Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MENCEKAM


__ADS_3

TANGGAL 14 FEBRUARI,


Hari telah melewati batas pergantiannya. Kini sudah memasuki pukul 00.10 wib. Dilangit semakin terang dengan suguhan pemandangan eksotis namun penuh dengan nuansa mistis. Semburat cahaya merah kekuning-kuningan terhampar di langit malam sangat kontras memperlihatkan gumpalan-gumpalan mega mendung berwarna hitam pekat seperti mengambang dengan bias-bias cahaya penuh kekuning-kuningan bertengger diufuk barat dengan gagahnya. Angin pun seakan-akan berhenti berhembus, cuacanya begitu tenang, nyaris sama sekali tidak merasakan semilir dan hembusannya.


Di ruang tengah rumah Mahmud duduk melingkar orang-orang yang siap mempertaruhkan nyawanya. Gus, Mahmud, Kosim, Mang Ali serta sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin duduk bersila dengan dada berdebar-debar yang semakin menguat. Tidak ada candaan lagi, tidak ada obrolan lagi semuanya khusyu tertunduk menekur dalam-dalam dengan bacaan zikir yang diarahkan oleh Gus Harun. Diantara semuanya hanya Kosim yang merasa gelisah dalam zikirnya. Keringat dingin mulai keluar terlihat di dahinya.


"Kenapa jantung ini berdegub makin kencang?" Kata Kosim membatin.


Kosim membuka matanya sedikit melirik melihat orang-orang disekitarnya. Mereka nampak masih khusyu berzikir.


"Mereka sepertinya biasa-biasa saja. Apa saya sendiri yang merasakan berdebar-debar ya?" Tanya Kosim dalam hati.


Malam semakin sunyi dan senyap hingga suara detak-detak jarum jam sangat jelas terdengar. Kini putaran jarum panjangnya sudah berada diangka 5. Sementara Arin, Dede dan Dewi sudah terlelap tidur di kamarnya masing-masing tanpa mereka tahu ada puluhan pasang mata merah sedang mengamatinya.


Saat jarum panjang pada jam dinding diatas televisi bergeser ke angka 6, terdengar oleh Abah Dul, Mahmud, Kosim, Mang Ali serta sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin masuk dari atas secara tiba-tiba. Kosim yang masih membuka matanya sedang mengintip memperhatikan orang-orang sekitarnya langsung menutup matanya kembali. Bulu kuduknya meremang saat merasakan desiran halus menerpa di ubun-ubunnya. Sekujur tubuhnya merasakan merinding yang tak terkira. Debaran di dadanya tidak lagi halus bahkan degubnya kian kencang sehingga membuatnya gelisah dalam zikirnya dan merasa tidak nyaman.


Dalam penglihatan tak kasat mata, energi-energi dari setiap hembusan ucapan zikir itu tidak henti-hentinya berpendaran seperti partikel-partikel putih yang membungkus tubuh Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, Kosim, Mang Ali serta Sukma Ustad Basyari dan sukma Ustad Baharudin.


"Buummmm..!!!"


Tiba-tiba tubuh mereka semua tersentak kaget oleh suara dentuman keras disertai getaran hebat. Kontan saja mereka membuka matanya serentak. Kosim, Mahmud dan Mang Ali saling tatap, begitu pula Gus Harun dan Abah Dul, juga dengan tatapan saling bertanya dalam hatinya.


Tanpa mereka ketahui dari atas rumah Mahmud, sepasukan monyet siluman telah meluncur deras mencoba menerobos masuk kedalam rumah secara bersamaan. Akan tetapi sontak tubuh-tubuh monyet siluman itu langsung terpelanting bercerai berai manakala satu meter lagi tubuhnya akan menyentuh genteng rumah Mahmud.


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"

__ADS_1


Suara jeritan menyayat monyet-monyet siluman menggema di langit bersamaan dengan suara dentuman dan getaran. Dua kekuatan besar baru saja bertabrakkan antara sepasukan monyet siluman dengan perisai benteng pertahanan yang telah lama dipasang menyelimuti rumah Mahmud.


"Buuuumm...!"


"Buuuumm...!"


"Buuuumm...!"


Belum hilang rasa terkejut mereka, suara dentuman kembali mengagetkan seisi rumah. Wajah Kosim langsunh terlihat memucat dan ketakutan sehingga zikirnya terhenti. Sementara Mahmud dan Mang Ali meskipun berdebar-debar berusaha tetap tenang dan terus berzikir. Didalam hati keduanya yakin dengan kekuatan zikir dapat melindunginya dari mahluk-mahluk gaib yang akan menyentuhnya.


Diatas rumah Mahmud, sepasukan monyet siluman kembali menerjang dengan seringai ganasnya. Tetapi nasibnya sama naasnya dengan sepasukan yang pertama. Tubuh-tubuh mereka saling bercerai berai usai menghantam perisai pertahanan diatas rumah Mahmud dengan jeritan yang menyayat.


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Nyiiiiiitttt...!"


"Kang Kosim, segera bangunkan istri ente serta anak ente untuk pindah disini," seru Gus Harun pada Kosim dengan raut wajah menegang.


