
Kabar kembalinya Abah Dul saat itu juga langsung tersebar diketahui warga desa Sukadami, sehingga 30 menit kemudian warga masyarakat berbondong-bondong mendatangi rumah Mahmud tak terkecuali pak Sobirin dan istrinya, yang merupakan orang tua Abah Dul.
Jam menunjukkan pukul 10 malam, rumah Mahmud kian bertambah ramai oleh warga yang penasaran ingin melihat Abah Dul sekaligus ingin mengetahui ceritanya langsung. Di teras rumah Mahmud maupun di ruang tamu sudah sesak oleh warga baik laki-laki maupun wanita serta anak-anak duduk mendengarkan cerita kemunculan Abah Dul yang diceritakan oleh Mang Soleh, Tisna, Gopar, Kasno dan Jafar.
"Saya duduk disini nih, tiba-tiba badan saya seperti di jorokin gitu. Sampe kepala saya kejedot lantai, kita semua kaget sudah ada Abah Dul di tempat saya duduk tuh," ungkap Mang Soleh antusias menunjuk tempat kejadian.
"Dari mana munculnya mang?" celetuk salah seorang warga.
"Ya nggak tahu, muncul tiba-tiba saja!" sahut Mang Soleh.
"Saya aja sampe kaget mau lari!" ujar Gopar.
"Darimana kira-kira Abah Dul ya?" celetuk seorang warga.
"Abah Dul bener-bener sakti!" timpal yang lain.
Sementara itu di ruang tengah, Abah Dul mendadak jadi selebriti menjadi pusat tontonan warga yang penasaran ingin melihat langsung sosok Abah Dul setelah 3 hari menghilang. Di ruangan itu terlihat Abah Dul di temani Mahmud, Dewi, Arin serta kedua orang tuanya duduk santai bersandar pada tembok sambil merokok dengan di kerumuni warga yang duduk menghadap Abah Dul.
Abah Dul sendiri masih belum sepenuhnya menyadari dan tidak tahu sama sekali kalau kepergiannya ke alam Jin itu sudah 3 hari. Dirinya merasa baru 2 atau 3 jam-an berada di alam Jin. Makanya ia sedikit heran kenapa warga pada berbondong-bondong ingin melihatnya seolah-olah melihat sesuatu yang ajaib saja begitu dirinya kembali.
"Mud, kenapa orang-orang kelihatannya pada aneh begitu melihat saya?" bisik Abah Dul pada Mahmud.
Mahmud nampak bingung mesti dari mana untuk menjelaskannya. Sepertinya Abah Dul sendiri tidak nampak ada kepanikan atau cemas di wajahnya, lain dengan Mahmud dan juga semua warga yang selama beberapa hari berupaya melakukan pencarian dengan berbagai cara.
"Begini bah, Abah Dul itu menghilang tidak ada yang mengetahui keberadaannya. Yang menjadi tanda tanya sandal Abah masih ada di depan teras rumah, kita disini sama warga itu sangat cemas dan berupaya melakukan pencarian Bah," ungkap Mahmud.
"Iya Bah, Abah Dul dari mana sih? Kita semua nyari loh Bah!" celetuk pak RT.
"Iya Bah! Kita semua khawatir!" sahut yang lain.
"Lah, cuma dua jam saja sampe pada panik pake di cari-cari segala," ujar Abah Dul heran.
"Hah? Dua jam?" sergah Mahmud.
__ADS_1
"Sudah tiga hari bah, Abah hilang!" timpal pak RT.
"Hah?! tiga hari?!" Giliran Abah Dul yang terkaget-kaget.
"Iya Bah, sudah tiga hari Abah hilang!" tegas Mahmud.
"Beneran? tiga hari?!" Tanya Abah Dul sambil melihat semua orang yang ada di ruang tengah.
"Iya Baaah, Abah hilang sudah tiga hari!" ujar pak RT meyakinkan Abah Dul.
"Ceritain dong Bah, darimana dan apa yang terjadi selama Abah menghilang," seru ibu-ibu.
"Iya bah, ceritain..." timpal yang lain.
Abah Dul senyum-senyum namun masih sedikit tidak percaya dengan yang dialaminya. Sebab dirinya merasa baru sebentar berada di alam jin tetapi warga mengatakan sudah tiga hari. Menanggapi permintaan warga itu rasanya tidak mungkin, semua yang di alami saat berada di alam Jin tidak ada satu cerita pun yang dapat di bagikan untuk umum. Semua peristiwa itu sangat tidak masuk akal jika di ceritakan dan tidak ada gunanya pula orang lain mengetahuinya.
"Sudah, sudah... nanti saja ceritanya ya ibu-ibu, bapak-bapak.. Sekarang sudah malam, sebaiknya sampeyan-sampeyan pulang saja ya..." ucap Abah Dul menghindari permintaan warga.
......................
Seorang kakek dengan pakaian serba hitam dan memakai ikat kepala bercorak batik dan sudah lusuh terlihat masih cukup lincah dan gesit berjalan menapaki tanah dan bebatuan yang menanjak. Ditangan kanan kakek memegang sebilah tongkat yang dijadikan sebagai alat penyangga beban tubuh untuk meringankan langkahnya. Dibelakang si kakek, seorang pemuda menggendong ransel di punggungnya berjalan terengah-engah mengejarnya karena jaraknya tertinggal cukup jauh sekitar 20 langkah dari si kakek.
