
“Nok Aminah sadar!”
“Benar, lihat! Lihat itu nok Aminah sudah duduk!”
“Alhamdulillaaaah…”
“Benar- benar bocah ajaib!”
Ucapan- ucapan itu terdengar saling menimpali dari para tetangganya yang berada di luar dengan tatapan takjub luar biasa. Semua orang yang ada di luar dan di dalam ruangan hanya bisa melongo memandang kearah Dede. Beragam perasaan menggelayut memenuhi pikiran mereka, ada rasa takjub, heran, dan serasa tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Hanya dengan mengucap seperti itu, putrinya mang Yono langsung sembuh dari sakit anehnya. Hanya ucapan dari seorang bocah berusia 3 tahunan!
“Ayo bun cepat pulang, mereka pasti marah sama Dede!” rengek Dede.
“Marah?! Siapa yang marah sama Dede?!” tanya Arin terheran- heran.
“Mereka bun! Mahluk jahat!” seru Dede, lantas menarik- narik tangan Arin.
“Mang Yono, bi Mirah kami pamit permisi melanjutkan perjalanan ya..” sergah Hasan mewakili Dewi, Arin dan Dede pamitan, melihat reaksi Dede yang tak ingin berlama- lama.
Mereka segera beranjak keluar dari rumah mang Yono, semua pasang mata terus- menerus memandang takjub mengiringi langkah Dede yang berjalan bersama Hasan, Dewi dan Arin.
“Mas Hasan, mbak, sebentar! Sebentar!” cegah mang Yono dari dalam rumah.
Hasan, Dewi dan Arin menghetikan langkahnya tepat di depan pintu lalu menoleh kearah mang Yono yang tergesa- gesa berjalan kearahnya.
“Terimalah ini mas, mbak… mungkin tak seberapa,” kata mang Yono sembari mengulurkan uang kertas yang dilipat- lipat kepada Hasan.
“Apa ini mang Yono?!” Hasan benar- benar tidak mengira kalau yang mang Yono ulurkan padanya itu adalah uang.
“Mohon maaf, punten pisan mang, bi… sebaiknya uang ini digunakan untuk keperluan nok Aminah saja ya,” ucap Hasan dengan halus agar tidak membuat mang Yono tersinggung.
“Tidak apa- apa mas, terima saja saya sangat berterima kasih sudah mau membantu anak kami,” sergah mang Yono tetap memaksa dengan menyumpalkan lipatan uang di telapak tangan Hasan.
__ADS_1
“Jangan mang Yono, tidak usah seperti itu. Uang ini gunakan saja untuk keperluan keluarga mang Yono, kami pamit ya mang, bi…” cegah Hasan segera menarik tangannnya menghindar dari sodoran tangan mang Yono.
Mang Yono bersama istrinya tak bisa berbuat apa- apa, keduanya hanya menatap punggung Hasan, Dewi, Arin serta Dede yang berjalan memasuki mobil. Dari sorot pandangan mata suami istri itu menyiratkan rasa terima kasih yang tak terhingga, dengan spontan mang Yono dan istrinya melakukan sujud syukur bersamaan dengan mobil terios silver itu berlalu meninggalkan rumahnya.
Para tetangganya yang menyaksikan itu langsung terenyuh, pandangan mata mereka mulai berkaca- kaca menyaksikan keharuan keluarga mang Yono. Semuanya turut merasakan betapa bahagia dan bersyukurnya keluarga mang Yono atas kesembuhan anaknya yang semula sudah memperkirakan tak akan bisa diselamatkan melihat kondisinya.
Orang tua mana yang akan diam berpangku tangan melihat anaknya dalam kondisi sakit bahkan sekarat. Apapun akan mereka lakukan untuk membuat anaknya sembuh, biarpun harus menjual rumah sekali pun hanya untuk mengobatinya. Biaya tak menjadi soal asalkan anaknya bisa sembuh, tetapi mungkin saja ada harapan sembuh jika benar sakitnya dapat terdeteksi secara medis walau pun memakan biaya yang tak sedikit. Akan tetapi apabila sakitnya diakibatkan oleh sakit yang sengaja dibuat oleh orang lain dengan tujuan tertentu, tentunya akan sangat sulit dalam mengobatinya dan bahkan mungkin bisa habis- habisan menguras harta bendanya. Itu pun tidak ada jaminan anaknya sembuh, mirisnya lagi sudah habis harta bendanya ternyata pada akhirnya anaknya pun meninggal juga.
“Nih disini nih mas, saat kita di rampok kemarin,” kata Dewi menunjuk satu lokasi saat mobil melintas di jalan hutan lindung.
“Di jalan ini sudah sejak dulu memang terkenal sangat rawan mbak, tapi sudah lama tak terdengar lagi ada kabar perampokan atau begal lagi setelah para pelakunya ditangkap polisi. Dan mungkin saja mbak Dewi dan Arin kemarin yang pertama kali jadi korban aksi perampokkan itu setelah sekian lama menghilang, tapi syukurlah mbak dan Arin, Dede tidak kenapa- napa,” ungkap Hasan.
“Iya mas alhamdulillah, kalau ingat kejadian itu ngeri banget. Mereka bawa senjata tajam bahkan ada yang membawa senjata api juga,” ujar Dewi.
“Tapi biasanya yang sudah- sudah itu korbannya tidak ada yang dibunuh mbak. Mereka hanya mengambil mobil dan semua harta serta barang- barang penumpangnya saja, tapi nggak tau juga mungkin kalau korbannya melawan bisa jadi di bunuh, hehehe…” terang Hasan tertawa kecil.
