
‘Tempat kediaman tuan Denta?! Bukankah dia dari golongan jin?!’ dalam hati Mahmud bertanya- tanya sekaligus bertambah bingung. Sebab yang dia tahu kalau tuan Denta itu mahluk jin, jadi tidak mungkin hidup di alam siluman apalagi berada di wilayah kekuasaan Raja
Kalas Pati, yang merupakan pemimpin Raja Siluman Monyet.
“Mmm… Maaf tuan, bukankah tuan Denta
berasal dari golongan jin?” tanya Mahmud akhirnya menyampaikan kebingungannya.
“Benar tuan Mahmud,” jawab tuan Denta.
“ Tapi Tuan Denta bilang tempat ini kediaman tuan, bukankah kita ini sedang berada di alam siluman?” tanya Mahmud.
Tuan Denta seketika tersenyum bahkan setengah tertawa mendengar pertanyaan Mahmud. Sepertinya Mahmud tidak mnyadari
dan tidak mengetahui dimana ia berada saat ini, begitu pikir tuan Denta.
"Coba tuan ingat- ingat dannperhatikan disekitar tuan saat tuan menemukan reruntuhan istana ini," ucap tuan Denta.
Mahmud pun terdiam kepalanya mendongak menerawang, ia sepontan mengingat- ingat kembali ketika dirinya pertama kali tersadar dan membuka matanya. Saat itu yang dia lihat pohon- pohon raksasa dan semak belukar. Namun Mahmud masih belum mengerti maksud ucapan tuan Denta.
“Saat saya membuka mata, saya telah berada di tempat ini tuan. Dan hanya ada pohon- pohon besar sampai akhirnya saya melihat menara bangunan ini dari jauh. Saya pikir ini masih berada di alam siluman tapi…” Mahmud menghentikan ucapannya sembari memikirkan sesuatu.
“Tapi apa tuan?” sela tuan Denta melihat Mahmud nampak bingung.
“Iya tapi saya merasa alam iniini memang berbeda dengan sebelumnya pada saat saya menghadapi Raja Kalas Pati,” lanjut Mahmud.
“Benar tuan, sebab tuan kini berada di alam jin, hehehe…” jelas tuan Denta tertawa kecil.
“Lalu kenapa tuan Denta juga tiba- tiba berada disini dan dalam keadaan terluka parah?” tanya Mahmud.
__ADS_1
Sesaat kemudian setelah mengambil nafas dalam- dalam, tuan Denta pun menceritakan mengapa dirinya sampai pulang ke alam jin.
“Ketika terjadi benturan oleh cahaya putih yang pertama yang menabrak tongkat emas raja Kalas Pati itu aku bersama raja Kajiman terpental dan jatuh dengan telak kebawah. Aku tidak tahu siapa yang melancarkan cahaya putih untuk menangkal laju tongkat emas Raja Kalas Pati
yang menyerangku dan raja Kajiman. Namun tak lama setelah aku dan raja kajiman masih tersungkur tiba- tiba tongkat emas Raja Kalas Pati kembali meluncur deras ke arahku,” tuan Denta berhenti untuk menghela nafas sejenak kemudian melanjutkan ceritanya. Sementara Mahmud masih sabar menunggu tuan Denta
melanjutkan ceritanya.
“Aku sudah tak sanggup lagi untuk menghindari hujaman tongkat emas tersebut karena aku merasakan seluruh tubuhku terluka dan terasa seperti terbakar dari dalam. Mungkin terkena efek yang berasal dari kekuatan tongkat emas raja Kalas Pati. Aku masih sempat melihat
detik- detik terakhir luncuran tongkat emas yang melaju dengan cepat diatas kepalaku,” ungkap tuan Denta kembali berhenti untuk mengambil nafas.
“Lalu apa yang terjadi selanjutnya tuan?!” tanya Mahmud sangat penasaran.
“Karena untuk menghindar rasanya sudah tidak mungkin lagi akan tetapi aku juga tidak mau musnah dengan konyol di tempat siluman itu, secara sepontan terlintas dalam pikiranku untuk melarikan diri. Dan dengan membaca mantra, seketika tubuhku lenyap dan berpindah utnuk
pulang ke alamku, tapi entah apa yang terjadi dengan Raja Kajiman, aku tidak sempat melihatnya,” tutup tuan Denta mengakhiri ceritanya.
“Tapi maaf tuan, lalu kenapa saya juga bisa sampai terlempar hingga memasuki alam jin?” tanya Mahmud.
