Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SAAT TERAKHIR 2


__ADS_3

“Sudah mbak… sudah…  ini semua karena saya mbak, mas Kosim tidak salah. Saya yang yang salah, saya yang


membuat mas Kosim melakukan itu semua. Saya saat itu banyak menuntut mas Kosim, saya sering marah bahkan tak jarang membentaknya tapi dia tak pernah membalas sepatah kata pun. Saya terlambat menyadari semua perlakuan salah itu mbak…” Arin tak kuasa meneruskan ucapannya. Ia menangis tersedu- sedu hingga


tubuhnya berguncang- guncang.


Dewi diam termangu, pandangannya sudah mulai membayang karena air matanya yang sudah berlinangan. Ucapan adiknya itu seperti sebuah tamparan keras bagi dirinya sendiri.


Rasa bersalahnya seketika muncul menguasai pikirannya. Semenjak dirinya menikah dan diboyong Mahmud ke desa Sukadami ini, dirinya dan Arin sudah mulai jarang berkomunikasi dan bertemu lagi.


Sampai pada akhirnya Arin menikah dengan Kosim menambah jurang pemisah diantara keduanya. Arin dan Dewi jarang sekali berkomunikasi atau sekedar untuk bertemu.


Jika Dewi disibukkan dengan mengejar karirnya kala itu, tidak demikian dengan Arin. Arin malah enggan untuk bertemu kakaknya karena merasa malu dengan keadaan ekonominya yang pas- pasan. Sehingga lebih tepatnya Arin lebih banyak menghindar dengan memberikan berbagai alasan ketika Dewi memintanya main untuk ke rumahnya.


Begitu pula ketika Dewi menyampaikan niatnya hendak berkunjung ke rumah Arin, Arin selalu mencari alasan agar


kakaknya tidak jadi datang ke rumahnya. Itu semua Arin lakukan karena merasa dirinya miskin, suaminya belum bisa memberikannya kepuasan materi. Sehingga rasa egonya yang terlampau tinggi membuatnya membatasi diri dengan lingkungannya hingga dengan kakaknya sendiri, hanya karena gengsi.


“Mm, maaf sebelumnya mbak Dewi, kang Kosim, mbak Arin dan Kang Mahmud ya… bukannya saya ikut campur dalam urusan keluarga sampeyan, namun dalam hal ini saya dan sahabat- sahabat saya ini sudah ikut terlibat didalamnya sehingga saya wajib untuk meluruskan ini semua,” ucap Gus Harun menengahi.


Mahmud, Dewi Arin serta Kosim menganggukkan kepala mendengar ucapan Gus Harun. Dewi dan Arin baru menyadari sekarang adanya sosok Gus Harun yang tiba- tiba berkunjung ke rumahnya. Selama ini Dewi tidak


tahu sama sekali maksud dan tujuan hadirnya Gus Harun di rumahnya, yang ia tahu kalau Gus Harun adalah sahabat dekatnya Abah Dul yang hanya main ke Abah Dul saja.


“Selama ini mungkin mbak Dewi dan mbak Arin bertanya- tanya tentang keberadaan saya disini, hingga menginap


beberapa malam. Dul ini sahabat saya sewaktu di pesantren dan juga bersama Basyari serta Baharudin, ketika Dul menceritakan kondisi yang dialami kang Kosim dan sedang membutuhkan bantuan, saya pun langsung tergugah dan bersedia dengan sukarela membantunya hingga sejauh ini,” sambung Gus Harun.


Raut wajah Dewi dan Arin sejenak terkejut mendengar ungkapan Gus Harun. Pertanyaan- pertanyaan yang selama ini sempat terlintas di benak Dewi maupun Arin selama ini mengenai tamu- tamu asing yang datang ke rumahnya, sekarang terjawab sudah. Bahwa mereka semua sebenarnya turut serta membantu Kosim dan untuk menyelamatkan adiknya akibat imbas dari melawan perjanjian gaib yang dilakukan oleh Kosim.

__ADS_1


“Berarti sewaktu Arin kerasukan itu akibat gangguan dari siluman monyet?” tanya Dewi teringat rentetan peristiwa


yang terjadi di rumahnya.


“Benar Wi, bukan hanya menimpa Arin tapi juga sama Dede. Kalian ingat sewaktu Dede nyaris saja nyawanya tak


tertolong di malam itu?” sela Abah Dul.


Dewi mengangguk- angguk mengingat semua kejadian tersebut. Dirinya sama sekali tidak menyangka kalau kejadian itu ada kaitannya dengan perbuatan adik iparnya.


“Selama ini saya, Mahmud, Kosim dan Gus Harun sudah sepakat untuk tidak memberitahukannya dulu kepada kamu maupun Arin. Sebab pada saat itu kondisi emosi Arin masih belum stabil, sehingga Kosim sangat khawatir kalau Arin akan semakin marah dan bahkan membencinya,” terang Abah Dul.


