
Suara teriakkan- teriakkan itu kian
gaduh, hingga terdengar oleh bu Harjo, Dewi, Hariri, Arin serta Hasan yang
berada didalam rumah. Mereka pun buru- buru keluar menuju teras rumah menyusul pak Harjo yang sendirian seolah- olah menjadi terdakwa dihadapan warga.
"Usir saja perempuan itu!"
"Usir...! Usiiiir...! Usiiiir...!"
"Nanti desa kami terkena azab dari Gusti allah!"
Suara- suara teriakkan itu kebanyakan diauarakan oleh kaum ibu- ibu. Pak Harjo tampak masih terlihat bingung, belum mengerti maksud kata- kata yang dilontarkan warga.
"Tenang ibu- ibu... Tenang! Apa maksudnya ini?!" seru pak Harjo mengangkat tangannya.
Bukannya suara- suara itu diam malah balas berteriak kembali dengan kalimat- kalimat yang tak jauh berbeda.
"Usir saja perempuan itu!" teriak ibu- ibu berdaster kuning.
"Usir...! Usiiiir...! Usiiiir...!" timpal teriakkan ibu- ibu lainnya bersamaan.
"Nanti desa kami terkena azab dari Gusti allah!" teriak seorang ibu- ibu maju dua langkah, ibu- ibu tersebut berpenampilan penuh perhiasan di pergelangan tangan dan kalung rantai emas melingkar di lehernya.
"Ibu Nengsih, apa maksudnya?!" tanya pak Harjo.
"Halllllahhh! Jangan pura- pura tidak tahu pak Harjo. Hasan itu masih perjaka tadi malam ada yang melihat sedang berpegangan tangan dengan perempuan yang sudah bersuami dan memiliki anak pula!" seru perempuan yang dipanggil Nengsih.
"Jangan membuat fitnah bu Nengsih!" sergah pak Harjo mulai terpancing amarahnya.
"Ada saksinya pak Harjo! Jangan menutup- nutupi!" balas bu Nengsih.
"Iya ada yang melihat!" timpal ibu- ibu lainnya.
Suara- suara kegaduhan di depan halaman rumah pak Harjo tersebut mengundang warga masyarakat lainnya mendatangi tempat tersebut untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Akibatnya sekarang sudah banyak warga yang berkumpul di depan rumah pak Harjo. Warga masyarakat yang baru datang itu bergerombol dibelakang kelompok pertama yang di komandoi bu Nengsih, dan hanya melihatnya saja karena tidak mengetahui permasalahannya.
Di teras depan pintu berdiri mendampingi pak Harjo ada 3 orang perangkat desa, 1 orang ketua RT dan 2 orang lainnya merupakan pamong Desa yang salah satunya pak Bekel.
__ADS_1
"Tenang bu Nengsih... ! Tenang jangan main tuduh sembarangan!" seru pak Bekel sembari mengangkat tangannya.
"Ini tidak bisa dibiarkan pak Bekel..! Jangan kotori desa kami dengan perempuan murahan itu!" teriak bu Nengsih kian murka.
Melihat reaksi bu Nengsih, diam- diam pak Bekel menyunggingkan senyum sinisnya. Wajahnya terlihat seakan- akan mengkhawatirkan pak Harjo, namun jauh dilubuk hatinya, pak bekel merasa sangat puas.
"Hahahaha... Rencana saya berhasil!" seru pak Bekel dalam hati.
"Pak Harjo sebaiknya panggil saja perempuan yang dituduhkan bu Nengsih dan warga itu pak agar mereka mendengar langsung pengakuannya," kata pak Bekel pada pak Harjo disampingnya.
Bersamaan dengan itu dari dalam rumah keluar bu Harjo diikuti Dewi, Arin, Hariri serta Hasan. Mereka semua sangat terkejut melihat banyak warga yang berkumpul di depan rumah.
"Ada apa ini pak?!" tanya Bu Harjo pada suaminya dengan wajah cemas.
"Nah, itu perempuannya yang berzina dengan Hasan tadi malam!" teriak ibu- ibu berdaster kuning membuat pertanyaan bu Harjo tak sempat dijawab.
Pak Bekel yang berdiri disamping pak Harjo seketika langsung menggeser tubuhhya memberi ruang pada bu Harjo dan yang lainnya. Kedua mata pak Bekel sempat melirik kepada Arin yang menyusul bu Harjo berdiri disampingnya dengan wajah sumringah.
Semua mata tertuju memandang Arin dan Dewi begantian. Warga yang berkumpul dibelakang bu Nengsih itu banyak yang tidak tahu perempuan yang mana yang dituduhkan oleh ibu berdaster kuning tersebut.
"Astagfirullah! Apa maksud ibu?!" Dewi langsung maju satu langkah didepan pak Harjo menghadap kumpulan warga.
"Tenang... Tenang nak Dewi biar bapak saja yang bicara, nak Dewi dan nak Arin tenang saja," ucap pak Harjo menenangkan Dewi.
"Perempuan muda itu yang semalaman berduaan dengan Hasan!" terika ibu berdaster kuning menunjuk lurus kearah Arin.
Seketika Arin terkesiap, dirinya sangat terkejut! jantungnya berdebar- debar kencang, dirinya memang merasa semalam duduk berdua dengan Hasan di kursi teras.
"Ya saya dan mas Hasan tadi malam memang duduk disini tapi Kami hanya ngobrol biasa bu! Tidak ada hal yang lain kami lakukan," tukas Arin tak tahan dengan tuduhan miring itu.
