
Didalam istana,
Raja Kalas pati sedang meradang menekan amarahnya yang meluap- luap setelah mendengar laporan dari Anggada Gonda bahwa arwah putra Kosim telah dibawa kabur dari dalam tahanan. Seketika itu juga terlintas di dalam pikiran Raja Kalas Pati merasa semakin yakin kalau dirinya merasa telah di tipu oleh kiyai Sapu Jagat.
“Sialan kiyai Sapu Jagat!” bentak Raja Kalas Pati menumpahkan amarahnya. Suaranya terdengar keras menusuk pendengaran seluruh prajuritnya hingga dinding- dinding istana pun bergetar oleh suara bentakkan yang mengandung kekuatan besar tersebut.
Seluruh prajurit siluman monyet langsung tertunduk diam tak berkutik, tak ada yang berani membuat gerakan sekecil apapun apapli mengeluarkan suara. Semuanya terlihat sangat ketakutan melihat junjungannya murka.
Tiba- tiba suasana kaku dan mencekam tersebut dipecahkan oleh munculnya suara dari pimpinan prajurit yang ditugaskan mencari kiyai Sapu Jagat sebelumnya.
“Lapor junjungan!” Suara Pimpinan prajurit sontak membuat seluruh prajurit yang dicekam ketakutan kian bertambah terkejut bukan main. Sontak semuanya menoleh kearah pimpinan prajurit yang masih berdiri diambang pintu ruang istana sambil berlutut.
“Ada apa Anggada Tungga?!” seru Raja Kalas Pati.
“Ampun junjungan, di depan ada manusia bernama kiyai Sapu Jagat. Tapi ada enam mahluk lain yang bersamanya,” jawab pimpinan prajurit bernama Anggada Tungga.
“Bawa mereka kesini!” seru raja Kalas Pati sambil berdiri dari kursi singgasananya.
“Baik junjungan!” balas Anggada Tungga, lalu cepat- cepat meninggalkan istana.
......................
__ADS_1
Di luar benteng istana, Kiyai Sapu jagat beserta tiga muridnya, Kosim serta tuan Santana dan tuan Gosin terlihat sangat tenang menanti kembalinya pemimpin prajurit yang pergi melapor pada Raja Kalas Pati. Meski mereka kelihatan tenang namun didalam hati ketiga murid kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Santana dan tuan Gosin masih belum mengerti dengan maksud Kiyai Sapu Jagat menyambangi Raja Kalas pati.
Yang Gus Harun dan yang lainnya ketahui sejak memutuskan untuk kembali ketempat tersebut adalah untuk melakukan pencarian terhadap Mahmud. Namun mereka semua terkejut manakala melihat serombongan prajurit siluman monyet keluar dari gerbang istana dan seketika itu juga Kiyai Sapu Jagat langsung mengajak mereka turun menghadang pergerakkan serombongan prajurit tersebut.
Gus Harun dan yang lainnya kian terkejut saat Kiyai Sapu Jagat menjawab bersedia menemui Raja Kalas pati didalam istana. Didalam batin mereka langsung bergidik membayangkan bagaimana murkanya Raja Kalas Pati setelah mengetahui kalau arwah putra Kosim telah di bawa oleh mereka.
Terutama bagi Kosim sendiri, dia yang merasa paling diburu oleh Raja Kalas Pati. Karena dirinya lah penyebab kekacauan ini terjadi hingga melibatkan orang- orang yang sebelumnya tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Andai saja dirinya tidak melawan perjanjian gaib itu mungkin kehidupan Mahmud kakak iparnya, beserta sahabat- sahabatnya akan baik- baik saja. Namun keadaan sudah kacau dan sudah terlanjur melangkah sejauh ini, Kosim hanya bisa pasrah menghadapi semuanya dengan segenap rasa penyesalannya yang teramat besar.
“Yai, kenapa Yai mau menghadap raja Kalas Pati?!” tanya Gus Harun memberanikan diri.
“Saya harus berbicara langsung dengan Kalas pati karena sudah terlanjur membuat kesepakatan dengannya. Tetapi karena Mahmud belum juga di temukan, saya memutuskan untuk meminta waktu lagi untuk memberikan senjatanya yang telah kamu ambil, cucuku,” jawab Kiyai Sapu Jagat.
“Tapi Yai, saya khawatir Raja Kalas Pati akan berbuat macam- macam terhadap kita,” timpal Basyari yang mendengar jawaban Kiyai Sapu Jagat.
