Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DIUJUNG WAKTU 4


__ADS_3

Empat petugas kepolisian dari Polres itu tampak berpikir keras, hal itu terlihat dari raut mukanya dengan mengerutkan dahinya dalam- dalam. Ruangan seketika senyap tanpa ada yang mengeluarkan sepatah kata pun,


hanya terdengar suara ketukan sandaran tangan kursi yang dimainkan jari- jari sang Kanit yang menangani kasus kecelakaan.


Sementara Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud juga sama- sama memikirkan kejanggalan tersebut. Mereka sama- sama memikirkan kemungkinan- kemungkinan yang terjadi kepada Basyari dan Baharudin.


“Bagaimana bisa terjadi seperti ini?” kata Gus Harun dalam hati.


“Berarti keadaan Basyari dan Baharudin baik- baik saja,” Mahmud menduga- duga dalam hati.


“Dimana Basyari dan Baharudin sekarang?” tanya Abah Dul dalam hati.


Secara spontan Abah Dul melirik jam tangannya, dia melihat jarum jam sudah menunjukkan angka pukul 5 lewat 30 menit.


“Jadi bagaimana ini pak?” tanya Abah Dul memecah keheningan.


Sang Kanit menarik nafas dalam- dalam lalu dihempaskannya kemudian menjawab penuh kebimbangan, “Kami belum bisa memutuskan apa- apa pak. Akan tetapi kami tetap akan menindak lanjuti kasus ini hingga benar- benar menemukan titik terang. Kami minta nomor telpon yang bisa dihubungi manakala ada perkembangan selanjutnya,” jawab Kanit.


“Baik pak, biar nomor telpon saya saja,” kata Abah Dul kemudian memberikan nomor telponnya yang dicatat langsung pada selembar kertas oleh salah satu anggota polisi.


“Untuk sementara bapak- bapak pulang saja nanti akan kami kabari jika sudah menemukan titik terang. Dan kami juga minta kerja samanya apabila bapak- bapak sekalian lebih dulu bertemu dengan saudara Ahmad Basyari


atau pun Muhamad Basyarudin, kami mohon untuk segera melapotkan kepada kami. Mohon di catat atau simpan nomor kontek saya pak,” kata Kanit.


Abah Dul pun segera mememncet tombol hapenya memasukkan nomor telpon sesuai dengan yang di sebutkan Kanit.


“Maaf dengan bapak siapa?” tanya Abah Dul setelah selesai memasukkan nomor telpon.


“Saya Arif Rahman, Kanit yang menangani kasus kecelakaan ini,” jawab Kanit.


“Baik pak, kalau begitu kami mohon pamit langsung kembali ke Jawa Barat,” kata Gus Harun setelah melihat Abah Dul selesai menyimpan nomor kontak Arif Rahman.


“Iya pak, monggo… monggo, terima kasih banyak sebelumnya atas keterangan bapak- bapak semua. Secepatnya akan kami kabari,” balas Arif Rahman.

__ADS_1


Setelah menyalami satu persatu, Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud pun berpamitan meninggalkan kantor polres Purwokerto untuk kembali ke desa Sukadami.


“Kang Mahmud kita cari masjid ya, kita sholat magrib dulu sebentar lagi masuk waktu magrib,” kata Gus Harun setelah mobil keluar dari kanttor Polres.


“Njih Gus,” sahut Mahmud.


Didalam perjalanan pulang, beragam dugaan- dugaan diutarakan dari Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud terkait kejadian kecelakaan yang melibatkan nama- nama dua sahabatnya.


“Kenapa bisa seperti itu ya Gus? Apakah mungkin para korban itu merupakan para penjahat?” tanya Mahmud.


“Maksud ente Dul?!” sergah Mahmud.


“Ya kalau kita pikir- pikir, bagaimana bisa mobil dan barang- barang milik Basyari dan Baharudin termasuk dompetnya juga ada pada orang lain,” kata Abah Dul.


Artinya Basyari dan Baharudin itu dirampok?” tanya Mahmud tanpa menoleh dan pandangannya tetap lurus melihat jalan didepannya.


“Nah, saya juga menduga seperti itu. Saya justru mengkhawatirkan keadaan Basyari dan Baharudin seandainya mereka dirampok,” ujar Gus Harun.


