Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
LAHIRNYA MAHLUK KAJIMAN


__ADS_3

Istana Siluman Monyet,


Anggada Soca berdiri ditengah-tengah ruangan utama yang sangat besar. Di belakangnya ribuan monyet berdiri tegak tak bersuara, pandangannya tertuju kearah Anggada Soca menyampaikan laporan hasil tugasnya di hadapan Raja Kalas Pati yang duduk di kursi Singgasananya.


“Ampun junjungan, kami mengalami kesulitan manakala memasuki rumah itu. Rumah itu di lindungi perisai dengan kekuatan maha besar. Puluhan prajurit musnah saat mencoba menerobos masuk rumah itu,” lapor Anggada Soca.


“Kurang ajar! Sekuat itukah perisai itu sampai kekuatan kalian tidak mampu menerobosnya?!” hentak Raja Kalas Pati.


“Sangat kuat sekali junjungan. Para prajurit yang mencoba menerjang perisai itu langsung terpental musnah. Jika perisai itu dapat di hancurkan kami tentu akan lebih mudah masuk dan menjemput darah daging manusia bernama Kosim itu,” lapor Anggada Soca bernada provokasi.


“Baiklah aku sendiri yang akan turun tangan untuk menghancurkan perisai itu!” seru Raja Kalas Pati.


“Daulat junjungan! Hanya kekuatan junjungan yang dapat menghancurkannya,” hasut Anggada Soca menyunggingkan senyumnya.


“Lalu bagaimana dengan manusia bernama Kosim?! Apakah di temukan keberadaannya?! tanya Raja Kalas Pati geram.


“Ampun junjungan! Sepertinya manusia bernama Kosim itu sudah menjadi Kajiman. Aku sempat melihat sosoknya muncul tapi tidak memiliki jasad kasarnya!” ungkap Anggada Soca.


“Menjadi Kajiman?!” tanya Raja Kalas Pati.


“Betul junjungan! Kami sangat yakin sekali melihat sekilas kemunculannya!” Tegas Anggada Soca.


"Kalian tetap buru Kajiman dan musnahkan!" perintah Raja Kalas Pati.


"Baik Junjungan!" sahut Anggada Soca.


“Sebagai gantinya jemput keturunannya!” teriak Raja Kalas Pati kemudian berdiri memandangi semua prajurit.


Kajiman merupakan mahluk gaib mitologi Jawa yang konon berasal dari manusia yang berubah menjadi jin karena tidak diterima di alam barzah. Akan tetapi dalam dunia pengetahuan alam gaib sosok Kajiman adalah salah satu mahluk yang lahir dari bentuk khodam atau jin pendamping manusia.


Manusia yang menjadi sosok Kajiman disebabkan karena konsekuensi yang harus dijalani hingga akhir jaman akibat melakukan persekutuan dengan setan. Artinya Kajiman terlahir dari seorang manusia yang meninggal karena bunuh diri atau yang mati setelah bersekutu dengan setan untuk pesugihan atau ilmu hitam.


Golongan mahluk Kajiman tersebut tidak hidup di alam manusia. Meskipun jasadnya dimakamkan di tanah namun ruhnya tidak bisa masuk alam barzah atau alam kubur. Secara umum sifat Kajiman tersebut dapat menyesatkan dan membawa manusia agar seperti dirinya. Kajiman memiliki kekuatan lebih tinggi daripada jin biasa karena dia mengerti seluk beluk manusia yang dipenuhi nafsu serakah serta kerap menyimpan dendam.


......................


Menjelang Magrib, seorang pria tergesa-gesa mendatangi rumah Mahmud dengan raut wajah sangat penik.


“Assalamualaikum! Kang Mahmud... Kang Mahmud..!”


Tok... tok... tok...


“Kang Mahmud... Kang....!”


Seorang lelaki berusia 60 tahunan memanggil-manggil sambil mengetuk pintu rumah Mahmud dengan wajah panik.


Kreeeettteeekkk...

__ADS_1


“Wa’alaikum salam, Mang Kohar?! Ada apa mang?!” Mahmud muncul membuka pintu penuh keheranan.


“Tolong anak saya Kang Mahmud, tolong anak saya!” Sergah Mang Kohar menarik-narik lengan Mahmud.


“Dahlan?!” Tanya Mahmud.


“Iya Dahlan kang Mahmud, itu di rumah. Cepat tolongin kang!” Seru Mang Kohar panik.


“Kenapa dengan Dahlan Mang?!” tanya Mahmud makin kebingungan.


“Dahlan kesurupan!” sergah Mang Kohar.


“Kesurupan?! Ya udah, ayo Mang!” seru Mahmud.


Mahmud dan Mang Kohar pun cepat-cepat meninggalkan rumah Mahmud menuju rumah Mang Kohar yang berada di belakang rumah Mahmud. Tidak sampai 5 menit, Mahmud dan Mang Kohar tiba di rumah Mang Kohar.


Di dalam rumah Mang Kohar nampak sudah ramai oleh tetangga sekitar rumah sedang mengerumuni seorang pemuda. Satu orang memegangi tubuh pemuda itu dan dua orang lainnya mencekal kedua tangannya. Pemuda itu adalah Dahlan yang di katakan Mang Kohar sedang kesurupan. Tubuhnya meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari pegangan orang-orang. Matanya melotot liar melirik kesana-kemari sambil berteriak-teriak keras.


“Akan saya bunuh! Minggir! Minggir!” teriak Dahlan sambil terus meronta-ronta.


Mahmud langsung masuk kedalam rumah dibelakang Mang Kohar menyeruak diantara kerumunan beberapa tetangga.


