Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MALAM NAZAR


__ADS_3

Malam ini adalah malam Nazar Syukurannya pak Harjo dan keluarganya. Semua persiapan untuk acara besok sudah rampung dikerjakan, hanya beberapa yang tidak bisa dikerjakan seharian ini seperti menanak nasi dan beberapa masakan lainnya.


Apabila di kerjakan seharian ini bisa jadi besoknya akan menjadi basi atau sudah tidak enak lagi rasanya kalau masakan tersebut sudah menginap meski hanya semalam. Sayang kalau masakan tersebut jadi terbuang karena tidak dimakan.


Dengan memperhutungkan antara waktu memasak hingga selesainya masak dengan waktu dimulainya acara Nazar Syukuran, maka para ibu- ibu juru masak akan memulainya pada jam 4 dini hari.


Dihalaman samping kiri rumahPak Harjo, terdapat 10 tungku yang siap untuk membuat beragam masakan. 10 tungku dengan kayu bakar tersebut berjajar dibawah tembok pembatas pekarangan dengan beratapkan terpal.


Sementara di halaman depan pun sudah siap menampung seluruh warga desa Palu Wesi yang akan menghadiri acara Nazar Syukuran tersebut. Bahkan Pak Harjo menyiapkan lahan pekarangan yang ada di seberang depan rumahnya pula untuk berjaga- jaga barangkali tidak semuanya dapat menempati halaman rumah Pak Harjo.


Malam ini banyak warga sekitar rumah Pak Harjo yang datang untuk sekedar melekan. Melekan merupakan acara tanpa seremonial yang sudah menjadi tradisi di kampung pada saat salah satu warganya hendak menggelar hajatan. Biasanya warga yang melekan ini baru bubar ketika menjelang subuh hari.


Pak Harjo, Hasan, Hariri nampak turut berkumpul bersama warga yang melekan sambil berbincang- bincang di kursi yang ada di teras depan. Nampak pula diantaranya ada pak kepala desa yang didampingi beberapa pamongnya serta pak Diman.


"Kalau nak Hasan kapan rencana di pelaminannya nih, hehehehe..." tanya kepala desa yang bernama pak Purnama sedikit menggoda Hasan.


Pak Harjo hanya tersenyum kecil mendengar pertanyaan pak Purnama. Dalam benaknya merasa bersyukur karena merasa sudah terwakilkan sama pertanyaan pak Purnama.


Pak Harjo sendiri sebenarnya ingin menanyakan itu sejak dulu pada Hasan, tapi merasa tidak tega menanyakannya langsung jadi dia pendam saja.


"Hehehe... Insya allah kalau sudah ketemu jodohnya, pasti segera pak Pur," jawab Hasan tersipu malu.


"Belum ketemu atau nak Hasan memang pilih- pilih nih?" tanya pak Purnama lagi.


"Ah, saya bukan orang seperti itu pak Pur, saya tidak pilih- pilih. Janda beranak sekalipun kalau hati saya cocok kenapa tidak, hehehe..." jawab Hasan.


"Hati- hati dengan ucapanmu loh nak Hasan. Bisa saja jadi kenyataan jodohmu sama janda, hahahaha..." ujar pak Purnama tertawa.


Pak Harjo, Hariri serta yang lainnya pun turut tertawa mendengar selorohan pak Purnama. Hasan tersenyum kecut namun hatinya tidak menampik apa yang sudah diucapkannya, kalau memang jodohnya seperti itu dirinya akan menerimanya dengan ikhlas.


"Mas Hasan bagaimana kalau dijodohkan sama anaknya bu Nengsih saja?" celetuk pak Bekel yang duduk mendampingi pak Purnama.

__ADS_1


"Nah, saya setuju tuh nak Hasan. Mm, siapa namanya itu pak? Si... Si.." ujar pak Purnama.


"Namanya Susanti pak," sergah pak Bekel.


"Iya, iya tuh sama Susanti saja, kelihatannya anaknya baik," ujar pak Purnama.


"Tapi yang saya tahu dia lagi dekat sama Burhan, pak," timpal Trisno, pamong desa yang usianya tak beda jauh dengan Hasan.


"Gampang soal itu sih, selagi janur kuning belum melengkung didepan rumahnya, maju terus nak Hasan," kata pak Purnama.


"Iya kan Pak Harjo?" sambung pak Purnama meminta dukungan dari Pak Harjo.


"Kalau saya sih sebagai bapak, saya serahkan sepenuhnya masalah calon istri anak -anak saya pak Pur. Saya tidak mau ikut campur apalagi memaksa untuk Hasan cepat- cepat menikah, hehehehe..." balas Pak Harjo.


Mendengar ungkapan bapaknya, Hasan terlihat hanya manggut- manggut saja sambil senyum- senyum mendengarkan peredebatan kecil terhadap gadis yang disebutkan pak bekel.


