
Cuaca nampak cerah dengan kesejukan alami rindangnya pepohonan di sepanjang jalan desa. Mobil terios warna silver melaju pelan di jalan gang menuju jalan utama desa Palu Wesi. Hasan yang duduk dibelakang kemudi sesekali curi- curi pandang melirik Arin yang duduk di jok tengah bersama Dede dari kaca spion tengah atau center mirror. Dewi duduk di jok depan dengan anteng, ia nampak menikmati pemandangan desa di depannya.
Mobil Terios warna silver itu melaju di jalan gang menuju jalan utama desa. Hasan pun tampak santai mengemudikannya dengan hati berbunga- bunga sambil berhayal menjalani kehidupannya bersama Arin. Hayalannya sudah melambung tinggi jauh ke kehidupan rumah tangga, hingga berhayal memiliki banyak anak. Sampai- sampai menghayalkan momen saat libur kerja, pagi- pagi dirinya baca koran di teras depan hanya memakai sarung, sedangkan Arin datang membawakan teh hangat mengenakan daster.
“Haaahhhhh…” tanpa sadar Hasan menghela nafas lalu menghembuskannya sedikit menghentak membuat Dewi yang duduk di jok samping langsung menoleh.
“Kenapa mas Hasan? Apakah keberatan nganterin kita pulang nih hehehe…” kata Dewi menyelidik.
“Eh, a, anu nggak kok mbak. Malah saya senang bisa nganterin hehehe…” jawab Hasan kaget sekaligus membuyarkan lamunan indahnya.
Ketika mobil baru saja sampai di jalan utama desa tiba- tiba terdengar suara klakson sepeda motor menyalak berkali- kali dari arah belakang.
Tiiinnn.. ! Tiiin…. ! Tiiinnn.. ! Tiiin…. !
Kontan Hasan melirik kaca spion sebelah kanan, benar saja ada dua sepeda motor yang terus membunyikan klaksonnya. Hasan merasa kalau klakson itu di tujukan untuk dirinya, ia pun meminggirkan mobilnya dan berhenti.
“Ada apa mas?” tanya Arin heran.
“Iya kenapa mas?” susul Dewi.
“Itu ada dua motor di belakang, sepertinya meminta kita berhenti,” jawab Hasan.
Arin dan Dewi kontan langsung melihat kebelakang dengan wajah berkerut bertanya- tanya, tampak dua sepeda motor bebek berboncengan perlahan- lahan mendekat kesebelah kanan disamping pintu Hasan.
“Apakah masalah tadi masih berlanjut ya?” tanya Dewi menduga- duga.
Tok… Tok… Tok…
Salah seorang pengendara sepeda motor berhenti di samping pintu sebelah kanan, Hasan pun cepat- cepat menurunkan kaca jendelanya penuh pertanyaan.
“Ada apa mang Yono?!” tanya Hasan.
“Mas Hasan, tolong anak saya mas!” jawab orang yang bernama mang Yono.
__ADS_1
“Iya mas Hasan tolongin, kasihan!” timpal lelaki setengah baya yang ada di boncengan.
“Tolongin gimana mang? Apa yang bisa saya tolong?” Hasan heran dan kembali bertanya dalam kebingungannya.
“Anak itu mas, saya minta tolong sama anak ajaib itu mas. Jangan dulu pulang, tolong ke rumah saya dulu mas, anak saya sedang sekarat!” kata mang Yono.
Hasan menoleh kearah Dewi meminta pendapatnya, lalu menoleh kebelakang ketempat Arin dan Dede duduk. Dewi tampak bingung, Arin pun tak langsung dapat memberikan jawaban lalu menoleh ke wajah Dede yang tampak sedang asyik dengan dunianya sendiri sambil memainkan jari- jarinya yang mungil.
“Kenapa tidak dibawa ke puskesmas saja mang?” kata Hasan.
“Sudah sejak semalam mas dan baru pulang tadi pagi, tapi kata dokternya tidak ada penyakit apapun. Dan kebetulan tadi pagi mang Nur melihat kejadian di rumah mas Hasan tentang anak itu, pasti anak itu yang disebut- sebut anak ajaib oleh orang- orang. Sehingga kami disarankan untuk meminta pertolongannya. Saya mohon mas, tolong anak saya…” ungkap mang Yono memelas, wajahnya menyiratkan harapan besar mendapat pertolongan.
“Iya mas kasihan, tadi ke rumah katanya baru saja pulang dan kami pun langsung mengejarnya. Alhamdulillah masih belum jauh,” timpal mang Nur.
Hasan nampak kebingungan, dirinya tak bisa memutuskan apakah menuruti permintaan mang Yono ataukah tidak. Hasan sekali lagi menoleh pada Dewi meminta pendapatnya juga menoleh kearah Arin. Dewi pun tampaknya tak bisa memutuskan, lalu turut menoleh ke Arin dan Dede. Arin sendiri terlihat ragu- ragu untuk menyampaikannya ke Dede, tapi disatu sisi sebagai seorang wanita rasa belas kasihannya lebih mendominasi di pikirannya. Akhirnya Arin pun mencoba menyampaikannya pada putranya itu.
“De…” panggil Arin.
“Ya, bun,” sahut Dede terlihat acuh tak acuh memainkan jari- jarinya.
Seketika itu juga Dede menghentikan memainkan jemarinya, Dede terlihat diam termangu memperhatikan orang- orang di luar mobil. Lalu Dede tersenyum penuh misteri yang sulit diartikan dari senyuamannya.
