
Hari ke-8 menjelang Purnama,
Dua hari ini Kosim beserta anak dan istrinya menempati rumahnya kembali. Arin pun sudah kembali melakukan rutinitasnya seperti biasanya sebelum mengungsi ke rumah Mahmud. Pagi-pagi pukul 6.00 wib Arin pergi belanja ke warung untuk membeli sayur-sayuran kebutuhan memasak dengan berjalan kaki.
Warung Bi Sumi nampak sudah ramai oleh ibu-ibu yang membeli sayur-mayur maupun membeli sarapan. Warung Bi Sumi satu-satunya yang menjual sayur mayur dan nasi kuning yang jaraknya paling dekat dengan rumah Arin. Biasanya kalau di warung Bi Sumi sudah kehabisan sayur mayur yang ditujunya, Arin akan mencarinya di warung Bi Aminah yang jaraknya sedikit lebih jauh.
"Bi Sumi, minta sayur buat sop ya," kata Arin sambil pilih-pilih mentimun buat lalapan.
"Rin, baru kelihatan kemana aja?" Tanya Bi Sumi sumringah melihat Arin.
"Hehehe.. Abis tinggal di rumah Mbak Dewi bi," jawab Arin tersenyum ramah.
"Loh emang Dewi nya sakit?" Tanya bi Sumi heran.
"A, anu, ibunya Mas Mahmud yang sakit," jawab Arin bingung.
Bi Sumi tidak bertanya lagi, dengan cekatan tangannya memilih sayur-sayuran untuk sop.
Sementara Ibu-ibu disebelah Arin berbisik-bisik dengan beberapa ibu-ibu lainnya. Arin cuek saja tidak terlalu memperdulikannya meski samar-samar namanya dan nama Kosim disebut-sebut oleh salah satu ibu-ibu penyebar gosip.
"Ssssttt, tau kabar nggak sih Arin sama Kosim lama nggak tinggal di rumah itu sedang tirakat," kata ibu berdaster.
"Hah? Tirakat? Tirakat apa, nyari nomor togel, hikhik..." timpal ibu-ibu yang lainnya dibarengi tertawa tertahan sambil menutup mulutnya.
Suara cekikikan ibu-ibu sangat jelas didengar Arin namun Arin tetap diam dan tidak ingin menanggapinya.
"Bukaaaan, kabarnya sih tirakat pesugihan," bisik ibu berdaster.
"Hah?! Masa?! Celetuk ibu-ibu yang paling ujung.
"Hih! Amit-amit!" Timpal ibu yang lainnya.
"Pesugihan apa bu Erni?!" Tanya salah satu ibu-ibu.
"Sssttt.. kata orang sih monyet!" Kata ibu Erni berbisik namun cukup jelas terdengar oleh Arin.
Arin langsung melirik kepada ibu-ibu dengan gurat wajah tak senang. Darahnya sudah mendidih diubun-ubun, kupingnya sudah terasa panas mendengar kasak-kusuk ibu-ibu itu yang membicarakannya.
"Sudah bi Sumi, jadi berapa semuanya?" Tanya Arin ingin lekas-lekas pergi dari warung.
"Jadi semuanya dua puluh lima ribu Rin," jawab bi Sumi.
__ADS_1
Arin segera membayarnya dengan uang pas lalu bergegas meninggalkan warung bi Sumi. Arin berjalan pulang dengan perasaan tidak karuan, ada jengkel, ada marah, kesal dan tanda tanya besar dihatinya mendengar gunjingan ibu-ibu di warung.
Sebenarnya telinganya panas meski samar-samar mendengar para ibu-ibu membicarakannya bahkan menuduhnya melakukan pesugihan. Namun Arin berusaha bersabar dan menahan kemarahannya di hati.
Sepanjang jalan kembali ke rumahnya, Arin mulai gamang. Ada rasa ingin tahu kebenarannya soal tuduhan melakukan ritual pesugihan. Timbul rasa kepenasarannya, apakah betul Kosim menjalani ritual pesugihan seperti yang dibicarakan ibu-ibu tadi? Kemudian Arin memghubung-hubungkan dengan kejadian-kejadian aneh yang terus menerus mengganggu Kosim dan Dede bahkan dirinya.
Pikiran Arin mulai termakan oleh gosip ibu-ibu tadi. Langkahnya dipercepat ingin segera sampai di rumah ingin mengadu kepada Kosim sekaligus menanyakan tentang pesugihan.
Sementara itu di rumah, Kosim terlihat sibuk sedang membakar sampah disudut halaman. Dia melihat Arin datang tergesa-gesa dengan raut muka menyiratkan kemarahan.
"Rin, kenapa?" Tanya Kosim heran.
Arin terus saja melangkah masuk kedalam rumah tidak menanggapi pertanyaan Kosim. Kosim keheranan melihat sikap Arin yang berubah, lantas menyusulnya masuk.
