
"Kakek sih tidak percaya kata Dede, hikhikhik..." ucap Dede dengan tingkah lucu sambil memainkan
jemarinya.
Deg!
Saat itu juga Pak Diman, Dewi serta Arin baru teringat dengan ucapan Dede sewaktu awal berangkat tadi. Mereka baru menyadari kalau ucapan Dede itu benar- benar terbukti nyata.
"Tapi kenapa perampok- perampok itu tiba- tiba saja pergi?" ucap Pak Diman dalam hatinya.
Pak Diman pun mengingat- ingat kembali saat- saat terakhir dimana dirinya tidak lagi mendengar bentakkan salah
satu perampok. Dan yang didengarnya terakhir kali pada saat itu salah satu perampok itu mengatakan 'tidak ada siapapun di dalam mobil'.
“Aneh! Sudah jelas ada empat orang di dalam mobil, masa bilangnya tidak ada orang? Apa karena saya, mbak Arin dan mbak Dewi besembunyi ya? Ah kalau saya dan mbak Arin memang bersembunyi, tapi mbak Dewi kan hanya meringkuk diatas jok itu? Lagi pula, masa iya mobil ini jalan sendiri kalau kata mereka tidak ada orang? Hahhhh aneh! Benar- benar aneh!” gumam pak Diman dalam hati.
“Ya sudah, kita lanjutkan perjalanannya ya. Dede tidak apa- apa?” tanya pak Diman sambil menoleh
kebelakang.
“Ah, Dede nggak tau apa- apa kakek. Emang tadi kenapa?” Dede balik tanya dengan logat anak- anaknya.
“Loh, masa Dede nggak tahu?” ujar pak Diman heran.
“Yang Dede tau ada orang jahat saja kakek,” ujar Dede dengan tingkah lucu.
Bagi Arin sendiri merasa wajar kalau putranya itu tidak mengetahui ada yang mencoba merampoknya, karena selama aksi perampokan itu berlangsung Arin mendekap Dede dalam pelukannya. Tetapi bagi Dewi dan pak Diman sebaliknya merasa sangat heran, tidak mungkin rasanya kalau anak itu tidak mendengar gedoran- gedoran pintu mobil dan letusan senjata api.
“Mbak Arin, mbak Dewi tidak apa- apa?” kembali pak Diman menanyakan kondisi kakak beradik itu.
“Alhamdulillah saya tidak apa- apa pak,” balas Dewi.
“Alhamdulillah saya juga tidak apa- apa,” timpal Arin.
“Syukurlah, kalau begitu kita lanjutkan perjalanannya ya,” ucap pak Diman.
__ADS_1
“Tapi pak, gimana dengan kaca jendela mobil yang pecahnya?” tanya Dewi mencemaskan kerusakan mobil milik pak Harjo tersebut.
“Biar nanti saya yang akan berbicara dengan pak Harjo menjelaskan kejadian ini,” jawab pak Diman enteng.
“Kira- kira rumah pak Harjo masih jauh atau sudah dekat ya pak?” tanya Arin.
“Sudah dekat kok, kira- kira sekitar lima belas menitan lagi juga sampai. Setelah melewati hutan lindung ini, nanti didepan ada pertigaan. Nah kita belok kiri lewat Jalan alternatif, hanya lima menit setelah belok itu kita sudah masuk desa Palu Wesi, ” jawab pak Diman.
“Ya sudah pak, cepat- cepat dilanjutkan lagi disini sepi pak. Takut…” ujar Dewi.
“Iya, iya mbak,” balas pak Diman lalu menghidupkan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan.
Sementra itu mobil Avanza hitam nampak berhenti di sebuah warung kopi yang berada di pinggir jalan alternatif, bukan jalan utama jalur aksi perampokan tadi. Mereka sengaja mengambil jalan lain ketika melintas di pertigaan jalan raya untuk menghilangkan jejak.
Dari logatnya ke 6 lelaki muda tersebut sepertinya berasal dari luar jawa. Mereka duduk di bangku sebuah warung sambil tak henti- hentinya membicarakan aksi perampokan mereka. Di atas meja telah tersaji beberapa botol
bir serta bungkus kacang yang sudah terbuka. Nampak pula berserakan kulit- kulit kacang di bawah kaki mereka.
“Bos, yang betul saja masa tidak ada orang didalam mobil itu. Sudah jelas- jelas mobil itu berisi dua wanita, satu laki- laki tua dan satunya anak- anak,” kata lelaki muda yang dipanggil Jo yang bertugas sebagai driver.
