Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Bahagia Ditengah Prahara


__ADS_3

'Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum..." ucap Mahmud sembari mengetuk pintu.


'Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum..." ucapnya lagi.


Tidak ada sahutan dari dalam rumah. Mahmud mencoba mengucap salam ketiga kalinya, "Assalamualaikum..."


Beberapa saat ditunggu-tunggu namun tak juga kunjung ada jawaban. Mahmud pun mencoba membukanya dengan menekan gagang pintu.


"Kreeeootttt..." Suara daun pintu terbuka.


"Tidak dikunci," gumam Mahmud.


Mahmud kembali mengucap salam bermaksud melangkah masuk tetapi baru satu kakinya melangkah terdengar suara seruan seorang wanita dari luar.


"Maaaasss... Mas Mahmuud!" seorang gadis cantik berhijab kuning gading berlari kecil dari halaman rumah.


Mahmud spontan menoleh, "Zakiyah..!" ucap Mahmud dengan wajah sumringah.


Adik satu-satunya Mahmud itu datang menyongsong dan langsung meraih tangan kakaknya lalu dicium menyalaminya. Kemudian beralih Zakiyah menyalami Dewi, kakak iparnya.


"Mbak Dewi, gimana kabarnya Mbak?" tanya Zakiyah dengan sumringah.


"Alhamdulilah Kiyah, Mbak sehat, Masmu juga. Oh, iya ini Arin sama suaminya dan ini Dede anaknya. Kamu masih ingat sama Arin kan?" ujar Dewi.


"Ya masih to Mbak," ucap Zakiyah tersenyum simpul lalu bergantian nyalami Arin, Kosim dan Dede.


"Dede ayo salim sama tante Kiyah," bujuk Arin melihat Dede enggan, walau pun akhirnya mau juga.


"Kamu darimana Kiyah," sela Mahmud.


"Dari apotik dipertigaan situ Mas," jawab Zakiyah sambil menunjukkan plastik putih berisi obat-obatan.


"Ibu gimana Kiy?" tanya Mahmud tak sabar.


"Ibu nggak mau makan seharian Mas. Ibu manggil-manggil Mas Mahmud terus semalam," ujar Zakiyah.


"Ayo masuk, masuk..." sambung Zakiyah mempersilahkan masuk.


Mereka tidak menyadari kalau Abah Dul tidak ada bersama mereka.


Zakiya bergegas melangkah ke kamar ibunya yang bersebelahan dengan ruang tamu setelah lebih dulu mempersilahkan duduk. Sementara Mahmud langsung mengikuti langkah adiknya menuju kamar ibunya.


"Ibuuu... Bu..." ucap Zakiyah pelan sambil membuka pintu kamar ibunya.


Ibu Ayu Ningtiyas terlihat sedang tidur dipinggir ranjang dengan posisi miring memunggungi Zakiyah dan Mahmud.


"Ibuuu... Mas Mahmud datang," bisik Zakiyah ditelinga ibunya sembari menyentuh tangannya.


Sesaat kemudian wanita berusia setengah abad itu nampak terjaga dan langsung membalikkan badannya.


"Mahmuud... Nak," suaranya lirih sambil tangannya menggapai-gapai agar Mahmud mendekat.


Kedua mata wanita yang masih memperlihatkan guratan-guratan kecantikannya itu berkaca-kaca melihat putranya ada dihadapannya. Sesaat kemudian linangan air matanya meleleh di pipinya dengan pancaran kerinduan yang mendalam.


Ibu Ayu Ning Tyas berusaha bangkit dari tidurnya degan susah payah. Zakiyah pun bergegas membantunya lalu ia duduk di bibir ranjang besi kuno dengan kaki menjuntai.


Mahmud bergegas mendekat lalu mencium tangan ibunya yang terkulai lemah dipangukuan. Penuh suka cita Mahmud sungkem mencium tangan ibunya cukup lama. Ia pun turut larut merasakan kerinduan yang sama.


Beberapa sesaat kemudian Mahmud melepaskan tangannya dan beralih memegang kedua kaki ibunya. Mahmud bersujud mencium kedua kaki ibunya bergantian penuh rasa hormat dan sayang.

__ADS_1


Zakiyah, adik perempuan Mahmud tak kuasa menahan keharuannya melihat kakaknya memperlakukan ibu seperti itu. Air matanya langsung luruh berderai membasahi pipinya.


