Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KEBERADAAN KAJIMAN


__ADS_3

Alam Tak Kasat Mata,


Kajiman alias Kosim dengan wujudnya seperti kabut melesat melayang di pekatnya langit dan lenyap memasuki alamnya. Di alam dengan udara hampa serta temaram seperti senja itu Kosim berhenti pada sebuah rumah yang tampak semua materialnya seperti terbuat dari tanah. Di dalam rumah itu hanya ada satu ruangan dan tidak ada perabotan rumah seperti rumah-rumah manusia di alam dunia. Namun hanya ada satu bangunan persegi empat setinggi 1 meter dengan panjang 2 meteran, lebarnya sekitar 1,5 meter setinggi 1 meteran, mirip seperti tempat tidur terletak di tengah-tengah ruangan.


Kosim memasuki rumah itu tidak dengan membuka pintu lebih dulu melainkan ia menembus dinding dan langsung menuju ke tempat peraduan itu. Dia merebahkan tubuhnya lalu sesaat kemudian tak ada lagi aktifitas atau geraran darinya. Perbedaan ruang waktu dengan di alam dunia perbandingannya 1 jam di alam dunia sama dengan 3 hari di alam tempat Kosim berada.


Kosim tidak sendirian, di sekitar tempatnya tinggal juga terdapat bangunan-bangunan lain sebagai tempat tinggal mahluk sebangsanya. Kehidupannya tak berbeda jauh dengan alam manusia, ada aktifitas-aktifitas seperti layaknya kehidupan manusia. Tatanan kebangsaannya juga ada pemerintahannya yang di pimpinan oleh Kajiman yang usianya sudah ratusan ribu tahun, ada pejabat-pejabat dan juga rakyat. Namun yang membedakannya dengan tatanan kehidupan manusia hanyalah Kajiman tidak hidup bersosial cenderung hidup berindividu. Bahkan mereka tidak saling mengenal satu sama lainnya. Para mahluk golongan Kajiman tersebut akan pulang ke alam tersebut untuk beristirahat setiap kali selesai dengan urusannya di alam lain seperti halnya Kosim yang saat ini sudah lelap dalam istirahatnya.


Keberadaan Kosim di alamnya ini untuk sementara terbilang aman, dia tidak dapat di temukan oleh mahluk bangsa siluman monyet yang sedang memburunya. Golongan mahluk gaib lain pun akan berpikir dua kali ketika memasuki wilayah laim karena masing-masing wilayah memilki pemimpin sendiri dengan kekuatannya masing-masing.


......................


Sementara itu di istana Raja Siluman Monyet, Raja Kalas Pati dibuat murka karena empat prajurit yang di tugaskan memburu Kosim musnah tak kembali. Kini di hadapannya sudah berdiri 10 prajurit yang memiliki tingkatan kekuatan paling tinggi setelah Raja Kalas Pati memanggilnya, satu diantaranya pemimpin pasukan penjemput tumbal.


"Anggada Wira, Anggada Soca, Anggada Danta, Anggada Gori, Anggada Biqu, Anggada Kozi, Anggada Lori, Anggada Lipo, Anggada Hera, Anggada Sika!" sebut Raja Kalas Pati.


"Siap Junjungan Kami!" sahut para petinggi siluman monyet.


"Lima Anggada mencari Kajiman dan lima Anggada mengambil nyawa darah dagingnya!" perintah Raja Kalas Pati.


"Lakasanakan junjungan!" sahut para petinggi siluman monyet lagi.


"Untuk yang bertugas memburu Kajiman, kalian berangkat sekarang dan bawa pasukan masing-masing. Untuk kalian yang mengambil nyawa darah daging Kajiman tunggu setelah aku menghancurkan pelindung rumah itu!" Kata Raja Kalas Pati.

__ADS_1


"Huu...! Huuu...! Huuu...! Huu...! Huuu...! Huuu...!"


Suara-suara teriakkan serempak menggema di ruangan utama Istana sambil menghentak-hentakkan kaki dan mengacung-acungkan senjatanya masing-masing.


Anggada Wira, Anggada Soca, Anggada Danta, Anggada Gori dan Anggada Biqu langsung meninggalkan ruang utama Istana Kerajaan Siluman Monyet setelah membungkukkan badan memberikan hormat kepada Raja Kalas Pati. Kelima prajurit itu langsung melesat menuju tempat terakhir kali Kajiman muncul dan bertarung dengan rekan-rekan sebangsanya.