“Ya Allah, lindungi saudara- saudara kami Basyari dan Baharudin…” gumam Gus Harun berdoa.


“Amiin…” Ucap Mahmud.


Amiin…” susul Abah Dul.


“Itu didepan ada masjid kang!” seru Gus Harun menunjuk sebuah plang bergambar masjid bertuliskan 50 meter.


“Njih Gus,” sahut Mahmud.


Tak beberapa lama kemudian, Mahmud membelokkan mobilnya memasuki halaman masjid yang lumayan besar. Tepat setelah Mahmud berhenti memarkirkan mobil dan mematikan mesinnya, terdengar azan menggema dari pengeras suara masjid tersebut.


Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud bergegas turun dan berjalan menuju tempat wudlu. Nampak berjejer kran- kran untuk mengambil air wudlu cukup banyak, mungkin masjid tersebut merupakan masjid yang biasa dihampiri para pengguna jalan atau rombongan bus antar provinsi yang hendak melakukan perjalanan ziarah ke makam- makam ulama besar.


Karena saat ini pun dihalaman parkir terdapat ada dua bus dengan banner disampingnya bertuliskan ‘WISATA RELIGI JAMIYAH AL IKLAS’ juga ada beberapa mobil pribadi berplat nomor dari luar daerah Purwokerto.

__ADS_1


Didalam masjid terlihat jamaah yang hendak melaksanakan sholat magrib hampir memenuhi masjid tersebut. Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud segera mengambil tempat mengikuti shaff berbaur dengan jama’ah lainnya diposisi nyaris paling belakang.


Kurang dari 5 menit sholat magrib yang hanya 3 rokaat itu pun selesai ditunaikan, Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud buru- buru keluar dan sedikit mengantri saat di pintu saking banyaknya jama’ ah.


Abah Dul kembali mengingatkan kalau saat ini waktu menunjukkan pukul 6. 16 menit waktu indonesia barat masih  melihat jam tangannya setelah mobil keluar dari halaman parkir masjid.


“Berapa jam kira- kira sampai ke rumah kang?” tanya Gus Harun menoleh pada Mahmud yang duduk dibelakang kemudi.


“Kurang lebih tiga jam Gus,” jawab Mahmud.


Gus Harun spontan memainkan jari- jarinya untuk menghitung jam yang diperkirakan sampai kembali ke rumah sekitar pukul 9 atau 10 malam.


“Kita masih punya cukup waktu,” ucap Gus Harun.


Tak lama kemudian mobil yang disetiri Mahmud sudah memasuki pintu tol arah Jakarta, setelah membayar dengan beberapa lembar ribuan palang pintu tol pun dibuka. (Pada jaman itu transaksi pengguna jalan tol masih menggunakan uang cash dan belum di wajibkan memakai kartu E-Tol.


Mahmud segera injak pedal gas dalam- dalam dan mobil Avaza merah itu pun melaju kencang diatas jalan tol mengarah ke barat. Beruntung di dalam jalan tol tidak terlalu banyak kendaraan pengguna jalan tol lainnya


sehingga mobil meluncur kencang tanpa hambatan.


Gus Harun yang duduk didepan sebelah Mahmud mengerrutkan kening melihat ujung langit barat. Cuaca dilangit ufuk barat masih tampak semburat merah kehitaman dari bias cahaya senja yang tak lama lagi akan


berganti dari siang hari ke malam hari. Gus Harun melihat dengan jelas  pada salah satu langit di bagian barat itu bergulung gumpalan awan hitam seperti memayungi satu wilayah.


“Coba ente perhatikan diatas langit sana,” kata Gus Harun sambil menunjuk gumpalan awan hitam dikejauhan.


Abah Dul dan Mahmud kontan melihat kearah mengikuti telunjuk Gus Harun. Mahmud yang memiliki ruang pandang lebih luas dari pada Abah Dul yang duduk di jok tengah, hanya mengernyitkan kedua matanya.


“Mendung?” tanya Mahmud belum memahami maksud Gus Harun.


Lain halnya dengan Abah Dul, dia memiliki pemikiran yang sama dengan Gus Harun. Abah Dul merasa kalau mendung tebal itu bukanlah mendung biasa.


“Apakah mendung itu berada diatas desa Sukadami Gus?”*** bersambung

__ADS_1


__ADS_2