Mahmud kemudian memeluk ibunya menumpahkan kerinduannya. Dua lebaran dirinya tak bisa pulang kampung karena situasi pandemi saat itu.


"Maafkan Mahmud Bu... Baru sowan ke ibu sekarang," ucap Mahmud di pelukan ibunya.


Ibunya tak bisa berkata-kata lagi, hanya deraian air matanya yang kian deras mengalir sebagai isyarat memaafkan atau mungkin juga tak perlu ada maaf karena tidak ada yang salah pada anakanya.


Beberapa saat lamanya Mahmud terus memeluk erat ibunya seolah tak ingin dilepaskannya.


"Nak Dewi mana?" tanya Ibu Ayu Ningtiyas ditengah isakannya.


"Ada bu... Sebentar saya panggil, ya" jawab Mahmud sambil membetulkan duduk ibunya.


Mahmud kemudian melangkah keluar kamar untuk mengajak istrinya menemui ibunya. Tidak berapa lama Mahmud kembali bersama Dewi.


Dewi pun langsung sungkem menyalami mertuanya lalu memeluknya.


"Ibu gimana keadaanya, bu?" tanya Dewi pelan.


"Yahhh maklum ibu sudah sepuh Nak. Sejak bapak nggak ada, ibu seperti nggak punya arah lagi mesti berbuat apa." ucap Ibu Ayu Ning Tyas lirih.


Kedua mata Dewi pun berkaca-kaca turut merasakan bagaimana rindunya ditinggal orang tercinta. Rasa yang sama dengan dirinya yang sudah ditinggal kedua orang tuanya. Penuturan mertuanya mengisyaratkan penuh kerinduan terhadap suaminya.


"Ibu harus tetap sehat ya bu..." ucap Dewi mengelus-elus pundak mertuanya penuh kasih sayang.


"Kalian kesini sama siapa aja, Nak?" tanya Ibu Ayu Ning Tyas.


"Sama Arin, suami dan anaknya Bu. Oh iya sama Dul juga, Bu..." kata Mahmud.


"Dul, teman pesantrenmu dulu Nak?!" tanya Ibu Ayu Ning Tyas sumringah.


Mahmud menjawabnya dengan mengangguk sambil tersenyum, "sebentar ya bu saya panggil Dul dulu."


Mahmud keluar menemui Abah Dul yang sebelumnya terlihat masih duduk-duduk diatas batu besar. Namun saat Mahmud akan memanggilnya, dilihatnya Abah Dul sudah tidak ada ditempatnya.


"Abah, lihat Abah nggak Sim?" tanya Mahmud.


"Tadi duduk di batu itu Mas," jawab Kosim.


"Nggak ada," timpal Mahmud.


Kosim pun penasaran bergegas ia bangkit keluar, "Lah iya nggak ada. Terakhir saya lihat masih duduk di batu itu Mas," kata Kosim.


"Ya sudah biar saya cari Sim," ucap Mahmud.


"Iya Mas..." Kosim pun kembali bermain dengan Dede di ruang tamu bersama Arin.


Mahmud mrlongokkan kepalanya kedalam mobil melalui kaca jendela tetapi Abah Dul tidak ada juga. Setelah dicari-cari tidak ketemu juga Mahmud tiba-tiba ingat sesuatu.


Deg! Mahmud baru ingat ada satu tempat yang paling disukai Abah Dul. Tempat itu menjadi tempat pavoritnya bahkan dulu pada saat sering nginap di rumah Mahmud, ia tidak mau disuruh tidur di kamar. Abah Dul lebih memilih tidur di tempat itu meskipun udaranya sangat dingin kalau malam hari.


Mahmud melangkahkan kakinya menuju samping belakang rumah. Di sudutnya ada sebuah bangunan berupa saung dari kayu yang menghadap persis ke lereng Gunung Guci.


Pelan-pelan dan hati-hati Mahmud berjalan selangkah demi selangkah menuju saung. Terlihat sepasang sandal Abah Dul tergeletak dibawah saung.


"Hmmm, benar disini rupanya. Saatnya balas dendam, hikhikhik," gumah Mahmud.


Langkah Mahmud semakin mendekat dan semakin santer pula terdengar dengkurannya. Mahmud menghentikan langkahnya disisi belakang lalu mengambil sebatanga rumput liar.


