Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Pulang


__ADS_3

10 Hari Jelang Purnama,


Batas hidup manusia mutlak berada pada ketentuan Allah Subhanahu Wata'ala, manusia tidak ada yang bisa memvonis kematian seseorang. Manusia hanya diberikan penglihatan tanda-tanda kematian seseorang melalui tingkah lakunya yang akan nampak mulai dari 100 hari sebelum kematian, 40 hari, 7 hari, 3 hari hingga 1 hari sebelum kematian.


Kosim sudah bertèkad untuk kembali ke rumahnya. Sudah tiga minggu dirinya beserta Arin dan Dede menumpang di rumah Dewi dan Mahmud. Beruntung kakak iparnya sangat sayang dan baik atau lebih tepatnya terlalu baik.


Obrolan saat makan pagi tadi oleh Mahmud dicegah untuk tidak pulang namun sepeninggal Mahmud mengambil motor bersama Abah Dul, entah kenapa timbulbkeinginan yang kuat ingin pulang kembali ke rumahnya.


Selepas Duhur Dewi, Kosim, Arin dan Dede duduk lesehan di lantai teras depan menunggu Mahmud. Dua tas besar berisi pakaian disandarkan pada tiang saka rumah. Kosim memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang sudah tiga minggu lebih ditinggalkan.


Meski Mahmud sudah melarangnya untuk tidak pulang dulu namun Kosim tetap bersikukuh pulang. Dirinya merasa tidak enak hati karena sudah terlalu lama selalu merepotkan Mahmud dan Dewi meskipun kakak iparnya sendiri.


Sementara Mahmud bersama Abah Dul sedang pergi mengambil sepeda motor yang tertinggal di pekuburan Karang Turi kemarin sejak satu jam yang lalu.


Sepeda motor yang dibawa Kosim itu ditemukan warga pagi harinya terparkir ditengah pekuburan dibawah pohon Kamboja besar setelah malam harinya Kosim ditemukan tergeletak ditengah pekuburan. Saat itu Kosim terjebak dalam siasat siluman monyet yang nyaris berhasil membawa nyawanya.


Sepeda motor yang ditemukan warga diamankan di kantor Desa setempat karena warga sekitarnya tidak ada yang mengakuinya. Kabar penemuan sepeda motor di pekuburan itupun viral menjadi perbincangan horor ditengah warga. Hingga kabar tersebut sampai ke telinga Juned teman kerja Kosim di proyek perumahan yang tidak jauh dari lokasi kuburan Karang Turi.


Tidak berapa lama Mahmud pun datang menaiki sepeda motor yang dibawa Kosim. Disusul dibelakangnya Abah Dul menaiki sepeda motornya.


"Loh, loh mau pada kemana?" Tanya Mahmud heran melihat Dewi, Kosim, Arin dan Dede sudah rapih dan melihat ada dua tas besar disebelah Kosim.


Mahmud menyetandarkan sepeda motornya lalu turun dan berdiri dihadapan Kosim, Arin dan Dede kemudian disusul Abah Dul.


"Kamu tetap berniat mau pulang sekarang Sim?" Tanya Mahmud kecewa.


"Iya Mas, sudah tiga minggu lebih rumah ditinggal kosong Mas," jawab Kosim memperkuat alasannya untuk pulang.


"Apa nggak nanti aja Sim?" Sergah Abah Dul.


"Pulang sekarang aja Bah, terlalu lama rumah dibiarkan kosong," Kosim mengulang alasan yang sama.

__ADS_1


"Rin beneran mau pulang sekarang?" Tanya Mahmud berharap Arin mencegah niat Kosim.


"Iya Mas Mahmud. Mas Kosimnya pengen pulang sekarang aja," jawab Arin.


Mahmud dan Abah Dul terdiam hanya saling padang, keduanya tidak bisa berkata-kata lagi untuk mencegahnya. Nampaknya Kosim sudah benar-benar ingin pulang ke rumahnya.


"Ya sudah kalau kamu tetap maksa sih, nanti cepat kabari kalau ada apa-apa ya..." ucap Mahmud.


"Iya Mas, terima kasih sudah banyak membantu saya dan keluarga, mohon maaf jika selama disini banyak merrpotkan" ujar Kosim sambil menjabat tangan Mahmud.


