
Di idalam goa yang semula remang- remang oleh penerangan sebatang obor kini sedikit lebih terang. Dan satu- satunya penerangan itu hanya bersumber dari sebatang lilin besar berwarna merah yang baru saja dinyalakan oleh sang kuncen.
Udara dingin namun lembab dirasakan oleh sepasang suami istri tersebut ditambah suara monyet- monyet saling bersahutan seolah- olah bersuka cita menyambut kedatangan calon penghuni baru kian
menambah kesakralan tempat tersebut.
Suami istri tersebut saling merapatkan tubuhnya, bukan karena merasakan dingin akan tetapi mereka merasa
timbul rasa takut didalam hati masing- masing. Sepasang matanya tak berkedip melihat sekelilingnya yang kini terlihat jelas banyak sekali buah pisang serta kulitnya yang berserakan dimana- mana.
“Sudah jangan takut, monyet- monyet itu merasa senang dengan kedatangan kalian,” ucap si kuncen sambil melangkah kearah sebuah batu besar berbentuk pipih.
“I. iyya mbah,” ucap suami istri bersamaan dengan suara gemetar sekaligus menyadarkannya dari rasa ngeri yang merasuki hatinya.
Suami istri itu melangkah takut- takut mengikuti sang kuncen dibelakangnya.
Sekilas batu besar itu menyerupai sebuah altar dimana diatasnya bertaburan beraneka macam bunga bercampur dengan buah pisang yang tergeletak berserakan.
“Duduklah,” ucap sang kuncen kemudian menyalakan satu batang lilin besar berwarna merah.
Seketika pemandangan seisi ruangan goa kian terlihat jelas karena bertambahnya cahaya penerangan dari lilin diatas batu altar. Suami istri itu semakin bergidik ngeri melihat sekelilingnya hingga tanpa sadar kedauanya saling menggenggam tangan erat- erat.
“Sekali lagi mbah tanya, apakah kalian masih mau melanjutkan melakukan ritual pesugihan monyet?” tanya sang
kuncen.
“Iy, iyya mbah,” jawab suami istri terdengar ragu- ragu.
Bersamaan dengan keduanya menjawab, seketika terdengar teriakkan- teriakkan dari menonyet monyet saling bercicit bersahutan menggema seisi ruang goa.
“Sekali lagi mbah tanya, apakah kalian masih mau melanjutkan melakukan ritual pesugihan monyet?” tegas sang
kuncen.
__ADS_1
Sepasang suami istri saling menoleh berpandangan seakan- akan meminta jawaban untuk saling menguatkan hati masing- masing. Disaat dalam keraguan dan penuh ketakutan yang terlihat dari raut wajah suami istri itu diasaat itu pula bayangan orang- orang yang menaguh hutang bermunculan didalam pikiran mereka bahkan istrinya terngiang- ngiang di kepalanya saat rentenir menagih utang seringkali membentak- bentaknya bahkan sampai menghinanya.
“Makanya kalau tidak bisa bayar jangan berani utang!”
“Mau disita pun nggak ada barang- barang yang berharga!”
“Dasar miskin!”
Bayangan – bayangan yang terngiang di pikirannya itu seolah- olah memberikan kekuatan dan tekad kepada si istri sehingga buru- buru dia menjawab, “Iya kami siap melanjutkan ritual!”
Suaminya kontan menoleh kepada istrinya seakan tidak percaya dengan jawaban istrinya. Namun ingin membantahnya pun serasa lidahnya kelu. Ia pun hanya bisa pasrah mengikuti keadaan sehingga ia pun menganggukkan kepala mengikuti jawaban istrinya.
“Ingat syarat yang mbah katakan sebelumnya? Apakah kalian bersedia?” tanya sang kuncen mengingatkan.
“Bersedia mbah, hanya seekor ayam kan?” jawab si istri memastikan.
Suami istri itu sudah diberitahu oleh sang kuncen sebelumnya saat berada di pondokkan bahwa syarat utama pertama kalinya adalah memberikan seekor anak ayam. Saat itu suami istri merasa kalau syarat anak ayam itu sangat ringan dan gampang sehingga langsung saja menyanggupinya.
“Iya hanya seekor anak ayam yang nanti diambil setelah kalian selesai melakukan tirakat dan berhasil bertemu
“Lalu selanjutnya setiap satu syuro kalian kembali harus menyediakan seekor ayam dan seterusnya. Ingat setiap satu syuro! Apa kalian sudah paham?!” tegas sang kuncen.
