Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Kedamaian Semu


__ADS_3

Masih di hari ke-10 menjelang Purnama,


Matahari terasa masih panas menyinari meskipun sudah melewati titik kulminasinya. Kosim beserta anak istrinya sampai di rumahnya dengan menaiki sepeda motor yang dipinjami Mahmud.


Rumah sederhana dengan desain minimalis berwarna putih berpadu dengan warna coklat nampak terlihat kotor sekali dihalamannya yang tak begitu luas. Banyak guguran daun-daun pohon mangga yang kering berserakan dimana-mana.


"Assalamualaikum..."


"Krettteeeeekkkk.."


Arin membuka pintu rumahnya yang sudah lama tidak ditinggali. Hawa lembab dari dalam rumah langsung menerpa wajahnya ketika pintu dibuka. Lantai putih bercorak nampak kotor ditutupi debu yang menebal bertumpuk dengan kotoran-kotoran serangga bertebaran dimana-mana.


"Uhukk.. uhukk.. uhukk"


Arin terbatuk-batuk menghirup udara dari dalam rumah. Kosim menurunkan Dede dari gendongannya dan didudukkan diteras yang masih kotor dengan debu bersama dua tas besar berisi pakaian selama mengungsi di rumah Mahmud. Dede diberinya mainan mobil-mobilan kesukaannya supaya tidak rewel.


"Mas, kotor sekali. Lihat itu kotoran apa?" Seru Arin menunjuk gundukkan hitam kecil disudut ruang tamu.


Arin meneruskan langkahnya memasuki kamar. Mendengar seruan Arin, Kosim pun bergegas masuk rumah melihat ke sudut ruang tamu seperti yang ditunjuk Arin.


"Kotoran kucing nggak mungkin seperti itu, kalau kotoran orang juga nggak mungkin bebe disini," gumam Kosim.


Kosim tertegun melihat kotoran-kotoran hewan banyak bertebaran dimana-mana. Di ruang tamu, di ruang tengah mungkin di dapur juga. Namun Kosim tidak berpikir dan berprasangka negatif apapun, pikirannya berkata semua itu merupakan hal yang wajar karena tidak ditempati cukup lama.


"Assalamualaikum..."


Kosim sedikit terkaget menengar suara salam dari luar rumah,


"Waalaikum salam..."


Spontan Kosim menoleh kearah pintu, "Eh, Mak Ijah, Riiin ini ada emak," seru Kosim pada Arin yang sudah berada di dalam kamar.


"Baru datang Sim?" Tanya Mak Ijah yang sudah menggendong Dede.


"Iya Mak, jangan dulu masuk Mak masih kotor," cegah Kosim.


"Kotor? Tiap hari emak bersihin kok. Cuma seharian ini saja emak belum sempat sapu-sapu Sim," kata Emak Ijah keheranan.


"Iya Mak kotor banget kayak habis hajatan, hehehe.." ujar Kosim.


Mak Ijah tertegun serasa tak percaya didalam rumah itu kotor bahkan sampai banyak kotoran binatang segala. Ia pun penasaran memaksa masuk lantas melihat sekeliling ruangan.


"Aneh, kemarin-kemarin nggak kotor kayak gini. Setiap hari kalau saya sapu hanya kotoran debu saja tapi kenapa ini banyak kotoran hewan?" Kata emak Ijah dalam hati.


Mak ijah sendiri sudah dianggap sebagai orang tua sendri oleh Kosim dan Arin. Ia hidup sendiri setelah Mang Iksan meninggal sedangkan dua anak perempuannya ikut dengan suaminya masing-masing.


Selama Kosim mengungsi ke rumah Mahmud, rumahnya dia titipin ke Mak Ijah yang rumahnya berada disebelahnya. Mak Ijah pun mengurusnya, menyapu, menyalakan dan mematikan lampu setiap hari. Makanya Mak Ijah keheranan didalam rumah Kosim banyak kotoran.

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaakkkh...!"


Kosim dan Mak Ijah tersentak kaget tiba-tiba mendengar teriakkan Arin dari dalam kamar. Keduanya serentak berlari menuju kamar.


"Riiin..." seru Kosim sembari berlari ke kamar disusul Mak Ijah dibelakangnya dengan menggendong Dede.


Arin terlihat sedang ketakutan berdiri berjingkat-jingkat diatas kasur. Mukanya ditutupi kedua tangannya.


"Ada apa Rin?!" Tanya Kosim.


"Ituuuu...!" Jawab Arin sambil menunjuk ke sudut kamar disamping lemari pakaian dengan satu tangannya masih menutupi mukanya.


"Masya Allah!" Seru Kosim.


"Ya Allah!" Mak Ijah tak kalah kagetnya.


Disudut kamar itu tergeletak bangkai hewan. Setelah diperhatikan ternyata bangkai kucing berwarna hitam. Nampaknya baru saja mati atau mungkin baru tadi malam mati karena melihat kondisinya masih utuh tidak rusak serta tidak mengeluarkan bau busuk.


Melihat Kosim muncul dipintu kamar, Arin langsung meloncat turun dari kasur menubruk memeluk Kosim dengan gemetaran.


