Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Dua Dimensi


__ADS_3

Malam ke-23 melawan perjanjian gaib,


"Kosim harus segera ditemukan Dul. Nyawanya sedang terancam, jika sampai fajar nanti Kosim tidak ditemukan saya khawatir nyawanya tidak dapat ditolong lagi, atau mungkin sukma Kosim sudah berada di alam siluman." ujar Gus Harun.


Sukma Abah Dul terdiam, 'apakah pembelaan saya dan sahabat-sahabat saya akan sia-sia?' begitu pikirnya. Wajah sukma Abah Dul nampak murung dan cemas mengkhawatirkan nasib Kosim.


"Apa yang harus kita lakukan Gus?!" tanya sukma Abah Dul cemas.


"Kita sowan ke Romo Kiyai Sapu Jagat Dul, minta wejangan dari beliau," ucap Gus Harun.


"Mari Gus kita berangkat, kita masih punya waktu empat jam sebelum fajar," ucap Abah Dul.


Gus Harun menganggukkan kepala, lalu bibirnya mengucapkan amalan 'Pemisah Sukma' sesaat kemudian raganya diam tak bergerak. Dua siluet tipis bergerak cepat melesat keatas lalu hilang kearah selatan. Sukma Gus Harun dan sukma Abah Dul akan menemui Kiyai Sapu Jagat yang berada di Madura.


......................


Rumah Kumala,


Matahari pagi masih terasa hangat menyinari hamparan rumput hijau halaman rumah Kumala. Kosim merasa baru sebentar dirinya duduk di teras rumah tersebut sambil menikmati kopi hitam dan aneka kue serta buah-buahan. Disampingnya Komala duduk menyenderkan kepalanya dilengan Kosim dengan manja.


Kosim terbuai oleh tutur kata dan rayuan Komala sehingga dia semakin lupa akan dirinya, dan juga lupa kalau dirinya tidak lagi sedang berada di alamnya. Tujuan ke tempat kerjanya pun sama sekali tidak ada dipikirannya saat ini. Yang dia rasakan hanyalah bahagia dan merasa senang berada dekat dengan Kumala namun didalam sorot matanya nampak kosong.


"Kalau Mas Kosim ngantuk tidur saja didalam," ucap Kumala melihat Kosim hanya melongo diam.


"Eh, i... Iya Kum, iya nih tiba-tiba mata saya berat. Ngantuuuuk banget," kata Kosim.


Kumala melirik menatap wajah Kosim dengan seringai senyum menghiasi bibirnya yang merah menyala.


"Sebentar lagi aku berhasil. Saat manusia ini tertidur aku akan cepat-cepat memanggil Anggada Kora!" ucap Komala dalam hati.


Kumala berdiri meraih tangan kanan Kosim mengajaknya masuk rumah. Kosim menurut saja tanpa ada rasa sungkan apalagi menolaknya padahal wanita bergaun merah motif bunga itu baru saja dikenalnya. Akal sehat dan nalar Kosim sudah benar-benar tertutup oleh kekuatan magis Kumala dan dunia kasat mata.


Kosim dan Kumala berjalan beriringan. Kumala bergelayut manja memegang erat lengan Kosim. Pada tatapan matanya sangat jelas terpancar nafsu birahi yang sudah menguasai Kumala. Setengah tergesa Kumala menuntun Kosim memasuki rumahnya.


Kosim tertegun menatap sekeliling ruangan. Cahaya temaram cukup membuat matanya dapat melihat dengan jelas dinding temboknya bergambar bunga Kamboja dengan latar belakang warna merah muda.

__ADS_1


Kosim melihat salah satu hiasan dinding seperti kepala monyet yang dikeringkan namun akal sehatnya tidak merasakan suatu keganjilan. Kursi tamu utama hanya sebuah risbang panjang terbuat dari kayu yang berukir berwarna kuning emas. Didepannya sebuah meja besar dari potongan batang pohon besar berwarna coklat dikelilingi kursi-kursi berukuran lebih kecil juga dari potongan batang pohon sebagai tempat duduknya.


Kumala tetus menuntun Kosim melewati ruang tamu yang cukup luas. Pada satu pintu besar berhiaskan kelambu halus berwarna merah muda Kumala berhenti. Seringai senyumannya terus menghiasi bibir merahnya mencerminkan jiwanya sudah dikuasai nafsu birahi.


"Ini kamarnya Mas. Masuk yuk," ajak Kumala dengan nafas memburu.


Kosim seperti robot hanya mengangguk dan berjalan menuruti tarikkan tangan Kumala saja. Kumala mendorong pintu kamar berukuran besar itu. Andai saja Kosim berada dalam kesadarannya, mendengar bunyi kreotan pintu itu pastilah sudah lari sekencang-kencangnya. Suara kreotan pintu kamar itu sangat menggidikkan bulu kuduk akan tetapi yang Kosim dengar tak ubahnya seperti simfoni yang menenangkan jiwa.


Kini dihadapan Kosim melihat sebuah ranjang besar beralaskan kain berwarna merah muda. Diatas kasur bertaburan bunga-bunga melati yang menimbulkan wangi semerbak memenuhi ruang kamar.