"Kang Mahmud, ente juga pindahkan Mbak Dewi disini," ucap Gus Harun pada Mahmud.


Kosim dan Mahmud langsung beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamarnya masing-masing.


"Rin... Arin.. bangun, bangun..." bisik Kosim membangunkan Arin.


Sesaat Arin tergagap kaget, raut wajahnya terlihat bingung. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih, ia celingukkan melihat sekitarnya pandangannya menyapu setiap sudut kamar.


"Ada apa Mas?!" Tanya Arin bingung namun perlahan-lahan kesadaranya mulai terkumpul.

__ADS_1


"Kata Gus Harun pindah tidurnya di ruang tengah. Bawa Dedenya tapi usahakan jangan sampai terbangun ya," bisik Kosim sembari membantu Arin bangun dari ranjangnya.


Lantas pelan-pelan Arin merengkuh tubuh Dede yang lelap tertidur lalu menggendongnya dalam dekapannya. Kedua suami istri itu melangkah keluar kamar. Bersamaan pintu kamar Kosim terbuka, dari kamar sebelah pun Mahmud dan Dewi keluar. Dewi dan Arin pun langsung duduk di depan televisi yang berada di ruang tengah itu setelah membaringkan Dede kembali.


"Gus apa kita songsong mereka diatas sana?" tanya Abah Dul.


"Jangan Dul. Biarkan saja dulu mereka nggak akan bisa masuk menyerang kesini. Tapi urusannya bakal lain apabila Kalas Pati yang menerjang. Saya ragu perisai itu bisa menghancurkannya atau minimal bisa menahannya hingga tidak bisa masuk," terang Gus Harun.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan sekarang Gus?" Sela sukma Ustad Basyari.


"Tetap tenang, siapkan senjata apapun yang kalian punya." Kata Gus Harun.


Mahmud, Mang Ali dan Kosim terlihat bingung dengan ucapan Gus Harun karena sebelumnya tidak mendengar pertanyaan sukma Ustad Basyari.


"Oh, iya siapkan senjata Mang Ali, Kang Mahmud, Kang Kosim..." Gus Harun baru sadar jawaban tadi membuat bingung ketiganya.


Mang Ali pun langsung menyelipkan tangan kanannya merogoh kebelakang dibalik bajunya. Sesaat kemudian ditangannya telah tergenggam keris berwarna hitam kelam, keris itu keris Skober berusia ratusan tahun warisan buyutnya turun temurun. Kosim dan Mahmud nampak bingung saling berpandangan. Keduanya merasa tidak memiliki senjata apapun seperti Mang Ali.


"Mud, Sim.. Ambil batu kembarnya," ucap Abah Dul, sekaligus mengingatkan Kosim dan Mahmud.


Kosim dan Mahmud pun segera melangkah ke kamarnya mengambil Batu Kembar Mustika Naga Kencana pemberian dari ibunya Mahmud. Tidak lama kemudian digenggaman tangan Kosim dan Mahmud terlihat memancar cahaya emas yang kuar dari batu mustika itu.


Sementara Dewi dan Arin hanya memandang takut-takut dengan yang sedang dilakukan mereka semua. Mau kembali tidur pun tidak bisa, disamping terdorong oleh rasa kepenasarannya ingin mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Gus Harun, Abah Dul serta sukma Basyari dan sukma Ustad Baharudin pun tidak menunggu lama, keempatnya segera mengacungkan tanggannya sembari melafazkan amalan pemanggil pusaka.


Tidak berapa lama dihadapan mata Kosim, Mahmud, Mang Ali serta Dewi dan Arin menyaksikan kilatan empat cahaya putih dari tangan Abah Dul, Gus Harun, sukma Basyari dan sukma Ustad Baharudin. Namun yang membuat mata mereka melotot dan mulut ternganga adalah adanya dua cahaya putih yang melayang-layang seperti digenggam oleh dua orang.


Ya, jelas saja terlihat seperti itu karena mereka tidak dapat melihat wujud sukma Basyari dan sukma Ustad Baharudi yang sedang menggenggam Pedang Abu Bakar dan Tongkat Pagar Alam. Pada saat yang bersamaan, tiba-tiba suara menggelagar menggetarkan ruang tengah itu. Dewi dan Arin spontan menjerit ketakutan menambah kecemasan dan kepanikan semuanya.


Diatas rumah Mahmud, untuk ketiga kalinya sepasukan monyet siluman yang lainnya kembali menerjang bersamaan hendak menerobos menyerang orang-orang yang berada di ruang tengah. Namun nasibnya sama dengan dua pasukkan sebelumnya yang terpental dan terbakar musnah diiringi jeritan menyayat.


Akan tetapi pada benturan yang ketiga Gus Harun dibuat terperangah dengan wajah cemas. Dia merasakan perisai yang mengelilingi rumah Mahmud sepertinya mulai dapat ditembus. Getarannya terasa berbeda dengan benturan pertama dan kedua, pada benturan energi yang ketiga ini getaran energinya lebih besar hingga terasa hembusannya.


......................

__ADS_1


🔴Nafasnya dikeluarkan dulu... Lepaskan...


Di Minum dulu kopinya... Lalu lanjut ke bab berikutnya...


__ADS_2