Sementara itu Hariri langsung mengerutkan dahinya, Hariri seketika teringat dengan permintaannya yang di iyakan oleh kakaknya. Padahal ia baru tahu dengan jelas kalau kakaknya itu belum memiliki teman dekat wanita apalagi calon istri.


Hasan seketika kaget dengan ucapan adiknya, dia pun baru teringat dengan janji yang diucapkannya pada adiknya itu. Padahal hingga saat ini dirinya tidak sedang dekat dengan perempuan mana pun.


Bagi Hasan, dirinya sebenarnya sudah memikirkan tentang jodoh. Menurutnya pertemuan jodoh itu sendiri mengacu pada kepercayaan bahwa setiap individu telah ditakdirkan untuk bertemu dengan pasangan hidup mereka dalam kehidupan ini.


Hasan sangat meyakini bahwa pertemuan jodoh adalah takdir yang tidak dapat dielakkan, dan Hasan sendiri sangat menghargai pernyataan bapaknya yang tidak mencampuri masalah jodohnya apalagi sampai menjodohkannya.


Beruntung bagi Hasan, orang tuanya tidak begitu mengharuskan calon istrinya sesuai dengan kemauan yang orang tuanya gariskan.


"Kalau saya tidak menerapkan aturan seperti kisahnya Siti Nurnaya dan Datuk maringgih pak Pur, hehehe... Biar saja anak- anak sendiri yang menemukan jodohnya nanti, sebab mereka yang akan menjalani kehidupan rumah tangganya bukan orang tuanya," terang Pak Harjo.


Pak Purnama dan yang lainnya mangut- manggut mendengarkan pengakuan Pak Harjo tentang jodoh Hasan.


"Mungkin masa- masa jaman dulu, masih banyak orang tua yang memilihkan jodoh untuk anaknya. Alasannya bahwa karena orang tua memiliki pengalaman untuk menemukan pasangan yang tepat untuk anak-anak mereka. Terutama akan melihat dari Bebet, bobotnya alias dari keturunan dan tingkat perekonomian keluarganya," lanjut Pak Harjo.

__ADS_1


Bagi Hasan sendiri memiliki pemikirannya sendiri kalau pertemuan jodohnya merupakan takdir sepenuhnya yang digariskan Gusti Allah bukan dari hasil keputusan dan pilihan yang dibuat oleh dirinya sendiri.


"Mungkin karena saya sangat menghindari pacar- pacaran pak Pur, makanya sampai sekarang masih menjoblo saja. Karena saya takut akan menjadi maksiat bagi saya sendiri. Ya kalau bisa hanya dengan ta' aruf sekali saja lalu segera menikah aja, hehehehe..." ujar Hasan.


Pak Purnama sendiri merasa kagum dengan prinsip yang dipegang Hasan. Di jaman sekarang sangat jarang pemuda seusia Hasan yang menginginkan ta' aruf, pemuda sekarang hanya mengenal pacaran.


"Pak Diman, jangan telat jemput keluarga Mahmudnya ya," kata Pak Harjo mengalihkan pembicaraan yang mulai membosankan membicarakan mengenai jodohnya Hasan.


"Iya Pak Harjo, setelah saya pikir- pikir berangkat jemputnya habis sholat subuh pak. Saya khawatir terjebak macet di jalannya," jawab pak Diman.


"Keluarga Mahmud? Setahu saya bapak tidak memiliki saudara bernama Mahmud, siapa mereka?" ucap Hasan dalam hati sambil menoleh kearah bapaknya, pandangannya menyiratkan pertanyaan.


"Ya sudah kalau begitu atur saja waktunya sama pak Diman, tapi hati- hati di jalannya nanti," kata Pak Harjo.


"O iya pak Bekel jadi ikut dengan pak Diman besok?" lanjut Pak Harjo menoleh pada pak Bekel.


"Ikut pak Diman? Kemana Pak Harjo?" tanya pak Purnama.


"Itu mau jemput keluarga yang ada di desa Sukadami," jawab Pak Harjo.


"Wah, jangan! Nggak usah ikut lagi pak Bekel. Kamu sudah saya tugaskan disini untuk membantu mengatur warga yang datang, gimana sih?" sungut pak Purnama.


"Hehehehe.. Iya pak. Itu sih waktu kemarinbsaya bilang mau ikut, kalau tugas yang pak Pur kasih itukan baru tadi siang," sahut pak Bekel.


"Kalau begitu saya permisi pamit dulu Pak Harjo, sudah malam. Biar pamong saya saja yang melekan disini," kata pak Purnama.


"Oh njih, njik pak Pur. Matur suwun sudah membantu acara ini," bapas Pak Harjo.


Kepala Desa Palu Wesi itu pun segera bangkit dari duduknya lalu bersalaman satu persatu sebelum pergi meninggalkan rumah Pak Harjo.


● BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2