Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Dua Dimensi 2


__ADS_3

Didalam mobil, Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali duduk gelisah sepanjang jalan. Tidak banyak obrolan diantara ketiganya, semuanya terhanyut didalam pikirannya masing-masing yang dipenuhi prasangka buruk tentang keadaan Kosim.


Abah Dul yang berada dibalik belakang kemudi rasanya tidak sabar ingin cepat-cepat sampai di lokasi yang dikabarkan oleh Juned, teman kerja proyek Kosim melalui telpon tadi.


Untungnya jam 01.15 wib dinihari jalanan cukup langgeng dan sepi hanya sesekali mobil bus malam yang berjalan didepannya disalip mobil Abah Dul yang dipacu diatas 90 km/jam. Abah Dul menginjak gas seperti kesetanan dipacu oleh rasa kecemasan yang melingkupi segenap perasaannya.


Mahmud memegang erat stan tangan diatas kepala sebelah kirinya, Mang Ali juga berpegangan erat pada jok didepannya yang diduduki Mahmud. Seolah-olah tidak memikirkan keselamatannya sendiri agar segera cepat-cepat sampai ke lokasi ditemukannya Kosim.


Rasa cemas, khawatir dan beragam pikiran negatif terus membayangi sepanjang perjalanan menuju lokasi yang dikatakan oleh Juned.


Waktu 20 menit terasa sangat lama meskipun sebenarnya terlampau sangat cepat. Dalam kondisi laju biasa seharusnya butuh waktu 30 menitan jika perjalanan normal dan lalu lintas ramai.


Dalam jarak pandang dari dalam mobil, terlihat seorang lelaki memakai kaos oblong dan celana pendek jeans yang dipotong sebatas lutut berdiri dipinggir jalan persimpangan. Usianya tidak jauh dengan Kosim.


"Itu Juned!" kata Mahmud menunjuk lelaki dipinggir jalan.


Mahmud sudah mengenal Juned saat bertemu di rumah sakit ketika Kosim tertimpa reruntuhan bangunan mess dua minggu yang lalu sekaligus Kosim memgalami mati suri. Junedlah yang mengantarkannya ke rumah sakit. (*baca episode Pelajaran Berharga)


Mobil berhenti tepat didepan Juned berdiri. Mahmud yang duduk didepan segera membuka kaca jendela mobil, "Ayo mas naik," kata Mahmud.


Juned membuka pintu mobil lalu bergegas naik duduk di jok tengah bersama Mang Ali. Wajah Juned pun nampak terlihat cemas dan panik. Abah Dul segera melajukan kembali mobilnya sedikit menghentak.


"Dimana lokasinya Mas?!" tanya Mahmud.


"Lokasinya di pekuburan ujung jalan ini Kang," jawab Juned.


"Memang tadi pagi itu Kosim tidak masuk kerja mas?" tanya Mahmud.

__ADS_1


"Nggak masuk Kang. Saya juga nunggu-nunggu katanya Kosim mau masuk hari ini tapi nggak datang-datang. Saya pikir Kosim masih kecapekan setelah ijin dari Tegal," ujar Juned.


"Bisa tau kabar Kosim ditemukan itu darimana?" tanya Mahmud lagi.


"Saya juga dapat kabar nggak sengaja Kang, iseng-iseng saat sedang membuka facebook lalu ada yang siaran langsung. Kata suara yang memvideokan bilang ditemukan seseorang tergeletak di pekuburan Karang Turi. Saya penasaran karena pekuburan itu nggak jauh dari sini. Katanya ditemukan sama orang yang sedang mencari bangkong. Setelah saya amat-amati orang yang tergeletak itu nggak salah lagi, itu Kosim." terang Juned.


Tidak beberapa lama mobil sampai di depan jalan utama masuk pekuburan. Saat mobil berbelok kontan lampunya menyoroti area pemakaman dan terlihat sudah banyak orang yang berdiri berkerumun membelakangi arah mobil. Semua orang yang berdiri spontan menoleh kearah mobil datang yang ditumpangi Abah Dul, Mahmud, Mang Ali dan Juned.


Abah Dul sengaja membiarkan lampu mobilnya menyala untuk menerangi lokasi pekuburan. Keempatnya langsung turun bergegas menuju kerumunan.


"Permisi... Punteeen, punteeen..." ucap Abah Dul meminta jalan ditengah kerumunan.


