Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
UCAPAN TERAKHIR


__ADS_3

Matahari tepat sedang berada di titip puncak kulminasinya diatas langit, hawa panas di teriknya jam 12 begitu dirasakan Hariri saat turun dari mobil Terios warna silver dan berjalan memasuki area pemakaman. Pak Diman memarkirkan mobilnya di dekat pintu masuk area pemakaman yang ada di desa Wot Galuh dibawah bayang- bayang pohon asam yang besar dan tampaknya sudah berumur sangat tua.


“Pak Diman tunggu di mobil saja, biar saya yang kesana,” kata Hariri ketika melihat pak Diman hendak ikut turun dari mobil.


“Nak Hariri nggak apa- apa?” tanya pak Diman mengurungkan turun dari mobil.


“Nggak apa- apa pak, saya jalan dulu pak.” Kata Hariri kemudian berlalu dari hadapan pak Diman.


Pak Diman hanya mengikuti langkah Hariri dengan pandangannya sampai Hariri tak terlihat lagi. pak Diman pun merubah posisi sandaran jok mobilnya lebih ke belakang agar bisa merebahkan tubuhnya sambil menunggu Hariri


kembali.


Mesin mobil sengaja tak dimatikan agar tetap menghidupkan AC, hembusan sejuk dari lobang ventilasi AC membuat pak Diman terkantuk- kantuk. Kedua matanya kadang terpejam lalu melek lagi dengan reflek, ada


keinginan untuk tidur sejenak tapi disisi lain benaknya menolak tidur dan memaksanya untuk tetap melek menunggu Hariri kembali.


Akhirnya pak Diman pun masuk ke dalam alam bawah sadar, setengah tidur namun juga masih mendengar suara- suara burung dan gesekan ranting- ranting pepohonan disekitarnya. Tiba- tiba pak Diman sontak terjaga dan sangat


kaget setengah mata saat kaca jendela mobil yang bolong ada yang mengetuk- ngetuk dari luar.


Tokkk ! Tokkk ! Tokkk !


Meski ketukan itu pelan namun yang terdengar oleh pak Diman sangat keras, karena situasi didalam mobil sepi senyap sehingga pak Diman terlonjak dari tidurannya. Pak Diman gelagapan celingukan kekanan dan kekiri


mencari sumber suara ketukkan tersebut.


Perlahan- lahan kesadaran pak Diman kembali pulih, saat pandangannya menoleh ke arah jendela sebelah kanannya, pak Diman mendapati ada seorang gadis dengan pakaian seragam sekolah. Namun pak Diman hanya dapat melihat baju atasannya saja yang berwarna putih lengkap dengan simbul cokelat di saku bajunya yang bertuliskan SMA.


Pak Diman segera membuka jendela mobil, untuk menanyakan maksud gadis itu mengetuk kaca jendela mobil.


“Ada apa nak?” tanya pak Diman santun.


“Punten pak, pangan tidur di area kuburan. Kata orang tua saya pamali, hikhikhik…” jawab gadis berseragam sekolah sambil tertawa kecil atau lebih tepatnya cekikikan.


“Oh I, iya neng. Matur suwun sudah mengingatkan ya,” kata pak Diman mengangguk kecil kearah gadis berseragam sekolah.


“Njih, pak. Saya permisi mau pulang ya pak,” ucap gadis berseragam sekolah datar kemudian berlalu meninggalkan pak Diman.

__ADS_1


“Njih, njih neng…” balas pak Diman sambil memeandangi punggung gadis berseragam sekolah itu yang berjalan didepan mobil.


Pak Diman terus memperhatikan gadis berseragam sekolah itu yang berjalan memasuki pintu masuk area pemakaman. Pak Diman terus melihatnya hingga akhirnya pak Diman tak lagi dapat melihat gadis itu dan hilang terhalang pepohonan yang ada didalam area pemakaman.


