
Tak lama kemudian setelah tuan Denta
memusnahkan dua prajurit yang jatuh bersamanya dengan tebasan pedang besarnya,
tiba- tiba terdengar suara dobrakkan yang berasal dari dinding- dinding yang berderak
dan hancur bersama dengan terpentalnya 5 prajurit jin dari dalam kediaman tuan
Denta.
"Tuan Mahmud? Apakah ini
semua berkat tuan Mahmud?" tuan Denta masih bertanya- tanya dalam
hatinya.
Ketertegunan tuan Denta melihat
prajurit- prajurit terlempar keluar rumah tak berlangsung lama, sebeb terlihat
4 prajurit yang sebelumnya menyerang tuan Denta di dalam rumah meloncat keluar
dari lobang bekas dinding yang hancur merangsak kearah tuan Denta. Nyaris dalam
waktu yang sama disusul dari berbagai arah lainnya puluhan prajurit yang ada di
luar rumah langsung mengepung tuan Denta yang belum sempat berdiri dari
jatuhnya.
Tuan Denta segera bangkit berdiri
dan langsung bersikap siaga menggenggam erat pedang besar di tangan kanannya. Kedua
matanya tajam melirik kesana kemari mengawasi setiap gerak –gerik prajurit-
prajurit jin yang mengepungnya.
“Hmm, prajurit kelas menengah,”
gumam tuan Denta tersenyum sinis.
Tuan Denta dapat mengukur tingkat
kekuatan para prajurit jin yang mengurungnya hanya dengan merasakan aura yang
terpancar dari setiap prajurit jin tersebut. Namun tuan Denta sedikit
mengernyitkan keningnya tatkala melihat salah satu prajurit yang meloncat dari
dalam rumah tadi. Salah satu prajurit jin tersebut tampak berbeda dari para
prajurit lainnya terutama dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Nampaknya prajurit
tersebut merupakan pemimpin dari regu prajurit yang ditugaskan kerajaan jin
mengawasi rumah tuan Denta.
“Rupanya prajurit yang ini lumayan
juga,” ucap tuan Denta dalam hati.
Di hadapan tuan Denta ada sekitar 30
prajurit jin yang mengepungnya dengan rapat. Masing- masing ditangan prajurit jin
terhunus pedang berwarna hitam legam, sorot mata mereka liar mendeteksi sosok
tuan Denta, tak ubahnya seperti melihat mangsa buruannya yang dianggap sudah
lumpuh.
“Tangkap hidup- hidup buronan ini!!!” tiba- tiba suara teriakan nyaring
terdengar dari pimpinan prajurit yang berdiri siap menyerangt di sisi sebelah
kanan tuan Denta.
“Seraaaang!!!” balas puluhan
prajurit jin.
Tuan Denta yang memiliki kekuatan
jauh 5 tingkat diatas prajurit- prajurit yang menyerangnya, hanya tersenyum
sinis saat mendengar dan melihat pergerakkan mereka. Secra bersamaan para
prajurit jin menyerang tuan Denta dari berbagai arah. Pedang- pedang besar dan
hitam legam diarahkan ke beberapa bagian tubuh tuan Denta.
Wuuussss…!
Tuan Denta dengan gerakan cepat menundukkan
kepalanya sambil mengayunkan kakinya kebelakang serta tangan kirinya yang
kosong dihentakkannya kearah samping.
__ADS_1
Pedang hitam legam yang besar itu
lewat tipis diatas kepala tuan Denta dan hanya mengenai tempat kosong. Sementara
kaki tuan Denta yang di ayunkan kebelakang, tepat menghajar dada prajurit yang
menyerangnya dari belakang sebelum pedang prajurit itu sempat di tusukkan. Disaat
bersamaan tangan kiri yang tak memegang senjata dihentakkan, seketika dua
prajurit yang berjarak satu jengkal yang merangsak menyerang tuan Denta
langsung terpental kembali kebelakang.
Tak berhenti sampai disitu saja, disaat
bersamaan tampak sebuah pedang besar hitam legam ditebaskan pemimpin prajurit
menyasar pada bagian dada tuan Denta. Menyadari datangnya serangan yang
mematikan tersebut Tuan Denta langsung membuat gerakkan melopat sambil memutar
tubuhnya kebelakang dengan menyorongkan pedang besar ditangannya untuk
menangkis pedang hitam legam dari pemimpin prajurit.
Traaang…!!! Suara dentingan
terdengar sangat keras akibat beradunya pedang besar milik tuan Denta dan
pedang hitam legam milik pemimpin prajurit.
Belum sempat tuan Denta menginjakkan
kakinya, terdengar siuran- siuran pedang dari arah belakang punggunya. Dua hujam
pedang mengarah pada batok kepala tuan Denta dengan kekuatan penuh hingga
menimbulkan suara siuran laju pedang.
Nampaknya tuan Denta sedikit lengah
karena dia terfokus menghadapi serangan dari pemimpin prajurit dan sama sekali
tidak menyadari jika dari arah belakangnya ada dua bilah pedang sedang meluncur
deras menyasar batok kepalanya dan mengancam nyawanya.
Wuuuusss…! wuuuusss…. !
