Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
CERITA ROH 2


__ADS_3

Roh Karso yang kini dijadikan permadani istana siluman monyet hanya bisa menyesali perbuatannya menjalani pesugihan sewaktu hidup di dunia. Dia sangat menyesal semenyesal- menyesalnya, seandainya waktu bisa diputar ulang kembali, dirinya akan memilih tidak menjalani pesugihan dan sangat yakin akan memilih hidup miskin.


Setiap hari roh Karso menangis bercucuran air mata menanggung karma dengan derita siksa hingga kiamat tiba. Begitu lama dan menyakitkan! Roh Karso sesekali tersenyum masam teringat kembali sewaktu melakukan ritual hingga berhasil menjadi orang paling kaya di kampungnya.


--****---


Saat itu hari ke-2 Karso dan Romlah melakukan ritual pesugihan,


Ketika cahaya fajar menyibak melalui mulut goa tempat Karso dan Romlah melakukan ritual, Karso segera mematikan nyala lilin di depannya dengan meniupnya. Setelah semalaman suntuk melaukan ritual membaca mantra perut karso dan istrinya berasa sangat lapar, Karso meraih dua pisang yang tak jauh dari tempatnya duduk lalu memberikan salah satunya kepada Romlah.


Sepasang suami istri itu terlihat sangat lapar hingga mengambil lagi beberapa buah pisang yang berserakan di sekitarnya. Setelah merasa kenyang keduanya pun membaringkan tubuhnya diatas batu altar dan segera tertidur dengan lelap karena sudah tak kuat lagi menahan rasa kantuknya setelah semalam suntuk


tidak tidur.


Sekitar pukul 14.15 wib tiba- tiba Karso terjaga dari tidurnya karena suara berisik dari suara monyet- monyet bersahutan berebut pisang yang berserakan disekitar tubuh Karso dan Romlah. Sesaat dia duduk menoleh kearah istrinya, nampaknya Romlah masih terlelap pulas hingga suara dengkurannya terdengar sedikit kencang.


Karso memperhatikan sekelilingnya dengan mengerutkan kening merasa heran, “Siapa yang menaruh pisang- pisang sebanyak ini?” gumam Karso.


Padahal sewaktu pagi dia makan pisang bersama istrinya, pisang- pisang itu nampak sudah hampir habis tersisa hanya setengah tandan. Akan tetapi sekarang yang terlihat di depan matanya, tandan- tandan pisang banyak berjajar di dinding- dinding goa.


Karso seketika merasa lapar kembali lalu mulai memetik pisang satu buah dari tandan yang ada disebelah kirinya. Karso pun mulai menyantap pisang yang berwarna hijau itu satu demi satu. Nampaknya Karso sangat menikmatinya hingga tak terasa sudah 20 buah pisang yang dia petik dan makan.


Tak lama kemudian Romlah juga terbangun, dia kontan menoleh ke tempat suaminya yang tidur disebelahnya. Tiba –tiba Romlah tersentak kaget sampai- sampai beringsut duduk dari posisi berbaringnya karena mendapati sosok monyet seukuran manusia sedang duduk sambil memakan buah pisang di tempat suaminya tidur sebelumnya.


“Mo, mo, monyeettt!” pekik Romlah sambil menutup mulutnya sendiri.

__ADS_1


Karso yang merasa dipamggil “Monyet” oleh istrinya seketika menoleh dengan mengerutkan dahinya dalam- dalam dengan raut wajah penuh keherananan sekaligus jengkel.


“songong! Suami dikatain monyet!” hardik Karso.


Romlah langsung terkesiap kaget dan seketika pandangannya berubah normal kembali dari yang semula melihat Karso adalah sosok monyet kini  sudah benar- benar terlihat sosok suaminya sendiri.


“Kang Karso?!” ucap Romlah mamastikan.


“Ya iya toh, siapa lagi?! Koq saya dipanggil monyet!” sungut Karso.


“Ma.. ma’af kang, tadi saya lihat seperti monyet. Ah, mungkin karena habis bangun tidur kang, nyawanya belum kumpul, hehehe…” kilah Romlah tertawa masam.


“Kamu nggak lapar Rom? Saya sudah kenyang, sekarang mulai ngantuk lagi,” ucap Karso.


“Lah, wong adanya pisang. Udah makan tuh, saya mau tidur lagi,” sahut Karso membaringkan badannya telentang.


Romlah pun terpaksa melakukan seperti yang dilakukan Karso memakan buah pisang hingga merasa kenyang. Kemudian tak beberapa Romlah juga merasa ngantuk luar biasa, lalu merebahkan tubuhnya disamping suaminya yang sudah tertidur pulas.