Meski pun pak Diman sempat merasa keheranan manakala gadis berseragam sekolah itu mengatakan hendak pulang lalu memasuki area pemakaman, namun pikiran negatif yang timbul dipikirannya langsung disingkirkan. Pak Diman beralibi mungkin rumah gadis itu berada di belakang area pemakaman ini, dan mungkin juga gadis itu sudah biasa lewat jalan kuburan menuju tempat tinggalnya.


Pak Diman pun tak ingin dipusingkan dengan memikirkan tentang gadis yang baru pulang sekolah tersebut, ia pun kembali melanjutkan rebahannya diatas jok mobil menunggu Hariri.


Sementara itu di dalam area kuburan, Hariri baru saja sampai dihadapan sebuah gundukkan tanah yang diatasnya terdapat bekas bertaburan kembang- kembang yang sudah layu bahkan mengering. Pada salah satu nisan terukir sebuah nama “Fina Sari Ningsih Binti Sobarih”.


Hariri duduk berlutut di samping kuburan tersebut, ia menundukkan kepalanya dalam- dalam. Raut wajahnya tergurat penyesalan dan kesedihan yang mendalam. Di dalam batinnya Hariri tak henti- hentinya beristigfar


dan berucap meminta maaf pada Fina. Hariri mengangkat wajahnya memandang sederet tulisan yang terukir di dalam Nisan lalu memegang nisan tersebut dan mengusap- usapnya.


Tak terasa seketika kedua matanya tampak mulai berkaca- kaca sambil mengusap- usap nisan Fina dan memandangi tulisan pada nisan tersebut. Kemudian Hariri menyandarkan kepalanya pada ujung nisan Fina, ia terus menerus meratap meminta maaf dalam batinnya kepada Fina.


Tanpa disadari oleh Hariri, ada sesosok gadis berseragam sekolah berdiri di belakangnya. Gadis berseragam sekolah itu tak lain adalah Fina, ia tersenyum manis menatap Hariri yang bersimpuh dan menyandarkan kepalanya di kayu nisan. Fina seakan- akan mendengar ratapan- ratapan batin Hariri yang penuh penyesalan sehingga membuat Fina tampak turut hanyut dalam keharuan.


Sedetik kemudian kedua mata Fina berderaian air mata yang luruh jatuh di kedua pipinya yang pucat pasi. Namun bibirnya tetap tersenyum teramat manis, tersirat dalam senyumannya itu menunjukkan memaafkan Hariri dan nampak ikhlas menerima takdirnya.


Setelah beberapa saat lamanya Hariri hanyut dalam pengakuan salah dan penyesalannya yang teramat besar, Hariri pun mulai meraih toples berisi air kembang yang sudah di doakan oleh kiyai Ahmad. Hariri membuka tutupnya lalu mulai menumpahkan air kembang dalam toples diatas gundukkan tanah kuburan Fina.


Fina yang berdiri dibelakang Hariri, perlahan lahan memudar. Namun senyum Fina terus menghiasi wajahnya yang wujudnya semakin memudar. Dan bersamaan dengan tetesan air kembang terakhir Fina berucap pelan; “Terima kasih Har, aku ikhlas dan sudah memaafkanmu.” Kemudian wujud Fina pun lenyap seketika.


Sontak saja Hariri langsung menoleh kebelakang, dirinya merasa mendengar suara dari belakangnya.


“Fina…” gumam Hariri lirih.


Hariri mendengar dengan jelas suara ucapan terakhir Fina yang terdengar jelas ditelinganya begitu lembut. Hariri pun berdiri sambil memandang nisan Fina dan tersenyum bahagia lalu menganggukkan kepala seraya mengucapkan salam.


“Assalamualaikum Fina.. terima kasih, saya pamit ya…” ucap Hariri lalu menganggukan kepala sekali lagi dan melempar senyum sebelum membalikkan badan.


