
“Baiklah, mari kita berangkat!” teriak Gus harun menggema di angkasa berpadu dengan suara gemuruh guntur dan kilatan petir.
Wussshhhh...
Wussshhhh...
Wussshhhh...
Didahului Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud, Kosim dan tuan Denta, disusul pasukan Kaziman dan Pasukan Jin, mereka terbang menembus angkasa alam tak kasat mata yang hitam pekat menuju arah selatan.
Beberapa saat kemudian pasukan yang dipimpin Gus Harun sudah mulai melihat pendaran cahaya kuning mengangkasa didepan mereka. Nampak dikejauhan sekumpulan cahaya kuning keemasan memancar berkilauan menerangi diangkasa.
Suara guntur dan petir semakin intens terdengar kian keras oleh Gus Harun dan pasukannya. Dalam jarak 1 KM, Gus Harun meneriakkan kalimat berhenti.
"Strategi kita lancarkan dari sini. Tuan Denta dan kang Kosim bawa sebagian pasukan masing -masing ke posisi yang sudah ditentukan. Dan sebagian pasukan lainnya buatlah kegaduhan di depan gerbang istana itu," kata Gus Harun memberi instruksi pada Tuan Denta dan Kosim.
"Pancing para prajurit -prajurit siluman monyet itu keluar dari istana sejauh mungkin. Ketika posisi sudah menjauh dari gerbang istana itu, sebagian pasukkan lainnya segera melakukan penyerangan dari arah samping kanan dan kiri!" sambung Gus Harun.
"Baik tuan!" sahut tuan Denta.
"Njih Gus!" susul Kosim.
Kedua mahluk berbeda golongan itu segera berpencar melesat menemui pasulkannya masing- masing untuk menjalankan strategi.
Sementara Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud melesat terbang ke sisi kanan tembok benteng istana.
Tak lama setelah Gus Harun dan ke empat sahabatnya sudah menempati titik posisi sesuai strategi, disusul setengah pasukan dari total 100 ribu pasukan Kaziman yang dipimpin Kosim melesat menempat titik kedua sebelah kiri tak jauh dari pintu gerbang.
Dan 50 ribu pasukan Kaziman lainnya bergerak terbang ke sisi kanan depan gerbang istana menempati titik posisi ketiga sejajar dengan setengah pasukan Kaziman yang pertama.
__ADS_1
Melihat pasukan Kaziman sudah berada di posisinya, tuan Denta pun segera memberi aba- aba kepada pasukannya untuk langsung bergerak. Pasukan dari golongan jin itu melesat kearah depan gerbang istana.
Melihat semuanya sudah menempati titik -titik posisi yang telah ditentukan, Gus Harun segera mengeluarkan kembali senjata pusakan Cambuk Amal Rosuli.
Seberkas cahaya langsung muncul di tangan Gus Harun, segera ia pun mengibaskan senjata pusakannya ke arah atas.
Cetarrrrr....!
Suara mata cambuk terdengar keras mengangkasa bersamaan dengan cahaya emas menjalar melesat keatas dan hilang ditengah pekatnya langit.
Itu merupakan kode yang diberikan Gus Harun kepada pasukan tuan Denta yang berada di depan gerbang. Sektika itu juga terdengar bunyi denyingan senjata saling beradu.
Pasukan golongan jin itu seolah -olah sedang adu tanding sesama rekannya sendiri. Padahal mereka semua hanya memainkan senjatanya yang diadukan dengan senjata rekannya. Pasukan golongan jin itu seolah -olah sedang adu tanding sesama rekannya sendiri. Padahal mereka semua hanya memainkan senjatanya yang diadukan dengan senjata rekannya sehingga menimbulkan bunyi dentingan dari ratusan pasukan jin. Suara
dentingan beradunya senjata oleh sepasukan mahluk jin tersebut menggema hingga
memasuki pelataran istana siluman monyet.
Para prajurit itu mulai berkonsentrasi menajamkan pendengarannya sembari berlompatan saling mencari posisi agar lebih jelas lagi mendengar suara lain yang berbaur dengan bunyi gendang dan terompet pesta.
Kini ratusan prajurit siluman monyet satu- persatu mulai menempelkan telingan pada tembok benteng istana. Mereka tampak berjejer menempel pada tembok benteng untuk memperjelas lagi adanya suara senjata saling beradu di luar istana.