“I, iyya paham mbah,” sahut si istri.
“Karso, apakah kamu bersedia?!” tanya sang kuncen kepada si suami yang sedari tadi hanya terdiam.
“Iy, iyya mbah,” sahut Karso terasa kelu.
“Baiklah, selama tujuh hari kalian baca mantra yang sudah mbah berikan setiap tengah malam. Pada siang hari kalian tidak boleh keluar dari goa ini dan kalian hanya makan pisang- pisang yang ada disini,” ucap sang kuncen.
“Iya mbah,” ucap Karso dan Romlah bersamaan.
“Ya sudah, kalau begitu mbah pergi. Pada hari ketiga mbah akan datang lagi menjemput kalian dan kalian tidak boleh keluar sebelum mbah datang menjeput.” Ucap sang kuncen.
__ADS_1
“Baik mbah,” ucap karso dan Romlah.
*****
Malam semakin beranjak larut, udara dingin didalam goa sedikit menghangat oleh cahaya lilin dihadapan Karso dan Romlah. Semula terdapat dua lilin besar berwarna merah yang dinyalakan, namun saat sang Kuncen pergi meninggalkan kduanya didalam goa sang kuncen mematikan lilin satunya yang diletakkan diatas batu dibalik pintu masuk goa.
Karso melirik sebuah jam weker yang diberikan kuncen dihadapannya. Satu putaran lagi jarum jam panjang menghantarkan waktu jam 12 malam. Seketika jantung Karso berasa berdegub lebih kencang.
“Siap- siap mulai baca mantra rom,” ucap Karso menoleh pada istrinya dengan suara bergetar.
Romlah pun reflek melihat jam weker didepannya dan seketika pula perasaan berdebar- debar. Dengan tangan gemetar Karso membuka lipatan kertas yang diberikan oleh sang kuncen yang berisi mantra untuk dibaca keduanya hingga subuh hari. Tulisan mantra pada selembar kertas buku tulis yang sudah lusuh itu tidak begitu panjang hanya ada dua baris tulisan.
Saat jarum panjang pada weker sudah melewati angka 12, Karso dan Romlah pun mulai membaca tulisan mantra pada kertas yang diletakan didepan keduanya.
Perlahan- lahan untaian mantra itu dibaca Karso dan Romlah secara bersamaan. Awalnya terdengar tidak begitu lancar saat keduanya membaca tulisan mantra, namun setelah beberapa kali putaran akhirnya Karso dan Romlah sudah begitu lancar bahkan sedikit hafal.
Satu jam pertama berlalu tidak ada suatu apapun yang dirasakan Karso dan Romlah. Keduanya terus membaca mantra itu berulang- ulang, entah sudah berapa puluh bahkan ratus kali mantra itu di baca. Perasaan suami istri itu sempat dibuat tenang.
Memasuki satu jam kedua, Karso dan Romlah tiba- tiba merakan hembusan angin yang dirasakan mereka sedikit lebih kencang membuat nyala lilin bergoyang menyamping nyaris padam.
Jatung Karso dan Romlah seketika berdegup kencang. Ingin rasanya menoleh kearah angin yang berhembus, namun keduanya teringat pesan sang kuncen,
“Apapun yang kalian rasakan jangan pernah memalingkan dan berhenti membaca mantra!”
Angin yang berhembus itu kemudian mengumpul membentuk gulungan pu ting beliung kecil di depan Karso dan romlah. Tetapi anehnya nyala lilin di depannya seperti tidak terkena hembusannya. Nyala itu kini tetap
tegak bahkan bergoyang pun tidak.
Penuh dengan perasaan tak menentu dan debaran jantung didadanya Karso dan Romlah tetap menundukkan kepala matanya tertuju pada tulisan mantra dan tak henti membacanya. Suaranya kini sedikit gemetar menahan rasa takut yang menghinggapi perasaannya.
Tanpa diketahui karso dan Romlah, angin yang bergulung- gulung dihadapan mereka samar- samar beruvah menjadi sosok monyet besar seukuran 5 kali lipat dari tubuh manusia. Di atas kepala monyet terdapat sebuah mahkota emas dengan 3 batu permata berwarna merah tepat dtengahnya diatas dahi.
Ditangannya menggenggam sebatang tongkat emas, monyet besar itu menyunggungkan senyum lebar sambil menatap lekat- lekat Karso dan Romlah yang terus menunduk.
__ADS_1
***********
BERSAMBUNG