Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
TERKEPUNG


__ADS_3

Tak lama kemudian setelah tuan Denta


memusnahkan dua prajurit yang jatuh bersamanya dengan tebasan pedang besarnya,


tiba- tiba terdengar suara dobrakkan yang berasal dari dinding- dinding yang berderak


dan hancur bersama dengan terpentalnya 5 prajurit jin dari dalam kediaman tuan


Denta.


"Tuan Mahmud? Apakah ini


semua berkat tuan Mahmud?" tuan Denta masih bertanya- tanya dalam


hatinya.


Ketertegunan tuan Denta melihat


prajurit- prajurit terlempar keluar rumah tak berlangsung lama, sebeb terlihat


4 prajurit yang sebelumnya menyerang tuan Denta di dalam rumah meloncat keluar


dari lobang bekas dinding yang hancur merangsak kearah tuan Denta. Nyaris dalam


waktu yang sama disusul dari berbagai arah lainnya puluhan prajurit yang ada di


luar rumah langsung mengepung tuan Denta yang belum sempat berdiri dari


jatuhnya.


Tuan Denta segera bangkit berdiri


dan langsung bersikap siaga menggenggam erat pedang besar di tangan kanannya. Kedua


matanya tajam melirik kesana kemari mengawasi setiap gerak –gerik prajurit-


prajurit jin yang mengepungnya.


“Hmm, prajurit kelas menengah,”


gumam tuan Denta tersenyum sinis.


Tuan Denta dapat mengukur tingkat


kekuatan para prajurit jin yang mengurungnya hanya dengan merasakan aura yang


terpancar dari setiap prajurit jin tersebut. Namun tuan Denta sedikit


mengernyitkan keningnya tatkala melihat salah satu prajurit yang meloncat dari


dalam rumah tadi. Salah satu prajurit jin tersebut tampak berbeda dari para


prajurit lainnya terutama dilihat dari pakaian yang dikenakannya. Nampaknya prajurit


tersebut merupakan pemimpin dari regu prajurit yang ditugaskan kerajaan jin


mengawasi rumah tuan Denta.


“Rupanya prajurit yang ini lumayan


juga,” ucap tuan Denta dalam hati.


Di hadapan tuan Denta ada sekitar 30


prajurit jin yang mengepungnya dengan rapat. Masing- masing ditangan prajurit jin


terhunus pedang berwarna hitam legam, sorot mata mereka liar mendeteksi sosok


tuan Denta, tak ubahnya seperti melihat mangsa buruannya yang dianggap sudah


lumpuh.


“Tangkap hidup- hidup buronan ini!!!”  tiba- tiba suara teriakan nyaring


terdengar dari pimpinan prajurit yang berdiri siap menyerangt di sisi sebelah


kanan tuan Denta.


“Seraaaang!!!” balas puluhan


prajurit jin.


Tuan Denta yang memiliki kekuatan


jauh 5 tingkat diatas prajurit- prajurit yang menyerangnya, hanya tersenyum


sinis saat mendengar dan melihat pergerakkan mereka. Secra bersamaan para


prajurit jin menyerang tuan Denta dari berbagai arah. Pedang- pedang besar dan


hitam legam diarahkan ke beberapa bagian tubuh tuan Denta.


Wuuussss…!


Tuan Denta dengan gerakan cepat menundukkan


kepalanya sambil mengayunkan kakinya kebelakang serta tangan kirinya yang


kosong dihentakkannya kearah samping.

__ADS_1


Pedang hitam legam yang besar itu


lewat tipis diatas kepala tuan Denta dan hanya mengenai tempat kosong. Sementara


kaki tuan Denta yang di ayunkan kebelakang, tepat menghajar dada prajurit yang


menyerangnya dari belakang sebelum pedang prajurit itu sempat di tusukkan. Disaat


bersamaan tangan kiri yang tak memegang senjata dihentakkan, seketika dua


prajurit yang berjarak satu jengkal yang merangsak menyerang tuan Denta


langsung terpental kembali kebelakang.


Tak berhenti sampai disitu saja, disaat


bersamaan tampak sebuah pedang besar hitam legam ditebaskan pemimpin prajurit


menyasar pada bagian dada tuan Denta. Menyadari datangnya serangan yang


mematikan tersebut Tuan Denta langsung membuat gerakkan melopat sambil memutar


tubuhnya kebelakang dengan menyorongkan pedang besar ditangannya untuk


menangkis pedang hitam legam dari pemimpin prajurit.


Traaang…!!! Suara dentingan


terdengar sangat keras akibat beradunya pedang besar milik tuan Denta dan


pedang hitam legam milik pemimpin prajurit.


Belum sempat tuan Denta menginjakkan


kakinya, terdengar siuran- siuran pedang dari arah belakang punggunya. Dua hujam


pedang mengarah pada batok kepala tuan Denta dengan kekuatan penuh hingga


menimbulkan suara siuran laju pedang.


Nampaknya tuan Denta sedikit lengah


karena dia terfokus menghadapi serangan dari pemimpin prajurit dan sama sekali


tidak menyadari jika dari arah belakangnya ada dua bilah pedang sedang meluncur


deras menyasar batok kepalanya dan mengancam nyawanya.


Wuuuusss…!  wuuuusss…. !