"Hallahhh! Alasan saja, suami saya yang melihat kamundan Hasan sedang berpegangan tangan dan pasti selanjutnya melakukan zina!" sergah ibu berdaster kuning sembari maju berdiri disamping bu Nengsih.
"Astagfirullah! Ibu jangan menuduh sembarangan!" pekik Arin menahan tangis, matanya berkaca- kaca mendengar tuduhan keji kepadanya.
"Usir! usir! usir!" teriak warga lainnya menimpali.
Di tengah kegaduhan yang mulai memanas itu tiba- tiba muncul anak kecil menyeruak diantara pak Harjo dan bu Harjo. Anak kecil itu tak lain adalah Dede yang terbangun dari tidurnya karena suara- suara kegaduhan. Kamar tempatnya tidur berada di depan sehingga kegaduhan itu sangat keras terdengar.
"Bunda Dede tidak melakukannya seperti yang kalian tuduhkan!" teriak Dede dengan suara melengking.
__ADS_1
Seketika suara- suara warga itu langsung terhenti setelah Dede berteriak. Suasana menjadi senyap saat itu juga, semua mata memandangi Dede lekat- lekat tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Semua warga yang berkumpul itu merasakan dadanya berdebar- debar keras karena suara teriakkan Dede. Mereka semua berdiri mematung hanya menatap bocah kecil itu.
Pak Bekel yang bediri tak jauh dari Dede, merasakan sekujur tubuhnya tiba- tiba gemetar lembut. Jantungnya berdetak kencang, wajahnya seketika menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.
Ucapan Dede yang notabene hanyalah seorang anak kecil saat itu juga membuat warga yang mendatangi rumah Pak Harjo menundukkan kepala. Wajah- wajah mereka pun menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.
Seperti itu pula yang dirasakan oleh bu Nengsih dan bu Komar sampai- sampai tanpa mereka sadari kaki mereka basah oleh air kencingnya sendiri.
"Siapa pun yang menghasut dan menuduh bunda seperti itu tidak bisa bergerak seperti patung!" terdengar kembali teriakan Dede melengking ditengah kesenyapan suasana.
Jederrrr...!!!
Suara guntur tiba- tiba terdengar menggelegar di langit pagi hari, tanpa mendung dan hujan bersamaan berakhirnya teriakkan Dede.
Seketika semua warga yang baru datang dan berkumpul di belakang rombongan bersama bu Nengsih dan bu Komar tersebut bergegas langsung berlarian membubarkan diri.
Begitu pun dengan rombongan warga yang datang bersama bu Nengsih dan bu Komar, sebagian besar mereka turut berlarian karena merasa sangat ketakutan dengan ucapan anak kecil itu yang diakhiri dengan suara guntur yang aneh.
Kini tampak warga yang berdiri di halaman depan rumah Pak Harjo hanya ada 5 orang yang semuanya adalah ibu- ibu. Kelima perempuan yang rata- rata berusia 40 tahunan itu hanya diam tegak berdiri, semua anggota tubuhnya tidak bisa di gerakkan. Hanya kedua matanya saja yang bergerak- gerak melirik kesana kemari dengan sorot mata penuh ketakutan yang teramat sangat.
Pak Harjo, Bu Harjo, Arin, Dewi, Hasan dan Hariri tercengang, mereka sangat terkejut melihat pemandangan di depannya. 5 orang perempuan terlihat jelas diam tak bergera seperti patung, sama seperti yang telah di teriakkan Dede.
Sementara itu dibarisan paling ujung di teras rumah, pak Bekel berdiri dengan mata terbelalak. Kedua perangkat desa lainnya telah lebih dulu berlari ketakutan meninggalkannya.
Namun Pak Harjo dan yang lainnya tidak menyadari apa yang terjadi dengan pak Bekel yang juga terdiam kaku seperti patung.
Kedua mata pak Bekel melotot nampak sangat ketakutan melirik kesana kemari. Di dalam benaknya ingin sekali bergerak melarikan diri dari tempat tersebut, namun kakinya dan anggota tubuhnya serasa telah mati rasa.
Seberapa kuat tenaganya di kerahkan, tetap saja kaki maupun tanggannya tak bisa bergerak sama sekali. Saat itulah dirinya sangat menyesali perbuatannya yang telah menghasut bu Nengsih setelah sebelumnya mendapat laporan dari bu Komar.
"Bunda, orang- orang itulah yang sebenarnya jahat!" terik Dede menunjuk lurus kearah 5 perempuan yang berdiri mematung.
Air mata Arin langsung luruh setelah dari tadi ditahannya. Arin langsung berlari memeluk Dede dengan linangan air mata serta suara tangisnya pun saat itu juga membuncah.
"Terima kasih De, Dede sudah menolong bunda dan mas Hasan. Dede telah menunjukkan kebenaran..." ucap Arin lirih disela- sela tangisnya.
Beberapa saat kemudian pak Purnama, Kepala Desa Palu Wesi datang bersama beberapa pamong desa. Saat melewati barisan bu Nengsih serta 4 perempuan lainnya, Pak Purnama beserta perangkatnya menatap heran pada kelima perempuan yang hanya berdiri seperti patung.
__ADS_1
"Kenapa ini Pak Harjo?!" tanya pak Purnama keheranan sambil berjalan kearah tempat Pak Harjo dan keluarganya berdiri. * BERSAMBUNG