"Cepat Cung! Sebentar lagi malam, akan sangat sulit menemukan jalan kesana!" seru kakek sambil menoleh kebelakang.
Anak muda itu mendongakkan kepalanya sejenak melihat si kakek berseru sambil mengambil nafasnya yang sudah kepayahan. Lalu kembali melanjutkan langkahnya sedikit lebih dipercepat.
Cahaya matahari di ufuk barat nampak jelas menyemburatkan warna jingga yang menunjukkan kalau sebentar lagi pergantian waktu dari siang ke malam akan segera tiba.
Kakek itu tak lain adalah Ki Suta, kuncen pesugihan monyet yang menggantikan mbah Utung. Dia sedang menuntun seorang pemuda yang hendak mengabdikan dirinya menjalani ritual pesugihan. Ki Suta membawa calon pengabdi siluman monyet itu ke sebuah goa yang terletak lebih keatas dari tempat pondokkannya.
Berbeda dengan mbah Utung yang menjalani ritual pesugihan cukup di dalam pondokkannya saja, Ki Suta membawanya ke tempat khusus ke sebuah goa yang sebelumnya di jadikan sebagai tempat pemujaan mbah Utung. hal itu atas saran dari Raja Kalas Pati, selain karena di dalam goa memiliki pelindung gaib yang kuat juga untuk menghindari agar kejadian yang pernah dialami mbah Utung tidak terulang kembali saat menuntun Kosim yang gagal menjalani ritual.
Beberapa saat lamanya akhirnya Ki Suta sampai di mulut goa, disusul pemuda 10 menit berikutnya. Mulut goa itu nampak tak terlalu besar, lebarnya hanya muat dimasuki satu orang.
__ADS_1
Keduanya duduk untuk beristirahat sejenak diatas batu-batu besar dengan nafas yang masih tersengal-sengal kelelahan.
Cuaca sudah nampak redup sebentar lagi memasuki malam hari. Ki Suta bangkit berdiri lalu berjalan mengambil sebatang obor yang tergeletak di pojok pintu masuk goa. Dari saku baju komborannya ia mengambil korek untuk menyalakan api pada obor tersebut.
Tiupan angin yang membawa udara dingin pegunungan Ng mulai terasa sekaligus menggoyang-goyangkan lidah api yang menyala di obor itu.
“Cung, kamu tunggu di luar dulu, saya akan menyiapkan semua keperluan ritualnya,” kata Ki Suta kemudian masuk lebih dulu.
“Baik Ki,” sahut pemuda.
Di dalam goa, Ki Suta mulai duduk menghadap dinding yang dibawahnya terdapat sebongkah batu besar yang dijadikan sebagai altar. Ia mulai membuka buntalan kain yang di bawanya. Terdapat beraneka ragam kembang, lilin, kemenyan serta pedupaan yang terlihat masih baru.
Cahaya dari obor yang letakkan pada celah dinding goa cukup dapat menerangi seisi goa yang tidak terlalu besar, mungkin muat ditempati dua atau tiga orang saja.
Beberapa saat lamanya Ki Suta berada di dalam goa untuk mempersiapkan ritual pemujaan untuk pemuda tersebut lalu keluar dan meminta pemuda itu untuk masuk ke dalam goa.
Ki Suta memberikan petunjuk dan arahan pada pemuda yang duduk bersila menghadap batu altar. Setelah semua arahannya dapat dimengerti oleh pemuda itu, lalu Ki Suta mulai menyalakan 3 lilin merah sebesar genggaman tangan orang dewasa. Sesaat kemudian cahaya dari lilin-lilin itu menambah terang menerangi didalam goa.
Kemudian Ki Suta meninggalkan pemuda itu sendirian di dalam goa, sementara Ki Suta keluar dan kembali turun kembali menuju pondokkannya yang berjarak sekitar 1 km dari lokasi goa.
Sepanjang kaki melangkah dalam perjalanan kembali ke pondokkan, Ki Suta tak henti-hentinya tersenyum atau tepatnya menyeringai penuh kebahagiaan. Ya, Ki Suta sangat bahagia karena sudah terbayang upah yang akan didapatnya dari Raja Siluman Monyet manakala dia berhasil menuntun setiap orang yang menjalani pesugihan.
“Kini saatnya aku mencari tahu orang yang membunuh kakang Utung!” ucap Ki Suta, setelah sampai di pondokkannya.
Di dalam ruangan pondokkan disambut bau kemenyan dengan suasana yang temaram, satu-satunya cahaya yang membias masuk berasal dari obor di depan pondokkan yang nempel di dinding pojok dekat pintu.
Ki Suta duduk bersila menghadapi pedupaan yang mengeluarkan asap sumber dari bau kemenyan itu. Ia memejamkan matanya sambil komat-kamit membaca mantera. Sesaat kemudian mulutnya berhenti bergerak begitupun dengan seluruh anggota tubuhnya.
Bersamaan dengan itu sebuah cahaya merah melesat keatas keluar dari tubuh Ki Suta menuju kearah utara.
......................
🔴BERSAMBUNG....
__ADS_1