“Ada serangaaaan…!”
“Ada serangaaaan…!”
“Ada serangaaaan…!”
“Ada serangaaaan…!”
__ADS_1
“Ada serangaaaan…!”
Setelah yakin dengan suara yang didengarnya itu para prajurit siluman monyet saling berteriak memperingatkan prajurit- prajurit lainnya. Seketika seluruh prajurit siliman monyet yang sedang menikmati pesta pora tersebut langsung siaga menghunus berbagai senjata yang terselip dipinggang kirinya. Ada yang menghunus pedang,
tombak, tongkat besi, golok besar, rantai bermatakan bola berduri.
Kondisi para prajurit siluman monyet nampak gontai karena mabuk, tak ada satu pun yang berdiri tegap semuanya berjalan sempoyongan menuju pintu gerbang istana yang sedang dibuka oleh beberepa rekan- rekannya.
Kreteeeeeekkkkkk…! Suara pintu gerbang yang sangat besar dan tinggi menjulang itu pun terbuka
secara perlahan.
Dentingan- dentingan senjata dari luar istana kian terdengar jelas bersamaan pintu gerbang istana perlahan- lahan mulai terbuka. Para prajurit siluman monyet tak bisa berfikir jernih akibat minuman yang memabukkan sehingga tanpa ada curiga sedikit pun mereka membuka gerbang raksasa tersebut.
“Rencana awal yang berhasil!” gumam Gus Harun yang diangguki, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud yang bersembunyi di sisi kiri benteng.
Sesaat Gus Harun mengintip dari balik sudut tembok benteng melihat situasi di depan gerbang istana. Dikejauhan tampak ratusan prajurit siluman monyet bergerak tak beraturan mendekati suara dentingan yang terus dibunyikan oleh pasukan jin.
“Ayo kita bergerak menyusup masuk kedalam istana,” bisik Gus Harun tanpa menoleh kemudian bergerak mengendap- endap menyusuri tembok benteng.
Di depan benteng istana, para prajurit siluman monyet masih terlihat menyemut bergerak menuju pasukan yang dipimpin tuan Denta yang jaraknya 1 KM dari benteng. Mereka semua tidak ada yang tahu, kalau suara dentingan itu hanyalah sebuah tipuan belaka untuk memancing mereka keluar meninggalkan istananya.
Sementara itu Gus Harun juga terus bergerak mendekati pintu gerbang raksasa dengan mengendap- endap. Sesekali Gus Harun memberikan aba- aba dengan mengangkat tangannya untuk berhenti dan memberi kode untuk merunduk tatkala melihat ada beberapa prajurit siluman yang tak sengaja berjalan keluar barisannya lalu menoleh ke sisi kiri dimana Gus harun dan sahabat- sahabatnya berada. Pergerakkan mereka itu karena dalam kondisi mabuk bukan sengaja untuk memeriksa keadaan.
Perlahan- lahan prajurit- prajurit yang keluar dari pintu gerbang semakin sedikit dan sampai akhirnya tidak ada lagi prajurit yang berjalan sempoyongan keluar dari gerbang istana. Melihat keadaan itu Gus Harun mempercepat langkahnya menuju pintu gerbang lalu menyelinap masuk didalam area istana.
Bunyi gendang bertalu- talu berirama dengan suara terompet yang keluar dari dalam istana jelas terdengar oleh Gus Harun dan ke empat sahabatnya ketika sudah berada dipelataran istana Raja kalas Pati. Gus Harun dan empat sahabatnya dengan cepat bergerak menyelinap melayang ke sisi kiri bangunan istana.
Sementara itu di luar istana, para prajurit siluman monyet sampai pula pada posisi dimana pasukan jin berada. Tuan Denta segera memberikan aba- aba untuk menghentikan aksi membunyikan pedang para prajuritnya saat melihat musuh sudah berada dalam jarak 50 meteran.
__ADS_1
“Bersiap!” teriak tuan Denta.
Di sisi bagian kanan dan kiri dimana pasukan dari mahluk Kaziman yang dipimpin Kosim juga sudah bersiap menunggu aba- aba untuk bergerak melakukan penyerangan secara bersamaan.** BERSAMBUNG