Perlahan-lahan kerumunan rapat pun tersibak, warga memberikan jalan dengan tatapan penuh tanda tanya melihat kedatangan Abah Dul, Mahmud, Mang Ali dan Juned.


Sorot lampu mobil cukup menerangi posisi sesosok manusia yang tergeletak dengan posisi tertelungkup. Didahului Abah Dul yang berjalan didepan, dihadapannya terlihat jelas seorang laki-laki muda memakai kaos bertuliskan dan bergambar cat yang tidak asing lagi tergeletak dalam posiai tengkurap. Disusul dibelakangnya, Mahmud, Mang Ali dan Juned kontan terbelalak melihatnya.


Tubuh Kosim tertelungkup tak bergerak disisi antara dua kuburan. Abah Dul dibantu Mahmud, Mang Ali dan Juned segera mendekati dan merubah posisinya menjadi telentang, kepala Kosim disandarkan pada pangkuan Abah Dul.


"Alhamdulillah, Kosim masih hidup. Dia pinsan!" seru Abah Dul.


Mendengar keterangan Abah Dul, warga yang mengerumuni melihat Kosim serempak mengucapkan 'alhamdulillah.'


"Mud tolong ambilkan air mineral di mobil. Dipintu saya masih ada yang belum dibuka," kata Abah Dul.


Mahmud langsung beranjak pergi mengambil air mineral di mobil. Kemudian Abah Dul terdiam mulutnya membaca doa lalu ditiupkan ke ubun-ubun Kosim disusul telapak tangan disapukan dari ujung kaki hingga kepala.


Mahmud sudah kembali dengan nafas terengah-engah dan memberikan botol mineral ukuran sedang ke Abah Dul. Abah Dul kembali diam, mulutnya nampak komat-kamit merapalkan amalan 'Penggugah Sukma.' Sedetik berikutnya ditiupkannya kedalam botol mineral.

__ADS_1


Kemudian air botol mineral ditumpahkan sedikit demi sedikit pada kepala Kosim hingga tiga kali. Air didalam botol berkurang hingga seperempatnya.


Semua warga yang mengerumuni matanya tertuju hanya pada tubuh Kosim. Raut wajah mereka menunggu reaksi yang terjadi dengan raut wajah harap-harap cemas.


Sekitar 30 detik setelah kepala Kosim diguyur air doa Abah Dul, mata Kosim perlahan-lahan terbuka. Pertama yang dia lihat cahaya bintang-bintang diatas langit yang gelap lalu melihat wajah Abah Dul. Kemudian tangannya bergerak memegangi kepalanya. Mata Kosim melirik kesana kemari, raut wajahnya keheranan dan bingung melihat banyak orang sedang memandanginya.


"Sa..ya di.. ma..na," ucap Kosim terbata-bata kebingungan.


Mendengar suara Kosim warga pun kembali mengucap 'Alhamdulillah' dengan serempak. Disusul suara-suara selentingan diantara kerumunan warga.


"Saya kira mayat," celetuk warga.


"Iya kirain korban begal atau pembunuhan gitu," celetuk warga diantara kerumunan warga.


Abah Dul mendudukkan Kosim dengan dibantu Mahmud, Mang Ali dan Juned dan meminta Kosim meminum air mineral tadi. Kemudian Abah Dul berdiri menghadap ke warga dan berkata,


"Bapak-bapak semua, punten saya keluarganya orang ini," kata Abah Dul menunjuk tubuh Kosim yang sudah duduk.


"Sejak semalam dia tidak pulang-pulang dan kami sedang mencari-carinya. Dan ini teman kerjanya di proyek perumahan yang di jalan persimpangan sana yang mengabari kami," sambung Abah Dul.


"Atas nama keluarga saya meminta maaf sekaligus terima kasih atas ditemukannya saudara kami. Sekali lagi terima kasih, matur nuwun..." ucap Abah Dul.


"Nggiiiihhh..." ucap warga serempak.


Kemudian warga pun sebagian kecil ikut membantu menuntun dan mengiringi Kosim berjalan menuju mobil. Sebagian besar lainnya membubarkan diri tanpa dikomando.


Mahmud yang duduk didepan kembali mengucapkan terimakasih kepada warga yang telah membantunya sembari terus menatap kepergian mobil Avanza merah sambil melambaikan tangan.

__ADS_1


......................


Jangan Lupa, tinggalkan jejak sayang...


__ADS_2