Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MISTERI ANAK KECIL


__ADS_3

Pagi yang cerah, sinar matahari


pukul 8 pagi seakan memberikan energi semangat kepada warga desa Palu Wesi untuk melakukan rutinitasnya. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani dan selebihnya ada yang berdagang di pasar, ada yang menjadi buruh lepas dan ada pula yang bekerja sebagai jasa pengantar alias tukang ojek pangkalan.


Keluarga Pak Harjo merupakan salah


satu keluarga terpandang di desa Palu Wesi. Warga menyebutnya sebagai juragan beras, karena di desa tersebut satu- satunya yang memiliki pabrik heler atau pabrik penggilingan padi dan pengolahan beras cuma pak Harjo.


Sebagai pemilik pabrik beras, pastinya pak Harjo memiliki sawah pula. Dan sawah- sawahnya bisa dibilang paling banyak, jumlahnya hektaran yang tersebar di beberapa lokasi yang berbeda.


Selain menerima jasa penggilingan


padi menjadi beras dari warga desa Palu Wesi dan sekitarnya, pak Harjo juga menggiling padinya sendiri untuk di jual ke toko- toko besar langganannya serta menjual ke pasar induk Jakarta.


Ia sudah memiliki koneksi pembeli


beras hasil penggilingannya ke toko- toko besar yang tersebar di beberapa wilayah di luar kota atau pun ke tengkulak langganannya yang ada di pasar induk.


Selain memiliki pabrik beras, sawah


hektaran, tetapi pak Harjo juga menerima penjualan padi atau dalam bentuk gabah dari para petani.


Meski kekayaannya melimpah namun sosok pak Harjo tetap rendah hati, bahkan jika melihat bangunan rumahnya serasa berbanding terbalik dengan harta kekayaannya.


Rumah pak Harjo terbilang sederhana


jauh dari kata mewah. Hanya saja yang mencolok dari rumahnya hanyalah luas


halamannya saja dibandingkan dengan yang ada disekitarnya.


Pak Harjo dan keluarganya hidup


sederhana, mereka ramah pada siapa pun dan ringan tangan membantu orang- orang yang membutuhkan bantuannya. Sehingga warga masyarakat pun sangat menghormati


dan segan terhadap keluarga pak Harjo. Akan tetapi sebaik apapun pak Harjo tetap saja masih ada orang yang tidak menyukainya hingga menuduh kekayaan pak Harjo tersebut karena melakukan pesugihan.


Akan tetapi semenjak anak bungsunya


yang bernama Hariri menginjak usia remaja, tepatnya semenjak duduk di bangku SMA, warga masyarakat sedikit merasa terganggu oleh kelakuan- kelakuan Hariri. Tak sedikit yang geram terhadap tingkah laku Hariri, tetapi mereka juga segan dan tak berani berbuat apa- apa karena memandang kebaikan orang tuanya.


Semenjak Hariri dikabarkan jatuh sakit yang tak kunjung sembuh, sebagian besar warga merasa bersyukur, namun

__ADS_1


sebagian warga lainnya merasa iba. Sakitnya Hariri membuat warga masyarakat banyak yang menilainya akibat hukum karma atas perilakunya sendiri. Meski pun kategori kenakalan Hariri tidak sampai mengarah pada kekerasan ataupun bentuk kriminal


lainnya di lingkungan warga masyarakat Palu Wesi, namun tetap saja mereka merasa terganggu dengan ulahnya bersama teman- temannya.


Hariri dan teman- temannya seringkali nongkrong di perempatan jalan, di pos ronda sambil bernyanyi- nyanyi diiringi gitar hingga menjelang subuh yang pastinya sangat berisik dan mengganggu ketenteraman warga. Tetapi sebenarnya bukan kenakalan seperti itu yang disayangkan oleh warga masyarakat, ada prilaku yang lebih parah dari yang dilakukan di desanya yakni suka melecehkan teman- teman perempuan di


sekolahnya. Rata- rata para orang tua mengetahui prilaku Hariri di sekolah dari anak- anaknya yang satu sekolah dengannya. Dan semua kelakuan- kelakuan buruk Hariri tersebut tidak diketahui oleh pak Harjo yang sibuk dengan usaha penggilingan padinya, sehingga pak Harjo jarang berada di rumah. Waktunya lebih banyak di habiskan di pabrik berasnya.


Hingga suatu hari, pada pagi di subuh hari pak harjo berniat hendak membangunkan Hariri untuk mengingatkannya melaksanakan sholat subuh. Akan tetapi saat itu pak Harjo mendapati putranya itu tak bisa bangun sama sekali dari tempat tidurnya.


“Sakit pak… tolong Hariri, kaki Hariri sakit sekali pak…” rintih Hariri.


