
Kosim tiba- tiba datang dalam wujud Kajiman ditengah-tengah obrolan Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin sehingga sedikit mengejutkan Abah Dul. Sebab hanya Abah Dul sendiri yang mengetahui kehadiran Kosim. Mahmud dan ustad Arifin yang melihat Abah Dul menunjukkan sikap terkejutnya kontan saling memandang satu sama lain, keduanya berpikiran sama kalau diantara mereka ada mahluk yang tak kasat mata datang.
“Mata Batin!” Gumam Mahmud.
Seketika Mahmud mengerutkan dahinya sedikit kaget melihat di hadapannya ada Kosim yang sedang duduk di sebelah Abah Dul. Namun kemudian tersenyum setelah hilang keterkejutannya.
Ustad Arifin sudah memahami gelagat Mahmud yang mengucap ‘mata batin’ sehingga ia pun ikut- ikutan mengerahkan mata batinnya dengan cara dan baca amalannya sendiri.
Meski pun masing-masing caranya berbeda untuk dapat melihat mahluk tak kasat mata akan tetapi tujuan utamanya tetap sama yakni dapat melihat wujud astral. Seperti itulah yang di lakukan Mahmud, Abah Dul maupun ustad Arifin.
“Assalamualaikum...” ucap Kosim yang menyadari kalau Mahmud dan ustad Arifin dapat melihatnya.
“Wa’ alaikum salam...” jawab Mahmud dan ustad Arifin bersamaan.
“Sim, mau kopi hitam? Hehehe...” seloroh Mahmud sambil cengengesan.
“Ya kalau nggak merepotkan sih mas,” sahut Kosim.
Mahmud terkejut sendiri mendengar jawaban Kosim. Awalnya ia hanya sekedar bercanda menawari Kosim kopi hitam kegemarannya semasa hidupnya dulu, namun ternyata di tanggapi sungguhan oleh Kosim.
“Apa bisa dia minumnya?!” pikir Mahmud dengan mimik muka heran.
“Beneran Sim?!” ujar Mahmud meyakinkan.
“Iya mas,” jawab Kosim pasti.
“Ya sudah, saya bikinin ya...” ujar Mahmud kemudian beranjak masuk ke dapur untuk membuatkan kopi.
Di dalam pikiran Ustad Arifin pun tak jauh berbeda dengan yang dipikirkan Mahmud, “bagaimana bisa Kosim minum?”
Sementara Abah Dul hanya senyum- senyum saja melihat interaksi Kosim dan Mahmud. Abah Dul lupa sama sekali kalau kedatangan Kosim untuk melaksanakan rencana yang di buat sebelumnya saat berada di Banten bersama Gus Harun. Dia hanya mengira kemunculan Kosim hanya sekedar datang berkunjung biasa.
“Bah, sudah siap?” tiba- tiba Kosim bertanya membuat Abah Dul merasa kebingungan.
__ADS_1
“Siap?! Siap apanya Sim?!” Abah Dul balik tanya mengerutkan dahinya dalam-dalam.
“Loh, bukankah rencana penyerangan malam Jumat Bah?" ujar Kosim.
"Astagfirullah! Saya lupa Sim," timpal Abah Dul lalu terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.
"Maaf sebelumnya Sim, selain lupa juga karena kondisi saya yang kurang sehat. Malam kemarin ada seseorang yang mencoba membunuh saya Sim dengan mengirimkan santet," ungkap Abah Dul penuh penyesalan dan tak enak hati.
Wajah Kosim seketika berubah muram setelah mendengar penjelasan Abah Dul. Entah muram karena batal membebaskan nyawa anaknya yang terpenjara di istana siluman monyet, entah muram karena seseorang hendak membunuh Abah Dul. Namun yang jelas wajah Kosim menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
Beberapa saat lamanya Kosim diam menundukkan kepalanya tanpa berbicara lagi. Abah Dul sendiri merasa bersalah dan tak enak hati karena memang sebelumnya sudah di rencanakan kalau malam Jumat ini sudah disepakati untuk menyerang istana Raja Kalas Pati.
Saat Abah Dul hendak berbicara lagi, tiba-tiba terasa ada hembusan angin menerpa tubuh Abah Dul hingga dirasakan pula oleh Mahmud dan ustad Arifin. Meski ketiganya sempat terkejut tetapi sedetik berikutnya wajah ketiga orang itu langsung melebarkan senyumannya setelah melihat dua sosok tak kasat mata muncul di tengah- tengah mereka.
“Assalamualaikum...” ucap sosok itu.
“Wa’ alaikum salam...” sahut Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin serentak.
Dua sosok tak kasat mata itu tak lain adalah sukma Gus Harun dan mahluk jin bernama tuan Denta.
