
Ditengah- tengah suara zikir masal yang membahana, tidak ada seorang pun yang mengetahui adanya kehadiran satu sosok yang melayang diatas kepala orang- orang yang berdiri di tepi liang lahat. Sepasang matanya sayu memperhatikan dengan seksama apa yang ada di dalam liang lahat. Nampak jelas sekali sosok yang melayang tak kasat mata itu sedang mengalami kesedihan yang teramat dalam.
Sedetik kemudian sosok tak kasat mata itu nampak tubuhnya berguncang- guncang lalu tersedu- sedu mengeluarkan tangisnya, namun tak dapat didengar oleh orang- orang yang berada di tempat itu. Air matanya luruh berderai hingga tetesan- tetesannya jatuh kedalam liang lahat tanpa ada seorang pun yang bisa melihatnya.
Tetesan- tetesan air mata darisosok tak kasat mata tersebut jatuh mengenai wajah Dede yang masih dalam pangkuan Mahmud. Bersamaan jatuhnya tetesan air mata dari sosok tak kasat mata itu, seketika memberikan reaksi dimana dari pupil kedua mata Dede nampak berkedut- kedut. Mahmud yang melihat itu didepan matanya, hatinya langsung senang bukan kepalang. Harapan Mahmud terhadap Dede yang belum meninggal kian besar, ia kini sangat yakin kalau Dede benar- benar belum meninggal.
Sesaat setelah pupil kedua mata Dede bergerak- gerak, sedetik kemudian pupil kedua mata itu membuka secara perlahan- lahan. Lalu kedua mata Dede mengerjap- ngerjap sejenak kemudian membuka mata dengan sepenuhnya. Pandangan mata Dede menatap lurus keatas langit yang kini tak lagi nampak ada awan- awan tebal yang berkelompk mamayungi desa Sukadami, tak seperti sebelumnya yang mendung dan redup.
“Ayy…yah…” gumam Dede menatap sosok yang melayang diatasnya yang tak lain adalah Kosim.
Kosim yang melayang tepat diarah pandangan mata Dede tersenyum penuh haru. Kosim tahu kalau putranya itu memanggilnya walau hanya melihat dari gerakan bibir. Sosok tak kasat mata segera melayang turun bermaksud mendekati Dede, akan tetapi seketika tubuhnya tertahan sekitar 1 jengkal dari area kuburan Dede. Gerakkan Kosim seperti terhalang oleh sebuah tirai keras yang manahan gerakkannya.
Dede menggerakkan tangan kanannya yang terkulai di atas perutnya berusaha untuk melambaikan tangannya keatas, namun hanya terangkat sekitar 10 cm lalu kembali terkulai lemas. Melihat itu Kosim hanya bisa tersenyum pahit kearah Dede dengan linangan air mata. Ingin sekali rasanya dia mendekat lalu memeluk anak yang sedang di pangku Mahmud itu.
Mahmud dan Abah Dul kian sumringah penuh suka cita melihat tangan Dede bergerak, akan tetapi Mahmud dan Abah Dul sendiri belum menyadari bahwa gerakan tangan Dede itu sebenarnya hendak ditunjukkan pada Kosim yang melayang diatasnya.
Sementara itu meski pun gumaman Dede pelan dan berbaur dengan sauara koor zikir, namun Arin, Dewi, Basyari, Baharudin, pak Wira yang berdiri di bibir liang lahat dapat mendengar samar- samar gumaman tersebut.
“Dedeeeee….!” Tiba- tiba Arin memekik keras memcah keheningan suasana lalu seketika itu juga Arin hendak
melompat kedalam liang lahat yang sempit itu akan tetapi Dewi segera mencegahnya.
“Jangan Rin, dibawah sempit. Kita tunggu Dede diangkat dulu!” sergah Dewi.
Suara pekikan Arin seketika membuat suara koor zikir tiba- tiba berhenti, sedetik kemudian berganti dengan suara koor berubah mengucapkan hamdalah yang di awali oleh orang- orang yang berada di dekat bibir liang lahat. Kemudian ucapan hamdalah terus membahana sambung –menyambung diucapkan warga masyarakat yang lain.
“Alhamdulillaaaaaah…..”
__ADS_1
“Alhamdulillaaaaaah…..”
“Alhamdulillaaaaaah…..”
‘Dede masih hidup!”
“Dede masih hidup!”
“Dede hidup kembali!”
“Dede hidup kembali!”