Dilihatnya Abah Dul terlelap tidur telentang masih dengan dengkurannya. Berhati-hati Mahmud mulai menggelitik hidung Abah Dul dengan sebatang rumput lalu sembunyi dibawah saung.


Reflek tangan Abah Dul bergerak mengusap hidungnya lalu kembali diam tertidur. Sambil menahan tawanya Mahmud kembali melakukan menggelitik hidung Abah Dul. Dan reaksi yang sama dilakukan Abah Dul hingga Mahmud tak tahan lagi menahan tawanya.

__ADS_1


"Hahahaha..." Mahmud tergelak hingga membuat Abah Dul langsung bangun.


"Astagfirullah, Mahmuuuuuud..!" Abah Dul langsung turun dari saung mengejar Mahmud.


Mahmud kontan lari ke halaman depan dan bersembunyi di balik mobil yang terparkir. Abah Dul datang mencari-cari sambil mengacungkan sandalnya.


Sambil cekikikan Mahmud mengintai dari balik roda belakang mobil. Terlihat Abah Dul celingukkan mencari-cari. Beberapa saat lamanya persembunyian Mahmud tak juga ditemukan Abah Dul.


Mahmud pun akhirnya menyerahkan diri, "Ampun, ampun Bah... " sambil terkekeh-kekeh.


"Sudah, sudah Bah. Itu ente dicari ibu," kata Mahmud dengan sisa-sisa ketawanya.


Abah Dul yang hendak melemparkan sandalnya menjadi urung dilakukan.


"Awas ya Mud, hutang satu!" tukas Abah Dul berlalu meninggalkan Mahmud.


Abah Dul melangkah cepat masuk ke dalam rumah menemui ibu Ayu Ning Tyas.


"Assalamualaikum...' ucap Abah Dul sambil mengetuk pintu kamar.


"Waalaikum salam..." balas Zakiya, Dewi dan ibu Ayu Ning Tyas berbarengan.


"Dul, masuk Nak.." kata Ibu Ning Tyas.


Abah Dul melangkah masuk langsung sungkem menyalaminya.


"Gimana kabarmu Nak Dul?" tanya ibu Ayu Ning Tyas.


"Alhamdulillah, bu kabare apik. Ibu pripun kabare Bu," balas Abah Dul.


"Yah, ibu lagi kurang sehat Nak Dul," ucap ibu Ning Tyas.


Tak berapa lama Mahmud muncul dipintu kamar, "tuh bu, si Dul tadi mau lempar Mahmud pake sandal," adu Mahmud pada ibunya.


"Hussst! Mahmud kaya bocah ente," sergah Abah Dul.


Melihat tingkah polah Mahmud dan Abah Dul membuat Ibu Ayu Ning Tyas tersenyum-senyum. Wajahnya kini terlihat mulai berseri-seri seakan-akan melupakan kondisi kesehatannya yang lemah.


Begitu pula dengan Zakiyah dan Dewi yang sedari tadi menahan tawanya akhirnya cekikikan melihatnya.


"Wes, wes... ojo podo ribut. Malu udah pada gede, hehehe..." ucap ibu Ayu Ning Tyas tertawa.


"Kiyah, hayu masak-masakan kesukaan kakak-kakakmu. Ibu pengen makan bareng," sambung ibu Ayu Ning Tyas.


"Alhamdulillahirobbil alamiin..." ucap Zakiyah dan Mahmud berbarengan.


"Kok alhamdulillahnya kompak. Saya nggak, hikhik.." seloroh Abah Dul.


"Ibu tuh Mas Dul dari kemarin susah makan. Makanya saat ibu bilang pengen makan bareng itu sebuah anugrah bangeeeettt," terang Zakiyah.


"Kok Mahmud tau?" sela Abah Dul.


"Ya tau wong saya kasih tau diluar tadi." timpal Zakiyah.


"Makanya jangan tidur mulu," seloroh Mahmud.


"Disana tuh Mahmud nggak kayak gini tuh bu. Mentang-mentang ada ibunya, awas pokoknya dendam kalau disana," sungut Abah Dul.


Ibu Ayu Ning Tyas jadi tertawa-tawa mendengar ucapan aduan Abah Dul.


"Udah, udah. Yuk Kiyah, Nak Dewi ke dapur." kata Ibu Ayu Ning Tyas sembari menurunkan kakinya.


"Ibu bisa jalan?" tanya Mahmud khawatit.

__ADS_1


"Bisa Nak," jawabnya.


......................


__ADS_2