Mata pedang hitam yang berkilat
mata pedang tersebut menembus kepala tuan Denta, tiba- tiba selarik cahaya
merah meluncur cepat menghantam punggung dua pedang besar tersebut hingga
membuat kedua pedang hita legam itu terpental dan terlepas dari genggaman dua
orang prajurit.
Traaaang…!!!
Dua prajurit jin, terkesiap kaget. Kedua
prajurit tidak menduga kalau serangannya dapat digagalkan begitu saja. Seketika
tubuh kedua prajurit tersurut mundur lalu spontan melirik kearah datangnya
selarik sinar merah tadi.
“Panglima perang Samanta!!!” teriak
dua prajurit terkesiap dan langsung melangkah mundur lagi.
Teriakkan dua prajurit tersebut
seketika menghentikan serangan- serangan yang sedang dilancarkan para prajurit
jin kearah tuan Denta. Seketika 30 prajurit yang semula mengurung tuan Denta
langsung tersurut mundur menjauh dan berkumpul jadi satu. Terlihat dari raut- raut ekspresi wajah para prajurit
jin tersebut langsung ciut nyalinya manakala melihat kearah tuan Samanta yang
berdiri di depan pintu rumah tuan Denta.
30 prajurit itu kian tersurut mundur
disaat bersamaan muncul pula empat sosok lainnya lalu berdiri berjajar
disamping kiri dan kanan tuan Samanta. Empat sosok yang muncul dari dalam rumah
tuan Denta tidak lain adalah Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Gosin dan terakhir
Mahmud.
Tuan Denta langsung tersenyum
sumringah melihat siapa yang datang menolongnya yangh kini sudah berdiri di
__ADS_1
depan rumahnya itu.
“Musnahkan mereka!!!” tiba- tiba
tuan Denta berseru, lalu tubuhnya melesat melenting keatas dan bersalto dua
kali sambil menyapukan pedang besarnya kearah prajurit- prajurit yang sedang
tersurut ketakutan.
Mendengar perintah tuannya, tuan
Samanta seketika melesat merangsak sambil mengacungkan pedangnya tinggi-
tinggi, seraya berteriak nyaring; “Heyyyaaaaaa…!!!”
Melihat tuan Samanta bergerak
menerjang kearah para prajurit jin, tuan Gosin dan Kosim juga langsung melesat
menyusul tuan Samanta menterang prajurit- prajurit jin tersebut. Melihat empat
sosok melesat menyerang, pemimpin prajurit langsung berupaya untuk melarikan
diri lalu diikuti oleh para prajurit jin
lainnya yang memang sudah lebih dulu hilang keberaniannya tatkala melihat
kemunculan tuan Samanta.
Melihat gelagat melarikan diri, Tuan
Denta yang sudah lebih dulu melesat menerjang langsung mengibaskan pedang
besarnya dengan gerakkan vertikal. Seketika cahaya putih berkilat membentuk
mata pedang besar melesat cepat menebas kaki- kaki para prajurit yang melarikan
diri. 10 prajurit langsung bertumbangan ambruk setelah kaki- kaki mereka
buntung terpotong oleh ilusi cahaya yang membentuk mata pedang tuan Denta.
“Aaaaaakkkkhhh…!!!” “Aaaaaakkkkhhh…!!!” “Aaaaaakkkkhhh…!!!”
“Aaaaaakkkkhhh…!!!” “Aaaaaakkkkhhh…!!!” “Aaaaaakkkkhhh…!!!”
Sebelum tubuh 10 prajurit itu benar-
benar menyentuh tanah, satu lesatan cahaya putih kembali menghantam tubuh
kesepulu prajurit jin tersebut.
Duaaaarrrrr….!!!
Suara ledakkan terdengar bersamaan
cahaya putih itu menghantam 10 punggung prajurit sekaligus menghancurkannya
menjadi debu dan musnah seketika.
Sementara disisi lain, tuan Samanta
terlihat sangat murka mengayunkan pedangnya secara liar. Kilatan- kilatan
cahaya merah layaknya seperti jeratan
benang- benang yang menggorok leher puluhan prajurit jin hingga bertumbangan
secara serempak.
Kosim dan tuan Gosin yang melesat
belakangan langsung memburu pimpinan
prajurit yang terus berusaha berlari sejauh mungkin. Seperti tak ingin
kehilangan buruannya, tuan Gosin dengan cepat melemparkan tombak trisula
ditangannya. Tombak trisula itu melesat cepat meluncur kearah punggung pemimpin
prajurit yang sudah berlari menjauh.
Jleeebbbb…!!!
“Aaaaakkkkhhhh….!!!” Teriak pemimpin
prajurit lalu tubuhnya ambruk tertancap tombak trisula.
Melihat itu, Kosim yang sudah kadung
melesat ikut memburunya langsung menghantamkan pukulan jarak jauh mengarah pada
kepala prajurit yang sudah jatuh tersungkur.
Duuaaaarrrr…!!!
Suara ledakkan terdengar keras akibat
kekuatan yang dilancarkan Kosim dari jarak jauh tepat mengenai kepala pemimpin
__ADS_1
prajurit dan membuatnya hancur tak bersisa.** BERSAMBUNG