......................


Mahmud yang sedari tadi terus memperhatikan tubuh Abah Dul yang tak bergerak selama kurang lebih 10 menitan akhirnya bernafas lega setelah melihat tubuh Abah Dul tiba-tiba berkedut seperti tersentak. Dia sudah memahami kalau Sukma Abah Dul sudah kembali masuk ke dalam raganya.


“Alhamdilillah...” ucap Abah Dul mengusap wajahnya.


“Ada apa Bah, sampai bergetar beberapa kali,” kata Mahmud penasaran.


“Kosim sedang di keroyok Mud sama siluman monyet,” ujar Mahmud.


“Sudah Mud, para siluman monyet itu menyebut-nyebut Kosim dengan sebutan Kajiman,” jawab Abah Dul.


“Kajiman? Saya pernah dengar mahluk yang disebut Kajiman Bah, apa itu ya?” ujar Mahmud.


“Kajiman itu menurut buyut saya sih perwujudan dari arwah yang meninggal akibat bersekutu dengan setan atau mati dengan cara bunuh diri Mud,” kata Abah Dul.


“Sama dengan arwah penasaran gitu Dul?” tanya Mahmud lagi.

__ADS_1


“Ya sama seperti itu hanya saja yang membedakannya itu kalau golongan mahluk Kajiman konon memiliki kelebihan. Mereka memiliki kekuatan dan bisa mempengaruhi manusia untuk menjerumuskannya agar banyak yang menemaninya,” terang Abah Dul.


“Hih, ngeri juga ya Dul. Apakah Kosim kira-kira seperti itu?” Mahmud kian penasaran sekaligus khawatir dengan Kosim.


“Kalau ane lihat tadi sih tatapan matanya sepertinya bukan seperti sifat Kosim sewaktu hidupnya,” ujar Abah Dul.


"Ya udah deh Mud, ane pulang ya. Lemes badan ane," ujar Abah Dul kemudian bangkit dari duduknya.


"Masih jam 10, belum malam banget bah." timpal Mahmud.


Baru saja Abah Dul setengah berdiri, tiba-tiba terasa getaran menghentak membuat tubuhnya kembali terduduk, dadanya berdebar-debar keras. Mahmud yang sedang meneguk kopinya pun ikut terguncang hingga membuat mulutnya belepotan oleh air kopi yang tumpah. Wajah Abah Dul dan Mangmud kontan saling berpandangan penuh tanda tanya. Abah Dul langsung waspada mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya, namun tak ada tanda-tanda kehadiran mahluk lain.


Kemudian Abah Dul beranjak dari duduknya melangkah ke tengah halaman. Ia mendongak keatas melihat langit. Langit tampak terlihat gumpalan-gumpalan awan hitam menaungi diatas rumah Mahmud. Tak lama kemudian getaran kembali terasa, kali ini terasa lebih besar guncangannya membuat Abah Dul goyah di tempatnya berdiri. Abah Dul menyeimbangkan tubuhnya yang hampir terjerembab lalu bergegas kembali ke teras.


Baru saja satu langkah Abah Dul melagkahkan kakinya, tanah kembali bergetar dan guncangannya lebih besar dari dua guncangan sebelumnya. Langkahnya seketika terhenti, tubuhnya terhuyung-huyung hilang keseimbangannya lalu terdapuk di tanah. Firasatnya lamgsung tertuju pada perisai yang melindungi rumah Mahmud.


Getaran-getarannya dapat dirasakan di dada Abah Dul setiap kali getaran itu muncul. Sebab sebagian besar perisai itu terbentuk dari energi kekuatan yang di salurkan Gus Harun akan tetapi Abah juga turut menyumbangkan energinya untuk memperkuat pertahanan. Setiap kali perisai itu ada yang menyentuhnya secara otomatis baik Abah Dul dan Gus Harun pasti akan merasakan dadanya bergetar.


"Assalamualaikum,"


Belum habis tanda tanya yang memenuhi perkiraan-perkiraannya, Abah Dul di kejutkan dengan suara yang muncul tiba-tiba di hadapannya. Abah Dul yang tertunduk dalam posisi terjerembab seketika mendongakkan kepalanya melihat sumber suara.


"Wa'alaikum salam, Gus!" wajah Abah Dul seketika sumringah melihat kehadiran sukma Gus Harun.

__ADS_1


"Perisai telah hancur Dul!" seru sukma Gus Harun.


......................


__ADS_2