“Lalu apakah kematian Kosim juga ada kaitannya dengan perjanjian gaib itu?” tanya Dewi mulai memahami situasi dan kondisinya sekarang.


“Bisa iya bisa juga tidak Wi,” jawab Abah Dul.


“Maksudnya?!” Dewi mengerutkan dahinya dalam- dalam tak mengerti.


disebabkan ulah siluman monyet, akan tetapi arwahnya tidak berada dalam genggaman siluman monyet,” jelas Abah Dul.


Mendengar penjelasan Abah Dul, spontan Dewi menoleh kearah Kosim dengan tatapan penuh keheranan.


“Jadi kemana arwah Kosim bah?!” tanya Dewi.


“Kosim saat ini masih menjadi arwah penasaran. Dan dia berada di alam yang disebut alam Kajiman, dimana tempat berkumpulnya arwah- arwah penasaran,” terang Abah Dul.


Seketika Dewi dan Arin menutup mulutnya serentak mendengar Kosim yang dilihatnya saat ini merupakan arwah


penasaran sembari memandangi wujud Kosim. Tangis Arin langsung pecah tiba- tiba, hatinya merasa dirundung rasa bersalah yang teramat besar yang menyebabkan suaminya seperti itu.

__ADS_1


“Maafkan saya mas… maafkan saya,” ucap Arin lirih disela- sela isak tangisnya.


Rentetan- rentetan perlakuan Arin kembali terangkai seperti sebuah film dokumenter yang manmpilkan perlakuan- perlakuan kasarnya pada Kosim dahulu. Arin benar- benar merasa sangat menyesalinya. Andai saja dirinya selalu bersyukur dan selalu menerima kondisi serta penghasilan suaminya apa adanya, mungkin tidak akan berakhir seperti ini. Selain membuat keluarganya berantakan juga membuat suaminya mati menjadi arwah penasaran.


“Sudahlah rin… sudah… saya tidak pernah menyalahkanmu, saya juga tidak pernah marah ataupun benci padamu rin. Saya yang salah karena saya tidak bisa memberikanmu kekayaan seperti teman- temanmu dan tetang- tetangga kita,” ucap Kosim dengan suara bergetar.


“Tidak mas… saya benar- benar salah besar. Saya tidak pernah menghargai hasil jerih payahmu mas, saya juga telah sering memperlakukanmu dengan kasar. Tolong maafkan saya mas…” ucap Arin diakhiri tangisan yang kian mengguncang- guncangkan bahunya.


“Iya, iya rin. Saya sudah memaafkanmu sejak saat itu juga,” balas Kosim lirih.


“Saya menyesal mas… saya sangat menyesal,” ucap Arin semakin tak kuasa menahan tangisnya, ia langsung memeluk Kosim sangat erat.


Arin benar- benar sangat menyesal, dirinya baru benar- benar menyadari sekarang kalau suaminya itu orang yang


sangat baik, suami yang sangat bertanggung jawab, suami yang sangat menyangi istri dan anaknya. Arin memeluk Kosim lebih erat lagi seakan- akan tak mau dipisahkan lagi.


“Saya titip Dede, jaga dan bimbing dia menjadi anak yang baik, jujur dan ringan tangan membantu orang- orang


seperti kang Mahmud ya rin,” pesan Kosim.


Arin tak membalas pesan Kosim, tetapi ia lebih erat lagi memeluk Kosim sambil menangis tersedu- sedu. Bersamaan dengan itu terdengar suara kumandang azan magrib dari pengeras suara mushola yang tidak jauh dari rumah Mahmud.


Tiba- tiba Arin merasakan ada sesuatu yang janggal dalam pelukkannya. Perlahan- lahan Arin merasakan


pelukkannya seperti memeluk tempat kosong. Kedua tangannya yang melingkar di pinggang Kosim kini saling bersentuhan.


Suasana yang mengharukan itu seketika semakin mengharu biru manakala melihat wujud Kosim perlahan- lahan mulai terlihat memudar. Wujud kasarnya perlahan- lahan membentuk bayang- bayang sehingga kedua tangan Arin yang sedang memeluk Kosim pun terlihat seperti menembus tubuh Kosim.


Samar- samar Kosim menyunggingkan senyumannya, senyuman yang paling manis yang selama ini belum pernah

__ADS_1


dilakukannya. Tangan kanannya melambai- lambai pada semua yang sedang menatapnya dengan mulut ternganga. Wujud Kosim perlahan melayang setinggi plafon ruang tengah sembari terus melambai- lambaikan tangan dengan melemparkan senyum termanis ke semua yang ada di ruangan itu.


Tanpa terasa air mata  mereka sudah berlinangan menghalangi pandangannya. Arin kian tersedu- sedu, tangannya menggapai- gapai Kosim yang sudah menjadi bayang- bayang.~~~~** BERSAMBUNG


__ADS_2