
Beberapa pamong desa yang kebetulan sudah datang ke kantor itu langsung berhamburan keluar dan bersamaan melihat pak Diman berlari keci kearah mereka.
“Ada apa pak Diman, kelihatannya panik?!” tanya pak Bekel yang turut melihat keluar saat mendengar suara decitan mobil.
“Tolong pak Bekel cepat!” kata pak Diman.
“Tolong apa pak Diman?!” tanya pak Bekel bingung.
“Itu pak, itu..” pak Diman tergagap untuk menjelaskannya saking terbawa emosi.
“Iya itu kenapa pak? Tenang, tenang dulu pak Diman. Tarik nafas lalu keluarkan pelan- pelan, ceritakan apa yang terjadi?” tanya pak Bekel berupaya menenangkan pak Diman.
Pak Diman pun tanpa sadar menuruti saran dari pak Bekel. Spontan Pak Diman menarik nafas kuat- kuat lalu menghembuskannya pelan- pelan seperti yang diucapkan pak Bekel.
“Begini pak, tadi kami di rampok di hutan lindung sana. Dan itu, itu pe, perampoknya ada disana! Ya, mobil perampoknya berhenti di warungnya pak Samin! Ayo pak kita tangkap mereka!” ungkap pak Diman.
Keterangan pak Diman kontan saja membuat pamong- pamong tersulut amarahnya, begitu juga dengan beberapa warga yang kebetulan berada di sekitar kantor balai desa.
“Ayo kesana kita tangkap mereka!” seru pak Bekel.
“Ayo..!” sahut yang lain serempak.
Jarak antara balai Desa dengan lokasi warung pak Samin dimana para komplotan perampok tadi sedang beristirahat tidak begitu jauh, hanya 20 meter saja. Para pamong desa beserta warga langsung beramai- ramai
menuju warung pak samin. Mereka membekali diri dengan alat seadanya yang mereka temukan disekitar mereka.
Beberapa menit yang lalu,
Para komplotan perampok yang tengah fokus membicarakan keanehan pada aksi mereka, sama sekali tidak ada yang melihat dan memperhatikan saat ada sebuah mobil Terios warna Silver melintasi mereka. Mereka terus saja berdebat dengan sesama rekannya sendiri karena salah satu dari mereka tidak melihatnya langsung tentang keanehan yang dialami kelima temannya.
__ADS_1
Saat perdebatan itu masih berlangsung, tiba- tiba para komplotan perampok itu mendengar teriakkan dari kejauhan. Seketika keenam perampok itu menoleh dan melihat banyak warga sedang berlari di jalan Desa tersebut.
“Wah, ada tawuran antar desa nih!” seru salah seorang dari komplotan rampok.
Merasa tidak memiliki masalah dengan warga desa setempat, para komplotan perampok tersebut terus saja menonton rombongan warga yang berjalan sambil mengacung- acungkan berbagai senjata di tangannya. Jaraknya kian mendekat, tapi para komplotan perampok itu malah asyik menontonnya.
Saat rombongan puluhan warga sudah mulai mendekat, para komplotan perampok mulai merasakan ada yang tidak beres. Perasaan mereka merasa tidak enak melihat puluhan warga tersebut sepertinya sedang menuju ke tempat mereka.
“Itu perampoknyaaaaa….!!!” Teriak pak Diman.
Saat itu juga puluhan warga berlarian sekencang- kencangnya menuju tempat para kmomplotan rampok minum- minum. Warga lalu mengepungnya dari semua arah sambil mengacungkan berbagai alat ditangan mereka tinggi- tinggi. Ada parang, golok, celurit, kayu balok, batang besi bahkan batu sebesar telapak kaki orang dewasa.
Melihat gelagat buruk, pemimpin perampok langsung memasukkan tangannya ke balik baju dimana biasa pistilnya tersimpan. Akan tetapi alangkah terkejutnya pemimpin perampok itu, manakala tidak mendapati pistolnya yang biasa selalu diselipkan dipinggangnya. Pemimpin rampok itu baru ingat kalau pistolnya ia simpan di dalam dashboard mobil sebelum turun ke warung tadi.
“Mampus kita!” pekik pemimpin perampok.
Keenam komplotan perampok seketika panik dan ketakutan melihat semakin banyaknya warga yang berdatangan dan mengepungnya. Mereka tak bisa melakukan apa- apa, jangankan untuk melawan, untuk sekedar menggerakkan kakinya saja sudah tidak mampu saking takutnya melihat senjata- senjata tajam teracung kearah mereka.
