
Alam Arwah,
Disuatu tempat yang gelap pekat, dua sosok mahluk tinggi besar berjubah hitam dengan kepala tertutup kain hitam yang membuat mukanya samar tak jelas sedang menyeret-nyeret Kosim dengan kasar.
Kosim mencoba berontak meronta-ronta sekuat tenaga, ia sangat ketakutan berusaha melepaskan cengkeraman mahluk tinggi besar itu.
"Kamu pantas mendapatkan siksaan ini!" Seru salah satu mahluk berjubah hitam sebelah kiri Kosim.
Suaranya terdengar mengerikan menggema, sember dan menggidikkan telinga Kosim.
"Ampuuuun... ampuuuun..!" Teriak Kosim histeris.
Dua mahluk berjubah hitam itu terus menyeret Kosim berpuluh-puluh kilo jauhnya. Kosim terus-menerus berteriak sekencang-kencangnya, ia merasakan kesakitan yang teramat sangat pada punggungnya.
Kain putih sebagai pakaiannya yang semula melekat ditubuh Kosim, kini nyaris habis terkikis dan nyaris telanjang. Goresan-goresan luka di punggungnya berasa semakin perih dan kesakitan.
Beberapa saat kemudian seretan itu berhenti dari sebelah kiri tiba-tiba membias cahaya putih dari atas menerangi sebuah tempat tepat. Tempat itu seperti pulau kecil ditepiannya dikelilingi nyala api yang tak henti menjilat-jilat.
Tubuh Kosim dipaksa untuk melihat pulau itu. Matanya tak bisa mengelak melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Didataran pulau itu atusan manusia tengah mendapat siksaan. Kedua tangannya terikat rantai besar sedangkan kakinya terbelenggu besi hitam.
Kosim makin bergidik memperhatikan ketika melihat wajah manusia-manusia itu. Semuanya memilik wajah menyerupai hewan, ada yang seperti anjing, babi, monyet hingga kelelawar.
Kosim terus dipaksa untuk menyaksikan pemandangan mengerikan itu. Ia pun berusaha tak ingin melihatnya dengan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun seketika itu juga sebuah tangan besar menjambak rambut dan menghentakkannya hingga membuat kepalanya kembali terdongak.
"Lihat itu, Lihat!" Seru mahluk tinggi besar disisi kanan Kosim.
"Ampuuuuuunnnn... Ampuuuuunn...." Kosim menangis histeris.
"Itulah manusia-manusia sepertimu yang mengabdi bukan pada Tuhanmu! Bentak mahluk berjubah hitam disebelah kiri Kosim.
"Ampuuuuuunnnn... Ampuuuuunn.... saya bertobat, saya bertobat...." Kosim kian menangis histeris.
Dua mahluk berjubah hitam seperti tak peduli dengan penderitaan Kosim, keduanya kembali menyeretnya meninggalkan pemandangan mengerikan itu. Beberapa lama kemudian disisi kanan kembali muncul bias sinar dari atas yang menunjukkan satu tempat.
Kali ini Kosim menyaksikan banyak sekali anak-anak seusia Dede, 3 tahunan (anak Kosim) sedang memikul balok kayu yang sangat besar. Dengan tertatih-tatih bocah-bocah itu berusaha berjalan hingga kaki kecilnya amblas terbenam sebatas perut saking beratnya memikul kayu balok diatas kepalanya.
Suara-suara jerit tangis bocah-bocah itu sangat jelas ditelinga Kosim kian menyiksanya seperti menusuk-nusuk telinganya. Jeritan dan tangisan ribuan bocah kecil itu sangat memilukan menyayat hati, Kosim pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras karena tak kuat lagi mendengarnya.
"Ampuuuunnn... Ampuuuun...." Teriak Kosim kian histeris.
__ADS_1
Kosim menjerit sejadi-jadinya. Ia sangat tak kuat lagi tak tega melihat bocah-bocah itu sedang dalam penderitaan yang teramat sangat.
"Lihat! Lihat anak-anak tak berdosa itu!" Bentak mahluk berjubah hitam disisi kanan Kosim.
Kosim terlihat lunglai, tubuhnya menggelosoh tak lagi meronta-ronta dalam cengkraman dua mahluk tinggi besar berjubah hitam itu. Dia terduduk lemas sambil menangis bercucuran air mata teringat anaknya yang hendak dijadikan tumbal dalam ritual pesugihan yang dijalaninya. (*baca episode 1)
Tangisan Kosim makin menjadi-jadi membayangkan Dede berada diantara bocah-bocah yang sedang menanggung penderitaan itu.
................
Kamar Rumah Sakit,
Sudah 2 hari ini tubuh Kosim terbaring tak bergerak. Di kepalanya masih terlilit kain perban yang baru diganti pagi tadi. Luka-luka bekas tertimpa reruntuhan bangunan mess harus mendapat 10 jahitan itu belum kering.
Arin dan Dewi duduk dilantai beralaskan tikar disebelah sudut kanan dekat pintu. Arin sesekali mengelus punggung Dede yang tertidur berbantal dipangkuannya. Sedangkan Mahmud sedang keluar membeli minuman dan makanan cemilan.