“Alhamdulillah sudah membaik Gus. Saya minta maaf Gus saya lupa kalau malam ini melekukan rencana pembebasan Dede. Saya baru ingat setelah Kosim mengingatkannya,” ucap Abah Dul merasa bersalah.
Gus Harun langsung memahami dengan kondisi yang sedang dialami Abah Dul sehingga ia memakluminya. Nampaknya Gus Harun tidak begitu kecewa dengan batalnya rencana malam Jumat ini. Kemudian ia menoleh pada Kosim yang masih mengguratkan kekecewaan di wajahnya.
"Sim, kondisi Dul kurang begitu baik. Apabila di paksakan saya khawatir akan terjadi hal yang lebih fatal. Dia kemarin nyaris saja meregang nyawa Sim," kata Gus Harun.
Rupanya Gus Harun mengira melihat Kosim muram karena kecewa batal melakukan pembebasan anaknya.
"Iya Gus, nggak apa-apa," jawab Kosim.
Gus Harun pun mengatakan akan menyusun ulang rencana penyerangan setelah kondisi Abah Dul sudah pulih dan siap 100 persen.
Kosim membalas dengan mengangguk, lalu ia bertanya; “Iya Gus, nggak apa- apa. Saya hanya merasa geram dengan orang yang mencoba membunuh Abah Dul itu Gus. Siapa orang itu?!”
__ADS_1
“Kalau itu saya nggak tau persis siapa orangnya karena tuan Denta yang menghajarnya,” ujar Gus Harun kemudian menoleh pada tuan Denta meminta menjelaskannya.
Tuan Denta pun mengangguk lantas menceritakan seluruh kejadiannya dari awal hingga di selamatkan sosok cahaya merah dan di kejar sampai pada sebuah istana. Dan pada saat itu tuan Denta sempat lupa kalau istana tersebut merupakan istana Raja Kalas Pati.
Kosim mengatupkan giginya rapat -rapat hingga terdengar gemerutuk pada rahangnya. Tanpa sadar tangannya mengepal dengan keras hingga sedikit bergetar dengan sorot matanya yang dingin menyimpan dendam kesumat manakala tuan Denta menyebut nama Raja Kalas Pati.
......................
Istana Raja Kalas Pati,
Ki Suta terbaring lemah diatas sebuah batu yang menyerupai tempat tidur. Wajahnya terlihat pucat pasi persis mayat hidup, mata terpejam rapat dan nafàsnya terdengar berat tersengal-sengal.
Di samping Ki Suta yang terbaring tak berdaya itu berdiri Raja Kalas Pati sedang menempelkan telapak tangannya pada dada Ki Suta.
Wajah Raja Kalas Pati nampak suram membesi dengan dahi berkerut dalam. Perlahan- lahan telapak tangan yang menempel pada dada Ki Suta bergetar. Makin lama getaran itu semakin keras hingga mengguncang- guncang tubuh Ki Suta.
Asap kelabu menyembul diantara sela- sela jari Raja Kalas Pati yang besar dan berbulu hitam. Tubuh Ki Suta terguncang hebat seiring keluarnya asap kelabu yang semakin menebal. Sesaat kemudian terdengar suara erangan dari mulut Ki Suta, kepalanya bergerak liar ke kiri dan ke kanan.
“Aaaaakkkhhhh...!”
Teriakkan dan gerakkan kepala Ki Suta baru terhenti setelah Raja Kalas Pati mengangkat telapak tangan dari dadanya. Terlihat jelas bulatan hitam seperti gosong tercetak di dada bagian tengah menyisakkan kepulan asap kelabu diatasnya.
Perlahan- lahan Ki Suta mulai membuka matanya. Mula- mula dengan pandangan samar dia melihat sebentuk raut wajah menyeramkan di hadapannya.
“Bangunlah!” seru Raja Kalas Pati.
Ki Suta menuruti perintah Raja Kalas Pati dengan susah payah bangkit dari tidurnya lalu duduk bersilah. Namun Ki Suta merasa heran sekaligus merasa lega karena merasakan sesak dan panas seperti terbakar di dadanya sudah tidak terasa lagi.
“Siapa manusia yang menghajarmu dengan bekas pukulan seperti itu?!” tanya Raja Kalas Pati.
“Ss.. sssa..ya ti...dak mengenalnya Junjungan,” jawab Ki Suta.
Raja Kalas Pati terdiam sejenak, pikirannya sedang mengingat- ingat sesuatu. Sebab dirinya merasa mengenali bekas pukulan tersebut, dia pernah melihatnya pada prajuritnya yang musnah dahulu kala. Beberapa lamanya Raja Kalas Pati berusaha memunculkan ingatannya dengan sosok yang memiliki pukulan tersebut akan tetapi ingatannya buntu. Dia tidak berhasil mengingat satu pun tentangbsosoknya.
__ADS_1
......................