Akhirnya Gus Harun dan yang lainnya sedikit bisa lebih tenang setelah Kiyai Sapu Jagat mengatakan itu. Bersamaan dengan itu muncul pimpinan prajurit yang sebelumnya pergi untuk melapor.
“Silahkan ikut saya menemui junjungan kami. Kalian sudah ditunggu didalam istana!” tegas Anggada Tungga.
“Baiklah, ayo!” sahut Kiyai Sapu Jagat.
Kemudian Kiyai Sapu Jagat, Gus Harun, Basyari, Baharudin, tuan Samanta, tuan Gosin serta Kosim langsung melesat mengikuti Anggada Tungga yang lebih dulu melesat memasuki istana.
__ADS_1
Tak lama kemudian Anggada Tungga yang membawa Kiyai Sapu Jagat beserta yang lainnya tiba di tengah- tengah ruang istana. Seketika ratusan ribu pasang mata dari para prajurit- prajurit siluman monyet langsung nyalang menatap pada tujuh sosok manusia yang berdiri dibelakang Anggada Tungga.
Seketika itu juga Kosim, Gus Harun, Basyari, baharudin, tuan Santana serta tuan Gosin langsung meningkatkan kewaspadaan sembari membaca amalan didalam hati mereka jika sewaktu- waktu mendapat serangan secara tiba- tiba.
Mereka dapat merasakan hawa penekanan intimidasi dari ratusan ribu pasang mata yang tertuju ke arah meraka. Kosim langsung ciut nyalinya melihat dan merasakan seramnya suasana di dalam istana tersebut. Sama halnya dengan Gus Harun, Basyari dan baharudin, di dalam batinnya sontak bergidik ngeri. Ini adalah pengalaman pertama mereka selama menggeluti dunia spiritual.
“Sapu Jagat! Aku menagih janjimu! Serahkan tongkat emasku” teriak Raja Kalas Pati.
“Mohon maaf sebelumnya Kalas Pati. Saya minta waktu, karena salah satu dari anak- anakku belum dapat kami temukan keberadaannya,” kata Kiyai Sapu Jagat.
“Itu bukan urusanku! Itu masalahmu sapu Jagat!” bentak Raja Sapu Jagat sampai berdiri dari kursi singgasananya.
Melihat rajanya berdiri murka, seketika seluruh prajurit siluman monyet yang berada di sisi kanan dan kiri Kiyai Sapu Jagat dan yang lainnya langsung ikut bereaksi seakan- akan siap menyerang. Melihat reaksi tersebut Kosim, Gus Harun, Basyari, Baharudin, tuan Santana dan tuan Gosin beringsut saling merapatkan badannya. Mereka merasakan suasana didalam ruang istana tersebut kian mencekam.
“Tenang Kalas Pati, aku tidak akan mengingkari janjiku!” sahut Kiyai Sapu Jagat buru- buru menjawab melihat gelagat buruk kemarahan Raja Kalas Pati serta reaksi dari seluruh prajurit.
“Berapa lama waktu yang dibutuhkan Sapu jagat?!” tanya Raja Kalas Pati sedikit melunak melihat kesungguhan ucapan kiyai Sapu Jagat.
“Aku sendiri tidak bisa menentukan batas waktu untuk menemukannya. Anak bernama Mahmud itu tidak ditemukan diarea pertarungan sebelumnya. Bahkan hingga pencarian dilakukan dalam radius lebih jauh lagi pun tetap tidak dapat kami temukan,” ungkap kiayai Sapu Jagat.
Raja Kalas Pati sesaat terdiam setelah mendengar ungkapan kiyai Sapu Jagat. Tampak Raja kalas Pati mencermati setiap ucapan Kiyai Sapu Jagat dengan seksama, dia merasa tidak ada kebohongan di semua kalimat yang diucapkan Kiyai Sapu Jagat. Melihat Raja Kalas Pati terdiam dan hanya memperhatikan saja, Kiyai Sapu Jagat pun kembali berucap.
__ADS_1
“Jika berkenan, aku meminta bantuanmu Kalas Pati. Kamu adalah penguasa di alam siluman ini, tentunya kamu akan dengan mudah dapat mengetahui keberadaan anakku yang bernama Mahmud itu,” lanjut kiyai Sapu Jagat.
Raja Kalas Pati tak langsung menjawab, didalam isi kepalanya sedang bergejolak antara rasa gengsi untuk memberi bantuan dangan mengiinginkan senjata andalannya kembali. Rasa ego dan kepentingan dirinya tersebut saling bertarung didalam pikirannya.** BERSAMBUNG