“Iya Jo, betul itu! Aku juga melihatnya kedalam mobil itu!” timpal lelaki muda yang memiliki segaris bekas luka di dekat pelipisnya.
“Ah, aku tidak percaya itu Han!” sergah Jo.
“Kamu masih tak percaya saja Jo, aku juga melihatnya!” timpal lelaki muda lainnya.
“Ya jelas aku tak percaya omongan kalian itu. Mana mungkin lah jelas- jelas mobil itu melaju dan dikuntit oleh kita dari keluar rumah makan tadi, jadi mana mungkin tidak ada orang, hah?! Masa mobil itu laju sendiri?!” kata Jo tak kalah keras nadanya.
“Benar juga katamu Jo! Tapi aku sendiri juga melihat ke dalam mobil itu Jo, ya.. ya, memang tak ada orang barang satu pun!” timpal lelaki muda duduk paling ujung.
“Akh…! Sudah, sudah! Ini benar- benar aneh! Aku baru pertama kali mengalami ini. Apa mungkin mereka sudah lebih dulu lari ke dalam hutan?!” kata pemimpin rampok.
“Nah! Jangan- jangan betul apa kata bos, kenapa kalian tidak memeriksa sekitar hutan tadi?!” timpal Jo.
“Sialan kamu! Kamu kira aku ini bodoh?! Kalau kita mencarinya mampuslah kita. Pengendara lain akan curiga!” kilah pemimpin rampok.
__ADS_1
“Benar juga kata bos tuh Jo!” sergah lelaki yang dipanggil Han.
Sementara itu mobil yang dikemudikan pak Diman yang membawa Dewi, Arin dan Dede baru saja belok kearah kiri dari jalan utama saat sampai di jalan bercabang. Mobil Terios warna silver itu melaju pelan setelah berbelok
dan pak Diman pun tidak berusaha menambah kecepatannya karena memasuki jalan Desa.
“Nah, ini perbatasan desa Palu Wesi dan sebentar lagi kita sampai di rumah pak Harjo,” kata pak Diman menerangkan situasi diluar.
“Wah, indah juga ya pak Desa Palu Wesi. Rumah- rumah penduduknya tertata rapih, tapi kok sepertinya sepi ya pak?” tanya Dewi sambil melihat- lihat pemandangan di depannya.
“Hari ini kan mereka semua diundang oleh pak Harjo, jadi mungkin mereka sudah pada ngumpul disana. Lagi pula penduduk desa Palu Wesi itu nggak banyak mbak, ya sekitar lima ratusan K K saja,” terang pak Diman.
Beberapa menit kemudian Dewi tak sengaja melihat mobil Avanza hitam terparkir di pinggir jalan sebelah kiri. Begitu pula dengan pak Diman, alisnya terangkat saat melihat mobil tersebut. Ingatannya masih melekat jelas, mobil itulah yang tiba- tiba menikungnya dan menghadang laju kendaraannya.
“Pak Diman, pak Diman! Mobil itu, seperti…” kata Dewi sambil menoleh kesamping bersamaan dengan mobil yang disetiri pak Diman melewati mobil Avanza hitam itu.
“I, iya mbak. Mobil itu yang tadi menghadang kita!” seru pak Diman.
“Ada apa pak?!” tanya Arin dari belakang yang tidak mengetahui situasinya.
“Itu tadi mobil yang yang merampok kita ada disana. Wah, kita harus cepat- cepat melaporkan ke kepala desa nih,” kata pak Diman lalu menginjak pedal gasnya kuat- kuat. Seketika mobil pun melaju dengan hentakan kencang.
“Tadi para perampok itu ada yang melihat mobil ini tidak saat kita melewatinya tadi?” tanya pak Diman cemas.
“Sepertinya mereka tak melihatnya pak. Mereka seperti sedang minum- minum,” jawab Dewi.
Karena merasa sudah berada di desanya sendiri seketika timbul keberanian pada diri pak Diman. Hatinya mulai merasa geram dan marah mengingat kejadian perampokan tadi. Tak lama kemudian, pak Diman langsung membelokkan mobilnya memasuki halaman kantor balai Desa.
Ciiiiiiiiiiitttt…!
Suara decitan ban mobil yang di rem secara mendadak, membuat orang- orang yang berada di sekitar halaman balai Desa terkejut. Awalnya mereka merasa marah melihat mobil yang ugal- ugalan tersebut, namun setelah yang
keluar dari mobil adalah pak Diman, kegeraman mereka berubah menjadi pensaran.
* BERSAMBUNG
__ADS_1