“Punten, punten...” seru Mang Kohar melangkah menuju ruang tengah.


Mahmud tercekat melihat respon Dahlan yang terus berontak hingga membuat tiga orang yang mencekalnya kewalahan saking kuatnya tenaga Dahlan. Tiga orang itu terombang-ambing ke kanan, ke kiri, ke depan dan belakang menahan gerakkan tubuh Dahlan yang berusaha melepaskan diri.


“Kamu siapa?!” sentak Mahmud.


Dahlan tidak menjawab, kepalanya menunduk dalam-dalam.


“Kenapa kamu merasuki tubuh ini?!” sentak Mahmud lagi.


Namun Dahlan yang kerasukan itu tetap diam tidak merespon pertanyaan Mahmud. Ketika Mahmud hendak menyentuh kepala Dahlan, tiba-tiba tubuh Dahlan terkulai menggelosoh lemas. Tubuhnya roboh kebelakang dalam pegangan orang yang sedari tadi memeganginya dari belakang Dahlan.


“Astagfirullah!” pekik Mahmud.


Mahmud terkesiap melihat sekelebatan bayangan yang keluar dari tubuh Dahlan melayang keatas.


“Kosim?!” serunya dalam hati.


Beberapa saat lamanya Mahmud tertegun menatap sosok bayangan yang melayang diatas tubuh Dahlan. Bayangan menyerupai Kosim itu sekilas terlihat tertunduk dalam-dalam lalu lenyap seketika.


“Tolong air minum, air minum...” ucap Mahmud, begitu bayangan Kosim lenyap.


Bi Munah, ibunya Dahlan mengulurkan segelas air putih kepada Mahmud. Mahmud kemudian membacakan surat Alfatihah sesaat kemudian di tiupkan ke dalam gelas lalu di minumkan kepada Dahlan. Setengah gelas air masuk ke dalam mulut Dahlan, kemudian Mahmud meraupkan sisa air di dalam gelas itu ke wajah Dahlan.


“Alhamdulillah...” ucap orang-orang melihat Dahlan membuka matanya.

__ADS_1


Dahlan perlahan-lahan duduk dari posisinya setengah duduk tersandar dalam penjagaan orang di belakangnya. Sesaat kemudian Dahlan celingukkan melihat sekelilingnya dengan wajah penub tanda tanya.


“Saya kenapa pak?” tanya Dahlan keheranan.


“Mas Mahmud?” ucapnya terkejut melihat ada Mahmud di sampingnya.


“Saya kenapa Mas? Kok banyak orang disini?” sambung Dahlan.


Mahmud tersenyum melihat reaksi Dahlan yang baru tersadar. Kemudian Mahmud balik bertanya dengan sehalus mungkin agar tidak menyinggung perasaan Dahlan dan tidak menimbulkan amarah.


“Lan, kamu tadi ngapain?” tanya Mahmud.


Dahlan terdiam, dia mengingat-ingat lagi apa yang di lakukannya sebelum tidak sadarkan diri. Kemudian tiba-tiba wajahnya terlihat muram seketika, dirinya teringat dengan obrolan temannya sewaktu memancing di sungai.


“Lan, kamu dengar kabar nggak?” seru Asep bertanya sambil menatap kailnya.


“Kabar apa Sep?” Dahlan balik tanya di sebelah Asep.


“Tentang Komar,” ujar Asep.


“Kenapa dengan Komar?” tanya Dahlan menoleh penasaran.


“Denger-denger dia lagi tirakat untuk mendapatkan Arin, sudah mau seminggu dia nggak kelihatan, kan?” ujar Asep.


Dahlam langsung terdiam, hatinya berkecamuk. Raut wajahnya mendadak berubah membesi, tatapannya menyorotkan kemarahan.


“Komar mengakali Arin dengan cara seperti itu?! Kurang ajar!” batin Dahlan.


Dahlan yang diam-diam menyukai Arin langsung terbakar cemburu. Amarahnya bergejolak memuncak ke ubun-ubunnya, dirinya tidak terima kalau Arin di guna-guna. Dahlan langsung bangkit berdiri lalu cepat-cepat meninggalkan Asep.


“Lan, Lan! Mau kemana?” Seru Asep terbengong-bengong melihat perubaham sikap Dahlan.


Namun Dahlan terus saja melangkah meninggalkan lokasi mancing tanpa menoleh meski Asep memanggilnya.


“Sudah, sudah... kamu harus sabar, jangan turuti hawa nafsumu Lan...” ucap Mahmud.


Asep langsung terkesiap merasakan lengannya di tepuk dan mendengar ucapan Mahmud, dia tersadar dari bayangan obrolan tadi sore bersama Asep.


Sore itu sepulangnya dari memancing di sungai, pikirannya di penuhi dengan amarah yang sangat besar shingga menumbuhkan kebemcian yang mendalam terhadap Komar. Dahlan sangat khawatir kalau Arin bakal menjadi milik Komar dengan cara-cara liciknya. Sepanjang perjalanan pulang piiiran Dahlan sudah tidak dapat terkendali dipenuhi prasangka-prasangka buruk sehingga jiwanya kosong karena alam pikirannya melayang memikirkan perbuatan Komar.


Mahmud melangkah pulang setelah memastikan Dahlan sudah kembali dalam kondisi normal. Sepanjang kakinya melangkah, Mahmud masih menyimpan keheranan dengan munculnya Kosim.


"Kenapa Kosim merasuki tubuh Dahlan?" batin Mahmud.


......................


......................

__ADS_1


__ADS_2