Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Petaka Malam ke-21 (II)


__ADS_3

"Siapa kamu?!" tanya Mang Ali dengan suara bergetar.


"Hahahahaha... Aku diutus Raja Kalas Pati menjemput Kosim manusia ingkar!" seru Kera siluman.


"Kosim salah apa?!" tanya Mang Ali berinisiatif melakukan negosiasi.


"Dia mengingkari perjanjiannya!" teriaknya mulai marah.


"Kosim tidak pernah makan dari kekayaan haram dari bangsa kalian, kenapa masih mengejar Kosim?!" seru Mang Ali.


"Grrrrrhhhhkkkkk... Perjanjian tetap perjanjian tidak ada alasan. Darah manusia bernama Kosim sudah menetes di alam kami!" sergah siliman kera geram.


Mang Ali hendak mengatakan lagi tetapi urung, satu kilatan merah menyala sudah meluncur cepat mengarahnya. Mang Ali membuat gerakan tusukkan dengan keris Sekober digenggamannya.


Mahmud dan Kosim tak tinggal diam. Keduanya bersamaan menghentakkan kaki dan tangan melepaskan pukulan menghadang luncuran cahaya merah.


Dua sinar putih dan satu sinar kelabu dari keris Sekober menghantam sinar merah yang meluncur deras. Sesaat kemudian keadaan bergetar hebat diiringi dentuman beradunya empat kekuatan besar.


"Boooommmm...!!!"


Mang Ali terdorong mundur dua langkah sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Mahmud dan Kosim terdorong hingga menghantam kanca jendela. Keduanya terbatuk-batuk menahan sesak didadanya. Beruntung kaca hanya bergetar dan tidak pecah sehingga tidak mengundang suara kekacauan.


Seiring kepulan asap memudar bekas benturan empat kekuatan dahnyat, dihadapan Mang Ali, Mahmud dan Koaim siluman kera masih tegak berdiri dengan mulut terbuka menyeringai.


"Kali ini kalian tidak akan selamat! Pasukanku musnah oleh kalian. Sekarang akan aku balas musnahkan kalian,Hahahaha...!!! suara tawa kemenangan menggetarkan hati ketiganya.


Mahmud tiba-tiba teringat dengan benda pemberian ibunya. Dia menoleh pada Kosim, "Sim, batu pusaka Naga Kencana," bisik Mahmud.


Namun keduanya bingung bagaimana cara mengambilnya. Batu Kembar Tiga Naga Kencana disimpan didalam kamarnya masing-masing. Perlahan-lahan Mahmud beranjak bermaksud pergi melalui samping rumah untuk mengambilnya.


Malang bagi Mahmud, hanya selangkah lagi Mahmud balik badan berhasil pergi tiba-tiba sinar merah melesat menghantam punggungnya.


"Aaakkkhhh..!" teriak Mahmud kesakitan.


Mahmud jatuh tersungkur diteras samping. Kosim melihat kakak iparnya terhantam telak langsung melakukan gerakkan balasan. Tanpa disadari Kosim, timbul keberanian dari alam bawah sadarnya. Tanpa dia tahu tubuhnya tiba-tiba terselimut cahaya putih.


Kosim maju menerjang siluman kera tanpa rasa takut sedikit pun. Kepalan tangannya berisi kekuatan Benteng Pertahanan dihantamkan ke bagian kening siluman kera.


Melihat Kosim datang menerjang dengan pukulan, siluman kera menyeringai sinis. Utusan Raja Kalas Pati tak bergeming justru menanti pukulan Kosim.

__ADS_1


Mang Ali yang melihat bahaya bagi Kosim berteriak keras, "Kosiiim, jangaaan!"


Teriakkan itu telat, Koaim sudah terlanjur mengayunkan tangannya membuat gerakkan seperti memantek dari atas ke bawah.


"Duarrrrhh!!!"


Tangan Kosim membal terpental begitu menghantam kepala atas siluman kera. Tubuhnya terpelanting jatuh tersungkur. Mang Ali melompat diantara jarak Kosim dan siluman kera untuk melindungi Kosim.


Bersamaan kakinya menapak di tanah, sebuah hantaman telak menghujam ke dada gempal Mang Ali.


"Aaaahhkkk..!!!" teriak Mang Ali sangat kesakitan.


Tubuhnya ambruk menindih tubuh Kosim yang tersungkur.


"Hahahahaha... Kosim kali ini tidak bisa menghindar dari ajalmu di dunia, hahahaha...!!!" Bergidik mendengar suara sember menggetarkan sekitarnya.


Kosim melirik dalam kesakitan memegang dadanya, siluman kera itu melangkah mendekatinya. Tubuh Kosim bergetar keras, sekujur badannya gemetar sangat ketakutan.


