
Sekitar jam 6 pagi, Mahmud bergegas pergi ke rumah Abah Dul yang berada di gang sebelah yang jaraknya hanya 50 meteran dari rumahnya. Di tangan kanan Mahmud menenteng sepasang sandal slop milik Abah Dul.
Sepanjang jalan tak henti-hentinya Mahmud memikirkan perginya Abah Dul dari rumahnya, tak biasanya Abah Dul pulang tanpa memberitahu dan yang membuat Mahmud terheran-heran soal sandalnya yang masih tergeletak di depan teras.
"Masa sih Abah Dul pulang ngeloyor begitu saja, nggak mungkin juga dia sampai lupa dengan sandalnya," batinnya.
Saat tiba di depan rumah minimalis bercat putih, Mahmud berhenti ragu-ragu memperhatikan suasana rumah Abah Dul yang nampak sepi. Beberapa saat Mahmud diam terpaku, sempat terbersit di pikirannya kalau Abah Dul sedang tidur dan berniat balik badan saja kembali pulang. Namun bersamaan itu pintu rumah tanpa pagar itu dibuka dari dalam.
Seorang wanita 50 tahunan keluar dan melihat Mahmud langsung menyapanya, “Mud, sendirian? Nggak sama Dul?,” tanya ibu Abah Dul.
Mulut Mahmud seketika kelu, dia sangat bingung mau menjawab apa. Karena tujuannya datang ke rumah itu untuk menanyakan Abah Dul akan tetapi lebih dulu di sambut dengan pertanyaan Ibu Dul yang juga menanyakannya.
“A, anu bi, justru saya kesini juga mau menanyakan Dul. Ini sandalnya masih ada di rumah saya tapi Dulnya nggak ada, saya kira Dul sudah pulang,” jawab Mahmud kemudian menyerahkan sandal yang di bawanya.
“Loh, Mud... Dul dari semalam belum pulang,” wanita itu mengerutkan dahinya dalam-dalam sambil menerima sandal Abah Dul yang di berikan Mahmud.
“Duh, kemana ya bi?!” tanya Mahmud menggaruk-garuk kepalanya.
Nampaknya ibu Dul tidak begitu mengkhawatirkan dengan tidak pulangnya Abah Dul karena memang sudah terbiasa dengan aktifitasnya. Akan tetapi lain halnya dengan Mahmud, ia sangat mengkhawatirkan tidak adanya Abah Dul di rumahnya. Bagaimana tidak, jelas-jelas Abah Dul tidak diketahui keberadaannya bermula dari rumahnya, buktinya sangat jelas dengan tertinggalnya sandal Abah Dul.
"Ya sudah bi, saya pulang lagi.." ucap Mahmud.
Mahmud pun balik badan melangkah pulang kembali dengan beragam tanda tanya di kepalanya. Mungkin akan lain ceritanya apabila Abah Dul pergi dari rumah Mahmud berikut dengan sandalnya, bisa ada saja Abah Dul sedang pergi ada urusan atau sedang di mintai tolong oleh orang.
......................
Sementara itu di waktu yang sama, di pemukiman kediaman Tuan Denta, nampak puluhan prajurit sebagian berbaris di jalanan dan sebagian lagi berpencaran sedang mencari buruan mereka dengan memeriksa setiap rumah. Prajurit-prajurit kerajaan itu memasuki dari rumah ke rumah lalu tak lama kemudian keluar lagi dengan wajah kecewa dan geram.
Kejadian pertarungan di jalanan kota beberapa saat lalu langsung membuat gempar pihak kerajaan sehingga memerintahkan para prajurit mencari keberadaan dua mahluk asing tersebut. Bagaimana Raja Azazil tidak murka, prajurit-prajurit yang bertugas memungut upetinya di buat babak belur oleh dua mahluk asing. Raja Azazil pun langsung bereaksi menaruh kewaspadaan tinggi terhadap kedatangan dua mahluk asing tersebut yang menurut mereka akan menjadi ancaman di negerinya.
Dua mahluk asing yang di cari Kerajaan Jin itu tak lain adalah Abah Dul dan Kosim yang kini berada di kediaman tuan Denta. Saat ketiganya sedang terlibat obrolan serius seputar maksud dan tujuan Abah Dul dan Kosim, tiba-tiba mereka mendengar derap langkah dari luar kediaman tuan Denta. Wajah tuan Denta seketika berubah menegang, ia segera mengedarkan pandangan dengan kekuatan yang dimilikinya untuk melihat apa yang ada di luar tempat tinggalnya.
"Gawat!" pekik tuan Denta.
__ADS_1
Abah Dul dan Kosim pun terperangah melihat reaksi mengejutkan dari tuan Denta sekaligus kebingungan karena tidak tahu apa yang di maksud 'gawat' oleh tuan Denta.
"Ada apa tuan Denta?!" sergah Abah Dul.
"Benar dugaanku kalau kalian akan menjadi buruan kerajaan. Sekarang ini di luar ada sepasukan kerjaaan sedang mencari kalian berdua!" bisik tuan Denta menekan suaranya.
Wajah Abah Dul dan Kosim langsung berubah panik, seraya bekata; "Kami harus bagaimana tuan?!" tanya Kosim.
"Ayo, kita lari dari sini. Ikuti aku!" seru tuan Denta langsung beranjak berdiri.