“Bakar! Bakar!”
Teriakkan –teriakan provokatif tersebut semakin menyulut emosi warga desa Palu Wesi membuat mereka semakin beringas. Tiba- tiba saja, sebuah batu besar meluncur deras dari tengah- tengah kerumunan warga yang mengepung komplotan perampok. Batu sebesar sebesar batu bata melayang kencang kearah kepala salah satu komplotan perampok yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi.
Bukkk!
Batu itu tepat mengenai kepala bagian depan salah satu komplotan perampok hingga membuatnya seketika jatuh terjengkang menimpa meja di belakangnya. Kontan saja botol- botol minuman diatasnya terpelanting berserakan kemana- mana.
Lemparan batu dari salah seorang warga tersebut berakibat fatal! Bukan saja membuat salah satu komplotan perampok terjungkal dan tak bergerak lagi, ternyata lemparan batu itu seperti sebuah komando yang tak bersuara membuat semua warga menyerbu merangsak untuk mengeroyok ke 5 komplotan perampok yang masih berdiri ketakutan.
“Ampuuun…! Ampuuun…!!!”
__ADS_1
“Ampuuun…! Ampuuun…!!!”
“Ampuuun…! Ampuuun…!!!”
Seketika itu juga hujaman berbagai senjata tajam dan senjata tumpul menghujani tubuh ke lima komplotan perampok menenggelamkan suara teriakkan minta ampun para perampok.
Dorrr..!!! Dorrr…!!! Dorrr…!!!
Tiba- tiba terdengar suara tembakan tiga kali. Saat itu juga warga yang mengeroyok komplotan perampok langsung tersurut meundur dan menghentikan aksi penganiayaan.
“Jangan main hakim sendiri! Mundur semuanya!” teriak seorang berpakaian polisi.
Seketika kerumunan warga yang mengeroyok para komplotan perampok serentak mundur beberapa langkah sehingga tampak membentuk sebuah formasi lingkaran secara alami. Terlihat ada 3 orang anggota polisi dan 2 orang berpakaian seragam tentara menyeruak ditengah- tengah warga yang mengelilingi komplotan perampok.
“Serahkan kepada kami! Jangan main hakim sendiri, karena ini adalah negara hukum!” tegas anggota polisi yang menggenggam pistol yang masih diacungkan keatas.
Beruntung pak Bekel langsung menelpon pihak kepolisian yang secara kebetulan sudah berada di acara Nazar syukurannya pak Harjo yang tak jauh dari lokasi kejadian. Sehingga nyawa ke- 6 perampok tersebut tak jadi melayang sia- sia ditangan para warga desa Palu Wesi.
“Biar kami bawa para perampok ini ke kantor polisi. Sekaligus untuk pengembangan kasusnya. Jika saja bapak- bapak sampai membunuhnya, bukan hanya kalian juga terkena pidana tapi juga akan menyulitkan kepolisian dalam mengembangkan perbuatan mereka dan mempertanggung jawabkannya!” seru anggota tentara yang merupakan Babinkamtibmas di desa tersebut.
Perlahan- lahan warga pun mulai menurunkan senjata- senjata yang tanpa sadar sedari tadi teracung. diri, warga mulai memberikan jalan kepada anggota polisi dan tentara saat membawanya keatas mobil pick up polisi.
“Huuuuuhhh mampus!” teriak beberapa warga.
“Syukurrrrinnn!!!” teriak beberapa warga menimpali.
Teriakkan- teriakkan makian terus mengiringi mobil polisi yang membawa komplotan perampok pergi meninggalkan lokasi kejadian. Dan warga pun beramai- ramai membubarkan diri meninggalkan lokasi tersebut sebagian besar menuju rumah pak Harjo yang sedang menggelar acara Nazar Syukuran.
Sementara itu pak Diman yang tadinya hendak ikut mendatangi para komplotan perampok mengurungkan niatnya karena Dewi melarang pak Diman ikut. Dewi meminta pak Diman untuk tetap tinggal menemaninya dan juga Arin serta Dede.
__ADS_1
Saat itu juga pak Diman menyadari kalau Dewi dan Arin adalah tanggung jawabnya, akhirnya pak Diman pun mengurungkan niatnya ikut bersama warga mendatangi para perampok untuk melampiaskan dendamnya.
** BERSAMBUNG