudin tak lagi meneruskan kecurigaannya pada Dewi, mungkin saja Kosim memang benar- benar letih akibat aktifitas yang memberatkan sbelumnya sehingga tertidur lelap. Namun tidak


demikian bagi Gus Harun, perubahan sikap dan ekspresi pada wajah Dewi kian menjadi tanda tanya besar di pikiran Gus Harun. Pasti ada sesuatu yang dilihat Dewi yang membuat perubahan gestur padanya. Namun untuk bertanya lebih lanjut pun rasanya sungkan bagi Gus Harun, akhirnya ia pun memendamnya saja dalam


hati.


Tak beberapa lama Arin muncul dari ruang dapur yang posisinya berhubungan langsung dengan kamar mandi sudah berpakaian dengan handuk terlampir di bahu kanannya.


“Punten… punten…” ucap Arin permisi saat melintas di ruang tengah menuju kamarnya melewati belakang posisi duduk Basyari dan Baharudin.

__ADS_1


“Monggo, monggo mbak,” sahut Basyari dan Baharudin serempak.


Arin buru- buru berjalan masuk kedalam kamarnya, lalu menutup pintunya. Mahmud dan Abah Dul nampak biasa- biasa saja, tapi Gus Harun sedikit mencuri- curi pandang menelisik sekujur badan Arin. Gus Harun menahan


nafas dalam- dalam melihat rambut Arin nampak basah dan seperti habis keramas.


“Ya allah, semoga dugaan saya ini tidak benar,” ucap Gus Harun dalam hati.


Tak lama kemudian Dewi juga muncul dari dalam dapur sambil membawa toples berisi kerupuk untuk melengkapi hidangan sarapan pagi.


“Wi, cepat panggil Arin dan Kosim untuk sama- sama sarapan,” kata Mahmud pada Dewi.


“Njih mas,” sahut Dewi lalu beranjak menuju kamar Arin.


Tok… tok… tok…


“Riiin….” Panggil Dewi pelan.


“Ya mbak, sebentar,” sahut Arin dari dalam kamar.


“Iya mbak,” sahut Arin.


“Sekalian Kosimnya juga Rin,” ucap Dewi.


Dewi menunggu sahutan Arin dari dalam kamar, namun  tak terdengar lagi sahutan Arin dari dalam


kamar lagi. Dewi pun kembali ketempat duduknya di samping Mahmud dengan sedikit kesal karena Arin tak menanggapi ucapannya.


Hidangan sarapan pagi nampak menggugah selera makan. Ada ikan mujaer goreng, sayur asem, sambal terasi, lalapan mentimun dan daun singkong terhampar diatas tikar.


Mungkin bagi kebanyakan orang- orang kota, menu seperti itu bukanlah menu yang biasa mereka makan untuk sarapan. Lebih tepatnya menu seperti itu adalah menu untuk makan siang, tapi ini di desa yang berbeda


kulturnya. Bagi orang- orang Desa sendiri sarapan dengan makan biasa itu sama saja, hanya yang membedakan waktu makannya saja.


Jika ada yang di masak seperti di rumah Mahmud, tentunya mereka akan memasaknya lengkap dengan lauknya seperti makan siang. Akan tetapi jika pun tidak ada yang di masak atau belum belanja sayur mayur, orang- orang

__ADS_1


di desa cukup makan sarapannya hanya dengan goreng nasi seadanya yang terkadang tanpa embel- embel telor atau pun sosis apalagi daging ayam.


Kreeetttteeekkkk…


Sura pintu kamar Arin dibuka dari dalam, tampak Arin keluar lalu disusul Kosim menguntit di belakangnya sambil menggendong Dede. Penampilan dari wujud Kosim saat ini tak ubahnya seperti manusia normal, tubuhnya dapat


dilihat dengan kasat mata. Tetapi wujud yang terlihat itu hanya berlaku bagi orang- orang yang dikehendaki oleh Kosim saja yang berarti orang lain tidak akan dapat melihat keberadaan Kosim.


Gus Harun memperhatikan wajah Arin dan Kosim secara diam- diam dengan sesekali melirik karah keduanya berjalan. Wajah Arin dan Kosim terlihat sangat sumringah, binar- binar kebahagiaan terpancar dari wajah


keduanya. Hal itu membuat Gus Harun semakin cemas akan kebenaran prasangka buruknya.


“Sini, sini duduk Rin, Sim… Dede nya sama bunda Dewi dulu ya,” sambut Dewi mengulurkan tangannya meminta Dede yang di gendong Kosim.


“Nggak mau sama bunda Dewi, maunya sama ayah aja,” rengek Dede mengencangkan pegangannya pada lengan Kosim.


“Iya, iya deh,” balas Dewi sedikit kecewa.


Arin duduk disebelah Dewi, disusul Kosim duduk diantara Arin dan Basyari. Saat Arin hendak mengambilkan nasi untuk Kosim, Kosim langsung mencegahnya.


“Nggak usah Rin, saya… saya…” cegah Kosim ragu- ragu meneruskan ucapannya.


“Kenapa kang?!” tanya Arin sangat heran menoleh ke wajah Kosim.


“Saya… saya nggak makan nasi rin,” jawab Kosim ragu- ragu.


Semua pandangan tertuju pada Kosim penuh keheranan dan bertanya- tanya. Mereka semua lupa oleh penampilan wujud Kosim yang nampak tak berbeda dengan wujud Kosim yang dulu sewaktu masih hidup.


“Oh iya!” seru Arin.


Seketika semua yang ada di ruang tengah pun menyadari sepenuhnya kalau Kosim yang sekarang hanyalah arwah, biar pun Arin tak menjelaskannya lebih lanjut. Mereka semua pun seketika hanya tersenyum- senyum


sendiri.


Lagi- lagi Gus Harun melirik menyelidik kearah Arin dan Kosim secara bergantian. Lalu lirikannya terfokus pada Kosim sepenuhnya. Ia menyelidik apakah ada perubahan pada aura wajah Kosim atau tidak. Seandainya Kosim benar- benar berhubungan badan, maka akan sangat terlihat perbedaannya.** BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2