Tangan besar nampak didepan mata Kosim hendak mencengkeram kepalanya. Satu jengkal lagi tangan besar itu menyentuh, tanpa diduga tiba-tiba terputus oleh kilatan cahaya putih.


"Aaaaaaakkkkkhhhh...!!!"


Kepala Kosim pun lolos dari cengkraman, Kosim dan Mang Ali berusaha beringsut menjauh kembali ke teras dengan susah payah.


Potongan sebatas pergelangan tangan jatuh ke tanah sesaat bergerak-gerak liar. Lalu mengepulkan asap pekat yang sangat berbau busuk. Asap perlahan menipis lalu menghilang bersama potongan telapak tangan milik siluman kera.


"Abah Dul..!" seru Kosim dan Mang Ali bersamaan.


Siluman kera yang masih berdiri menghadap arah Kosim dan Mang Ali spontan membalikan badan melihat sumber cahaya yang memutus tangannya.


Baru separuh badannya yang tinggi besar berbalik, sebuah kilatan putih membabat meluncur deras diatas lututnya.


"Blasssshhh.."


Asap tebal mengeluarkan bau busuk langsung menyerbak disekitarnya bersamaan terpotongnya kaki siluman kera sebatas lutut. Tubuh tinggi besar itu limbung diiringi lengkingan jeritan kesakitan lalu tubuhnya ambruk tersangga oleh pohon jambu air menimbulkan suara gemerisik patahan dahan-dahannya.


"Saya tidak musnahkan. Asalkan Raja kalian melepaskan Kosim!" teriak Abah Dul sambil mengacungkan Tombak Mata Kembar ditangannya.


"Cepat pergi! Sampaikan pada raja kalian!" teriaknya lagi.

__ADS_1


Tidak ada sahutan dari siluman kera, hanya geramannya saja yang terdengar. Sesaat kemudian tubuh besar siluman kera itu lenyap dari pandangan.


Abah Dul bergegas memeriksa kondisi Mang Ali dan Kosim.


"Mahmud mana?!" seru Abah Dul cemas.


"Disana Bah, di teras samping. Dia juga terhantam," ucap Kosim.


Abah Dul mendudukkan Kosim dan Mang Ali disandarkan pada tiang rumah dan tembok dibawah jendela. Kemudian beranjak ke teras samping, Mahmud masih tergeletak tertelungkup tak bergerak.


Segera Abah Dul membopongnya ke teras depan dibaringkan diantara Kosim dan Mang Ali yang terduduk memegang dadanya.


Dibukanya kaos Mahmud, Abah Dul tidak menemukan bekas pukukan dibagian dada Mahmud. Namun ketika tubuhnya dimiringkan, nampak jelas bulatan hitam membekas di punggung atas Mahmud.


Abah Dul mengerahkan tenaga dalamnya dengan merapalkan amalan 'Penggugah Jiwa' dialirkan melalui telapak tangan kanan lalu ditempelkan pada gambar bulatan hitam bekas pukulan.


Asap langsung mengepul begitu telapak tangan Abah Dul menyentuh bekas hantaman itu. Abah Dul terkesiap, "beracun!" gumamnya.


Pandangannya beralih menatap Kosim dan Mang Ali.


"Buka, buka bajunya Mang Ali, Sim," seru Abah Dul.


Setelah bajunya dibuka, di dada Mang Ali bekas yang sama dengan Mahmud nampak jelas hitam bulat sebesar bulatan telur membekas di dada kirinya. Begitupun dengan Kosim, bulatan hitam juga membekas di dada kirinya.


"Beruntung tidak di jantung," gumam Abah Dul dalam hati.


Abah Dul kembali mengerahkan tenaga dalam dan amalan 'penggugah jiwa'. Hawa sejuk langsung menjalar sekujur tubuh Mahmud yang tak bergerak. Hawa sejuk itu mendorong hawa panas yang mengalir mengikuti aliran darah.


Abah Dul memberi sekatan pada bagian dada Mahmud dengan menyalurkan tenaga dalamnya agar tidak merusak jantungnya.


Sesaat kemudian terdengar suara mengerang dari mulut Mahmud. Perlahan matanya terbuka lalu tangannya mencoba bergerak menggapai-gapai Abah Dul.


"Tenang Mud, tenang... sudah aman," ucap Abah Dul.


Matanya melirik kesana kemari dengan liar. Raut wajah Mahmud masih menyiratkan kepanikkan, ketakutan serta kekhawatiran yang teramat sangat.


"Ko..ssss..im, Mang A...li, Bah!" ucap Mahmud terbata-bata.


"Saya dan Mang Ali nggak apa-apa Mas," jawab Kosim sambil memegang punggung tangan Mahmud.

__ADS_1


......................


__ADS_2