“Ihhh, serem tau mas,” ujar Dewi.
“Nanti setelah keluar dari jalan hutan lindung ini ada pasar, kita mampir dulu ya mbak. Saya dapat amanah dari bapak dan ibu untuk membeli oleh- oleh buat mbak Dewi, Arin dan Dede,” kata Hasan.
“Aduh mas, kok jadi sangat merepotkan begini,” ujar Dewi.
“Ah, nggak repot kok mbak. Lagi pula ini amanat orang tua, kalau tidak dilaksanakan bisa- bisa kuwalat dikutuk tidak punya istri seumur hidup, heheheh…” kelakar Hasan.
“Hussst.. ! jangan bicara begitu mas, pamali!” sergah Dewi.
Arin yang mendengar ucapan Hasan meskipun bercanda tetapi di dalam hatinya turut merasa ngeri juga. Kalau benar di kutuk seperti itu berarti tidak ada harapan Hasan menjadi suaminya? Begitu kata hati Arin. Tak beda jauh dengan yang ada di benak Hasan, seolah- olah keduanya yakin akan menjadi pasangan suami istri, padahal diantara Hasan dan Arin sendiri sama sekali belum terucap komitmen apapun.
Hasan belum mengutarakan isi hatinya kalau dirinya menyukai Arin dan berniat ingin menikahinya. Arin sendiri sebetulnya sedang menanti- nantikan ungkapan dari Hasan untuk membuatnya merasa yakin. Namun insting seorang wanita bisa lebih tajam dari silet, Arin sangat yakin dengan perasaannya kalau Hasan menyukainya meskipun akan dianggap Gede Rasa alias Ge-er. Tetapi kenyataannya memang benar Hasan menyukai Arin, hanya saja belum diungkapkannya saja.
Jarak sampai ke pasar seperti yang dikatakan Hasan masih sekitar 20 menitan lagi. lalu lintas di jalur hutan lindung sangat sedikit ada kendaraan yang melintas jarang ada kendaraan dari arah berlawanan atau pun menyalip dari arah yang sama. Kalau pun ada kendaraan itupun bisa di hitung dan dengan jeda yang sedikit lama intensitasnya.
__ADS_1
Hasan kembali melirik kaca center mirror, Arin tampak memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok tergolek ke samping kiri. Hasan mengira kalau Arin sedang tertidur, momen ini sebetulnya sedang di tunggu- tunggunya, karena dirinya ingin menanyakan sesuatu pada Dewi tentang Arin.
“Ehemm,” Hasan sengaja berdehem untuk mengetes apakah Arin benar- benar tertidur atau tidak, sembari melirik kaca center mirror lagi. Arin terlihat masih tak bergeming dari posisinya.
Mendengar suara Hasan berdehem, Dewi spontan menoleh sedikit melirik Hasan. Dewi mengira Hasan hendak mengajaknya berbicara namun Hasan terlihat sedang sibuk memperhatikan kaca spion tengah, Dewi tersenyum penuh arti. Sementara Hasan tidak menyadari kalau tingkahnya sudah diketahui oleh Dewi.
“Mm, mbak…” panggil Hasan pelan.
“Ya mas,” sahut Dewi menoleh.
“Mm… a, anu,” Hasan tergagap sedikit gerogi.
“Kenapa mas? Arin? Hikhikhik…” sahut Dewi menuruti instingnya sambil tertawa kecil.
“I, iya mbak. Kalau boleh tau, apakah Arin belum mempunyai calon? Eh maksudnya itu, anu some one gitu mbak hehehe…” tanya Hasan mengerakan segenap keberaniannya, namun tetap saja gerogi.
“Tidak ada mas, kenapa?” Dewi balik tanya pura- pura tidak mengerti maksud pertanyaan Hasan.
Hasan terdiam, ia tampak bingung mau mengatakannya. Bibirnya hanya bergerak- gerak akan tetapi tidak ada kata- kata yang keluar dari mulutnya. Dewi yang melihat itu merasa tak tega juga, ia merasa bersalah telah menggodanya yang membuat Hasan bertambah gerogi sehingga segan untuk mengatakannya.
“Mas Hasan suka sama Arin?” tanya Dewi dengan halus menghilangkan kesan sedang mengintrogasinya agar tak membuat Hasan gerogi dan segan.
“I, iya mbak. Kalau Arin suka juga dengan saya dan bersedia menikah, saya akan secepatnya menikahinya mbak. Sekalian saya minta restu dari mbak Dewi,” ucap Hasan serius sembari melirik kaca center mirror melihat Arin.
Tanpa Hasan dan Dewi ketahui, Arin yang tidur- tidur ayam masih cukup jelas mendengarkan percakapan tersebut. Seketika Arin tersenyum sambil tetap memejamkan matanya. Hatinya berbunga- bunga langsung melambungkan angannya tinggi- tinggi. Hasan yang melihat perubahan pada wajah Arin yang sedang tersenyum pura- pura tidak melihatnya.
“Tapi mas Hasan mesti mengutarkan niat mas Hasan itu sama suami mbak dulu ya, sama mas Mahmud. Nah, keputusan akhirnya ada pada mas Mahmud, hehehehe…” ucap Dewi seperti menguji keseriusan Hasan.
“Iya mbak,” balas Hasan.
Dalam benak Hasan setelah melihat reaksi perubahan pada wajah Arin, dirinya merasa lega. Sebab secara tidak langsung ia sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Arin juga. Meski pun mungkin pacuan adrenalinnya pasti akan berbeda jika mengungkapkan langsung kepada Arin.*
__ADS_1
BERSAMBUNG