“Tuan, batasan alam siluman dan alam jin itu begitu tipis dan tidak terduga. Rupanya tuan Mahmud terlempar jauh hingga tanpa disadari telah melewati batas alam siluman dan memasuki alam jin,” terang tuan Denta senyum- senyum.
“Jadi saat ini saya berada di alam jin tuan?!” tanya Mahmud meyakinkan lagi.
“Benar tuan Mahmud, dan bangunan ini adalah
reruntuhan istana Raja jin pertama sebelum terjadi pemberontakkan. Aku dahulu tinggal disini menjadi jenderal dan sangat dipercaya oleh Raja kami, sampai akhirnya terjadi kudeta yang melengserkan Raja kami yang sebenarnya telah bersikap adil dan bijaksana. Bahkan rakyatnya pun sangat mencintai raja kami itu,” ungkap tuan Denta wajahnya sektika berubah muram.
Mahmud terdiam dan sangat terkejut mendengar latar belakang tuan Denta yang sebenarnya. Jika jabatannya adalah Jenderal, sudah dapat dipastikan merupakan golongan jin yang memiliki ilmu tinggi. Mahmud seketika mulai merasa kagum dengan sosok tuan Denta.
__ADS_1
“Tuan Abdul pun pernah ke tempat ini tuan,” terang tuan Denta.
“Hah? Abah Dul pernah ke tempat ini tuan?!” tanya Mahmud meyakinkan lagi seolah tidak percaya dengan keterangan tuan Denta.
“Benar tuan Mahmud, tuan Dul kala itu tersesat masuk ke alam jin tanpa sengaja. Dan ini adalah hutan larangan yang di ciptakan oleh kelompok yang merebut kekuasaan dari raja kami sebelumnya. Mereka menyebut hutan ini dengan sebutan hutan larangan, hanya untuk mengelabui rakyat- rakyat saja agar tidak memasuki hutan ini sehingga rakyat tidak mengetahui kalau istana dan raja mereka telah di musnahkan,” ungkap tuan Denta.
Mendengar kisah tuan Denta tentang Abah Dul, membuat Mahmud berpikir dan membandingkan dirinya dengan Abah Dul tentang dunia spiritual perbedaannya teramat jauh. Mahmud menduga kalau Abah Dul sudah banyak mengalami perjalanan spiritual. Berbeda dengan dirinya yang hany baru- baru ini saja masuk lebih jauh mengenal dunia spiritual.
“o iya tuan Denta, saya baru ingat! Kenapa saya tidak bisa langsung kembali pulang ke raga saya? Saya sudah mencobanya beberapa kali namun tetap saja tidak bisa,” tanya Mahmud, ia spontan baru teringat dengan masalah tersebut yang sempat membuatnya panik.
“Di alam jin ini berbeda tuan.Mahmud. Jika di alam siluman kita bisa bergerak dengan bebas datang dan pergi, tetapi di alam jin tidak seperti itu. Ada tempat- tempat yang dikhususkan dan
diperuntukkan sebagai pintu masuk dan hanya melalui pintu- pintu yang telah.ditentukan itulah manusia maupun kami golongan jin bisa masuk dan keluar,” terang tuan Denta.
Mendengar penjelasan itu Mahmud kian
terkesima, ternyata banyak hal yang tidak diketahui olehnya. Dan ini adalah merupakan pengetahuan pertamanya bagi Mahmud. Sesaat kemudian wajah Mahmud berubah sumringah, di dalam pikirannya berarti dirinya segera bisa pulang.
“Lalu dimanakah pintu untuk keluar dari sini tuan? Saya ingin cepat- cepat pulang, Abah Dul, Gus Harun, Basyari, Baharudin bahkan Kosim pasti sedang bingung mencari keberadaan saya,” ucap Mahmud penuh harap.
“Tapi sebaiknya tuan Mahmud mampir dulu di tempat tinggalku yang kedua,” cegah tuan Denta.
“Tuan Denta memiliki tempat tinggal lain?” tanya Mahmud penasaran.
“Iya, tuan. Kediamanku yang kedua ini merupakan tempat persembunyian dari kejaran prajurit- prajurit kerajaan jin yang telah merebut kekuasaan sebelumnya, hingga aku menjadi buronan dan di buru mereka.” Ungkap tuan Denta.
“Samapai saat ini tuan masih dibru?!” tanya Mahmud.
“Iya tuan, kebetulan kediamanku berada di pinggiran hutan larangan ini dan tidak jauh dari sini. Kita harus hati- hati karena ada prajurit- prajurit yang menjaga tempat ini,” jawab tuan
__ADS_1
Denta.
“Baiklah tuan,” sahut Mahmud.** BERSAMBUNG