"Aneh, ini aneh sekali Sim. Setiap hari emak bersihin tidak pernah nemuin kotoran apalagi bangkai. Dan juga tidak sekotor ini, padahal baru hari ini saja emak belum sempat bersih-bersih. Nggak tau hari ini perasaan emak males banget mau bersihin," kata Mak Ijah heran.


"Ya sudah Mak, nggak apa-apa. Saya ambil sapu sama serokan dulu," ujar Kosim.


"Sudah, sudah Rin. Cuma bangkai kucing, ayo kita bersih-bersih dulu.." ujar Kosim menenangkan Arin.


......................


Selesai menuanaikan sholat Magrib, Kosim, Arin dan Dede bercengkrama duduk santai diruang tengah sambil nonton televisi dan sesekali saling bercanda. Kosim baru merasakan kebahagian seutuhnya berkumpul, bercanda ria bersama istri dan anaknya.


Sebelumnya Kosim tidak pernah merasakan sebahagia ini, dimana setiap pulang sehabis berjualan cilok keliling Arin langsung meminta uang hasil berjualannya. Jika dirasa penghasilannya kurang, Kosim selalu mendapat omelan-omelan yang tidak jelas pangkal ujungnya.


Padahal seharian Kosim berkeliling dari desa ke desa lain berusaha agar dagangan habis. Namun apa yang diperjuangkannya tidak sebanding dengan perlakuan istrinya ketika pulang sampai di rumah. Boro-boro ditawari makan, tidak mendapat omelan saja sudah cukup baginya.


Kini Kosim benar-benar merasakan kebahagiaan yang seutuhnya. Arin sudah kembali pada sifat aslinya, Arin yang penyayang, Arin yang penuh perhatian dan manja.


Kosim sendiri tidak tahu sama sekali kalau perubahan sifat Arin terjadi pada saat dirinya mengalami mati suri selama dua hari. (*baca episode mati suri)


"Mas laper..." kata Arin ditengah canda tawanya.


"Wah, ibunya lapar tuh De," seloroh Kosim mengajak Dede bicara.


"Istirahat dulu mainnya yah, ayahnya mau beli makanan dulu," sambungnya.


"Makan di luar atau dibungkus aja Rin?" Tanya Kosim.


"Mmm... makan diluar aja yuk Mas, udah lama kita nggak makan diluar," ujar Arin.

__ADS_1


"Oke deh, yuk..." kata Kosim.


Menaiki sepeda motor Beat Kosim, Arin dan Dede pergi keluar untuk makan. Jarak menuju pusat kota tidak terlalu jauh hanya butuh waktu 15 menitan. Dipusat kota ini beragam penjual makanan kaki lima banyak tersaji dipinggir jalan, pecel lele, nasi goreng, nasi jamblang, nasi uduk hingga masakan seafood pun ada.


Sepeda motor Kosim melaju pelan saat memasuki jalanan kota yang cukup ramai. Kosim dan Arin sibuk melirik kekanan dan kiri memilih warung makan kaki lima.


"Rin, seafood aja yuk," seru Kosim sambil menoleh kesamping agar terdengar oleh Arin.


"Apa?!" Arin tidak begitu jelas mendengar ucapan Kosim yang berbaur dengan bisingnya udara dan lalu lalang suara kendaraan lain.


"Makan seafood!" Seru Kosim lebih keras.


"Iya Mas!" Jawab Arin.


Kosim berputar arah diantara hilir mudik kendaraan laim dengan hati-hati. Seafood kaki lima sudah terlewati agak jauh.


Sepeda motor Kosim berhenti didepan warung seafood kaki lima. Tidak ada tukang parkir yang menghampirinya namun Kosim tetap memarkirkannya. Biasalah, tukang parkir memang begitu kaya Jaelangkung, datang tak diundang saat mau pergi datang minta uang, hehehe...


Setelah memarkirkan sepeda motornya didepan spanduk bertuliskan SEAFOOD Kosim dan anak istrinya masuk lalu memilih tempat duduk di meja paling belakang.


Beberapa saat kemudian Kosim dan Arin melihat-lihat sejenak menu yang ada di atas meja.


"Saya pengen kerang saus tiram aja Mas," kata Arin.


"Cah kangkungnya mau?" Tanya Kosim.


"Mmm, boleh boleh," balas Arin.


"Saya kepiting saus tiram aja. Buat Dedenya?," Kata Kosim.


"Dede biar sama kerang aja tapi nggak pakai saus pakai kecap aja," ujar Arin.


Pelayan pun mencatat makanan yang dipesan lalu beranjak meninggalkan meja Kosim dan Arin. Sepeninggal pelayan itu tanpa sengaja mata Kosim menatap terpaku pada gerobak sekaligus dijadikan sebagai dapurnya.


"Kayak ekor..." gumam Kosim dalam hati.


Pandangannya dipertajam lagi memperhatikan dengan seksama, "Iya ekor monyet!" dalam hati Kosim berteriak.


Kosim terkesiap tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya berubah memucat seketika, perasaan mendadak dipenuhi ketakutan yang tiba-tiba menguasai hatinya.


Arin tidak mengetahui perubahan sikap Kosim, dia sedang bercanda dengan Dede. Kosim berusaha keras meredam ketakutan dihatinya. Sikapnya seolah-olah dibuat sewajarnya tidak ingin membuat Arin bertanya-tanya.


......................


Diminum dulu kopinya sayang....


Next....

__ADS_1


__ADS_2