“Ayo Yah, kita tolong saja,” ucap Dede dengan logat anak- anaknya.
“Husss! Yah, Yah siapa De!” sergah Arin.
“Ya Ayah Hasan bundaaaa…” balas Dede dengan polosnya.
Wajah Arin seketika merona merah, ada rasa senang sekaligus malu bercampur aduk didalam perasaaannya. Dewi langsung tertawa kecil mendengar jawaban Dede, sedangkan Hasan merasa hatinya langsung berbunga- bunga dipanggil ayah.
“Ya sudah mang, mari ke rumah mang Yono,” kata Hasan.
“Alhamdulillaaaaah…. ! Mari, mari mas Hasan,” balas mang Yono sangat senang.
__ADS_1
......................
Di depan pintu rumah tampak beberapa warga berkerumun saling melongokkan kepalanya melihat kedalam rumah. Mang Yono dan tiga tetangganya yang tadi menyusul Hasan sudah lebih dulu sampai, para tetangganya yang memadati pintu langsung membalikkan badan melihat kedatangan mang Yono dan mang Nur.
Tak berselang lama terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, Mobil yang dikemudikan Hasan berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana bercat putih dan sudah usang. Semua mata tertuju pada mobil, semua sudah mengetahui kalau didalam mobil tersebut ada anak kecil yang mereka sebut- sebut bocah ajaib.
“Mari, mari mas Hasan, mbak…” sambut mang Yono begitu Hasan, Dewi, Arin dan Dede turun dari mobil.
Semua orang memandang Dede penuh rasa takjub, mereka yang semula berjubel di depan pintu pun langsung bergeser memberikan jalan buat Hasan, Dewi, Arin dan Dede yang berjalan mengikuti mang Yono memasuki rumahnya.
Di ruang tamu yang tanpa kursi dan meja itu terbaring diatas kasur kapuk seorang anak perempuan, usianya tak beda jauh dengan Dede, sekitar 2 atau 3 tahunan. Anak itu terbujur kaku, kedua tangannya yang mungil terkepal sangat erat. Wajahnya mendongak keatas, kedua matanya membelalak seperti sedang mengalami ketakutan yang teramat sangat.
Di samping kepala anak perempuan duduk bersimpuh wanita paruh baya yang tak henti- hentinya menyebut memanggil- manggil nama anak itu dengan lirih. Kedua matanya terlihat sembab, mungkin sudah semalaman wanita paruh baya itu menangis.
Beberapa ibu- ibu yang menemani istri mang Yono langsung menggeser duduknya ketika melihat kedatangan Hasan, Dewi, Arin dan Dede. Wajah- wajah sedih orang- orang yang ada di ruangan itu seketika langsung sumringah penuh dengan harapan besar saat melihat kedatangan Dede.
“Nak.. tolong anak emak nak…” ucap istri mang Yono lirih memohon dengan sangat memelas.
Hasan, Dewi dan Arin langsung duduk bersimpuh di samping anak perempuan yang sedang sekarat itu, tetapi Dede tetap berdiri tidak mengikuti ketiganya duduk. Tak ada yang istimewa dari tingkah laku Dede saat melihat anak perempuan yang sakit itu, bahkan sikap kanak- kanaknya yang nampak menonjol layaknya seorang anak kecil. Semua pandangan mata tertuju pada Dede, mereka tak mau melewatkan sedetik pun dengan apa yang hendak dilakukan oleh Dede.
“Pergi sana!” tiba- tiba Dede berteriak kencang, membuat semua yang ada di dalam ruangan tersentak kaget. Bahkan suara Dede juga terdengar oleh tetangga- tetangga yang melihat dari luar.
“Jangan sentuh dia teman Dede!” teriak Dede lagi. kali ini sorot matanya memandang tajam ke tempat kosong dibelakang kepala anak perempuan tersebut. Semua orang pun spontan mengikuti arah pandangan mata Dede penuh keheranan, namun mereka tak menemukan apapun di belakang kepala itu.
Beberapa saat kemudian istri mang Yono dan para tetangga yang menemaninya itu melihat perubahan pada wajah anak perempuan itu. Kedua matanya yang semula membelalak, kini perlahan- lahan pupil matanya mulai bergerak menutup matanya. Kedua tangan yang terkepal erat pun kini sudah melemas dan lurus. Anak perempuan mang Yono tampak seperti sedang tertidur.
“Alhamdulillaaaaahhh…. Gusti…. Alhamdulillaaahhh… “ ucap istri mang Yono kembali berderai air mata, hingga air matanya jatuh menetes mengenai kening putrinya.
Perlahan- lahan putrinya membuka mata, sesaat anak itu menatap langit- langit ruang tamu lalu menoleh ke kanan, ke kiri dan kesekelilingnya. Kemudian anak perempuan itu berusaha untuk bangun dari berbaringnya.
“Mak, kenapa banyak orang?” tanya putri mang Yono.
“Alhamdulillah naaaak… kamu sudah sadar?” pekik ibunya langsung memeluk putrinya yang duduk keheranan.
__ADS_1
“Ayo bun, Dede pengen pulang,” ucap Dede dengan tingkah anak- anaknya.
Semua orang dibuat melongo dengan apa yang mereka lihat dengan kondisi putrinya mang Yono sekarang. Pasalnya mereka sudah semalaman menemani putrinya mang Yono sejak dari puskesmas hingga kembali di bawa pulang dengan kondisi yang dokter sendiri tidak bisa menanganinya, kini anak perempuan itu tiba- tiba sudah kembali sehat.* BERSAMBUNG