Dilihatnya Arin sedang duduk di dapur sambil menelungkupkan wajah diatas kedua tangannya dekat westafel. Tubuhnya terguncang-guncang, Arin menangis.
"Rin, ada apa?" Kosim mendekat mengelus rambut Arin.
Tapi tak disangka oleh Kosim, reaksi Arin langsung menepis usapan tangan Kosim di rambutnya. Lalu Arin mengangkat wajahnya yang sudah sembab dengan air mata.
"Mas, apa benar Mas melakukan ritual pesugihan?!" Tanya Arin dengan nada menahan amarah.
Kosim terkesiap kaget, jantungnya langsung berdegup kencang seketika tingkahnya gugup mendengar pertanyaan Arin.
"Jujur Mas, apa benar melakukan ritual pesugihan?!" Arin mulai marah.
"Ng..nggak! Siapa yang bilang?" Jawab Kosim menenangkan Arin.
"Orang-orang di warung Mas, hukuhukuhuk.." Tangis Arin pun membucah.
"Nggak Rin, fitnah itu," Kosim terus berusaha meyakinkan Arin.
"Jujur aja Mas, buktinya itu gangguan-gangguan mahluk halus bahkan Dede beberapa kali hampir mati , Mas!" Seru Arin.
Kosim terdiam, dijawab salah nggak dijawab juga salah, begitu pikirnya.
"Jawab Mas!" bentak Arin yang tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Kosim sangat gugup dicecar pertanyaan yang dia sendiri tidak ingin menjawabnya dengan berterus terang meng-iya-kan kebenaran gunjingan warga sekitarnya.
"Ng..nggak Rin, itu nggak benar," jawab Kosim pasrah.
__ADS_1
"Kalau memang nggak kenapa kita harus mengungsi lama di rumah Mbak Dewi. Lalu kenapa mahluk halus itu selalu datang meneror bahkan hampir-hampir membuatmu mati, membuat anak kita juga nyaris mati?!" teriak Arin mulai kalap.
"Sss.. sa, saya nggak tau Rin," Kosim tidak bisa berkata-kata lagi untuk memberikan alasan bohongnya.
"Sudah, cukup! Cukup Mas! Mau nyupang, mau apapun terserah!!! Saya nggak sudi punya suami nyupang monyet!!!" seru Arin bergegas keluar dari dari dapur dengan setengah berlari.
"Rin, Rin Arin, dengar penjelasan Mas dulu, Riiiin..!"
Kosim berusaha mencegah Arin pergi dengan menggapai lengan Arin, namun tangannya langsung ditepis Arin. Arin terus berlari keluar dari dapur.
Kosim terpaku hanya menatap punggung Arin yang berlari kedepan dan hilang terhalang tembok.
"Ya Allaaaah... kenapa harus terungkap sekarang? Disaat semuanya belum usai," keluh Kosim dalam hati.
Beberapa saat setelah kondisi Kosim sudah lebih tenang, dia pun segera menemui Arin. Kosim sudah siap berterus terang menjelaskan semuanya.
Kosim melangkah ke kamar, dia berpikir Arin sedang menangis didalam kamar. Perlahan-lahan Kosim membuka pintu kamar agar tidak menimbulkan suara karena masih ada Dede yang sedang tidur.
Pintu terbuka nyaris tidak menimbulkan suara. Seketika Kosim terkejut, ternyata perkiraannya salah. Didalam kamar tidak ada Arin dan Dede. Bergegas melangkah keluar rumah, Kosim celingkukan di teras tetapi Arin dan Dede tidak juga dijumpainya.
Setengah berlari Kosim mendatangi rumah Mak Ijah yang ada di sebelah.
"Tok.. tok... tok..."
"Maaaak... emaaak..." seru Kosim didepan pintu rumah Mak Ijah.
Beberapa kemudian Mak Ijah keluar dengan muka heran melihat Kosim. Tidak biasanya Kosim mengetuk pintu dan memanggil-manggilnya seperti itu.
"Ada apa Sim? Kenapa cemas begitu?" Tanya Mak Ijah keheranan.
"Mak, tadi Arin kesini nggak?"
"Nggak Sim, emang ada apa?" Wajah Mak Ijah terlihat keheranan dan bingung.
"Arin dan Dede nggak ada di rumah Mak," kata Kosim.
"Kalian bertengkar?" Tanya Mak Ijah.
"I, i...iya Mak.." jawab Kosim terbata-bata.
"Masya Allaaah, bukannya emak lihat kalian baik-baik saja?" ucap Mak Ijah.
__ADS_1
"Ya sudah Mak, saya mau cari barangkali ke rumah Mbak Dewi." Ujar Kosim lalu bergegas meninggalkan Mak Ijah yang masih kebingungan.
......................