Mata pedang hitam yang berkilat


mata pedang tersebut menembus kepala tuan Denta, tiba- tiba selarik cahaya


merah meluncur cepat menghantam punggung dua pedang besar tersebut hingga


membuat kedua pedang hita legam itu terpental dan terlepas dari genggaman dua


orang prajurit.


Traaaang…!!!


Dua prajurit jin, terkesiap kaget. Kedua


prajurit tidak menduga kalau serangannya dapat digagalkan begitu saja. Seketika


tubuh kedua prajurit tersurut mundur lalu spontan melirik kearah datangnya


selarik sinar merah tadi.


“Panglima perang Samanta!!!” teriak


dua prajurit terkesiap dan langsung melangkah mundur lagi.


Teriakkan dua prajurit tersebut


seketika menghentikan serangan- serangan yang sedang dilancarkan para prajurit


jin kearah tuan Denta. Seketika 30 prajurit yang semula mengurung tuan Denta


langsung tersurut mundur menjauh dan berkumpul jadi satu. Terlihat  dari raut- raut ekspresi wajah para prajurit


jin tersebut langsung ciut nyalinya manakala melihat kearah tuan Samanta yang


berdiri di depan pintu rumah tuan Denta.


30 prajurit itu kian tersurut mundur


disaat bersamaan muncul pula empat sosok lainnya lalu berdiri berjajar


disamping kiri dan kanan tuan Samanta. Empat sosok yang muncul dari dalam rumah


tuan Denta tidak lain adalah Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Gosin dan terakhir


Mahmud.


Tuan Denta langsung tersenyum


sumringah melihat siapa yang datang menolongnya yangh kini sudah berdiri di

__ADS_1


depan rumahnya itu.


“Musnahkan mereka!!!” tiba- tiba


tuan Denta berseru, lalu tubuhnya melesat melenting keatas dan bersalto dua


kali sambil menyapukan pedang besarnya kearah prajurit- prajurit yang sedang


tersurut ketakutan.


Mendengar perintah tuannya, tuan


Samanta seketika melesat merangsak sambil mengacungkan pedangnya tinggi-


tinggi, seraya berteriak nyaring; “Heyyyaaaaaa…!!!”


Melihat tuan Samanta bergerak


menerjang kearah para prajurit jin, tuan Gosin dan Kosim juga langsung melesat


menyusul tuan Samanta menterang prajurit- prajurit jin tersebut. Melihat empat


sosok melesat menyerang, pemimpin prajurit langsung berupaya untuk melarikan


diri lalu diikuti oleh  para prajurit jin


lainnya yang memang sudah lebih dulu hilang keberaniannya tatkala melihat


kemunculan tuan Samanta.


Melihat gelagat melarikan diri, Tuan


Denta yang sudah lebih dulu melesat menerjang langsung mengibaskan pedang


besarnya dengan gerakkan vertikal. Seketika cahaya putih berkilat membentuk


mata pedang besar melesat cepat menebas kaki- kaki para prajurit yang melarikan


diri. 10 prajurit langsung bertumbangan ambruk setelah kaki- kaki mereka


buntung terpotong oleh ilusi cahaya yang membentuk mata pedang tuan Denta.


“Aaaaaakkkkhhh…!!!”  “Aaaaaakkkkhhh…!!!”  “Aaaaaakkkkhhh…!!!”


“Aaaaaakkkkhhh…!!!”  “Aaaaaakkkkhhh…!!!”  “Aaaaaakkkkhhh…!!!”


Sebelum tubuh 10 prajurit itu benar-


benar menyentuh tanah, satu lesatan cahaya putih kembali menghantam tubuh


kesepulu prajurit jin tersebut.


Duaaaarrrrr….!!!


Suara ledakkan terdengar bersamaan


cahaya putih itu menghantam 10 punggung prajurit sekaligus menghancurkannya


menjadi debu dan musnah seketika.


Sementara disisi lain, tuan Samanta


terlihat sangat murka mengayunkan pedangnya secara liar. Kilatan- kilatan


cahaya merah layaknya seperti  jeratan


benang- benang yang menggorok leher puluhan prajurit jin hingga bertumbangan


secara serempak.


Kosim dan tuan Gosin yang melesat


belakangan langsung memburu  pimpinan


prajurit yang terus berusaha berlari sejauh mungkin. Seperti tak ingin


kehilangan buruannya, tuan Gosin dengan cepat melemparkan tombak trisula


ditangannya. Tombak trisula itu melesat cepat meluncur kearah punggung pemimpin


prajurit yang sudah berlari menjauh.


Jleeebbbb…!!!


“Aaaaakkkkhhhh….!!!” Teriak pemimpin


prajurit lalu tubuhnya ambruk tertancap tombak trisula.


Melihat itu, Kosim yang sudah kadung


melesat ikut memburunya langsung menghantamkan pukulan jarak jauh mengarah pada


kepala prajurit yang sudah jatuh tersungkur.


Duuaaaarrrr…!!!


Suara ledakkan terdengar keras akibat


kekuatan yang dilancarkan Kosim dari jarak jauh tepat mengenai kepala pemimpin

__ADS_1


prajurit dan membuatnya hancur tak bersisa.** BERSAMBUNG


__ADS_2