Komala menuntun Kosim mendekati ranjang. Kosim melangkah menuruti tarikan halus tangan Kumala. Kosim diarahkan duduk dibibir ranjang, Kumala kian merapatkan duduknya. Nafsu birahinya semakin membakar jiwanya namun dengan sekuat-kuatnya dia tahan. Hanya seringainya yang tersembunyi dari pandangan Kosim menutupi gejolak didalam dirinya.


"Apa sebaiknya aku mangsa saja dulu sebelum aku pergi menghadap Raja," batin Kumala bergumul antara hasrat dan tugas.


Sesaat timbul untuk nekad saja menyalurkan nafsu birahinya tetapi sesaat itu juga Kumala urungkan. Bayangan wajah murka Raja Kalas Pati membuatnya tidak berani melakukannya. Jika gagal hanya karena gara-gara menuruti nafsu syahwatnya maka sudah pasti hukumannya tidak akan setimpal dengan kenikmatannya yang hanya sesaat, begitu pikir Kumala.


Kumala bergegas berdiri dari samping Kosim dengan muka muram menahan hasratnya. Dia hanya bisa mengusap-usap wajah Kosim sambil menatap sayu.


"Mas Kosim isyirahat saja dulu, aku akan memasak untuk makan Mas Kosim nanti," ucap Kumala dengan suara bergetar. Lalu melangkah balik badan meninggalkan Kosim yang duduk di bibir ranjang.


Kosim memandang bingung ruangan kamar yang serbah berwarna merah muda. Tetapi kesadaran Kosim sudah hilang, dia tidak tahu ada dimana dan sedang apa. Jiwanya sudah terikat dalam rantai alam tak kasat mata.


Perlahan-lahan Kosim beringsut ketengah ranjang. Matanya serasa berat, Kosim mulai memejamkan matanya.


Belum sempat terlelap, tiba-tiba suara berdentum keras memenuhi ruang kamar yang menghujam dari atas ruang tidur membuat Kosim berjingkat.


"Booommmm...!!!"


Kosim terlonjak bangun terduduk diatas kasur, kepalanya celingukkan. Belum sempat mencari tahu apa yang terjadi, muncul tiga sosok bayangan putih membabi buta mengantamkan pukulan kesemua penjuru ruang kamar. Semua barang-barang didalam kamar hancur berantakan, kilatan cahaya putih liar menghantam dinding-dinding kamar hingga jebol dan hancur dihantam ketiga bayangan putih tersebut.


Ranjang tempat Kosim terduduk diatasnya pun tak luput dari sapuan hantaman kekuatan ketiga bayangan putih. Kosim terpental keluar dari kamar melalui dinding yang jebol.


"Maaaas Kosiiiim...!" suara teriakkan Kumala muncul dari pintu kamar yang sudah terbuka lebar.


Kumala terbelalak melihat kamarnya hancur lebur namun dia tidak menyadari ada sosok bayangan putih yang membuat kamarnya hancur dan juga membuat Kosim terpental keluar. Belum sempat melihat ketiga sosok putih, kilatan tiga sinar putih sudah meluncur deras mengarah kepada Kumala.

__ADS_1


"Booommm..!!!"


Tubuh Kumala terhantam telak oleh sinar putih dan seketika tubuhnya terpental kebelakang dengan keras lalu lenyap.


Kamar Kumala hancur rata dengan lantai, atap serta dindingnya jebol berantakkan. Ketiga sosok putih itu lantas melesat keatas dan menghilang.


......................


Di rumah Mahmud,


Malam semakin larut menunjukkan pukul 01.00 wib dinihari. Tubuh Abah Dul yang masih duduk bersila diatas kursi tiba-tiba bergetar keras dan keringat nampak mulai keluar didahinya.


Mahmud dan Mang Ali yang menjaga raga Abah Dul saling melempar pandang. Tatapan keduanya mengisyaratkan pertanyaan yang sama, " Kenapa dengan Abah Dul?"


Tubuh Abah Dul bergetar beberapa saat lalu kembali tenang. Tubuhnya kembali diam tak bergerak seperti awal memisahkan sukmanya. Selang beberapa lama kemudian kedua mata Abah Dul perlahan-lahan terbuka lalu meraupkan kedua telapak tangannya seraya berucap, "Alhamdulillah..." Abah Dul menoleh kekanan dan kiri melihat Mahmud dan Mang Ali.


"Gimana Bah? Kosim ketemu?" tanya Mahmud.


"Iya Bah, gimana?!" timpal Mang Ali penasaran.


"Alhamdulillah, Kosim selamat tapi entah ada dimana?" kata Abah Dul dengan raut bingung.


"Abah ketemu dengan Kosim?" cecar Mahmud.


Abah Dul sudah membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan Mahmud tapi tetahan oleh suara dering telpon hape milik Mahmud.


Mahmud langsung menyambar hape yang terrgeletak diatas meja tamu lalu membukanya.


"Juned?!" gumam Mahmud begitu membaca nama kontak penelpon.


"Ya halo, waalaikum salam.. iya Mas. Hah?! iya... iya ... langsung kesana!" seru Mahmud mengakhiri telponnya.


"Ada apa Mud?!" gantian Abah Dul dan Mang Ali yang dibuat penasaran.


"Bah, kita kesana ke lokasi tempat Kosim bekerja." kata Mahmud dengan raut sangat cemas.

__ADS_1


......................


__ADS_2