Tuan Denta bergegas meninggalkan kediamannya diikuti Abah Dul dan Kosim yang mengekor di belakangnya. Tuan Denta cepat-cepat melangkah ke bagian sudut ruangan yang terdapat alas berbentuk kotak menutupi lantai. Ia lantas menyibak hamparan alas yang terbuat dari kulit binatang itu. Lalu nampaklah sebuah lobang gelap seukuran tubuh orang dewasa.
"Ayo cepat masuk!" seru tuan Denta.
Tanpa bertanya-tanya lagi, Abah Dul dan Kosim langsung mendahului tuan Denta memasuki lorong gelap itu disusul tuan Denta dengan menutup kembali alas yang menutupi lubang tersebut. Bersamaan menutupnya alas lobang, terdengar suara pintu di dobrak.
Braakkkk!
20 prajurit menggenggam pedang berhasil mendobrak pintu kediaman tuan Denta. Wajah-wajah beringas langsung menyebar kesegala arah, pandangan mata para prajurit menyapu seluruh ruangan yang tak terlalu besar itu. Lalu salah satu prajurit mendapati tiga gelas yang sudah kosong isinya diatas batu yang dijadikan sebagai meja tersebut. Kemudian prajurit itu mendekatkan penciumannya ke tiga gelas dan mengendus-endusnya.
"Mereka baru saja ada di sini! Ayo cari di sekitar kediaman ini!" perintah pimpinan pasukkan tiba-tiba muncul di pintu setelah memdengar teriakkan salah satu prajuritnya.
"Kurang ajar si Denta bangka! Dia bersekongkol dengan mahluk asing itu!" teriak pimpinan prajurit geram.
Setelah beberapa saat lamanya para prajurit kerajaan itu saling melaporkan kalau di tempat tinggal Denta tidak menemukan apapun, mereka pun lantas meninggalkan kediaman rumah tuan Denta tersebut penuh kegeraman.
"Cari lagi sampai ketemu!" perintah pemimpin pasukan sambil berlalu keluar dari kediaman tuan Denta.
......................
Didalam lorong yang akan di lewati Abah Dul dan Kosim, keduanya berdiri diam di tempat karena melihat di depannya suasana lorong gelap gulita sehingga membuat tuan Denta menabrak punggung Kosim yang berdiri di belakang Abah Dul.
“Aduh!” Pekik Kosim reflek.
__ADS_1
Tuan Denta baru menyadari kalau lorong itu gelap gulita, kemudian menepuk tangannya tiga kali.
Plak... plak.. plak!
Seketika api-api berwarna kuning kemerahan menyala dari obor-obor yang menempel pada dinding-dinding lorong yang langsung menerangi lorong itu. Kini Abah Dul dan Kosim dapat melihat isi lorong itu yang ternyata jalan di depannya tidak sesempit saat pertama kali turun. Bahkan jalan di depannya semakin dalam jalan itu semakin melebar.
Tuan Denta melangkah mendahului Abah Dul dan Kosim untuk menuntun jalannya. Suasana di dalam lorong sangat senyap namun anehnya hawanya terasa sejuk bahkan terkesan dingin.
Sepanjang melangkah tak ada obrolan apapun, Abah Dul dan Kosim terus saja melangkah mengikuti tuan Denta yang berjalan di depan tanpa ada keraguan sedikit pun. Sepertinya tuan Denta sudah sangat terbiasa melalui lorong itu.
Beberapa saat lamanya dalam jarak 20 langkah, Abah Dul dan Kosim melihat ada secercah cahaya yang membias dari atas.
“Cahaya apa itu tuan?!” Tanya Kosim heran.
“Itu jalan keluar menuju atas,” sahut tuan Denta tanpa menoleh.
Tak lama kemudian ketiganya sudah sampai dibawah sinaran cahaya itu. Di hadapan meraka nampak tumpukkan batu yang menyerupai tangga mengarah keatas. Perlahan-lahan tuan Denta menaiki undakkan-undakkan batu itu menuju keatas.
Sesaat kemudian tuan Denta menyibak-nyibak kayu dan ranting-ranting yang menutupi atas lobang lalu perlahan melongokkan kepalanya keluar dari lobang dan memutarkan kepalanya sejenak memperhatikan situasi diatas.
“Ayo keluar!” seru tuan Denta melompat keluar dari mulut lobang.
Abah Dul dan Kosim pun mengikuti tuan Denta keluar dari lobang lorong itu. Begitu keduanya berada diatas, Abah Dul dan Kosim terheran-heran melihat sekelilingnya. Sejauh mata memandang hanya semak belukar serta banyak pepohonan raksasa yang menjulang tinggi.
"Dimana ini tuan?!" tanya Abah Dul tak bisa menutupi keheranannya.
"Untuk sementara kita aman disini. Ini adalah hutan terlarang, siapapun tidak akan ada yang berani datang kesini." ujar tuan Denta.
Abah Dul terheran-heran memandang takjub sekitarnya sambil mendongak keatas, meskipun rapat oleh dedaunan pohon-pohon raksasa namun suasananya sama saja dengan suasana di kediaman tuan Denta, seperti suasana senja dan cukup terang menerangi tempatnya berdiri.
Tuan Denta kemudian mengajak Abah Dul dan Kosim untuk duduk setelah menutupi kembali lubang lorong itu dengan ranting dan dedaunan.
Siapa sebenarnya tuan Denta? pertanyaan itulah yang memenuhi isi kepala Abah Dul. Lalu apakah setiap warga di pemukiman ini memiliki jalur rahasia seperti tuan Denta?
__ADS_1
......................
🔴BERSAMBUNG....