Pak Hariri seketika itu juga panik


sekaligus bungung dengan yang dikeluhkan putranya tersebut. Dia pun langsung membawanya ke puskesmas sebagai pertolongan pertama karena yang terdekat. Akan tetapi pihak Puskesmas nampaknya tidak bisa mendeteksi sakitnya Hariri, sehingga


memberi rujukan dikirim ke rumah sakit besar yang ada di kota.


Berhari- hari Hariri terbaring di rumah sakit dengan kondisi kedua kaki luka- luka seperti bekas garukan kuku. Bukannya hilang luka- luka garukannya, malah justru semakin banyak dan semakin parah saja, biarpun sudah diberikan obat- obatan yang termahal sekalipun tetapi tetap


saja luka- luka itu tak berkurang malah semakin banyak dan mengoreng.


Kurang lebih dua minggu Hariri di rawat di rumah sakit yang tentunya memakan biaya yang tidak sedikit. Apalagi rumah


“Kami mohon maaf pak Harjo, kami


sudah bersaha keras berupaya menyembuhkan penyakit yang diderita putra bapak. Kami tidak menemukan jenis penyakitnya dan tidak bisa mendeteksi penyebabnya, dan ini terasa aneh sekali bagi kami,” ungkap dokter rumah sakit.


Semenjak itu pula Hariri terpaksa


dibawa pulang dan di rawat di rumah. Berhari- hari Hariri hanrus merasakan


perih, panas, gatal di kedua kakinya, hingga tanpa sadar dirinya menggaruk- garuk kulit kakinya sampai lecet- lecet yang mengakibatkan banyak koreng


memenuhi kaki sebatas lutut hingga telapak kaki.


Ketika pak Harjo mendapat informasi


atau saran tentang pengobatan dan rumah sakit yang disarankan dari teman- temannya, relasi atau pun dari televisi, seketika itu juga pak Harjo membawa Hariri berobat ke tempat yang disarankan tersebut. Akan tetapi tetap saja tidak ada hasilnya sama- sekali.


Dan yang membuat rumah sakit angkat

__ADS_1


tangan persoalannya nyaris sama yakni dari segi medis para dokter  tidak dapat menemukan sautu  penyakit apapun pada Hariri. Begitu pula di tempat- tempat pengobatan tradisional atau pengobatan alternatif.


Awalnya saja si Tabib sangat senang


dengan kedatangan pasien putranya pak Harjo karena kelihatannya bukan dari kalangan masyarakat yang biasa- biasa saja. Duitnya pasti banyak, berapapun biaya yang dimintanya pasti akan diberi, begitu pikir si Tabib.


“Sudah saya netralisir mahluk yang


menggangu anak bapak. Siramkan dengan air ini lebih dulu ke seluruh bagian kaki yang sakit lalu oleskan dengan ramuan ini. Saya jamin besoknya pasti luka- lukanya sudah kering!” tegas si Tabib.


Mendengar ucapan Tabib yang begitu


meyakinkan, saat itu juga wajah pak Harjo dan istrinya langsung sumringah,


mereka merasa telah menemukan harapan untuk kesembuhan Hariri.


“Jadi berapa biayanya pak?” tanya


pak Harjo.


“Tergantung ramuan obatnya pak, mau


yang paling bagus atau yang biasa saja?” tanya balik si Tabib mulai memasang jeratnya untuk mendulang uang sebesar- besarnya.


“Yang paling bagus saja pak!” tegas


pak Harjo.


“Tapi harganya mahal pak,” ujar Tabib berakting seolah cuek tak mengharapkan uang.


“Berapapun harganya akan saya bayar


pak!” tegas pak Harjo lagi.


“Sepuluh juta pak,” jawab Tabib, dalam


hati si Tabib tertawa riang karena jeratannya berhasil mendapatkan kakap.


Tak banyak bicara lagi pak Harjo langsung mengeluarkan gepokkan uang yang diikat dengan karet gelang lalu memberikannya pada si Tabib.


Sayang sungguh sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak! Semua ucapan si Tabib yang sangat menjanjikan tersebut akhirnya tak terbukti sama sekali. Bahkan tidak ada pengaruhnya sedikit pun pada luka- luka maupun rasa sakit yang dirasakan Hariri.

__ADS_1


Dan kejadian- kejadian seperti itu sudah beberapa kali dialami pak Harjo. Namun pak Harjo berusaha ikhlas, benaknya selalu berpikir positif mungkin Gusti allah belum memberikannya kesembuhan. Hal itu ia lakukan karena sangat menyayangi putra bungsunya tersebut agar bisa sembuh kembali, berapapun uang yang harus dikeluarkannya.


Setelah berbulan- bulan berlalu, sampai pada akhirnya pak Diman sahabatnya sejak kecil datang dan memberikannya informasi tentang ‘Bocah Ajaib.’ * BERSAMBUNG


__ADS_2