“Subhanallah…!”
“Ajaib…!”
Suara- suara berbagai ungkapan rasa takjub susul menyusul terdengar diantara kerumunan warga yang berada di area pekuburan.
“Ayy..ah… a.. y.. a..h…” anak berusia 3 tahunan itu terus memanggil- manggil ayahnya yang melayang diatasnya
namun tidak juga disadari oleh Mahmud.
Mahmud pikir ucapan panggilan itu merupakan hal yang wajar dari seorang anak yang rindu kepada ayahnya yang telah meninggal dunia.
Perlahan- lahan Mahmud melepaskan pelukannya mendengar Dede terus memanggil –manggil ayahnya. Mahmud mengamati wajah Dede yang teruda menatap lurus keatas seolah- olah sedang melihat sesuatu. Lalu Mahmud menoleh kearah Abah Dul seakan bertanya sekaligus meminta jawaban.
“Ada Kosim diatas Mud,” ucap Abah Dul berbisik seraya mendongakkan kepala.
__ADS_1
Secara reflek Mahmud mengikuti gerakkan Abah Dul yang mendongak keatas melihat kearah Kosim melayang. Diatas dibibir liang lahat, Basyari dan Baharudin yang melihat gerakkan isyarat Abah Dul kontan mengikutinya pula. Keduanya serempak mendongak katas dimana Kosim melayang.
Kosim tampak tersnyum penuh bahagia balas menatap Mahmud dan Abah Dul. Sorot matanya seakan- akan Kosim mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada kakak ipar dan juga sahabatnya itu. Melihat itu Mahmud dan Abah Dul menganggukkan kepala kearah Kosim yang memahami arti senyum dan sorot mata yang ditunjukkan kepada keduanya.
“Dedeeee…. Dedeeee….!” Pekik Arin dari atas liang lahat.
Pekikan Arin seketika membuyarkan suasana haru Mahmud dan Abah Dul yang sedang menatap sosok Kosim diatasnya.
“Mahmud, Abah Dul, cepat bawa anak itu keatas. Segera dilakukan penanganan medis!” seru pak Wira. Mendengar suara Arin dan juga sang kepala desa, membuat Mahmud dan Abah Dul langsung tersadar dari keterhanyutannya dengan suasana haru melihat Kosim dan juga Dede. Kemudian segera Abah Dul berdiri dari jongkoknya lalu membantu Mahmud untuk berdiri sambil membopong tubuh Dede.
“Ulurkan tubuh Dede Mud,” kata Abah Dul. kemudian Abah Dul naik terlebih dahulu dari dalam liang lahat.
Mahmud yang sudah berdiri sambil membopong tubuh Dede langsung mengulurkannya memberikan pada Abah Dul yang sudah siap menerimanya. Puluhan pasang mata tertuju pada proses mengangkatan tubuh Dede dari dalam liang lahat. Padangan mata semua orang menatap proses tersebut dengan bermacam- macam perasaan campur aduk turut mengiringinya.
“Bapak- bapak, ibu- ibu, tolong beri ruang untuk petugas medis!” seru pak Wira.
Segera dua orang petugas medis dari puskesmas setempat langsung menyiapkan belangkarnya di tepi kuburan yang digali tersebut. Dibantu dua orang petugas dari kepolisian mengamankan tempat untuk memberikan ruang kepada kedua petugas medis.
“Dedeeee….” Seru Arin saat tubuh Dede sudah di oper kepada Abah Dul yang berdiri disisi kanan tepi kuburan.
Arin segera bergegas merangsak mendekati Abah Dul yang sudah membopong tubuh Dede diikuti Dewi dibelakangnya.
“Nak, kamu masih hidup?!” ucap Arin lirih menahan tangisnya yang sudah menggumpal di dalam dada.
“I, ib,, ibuuu..” sahut Dede lemah terbata- bata.
“Iy, iya nak. Ini ibu…” ucap Arin lirih langsung menciumi kedua pipi dan juga kening Dede.
__ADS_1
“Kita bawa ke rumah sakit rin, kondisi Dede masih lemah,” ucap Abah Dul disela- selah keharuan pertemuan ibu dan anak tersebut.
Semua orang yang melihat pemandangan mengharukan itu tanpa sadar turut berlinangan air mata menyaksiannya. Bagaimana jika hal itu dialami oleh dirinya dan anaknya? Begitu kata hati semua orang.** BERSAMBUNG