
Seketika Bos Karso dan Romlah badannya menggigil gemetar takut teramat sangat. Keduanya meringkuk saling merapatkan tubuhnya satu sama lain. Tanpa sadar Romlah mencengkeram erat- erat lengan bos Karso.
Tampak jelas di raut wajah Suami istri itu sangat ketakutan sekali, matanya membelalak melihat kehadiran10 sosok mahluk yang menyerupai monyet yang berdiri mengelilinginya sambil mengacungkan beragam senjata tajam yang sakan- akan siap untuk di hujamkan ke tubuh mereka.
"Si, si, sssiapa kalian!" pekik bos Karso terbata- bata.
"Kalian telah ingkar!" kata sosok monyet yang berdiri di depan bos Karso yang merupakan pimpinan pasukan penjemput tumbal.
"A, a, ap, appa maksudnya?!" tanya bos Karso tak mengerti.
"Jangan pura- pura bodoh! Setelah menikmati harta kekayaan yang di berikan raja kami, kalian mengingkari kewajiban kalian!" balas sosok pimpinan monyet itu kian murka.
Dengan kekuatan yang dimilikinya sosok monyet itu menjulurkan kedua tangannya ke arah bos Karso dan Romlah. Seketika tubuh bos Karso dan Romlah terbetot meluncur kearah kedua tangan monyet itu tepat mencekeram leher keduanya.
"Akkkhh, akhhh, ampun ampuun!" pekik bos Karso dan Romlah kesakitan.
Leher bos Karso dan Romlah gelapan tak bisa bernafas karena tercekik sekaligus merasakan sakit yang teramat sangat.
"Kalian telah mengingkari kewajiban kalian memberikan sesembahan kepada raja kami!" bentak pimpinan monyet.
"Ttti, ti, tidak! Sssa, ssaya su, sssu sudah membe rikannya" jawab bos Karso sekuat tenaga menahan sakit di cekikan lehernya.
"Bohong! Tidak ada tanda petunjuk yang kamu berikan!" sergah pimpinan monyet geram.
Bos Karso dan Romlah membelalakan mata mendengar keterangan pemimpin monyet tak percaya. Saat itu juga pikiran Romlah sangat mènyangsikan dengan ritual suaminya yang sebelumnya sempat ia ragukan. Kini kekhawatiran Romlah menjadi kenyataan.
Romlah mengira kalau suaminya salah dalam melakukan pembacaan mantra penunjuk tumbal. Sekarang dirinya hanya bisa pasrah menyesali tugas suaminya.
"Mana mungkin tidak ada jerat tanda?! Saya sudah memberikannya pada orang itu!" balas bos Karso.
"Dasar pembohong!" bentak pimpinan monyet.
"Ti, tidak!" sergah bos Karso tubuhnya kelojotan merasakan cekikan di lehernya kian kencang.
Di dalam hati bos Karyo bertanya- tanya heran, Kenapa bisa begitu? Bos Karyo mengingat- ingat kembali ritual mantra jerat tumbal yang dilakukannya.
__ADS_1
"Rasanya tidak ada yang salah, saya sudah jelas- jelas melakukannya dengan benar," ucap bos Karso dalam hati.
"Saya sudah berkeliling tapi tidak ada tanda- tanda mantra jerat satu pun pada sesembahan. Kalian masih mencoba menipu?!" bentakan pemimpin pasukan penjemput tumbal itu lebih keras sekaligus membuyarkan lamunannya.
Suara pemimpin pasukan penjemput tumbal itu terdengar keras menggelegar bahkan hingga menggetarkan perabotan dan barang- barang yang ada di dalam kamar.
"Am, ammm, ammpuni ka kami!" ucap bos Karso lirih.
"Tidak ada ampun bagi manusia ingkar seperti kalian!" sergah pemimpin monyet.
"Hekkkhhh, khhhkk.. Hhkkkk..."
Bos Karso dan Romlah kelojotan, keduanya merasakan cekikan dilehernya semakin keras hingga membuatnya tak bisa bernafas sama sekali.
Beberapa saat kemudian Tubuh bos Karso dan Romlah sesaat kejang- kejang, tangannya mencoba mencegah cengkeraman jari- jari monyet yang besar- besar itu.
Akan tetapi semakin berusaha mencegah cengkeraman itu makan semakin kuat cekikan di leher bos Karso dan Romlah. Bos Karso dan Romlah kelojotan, keduanya berusaha membuka muutnya lebar- lebar agar bisa bernafas.