Mahmud hanya mengangguk tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ada kekecewaan berbaur dengan cemas yang tergurat diwajahnya. Di lubuk hatì terdalam dia khawatir dengan situasi dan kondisi Kosim beserta keluarganya karen ancaman mahluk gaib dirasakannya belum berakhir.


"Bah, matur nuwun pisan," Kosim menjabat tangan Abah Dul.


"Iya Sim sama-sama, hati-hati ya," balas Abah Dul.


"Mbak Dewi terima kasih banyak ya," ucap Kosim menyalami Dewi.


Disusul Arin dan Dede menyalami Dewi, Mahmud dan Abah Dul.


......................


Istana Siluman Monyet,


"Hahahahahaha... berhasil, berhasil! Bagus, bagus Anggada Suri kamu berhasil membuat manusia bernama Kosim itu keluar dari rumah itu. Mari kita rayakan keberhasilan ini sambil menunggu Purnama tiba, hahahahaha...!" Seru Raja Kalas Pati.


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."

__ADS_1


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."


Suara gelak tawa kemenangan para Petinggi Kerajaan Siluman Monyet menggetarkan ruangan utama istana diiringi gemuruh petir bersahutan dari atas istana siluman monyet. Situasi yang sangat menggidikkan andai saja terlihat oleh manusia.


Raut muka Raja Kalas Pati dibuat sumringah karena siasatnya kali ini berhasil menghasut Kosim untuk tidak tinggal di rumah Mahmud. Dengan perginya Kosim dari rumah itu membuat penjagaan terhadap Kosim menjadi longgar dan bisa lebih leluasa mengambil nyawa Kosim dan anaknya, begitu pikir Raja Kalas Pati.


Selama ini mereka selalu gagal menjemput nyawa Kosim atau anaknya karena berada dalam pengawasan Abah Dul dan sahabat-sahabatnya. Bahkan sudah banyak para Petingginya yang dimusnahkan oleh Abah Dul.


Dengan keluarnya Kosim dari rumah Mahmud kesempatan menjemput tumbal menurut perkiraan Raja Kalas Pati akan lebih mudah karena pengawasannya tidak seketat di rumah Mahmud.


"Ayo cepat bawakan makanan-makanan yang lezat, hahahahaha...!" Seru Raja Kalas Pati dengan suara menggelegar.


Tidak lama kemudian masuk serombongan sosok manusia tertatih-tatih berbaris rapih sambil memikul panggangan kambing utuh yang ditusuk besi. Ada yang memikul bejana berisi minuman, ada yang membawa buah-buahan serta berbagai makanan lainnya, semuanya diletakkan dihadapan Raja Kalas Pati dan para Petinggi kerajaan siluman monyet.


Serombongan sosok manusia perempuan dengan pakaian setengah telanjang berdiri menunggu alunan musik untuk menari menghibur Raja Kalas Pati dan para Petingginya. Layaknya sebuah pesta besar para siluman itu berpesta pora.


"Ayo, makanlah sepuasnya...!!! Ayo makan, makan, hahahaha...!!!" Seru Raja Kalas Pati.


Ratusan para petinggi siluman monyet langsung berebut makanan setelah Raja Kalas Pati selesai berseru. Musik tetabuhan langsung dibunyikan dan sosok manusia pun menari-nari mengikuti irama musik yang tak beraturan.


Puluhan sosok manusia-manusia yang membawa beragam makanan dan yang menari itu tidak lain adalah manusia-manusia yang telah menjadi tumbal atau yang ditumbalkan dan melanjutkan hidupnya menjadi budak siluman monyet.


"Nyit... nyit... nyittt..!


"Nyit... nyit... nyittt..!


"Nyit... nyit... nyittt..!


Riuh ramai gelak tawa berbaur dengan musik tetabuhan memenuhi ruang utama istana siluman monyet. Raja Kalas Pati benar-benar dibuat senang, rencana siasatnya berhasil dijalankan oleh anak buahnya.

__ADS_1


Tinggal menunggu waktu Purnama tiba sesuai yang direncakan Raja Kalas Pati untuk penjemputan nyawa Kosim dan anaknya. Raja Kalas Pati berubah pikiran kini tidak lagi menuntut satu nyawa saja melainkan dua nyawa sekaligus untuk mengganti musnahnya puluhan Petinggi-petingginya, yakni nyawa Kosim dan putranya yang berusia 3 tahunan.


......................


__ADS_2