Hariri melangkah menyusuri disela- sela pekuburan dengan perasaan lega. Dirinya berjanji akan selalu mendoakan Fina disetiap saat, dan dirinya juga berjanji akan meninggalkan tingkah laku dan perbuatan buruknya. Hariri telah


sadar sepenuhnya dengan kesalahan- kesalahan yang telah diperbuatnya di waktu lalu hingga pada puncaknya dirinya jatuh sakit dan sakitnya itu seakan- akan tak dapat disembuhkan.


Hariri menyadari sakit anehnya itu merupakan teguran dari Gusti Allah, agar dirinya bisa bertobat dan kembali hidup di jalan yang benar. Mengingat itu Hariri merasa sangat bersyukur, karena Tuhan masih memberinya kesempatan

__ADS_1


hidup untuk dirinya bertobat.


Tok… Tok… Tok…


Suara kaca jendela mobil dari sebelah seketika membuat pak Diman terkejut, pak Diman langsung menoleh kesebelah kirinya dan melihat Hariri sudah berdiri disamping pintu mobil. Kemudian langsung menekan tombol otomatis untuk membuka kunci pintu mobil yang ada disamping kanannya.


“Ngantuk ya pak Diman, maaf sudah mengagetkan pak Diman,” ucap Hariri tersenyum kecil.


“Ah, nggak nak Hariri. Hanya tidur ayam saja hehehe…” jawab pak Diman.


“Sudah selesai nak Hariri?” tanya pak Diman.


“Sudah pak, alhamdulillah hati ini sekarang merasa lega sekali pak,” jawab Hariri sumringah.


“Syukurlah nak Hariri, kita pulang sekarang,” ujar pak Diman menoleh kearah Hariri dan Hariri pun mengangguk.


Beberapa menit setelah keluar dari area pemakaman dan meluncur di jalan desa, pak Diman teringat dengan gadis berseragam sekolah yang sempat menegurnya di area pemakaman tadi dan ingin menanyakannya pada Hariri.


“Mm, nak Hariri tadi sewaktu di pemakaman itu ada gadis mengenakan seragam SMA menegur bapak supaya jangan tidur, katanya gadis mengatakan hendak pulang lalu memasuki area dalam kuburan itu. Nak Hariri melihatnya?” tanya pak Diman.


Kontan saja Hariri menoleh menatap pak Diman lekat- lekat, seolah ingin meyakinkan dengan pertanyaan yang dilontarkan pak Diman itu. Sebab selama di dalam area pekuburan itu Hariri merasa tidak melihat ada seorang pun


yang lewat.


“Perasaan tidak ada yang lewat pak. Dan selama saya disana pun tidak ada orang lain lagi elain saya sendiri. Ah, mungkin pak Diman sempat mimpi tuh, hehehe…” kata Hariri.


“Beneran nak Hariri, bapak berani sumpah. Jelas –jelas gadis berseragam sekolah itu masuk kedalam pekuburan. Bapak pikir mungkin rumahnya ada dibelakang area pekuburan itu,” ujar pak Diman mulai merasa terheran- heran.


“Setahu saya, di belakang area pekuburan itu tidak ada rumah warga pak Diman. Yang ada bantaran sungai,” terang Hariri.


“Hah?! Yang benar nak Hariri!” seru pak Diman terkejut.


“Iya pak Diman,” tegas Hariri meyakinkan pak Diman.


“Berarti… berarti… Hiiiihhhh…!!!” ucap pak Diman bergidik menebak kalau gadis itu adalah hantu siang bolong.


Hariri hanya terdiam, dirinya menduga kalau gadis berseragam SMA yang dilihat pak Diman itu adalah Fina. Dan saat itu juga Hariri teringat dengan sebuah suara saat sedang menyiramkan air kembang, “Terima kasih Har, aku

__ADS_1


ikhlas dan sudah memaafkanmu.” ** BERSAMBUNG


__ADS_2