"Tut... tut.. tut.." Suara dari monitor deteksi jantung terdengar dikesunyian kamar nomor 13.
"Mbak, sudah dua hari Mas Kosim belum juga sadarkan diri," keluh Arin pada Dewi.
"Sabarlah Rin, terus berusaha dan jangan bosan membisiki telinganya dengan kalimah-kalimah Allah." Kata Dewi menenangkan Arin.
Arin teringat perlakuannya selama ini terhadap Kosim. Ia baru menyadari dirinya seringkali berkata kasar setiap kali Kosim akan berangkat berdagang. Dan itu dilakukannya hampir setiap hari.
"Sana cari uang yang banyak! Banyak kebutuhan yang harus dibeli, bla.. bla.. bla..." Semua perkataan itu masih diingat Arin.
"Maafkan Arin Mas..." Kata Arin terisak.
"Jangan tinggalkan Arin Mas. Ayo, bangun Mas, banguuuun..." Bisik Arin dengan suara lirih ditelinga Kosim.
Berulang-ulang Arin mengucapkannya namun tubuh Kosim tetap diam tak ada respon. Diusapnya dahi Kosim dengan linangan air mata yang makin deras membasahi pipinya hingga menetes mengenai kelopak mata Kosim yang tertutup rapat.
Seiring tetesan air mata di kelopak mata Kosim, secara tiba-tiba Arin terlonjak kaget. Ia merasakan tubuh Kosim mendadak bergetar dan berguncang-guncang dengan keras. Grafik di layar monitor menunjukkan detak jantung Kosim sesaat terlihat bergerak tak beraturan.
"Mas, Mas Kosim..!" Arin teriak histeris bercampur haru sambil menepuk-nepuk punggung tangan Kosim.
"Mbak, mbak... Mas Kosim bergerak, mbak!" Seru Arin.
Dewi pun langsung terlonjak berdiri mendengar seruan Arin. Ia bergegas melihat Kosim melangkah disisi kanan ranjang.
__ADS_1
"Yang benar, Rin?!" Tanya Dewi tak percaya.
"Iya mbak. Tadi tubuhnya tiba-tiba berguncang-guncang..." Ujar Arin.
Disaat bersamaan Kosim tiba-tiba berteriak keras, "Ampuuuuunnn... ampuuuun... saya bertobaaaatttt!"
"Mas, mas...." Panggil Arin sambil terus menepuk-nepuk halus tangan Kosim.
Perlahan-lahan kelopak mata Kosim bergerak-gerak kemudian terbuka sedikit demi sedikit. Matanya menatap langit-langit kamar lalu menoleh kesebelah kanan samar-samar dilihatnya kakak iparnya. Kemudian Kosim menoleh kesamping kiri, dilihatnya Arin sedang menatapnya dengan berlinangan air mata.
"A..rin... De.. de ma..na..." ucap Kosim dengan suara lemah dan terbata-bata.
Arin langsung memeluknya dengan erat, kepalanya direbahkan di dada Kosim. Isak tangisnya membuncah hingga tubuhnya teguncang-guncang.
"Terima kasih, ya Allah... Engkau masih memberikan saya kesempatan untuk tetap memiliki suami," bisik Arin lirih.
"De.. de.. De... de..." Ucap Kosim lirih memanggil-manggil anaknya.
"Sebentar ya Mas saya bangunkan Dede, dia lagi tidur..."
Arin mengangkat kepalanya dari dada Kosim lalu melangkah berlalu dari pandangan Kosim untuk membangunkan Dede yang tergolek diatas tikar.
"De... Dede bangun sayang, itu dipanggil ayah. Ayo sayang, ayah sudah bangun..." ucap Arin dengan lembut.
Bocah 3 tahunan itu langsung duduk mengucek-ngucek matanya sebentar lalu beranjak berlari ke ranjang Kosim.
"Ayaaaaaaahhhh...." Dede merebahkan kepalanya dilengan Kosim.
Ia terlihat sangat kangen sekali dengan ayahnya, Kosim berusaha memiringkan tubuhnya dengan susah payah ingin menyentuh kepala Dede.
"Maafin ayah nak, ayah nggak akan rela kamu menjadi tumbal bangsa Siluman Monyet.. Ayah berjanji akan menjagamu." Ucap Kosim dalam hati.
Tak terasa air matanya meleleh membasahi bantal. Tangisnya membuncah teringat peristiwa saat dirinya dipertontonkan banyak anak-anak sedang memikul balok kayu yang sangat berat hingga membenamkan tubuh-tubuh mungilnya.
Kosim menangis tersedu-sedu hingga membuat tubuhnya terguncang-guncang. Ia begitu menyesali perbuatannya telah melakukan ritual pesugihan hingga tanpa disadari mengorbankana anaknya sebagai tumbal demi memenuhi tuntutan Arin, istrinya.
Sementara Arin dan Dewi menatap haru melihat Kosim tersedu-sedu sambil mengusap-usap kepala Dede Matanya yang sedari tadi berkaca-kaca menahan tangis akhirnya membuncah. Kakak beradik itupun berpelukkan menangis haru.
......................
__ADS_1