Bos Karso dan Romlah megap- megap berhasil membuka mulutnya meski dengan menahan rasa sakit di lehernya yang di cekik. Lidah bos Karso dan Romlah terjulur keluar karena sudah tak kuat lagi akibat semakin kuatnya cekikan.
......................
Seperti biasa Nengsih bangun lebih dulu sebelum azan subuh berkumandang. Nengsih bergegas pergi menuju kamar mandi.
Selesai mandi Nengsih melanjutkan rutinitasnya dengan menjalankan sholat tahahud yang hampir tak pernah terlewatkan setiap harinya.
Karena masih cukup waktu, Nengsih melaksanakan sholat tahajudnya dengan 6 rokaat kemudian dilanjutkan dengan berzikir hingga terdengar suara azan subuh dari toa mushola.
Didalam kamar, mang Jaka terbangun setelah mendengar suara azan dari mushola yang tak jauh dari rumahnya. Mang Jaka bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu melaksanakan sholat subuh.
Sudah menjadi rutinitas keseharian Mang Jaka dan Nengsih disetiap pagi buta itu. Nengsih pun seperti biasanya selesai berzikir tidak langsung melanjutkan sholat subuh, ia menunggu mang Jaka lebih dulu untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah bersama suaminya itu.
Tak lama kemudian mang Jaka pun muncul di ruangan kecil itu dimana Nengsi sholat tahajud dan zikir. Suami istri itu pun segera menunaikan sholat subuh berjamaah.
Kurang lebih 5 menitan mang Jaka dan Nengsih pun selesai menunaikan sholat subuhnya. Setelah menyalami mencium tangan suaminya, Nengsih beranjak pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan ala kadarnya untuk sarapan dua anak dan suaminya.
__ADS_1
Keluarga kecil mang Jaka tergolong keluarga yang taat menjalankan ibadah. Anak pertama mang Jaka yang beranjak remaja pun tak pernah meninggalkannya untuk menjalankan ibadah sholat. Hal itu tak lepas dari didikan mang Jaya yang ditanamkan sejak kecil.
Usai membereskan peralatan sholat, Nengsih berniat untuk menanak nasi dan menghangatkan lauk tongseng dan sop iga yang semalam dibawa mang Jawa.
Semalam makanan itu belum sempat di sentuh sama sekali karena saat itu Nengsih dan anak- anaknya baru saja selesai makan ketika mang Jaka pulang.
Tongseng daging sapi dan sop iga sapi oleh- oleh mang jaka dari pemberian bos Karso tersebut oleh Nengsih ditaruh diatas meja ruang tamu karena mereka tak punya meja makan.
Saat Nengsih hendak mengambilnya untuk dihangatkan kembali sebagai lauk sarapan, alangkah terkejutnya Nengsih melihat lantai di ruang tamu berantakan.
Diatas lantai nampak tumpahan kuah sop iga sapi dan daging berceceran di lantai ruang tamu.
"Masya Allah!" pekik Nengsih sembari menutup mulutnya.
Mang Jaka yang hendak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan, mengurungkan niatnya bersamaan mendengar suara pekikan istrinya. Dia segera bergegas menuju suara asal suara istrinya.
"Ada apa Neng?!" seru mang jaka sambil melangkah buru- buru.
"I.. Iitu kang," sahut Nengsih terbata- bata sambil menunjuk ke lantai yang kotor oleh ceceran daging Tongseng dan tumpahan sayur sop iga sapi.
"Ya Allaaaah!" seru mang Jaka dengan raut wajah sangat kecewa.
Jelas sekali raut wajah Mang Jaka sangat kecewa sekali melihat makanan yang diberikan oleh bos Karso berceceran. Mang Jaka begitu kecewa karena tidak sempat dinikmati sama istri dan anak- anaknya. Padahal makanan itu sangat enak dan mahal dan mang Jaka ingin sekali istri dan dua anaknya ikut merasakannya.
"Kayaknya ulah tikus- tikus kang," ucap Nengsih turut kecewa.
Nengsih juga merasa sangat menyayangkan makanan itu terbuang sia- sia tanpa sempat di makannya. Tapi mau dikata apalagi, makanan mahal dan enak itu sudah kotor tumpah diatas ubin.
"Ya sudah Neng, mungkin itu bukan rezeki kita. Biar nanti akang beli sendiri kalau dapat rezeki lebih ya," ucap mang Jaka sambil menepuk- nepuk pundak Nengsih yang masih berdiri mematung menyesali.
"Iya kang," sahut Nengsih lesu.
......................
BERSAMBUNG...
__ADS_1