Sepanjang hari Karso dan Romlah hanya makan pisang dan tidur hingga sampai lagi pada waktu tengah malam. Ketika jarum jam di weker menunjukkan pukul 12 malam, Karso dan Romlah langsung bersiap-siap mengambil posisii duduk bersila ditengah batu altar yang masih dengan penerangan nyala sebatang lilin berwarna merah.


Karso dan Romlah kembali membaca mantra ritual pesugihan, namun kali ini sudah tidak lagi melihat tulisan pada kertas yang tergeletak di depannya karena sudah hafal diluar kepala. Keduanya nampak lebih kusyu membaca mantra itu dengan memejamkan mata tidak seperti malam pertama yang masih membaca tulisan dan terbata-bata.


Satu jam pertama sudah terlewati, namun tidak ada kejadian aneh apa- apa. Memsauki satu jam kedua, tiba- tiba bulu kuduk Karso dan Romlah meremang. Keduanya merasakan kehadiran sosok didepannya namun keduanya tidak berani membuka mata untuk melihat. Keduanya terus saja tertunduk dengan mata terpejam sembari tak henti- hentinya membaca mantra ritual.


Sebuah gulungan kabut putih berputar- putar di hadapan Karso dan romlah, perlahan- lahan gulungan kabut putih itu berubah menjadi satu sosok tinggi besar. Wujudnya masih samar dan transparan namun nampak jelas kalau wujud tersebut merupakan wujud seekor monyet dengan sebuah mahkota bertengger di kepalanya.

__ADS_1


Karena penasaran merasakan ada sosok lain di hadapannya, Karso memberanikan diri membuka matanya pelan- pelan. Dengan perasaan takut- takut Karso melihat kearah depan yang diyakininya ada sosok lain. Lain halnya dengan Romlah, dia tertunduk semakin dalam sambil terus membaca mantera ritual tanpa terputus. Namun suaranya sedikit bergetar karena menahan rasa takutnya setelah merasakan kehadiran sosok lain.


Deg! Jantung Karso serasa berhenti berdetak ketika dia melihat sesosok mahluk berbulu lebat bertubuh besar dan tinggi sedang berdiri mentapnya dengan seringainya yang menampilkan empat taring di sudut- sudut bibir yang hitam.


“Asss!” Karso dengan reflek segera membekap mulutnya sendiri. Hampir saja dia keceplosan mengucapkan istigfar. Padahal oleh sang kuncen sudah diwanti- wanti untuk tidak memngeluarkan kalimat- kaliman istighar, basmalah, alhamdulilah atau pun membaca surat- surat al quran.


Seketika Karso beringsut mundur dari tempat duduknya, lalu kembali menekuk wajahnya dalam- dalam memejamkan mata rapat- rapat sambil melanjutkan bacaan mantera ritual yang sempat terputus karena terkejut. Sekujur tubuhnya nampak gemetar, peluh di keningnya seketika mulai keluar.


“Hahahaha… hahaha… hahaha…”


Tiba- tiba terdengar suara tawa menggelegar. Suaranya sember dan besar menggema memenuhi sesisi ruangan goa. Karso dan Romlah kian gemetar, tubuhnya bergetar keras sambil terus menundukkan kepalanya dalam- dalam.


“Besok pagi- pagi setelah fajar, kalian ambil kulit- kulit pisang itu sebanyak yang kalian bisa! Nanti Ki Sapto akan menjemput kalian, hahaha… hahaha.. hahaha…” ucap sosok monyet.


Setelah mendengar suara itu Karso dan Romlah seketika saling menoleh berpandangan. Terpancar dari raut wajah sepasang suami istri itu kebahagiaan yang tak terkira. Kemudian secara bersamaan menoleh kearah depan tempat sosok monyet itu berada, namun keduanya tidak menemukan siapapun.


“Pak, bapak kita berhasil! Kita berhasil!” pekik Romlah penuh kegirangan.


“Iy, iya bu, nggak menyangka ternyata cepat. Kata mbah kuncen paling lama tujuh hari dan paling cepat kurang dari tiga hari. Ternyata baru dua malam kita sudah diperbolehkan pulang,” ujar Karso merasa sangat gembira.


********


Ki sapto sangkuncen entah generasi keberapa, sangat jauh rentang waktunya ketika Kosim yang juga melakukan ritual pesugihan. yang jelas suasana dan situasi ritualnya sudah sangat berbeda.


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2